[27 tahun berjalan]
http://i.euniverse.com/funpages/cms_content/2529/4candles.swf
Made Kondang, sekedar ikut-ikutan tetangganya mengadakan pesta ulang tahun di rumahnya malam ini. Tidak jelas apa motivasi lelaki kumuh ini mengundang teman-teman sesama pengembala sapi untuk berkumpul di rumahnya. Merayakan ulang tahun, begitu Kondang menjelaskan ketika Koplar, sahabat karibnya, bertanya. “Ulang tahun?, sejak kapan kamu berulang tahun segala?” Koplar terperangah tidak paham. Kondang hanya tersenyum kecil sambil meneruskan nada sumbang nyanyian selamat ulang tahun.
Kondang memang satu saja dari sekian banyak orang di desa ini yang mulai berulang tahun. Pesta itu kini dengan pasti telah menggeser otonan yang sebelumnya diperingati setiap 210 hari sekali. Otonan kini tak sepopuler birthday. Lagipula, Nyoman Sumi, si kembang desa lebih suka mengucapkan “selamat ulang tahun” daripada “rahajeng nyangra rahina otonan”. Itu juga lah yang membuat Kondang menyibukkan diri mengorganisasi sebuah pesta ulang tahun. Siapa tahu dengan acara gaul semacam ini, Nyoman Sumi, jatuh hati padanya.
Kondang tiba-tiba saja ingat seorang temannya beragama Islam bernama Abdullah. Ketika dulu dia bertanya kepada Abdullah kapan ulang tahunnya, Abdullah dengan mantap menjawab, ”Ulang tahun itu tradisi agama lain. Saya tidak akan menjalankan tradisi itu karena saya seorang muslim taat.” Jawaban yang cukup mencengangkan Kondang ketika itu, tapi keterbatasan isi kepalanya tidak membuat dia bertanya lebih jauh. Lagipula jawaban singkat dan tegas itu nampaknya memang tidak untuk diperdebatkan.
Sementara Kondang yang bukan muslim bukan nasrani merenung sendiri. Apakah ini tandanya tidak berkepribadian? Apakah ini tandanya tidak mempunyai pegangan hidup dengan menjalankan tradisi agama lain hanya karena trend semata? Kondang terdiam sejenak sambil menikmati senda gurau temannya yang dengan ceria bermain di pesta ulang tahunnya.
Ha.ha..ha.. tiba-tiba saja Kondang tertawa geli. Geli dengan kegundahannya sendiri. Untuk apa memikirkan hal-hal yang tidak esensial seperti ini. Mau ulang tahun kek, mau otonan kek, mau dibaptis kek, mau disunat kek, terserah saja. Kebenaran itu adalah universal adanya seperti halnya ilmu dasar semacam fisika dan matematika. Jika seorang Bali tulen seperti dirinya bebas mengutif terori relativitas yang dikembangkan oleh fisikawan Jerman: Einstein, atau dengan leluasa mengaplikasikan prinsip phytagoras yang ditemukan oleh Phytagoras yang entah berkebangsaan apa, maka tidak salah jika seorang pemuja Hyang Widhi seperti dirinya juga mencintai ajaran Yesus , Budha dan Muhammad yang diyakini pastilah sama agung dan wibawanya.
Biarlah mereka pusing dengan tradisi itu, aku baru saja meng-sms para pemilik ajaran dan mereka tidak keberatan tradisinya dipakai. Jadi, Selamat Ulang Tahun!