[positif]
Apa pentingnya membicarakan hamil? Hamil kok dibahas? Ya, hamil pun ternyata menarik untuk dibahas, setidaknya begitu menurut Si Koplar yang kebetulan pacarnya hamil diluar keinginannya. Koplar tertarik membahas bukan lantaran hamilnya yang istimewa atau anak yang dikandung pacarnya itu tidak normal melainkan, ya itu tadi: hamil diluar keinginannya. Tentu saja di luar keinginannya karena sampai saat ini status mereka masih pacaran, belum menikah.
Anak muda sekarang, seperti halnya Koplar, menikmati masa berpacaran dengan cara yang berbeda dengan kakek neneknya tahun 1930 an dulu. Pacaran sekarang lebih oke, lebih asyik dan menawarkan lebih banyak kenikmatan. Bagaimana tidak, pacaran sekarang beda dengan dulu yang hanya dilakukan dengan apel malam minggu, duduk di serambi sambil saling berpandangan dengan jarak yang tidak boleh kurang dari satu setengah meter. Atau lebih “parah” lagi, pacaran hanya ditandai pandang-pandangan di kebun sambil memetik buah kopi kemudian tersenyum kecil. Gak mungkin hamil. Pacaran sekarang bisa berpegangan tangan dan tubuh yang terpisah nol koma nol nol nol meter satu sama lain. Keterpisahan jarak yang sangat amat kecil inilah yang kemudian menimbulkan masalah. Singkatnya, pacar Koplar hamil karena ketidakmampuan mereka menjaga jarak yang satu setengah meter itu tadi. Koplar yang sebenarnya merasa tidak siap secara ekonomi, dengan sedikit berat akhirnya menikahi pacarnya.
Beda lagi halnya dengan Genjo. Genjo yang sehari hari menjadi artis penyayi acara mantenan juga mengalami masalah yang serupa. Pacarnya pun hamil gara-gara pernah suatu malam mereka terjebak di kamar gelap rumah Genjo sehabis manggung di sebuah pernikahan. Perasaan gembira Genjo yang baru saja mendapat honor nyanyi membuatnya lupa akan nasihat neneknya bahwa dua orang manusia bukan mukhrim tidak dibenarkan berada di suatu ruangan tertutup. Dan nampaknya benar bahwa pihak ketigapun datang yaitu setan, menawarkan kenikmatan yang menjerumuskan. Singkat cerita pacarnya hamil. Yang menarik selanjutnya adalah Genjo yang menghidar untuk mengakui “buah karyanya”. Genjo yang merasa popularitasnya akan tenggelam sebagai artis kampung tidak berani mengambil sikap tegas untuk menikahi pacarnya. Setiap kali ditanya oleh pemerhati gosip kampung, Genjo dengan diplomatis (kampung juga) selalu mengelak. Demikianlah Genjo, pacarnya hamil dan sampai kini belum memutuskan sesuatu yang nyata seperti yang dilakukan Koplar.
Di Desa Nun Jauh, fenomena kehamilan lain lagi. Seorang ibu bertanya kepada anaknya, Sungkrug, “Pacarmu sudah hamil belum?” “Belum!”, begitu Sungkrug menjawab. “Wah kalau ‘gak hamil-hamil, kapan nikahnya kamu. Nanti kalau ‘gak bisa hamil rugi dong menikah. Pokonya kalau belum hamil ibu ‘gak mau melamar. Ngerepotin aja nanti kalau ‘gak bisa memberi keturunan!” Si anak hanya terdiam sambil melanjutkan makan kacang bawang tanpa sedikitpun merasa terganggu dengan ancaman ibunya. “Ya, gampang. Nanti juga hamil!” begitu jawabnya tanpa berhenti mengunyah. Memang statistik asal-asalan di desa itu menunjukkan bahwa 98% dari total pernikahan di desa itu terjadi karena mempelai perempuan telah hamil. Ada yang baru 2 bulan dan bahkan ada yang melahirkan 3 hari setelah resepsi pernikahan. Memang akhirnya banyak bayi yang lahir “prematur”. Oh ya, Anda tertarik dengan angka 2% sisanya? Yang satu persen adalah karena kebetulan (maaf, amit-amit cabang bayi) sang pacar tidak bisa hamil karena alasan kesehatan reproduksi. Nah yang satu persen terakhir ini yang menarik. Sebut saja Made Kondang, satu-satunya orang yang menikahi pacarnya dalam keadaan tidak hamil. Bukan karena pacarnya tidak bisa hamil tapi karena si Kondang jengah pada dirinya sendiri. Dia hanya ingin tampil beda, itu saja. Dan celakanya, pacarnya tidak hamil bukan lantaran Kondang dan pacarnya tidak berhubungan sex melainkan karena Kondang yang teramat pintar menerapkan “metode” sehingga kehamilan bisa dicegah. Memang hebat Kodang.
