Karena Cinta yang berlimpah


Hari ini, untuk keseribu tujuh kali aku menyadari lagi, kebaikan istri yang tak kan pernah terbayar dengan apapun. Seperti saat keseribu enam kali, hari ini pun aku berkelana berbekal senyum dan pengertian seorang istri yang sabar tak tergantikan. Senyum dan kesederhanaan yang tak pernah berlebih, menjadi kekuatanku meniti waktu. Tentu saja ini bukan senyum biasa, tapi senyum yang mencirikan kesadaran. Kesadaran akan kelemahanku yang tidak bisa kutambal hingga hari ini.

Istriku perempuan pagi yang tersenyum tidak saja kepada burung yang hinggap di ujung daun cemara tapi juga kepada lalat kecil yang terbang bising melintasi sampah di belakang rumah. Istriku perempuan pagi yang mudah tersenyum. Senyum yang menjadi energi dan motivasi. Senyum yang selalu disandangnya meski ketika sakit datang di sela mual tak tertahan.

Istriku perempuan siang yang tidak mengeluh karena terik matahari. Tak juga meringis karena kulit yang tak sengaja bertambah gelap. Istriku perempuan siang yang bersama panas mentari, membakar semangat, memompakan gairah yang maha adanya. Istriku perempuan siang yang bahkan tidak merengekkan alas kaki yang kepanasan. Istriku perempuan siang yang tak sesat di persimpangan.

Istriku perempuan malam yang mendesah manja di sela temaram lilin penghias meja. Istriku perepuan malam yang hatinya tenang setenang semburat purnama. Istriku perempuan malam yang penuh kehangatan, mengubah dengan sempurna terik siang menjadi cinta di malam tiba. Istriku perempuan malam yang tidak berteriak dalam ketakutan.

Menjadi pagi ia, menjadi siang ia, menjadi malampun ia. Ia yang serba sabar karena cinta yang berlimpah.

Unknown's avatar

Author: Andi Arsana

I am a lecturer and a full-time student of the universe

Bagaimana menurut Anda? What do you think?