Apa bedanya Koplar, Genjo, Sungrug dan Kondang? Dalam perspektif tertentu, semuanya penjahat kelas kakap. Semuanya berjalan jauh dari “Jalan Tuhan” (ih serem amat pakai nama-nama Tuhan segala dalam pembahasan ‘gak bermutu kaya’ gini). Ya, setidaknya semuanya bertentangan dengan nasihat para calo Tuhan yang mengatakan hubungan sex sebelum nikah melanggar perintah Tuhan.

Namun menurut Pan Kompyang yang pintar sekaligus gaul, Kondang mendapat acungan jempol! “Gua sih paham aja sama anak muda sekarang. Mengindari hubungan sex memang berat banget tuh. Pokoknya kalau sudah di atas 20 tahun, “persenjataan” laki-laki [dan perempuan] sudah saatnya digunakan”, tegasnya. “Kalau lu bisa menghindari dan hanya mengandalkan mimpi basah untuk menemukan kepuasan, gua salut! Tapi kalau lu gak bisa menahan diri dan akhirnya melakukan “pertandingan” sesungguhnya, gua juga maklum” Pan Kompyang memang tokoh moderat yang kontroversial di desanya. Pandangan-pandangannya yang sekuler seringkali berbenturan dengan ajaran-ajaran yang dipropagandakan para calo Tuhan di sekitarnya. “Lu harus membuat pilihan!” Pan Kompyang menambahkan. “Kalau lu bisa menjaga diri karena lu belajar agama dan tahu dosa, itu bagus banget. Tapi kalau semua itu tidak juga mempan, atau mugkin karena lu gak tahu agama, setidaknya lu harus berpikir pragmatis. Jangan sia-siakan hidup dengan terpaksa menikah karena hamil yang “tidak sengaja”. Lakukan dengan aman, safety first” begitu Pan Kompyang menirukan gaya bicara orang bule di TV. “Tapi Pak”, seorang pemuda menyela, “Si Gobleg setahun lalu menikah dan sekarang anaknya sudah 1,5 tahun. Mereka baik-baik saja! Gobleg bahkan bilang itu memang disengaja. Saya lihat sih gak ada keterpaksaan menikah karena hamil yang tidak sengaja. Sekarang, mereka bahkan hidup baik-baik saja dan anaknya juga pintar. Itu gimana Pak?” Pan Kompyang tercenung sesaat. “Intinya adalah perencanaan yang matang. Itu saja!” Jawaban singkat itu membuat semua terdiam, entah mengerti entah tidak.
Sementara itu, aku sendiri sedang bahagia karena perihal hamil juga. Baru saja ketika aku pergi ke sawah untuk mulai mencangkul, merpati putih terbang rendah hinggap di pohon turi di pematang. Parunya membawa sepucuk surat dari istriku. “yah, pagi ini mama dah tes lagi hasilnya 2 grs merah yang artinya positif.. om dirgahayuastu, mama mo ke dokter hr sbt di marobra medcent.ILU” Sebuah kabar yang paling membahagiakan dalam hidup, lebih dari kegiranganku ketika menerima pengumuman mendapat dana dari pak dukuh karena terpilih untuk menjalani pendidikan di sebuah padepokan di desa tetangga. Semoga kami diberi kekuatan untuk menjaga titipan Tuhan ini dan tegar menjalani segala tanggung jawabnya.