GNSS 2004, Sydney


[yang tersisa]

Konperensi tahunan Global Navigation Satellite System tahun ini (lihat www.GNSS2004.org) baru saja dilangsungkan di Sydney, Australia. Bertindak sebagai local organising committee adalah school of Surveying and Spatial Information Systems yang di nakhodai oleh Prof. Chris Rizos. Konperensi berlangsung tiga hari, 6 – 8 Desember 2004 di Mathew Theatre, The University of New South Wales.

Secara umum, program berlangsung lancar dan bisa dikatakan sukses dengan jumlah peserta yang tinggi dan tulisan yang bervariasi. Tulisan ini tidak akan membahas kesusesan dan aspek ilmiah dari konperensi ini melainkan sisi lain yang, menurut orang Asia seperti saya, mungkin menarik untuk disimak.

Pak Hasan yang Mengagumkan

Nama seorang Hasanudin Z. Abidin tentu saja tidak asing di dunia GNSS (khususnya GPS) Indonesia. Dosen Teknik Geodesi ITB ini telah secara luas dikenal kiprahnya di dunia akademik maupun praktis berkaitan dengan GPS. Pak Hasan adalah satu-satunya orang Indonesia yang hadir dalam konperensi ini dan karena kepiawaiannya, dipercaya menjadi chairman dalam sebuah sesi yang membahas pemantauan deformasi. Sebagai orang geodesi yang belum banyak berinteraksi dengan Sang Pakar GPS, saya melihat Pak Hasan adalah tokoh nasional dengan kaliber internasional. Beliau menyampaikan materi dengan baik dan komunikatif, dengan bahasa Ingrris yang lancar walaupun masih “terdengar” sedikit Indonesia. Penguasaan materi yang mumpuni dan penguasaan panggung yang handal membuat suasana konperensi menjadi hidup. Salah satu lelucon Pak Hasan yang mengatakan bahkan membuat peserta tertawa lepas. Dalam menanggapi pertanyaan seorang peserta, beliau menyelipkan “Volcano is like a woman. It is very difficult to predict her characters. To understand her, you have to marry her”.

Ilmuwan Indonesia, khususnya di bidang geodesi, nampaknya perlu belajar banyak dari Pak Hasan. Pembawaannya yang tenang, santun dan rendah hati semakin mengukuhkan kehebatannya. Beliau tidak canggung bercakap-cakap secara antusias dengan siapa saja, termasuk saya yang masih “kacangan” di konperensi itu. Sikapnya jauh sekali dari seorang ahli yang saya bayangkan selama ini. Singkatnya, Pak Hasan adalah seorang ahli yang terlihat selalu positif, antusias dan sederhana. Mungkin ada yang tidak setuju dengan tulisan ini, namun setidaknya inilah hasil dari interaksi singkat saya dengan beliau. Suatu saat, mungkin saja pendapat ini berubah seiring perkembangan waktu.

Bahasa Inggris yang Mengenaskan

Membayangkan sebuah konperensi ilmiah internasional, saya sering merasa keder terlebih dahulu. Satu hal yang jelas terbayang adalah penggunaan Bahasa Inggris yang fasih dan gaya komunikasi yang efektif. Setahu saya, faktor bahasa yang biasanya menjadi masalah para ilmuwan Indonesia.

Di luar dugaan, sangat banyak pemakalah yang menyampaikan gagasannya dengan Bahasa Inggis yang terbata mengenaskan. Sebut saja peserta dari Cina, Korea dan Jepang, misalnya. Ada yang bahkan menyampaikan gagasan tanpa seorang pun dalam konperensi bisa mengerti. Seorang peserta dari China bertanya dan membuat pemakalah kebingungan termasuk juga chairman yang tidak bisa mengerti maksud pertanyaannya. Bukan karena persoalan teknis atau ilmiah, namun karena pronounciation-nya yang amburadul tidak karuan. Chairman sampai sedikit memaksa agar si penanya berbicara dengan tempo yang lambat. Pemakalah pun akhirnya menyarah dengan mengatakan “Sorry, English is also my second language”.

Menyimak pemandangan seperti ini membuat saya berpikir lain. Nampaknya kita tidak perlu merasa ragu hanya karena tidak mampu berbahasa Inggris dengan fasih. Dengan modal keyakinan dan penguasaan materi, para pesertta konperensi nampaknya cukup mengerti kalau tidak semua pemakalah bisa berbahasa Inggris dengan baik.

Slide yang Dipenuhi Tulisan

Dalam beberapa workshop yang saya ikuti dan buku yang saya baca tentang presentation skill, diajarkan teknik membuat slide presentasi yang baik. Salah satu kaidah yang telah dipahami oleh banyak orang adalah slide tidak baik dijejali banyak tulisan. Daripada menampilkan tulisan dengan huruf berjejal, lebih baik menampilkan poin-poin pemikiran atau diagram alir. Slide hanya berfungsi untuk guide pemakalah, bukan menampilkan semua yang akan dipresentasikan.

Dalam GNSS 2004, hal-hal konyol semacam ini masih terjadi. Beberapa pemakalah bahkan menampilkan pengantar/abstrak papernya dengan lengkap dalam slide. Hal ini tentu saja tidak menarik karena perhatian audience akan terpecah. Bukan mendengarkan pembicara melainkan tergoda membaca tulisan yang berjejal dengan huruf kecil-kecil.

Sekali lagi, kenyataan ini sebaiknya semakin menambah semangat para penulis Indonesia untuk tampil di dunia internasional. Dibandingkan dengan pemakalah dari negara lain, penulis kita, saya yakin tidak kalah pandainya menyusun sebuah presentasi yang menarik. Ditambah lagi, bangsa kita terkenal dengan naluri seni yang cukup baik.

Presentasi yang Monoton

Idealnya, presentasi dilakukan dengan interaksi penuh dengan audience. Hal yang tidak bisa ditawar dalam sebuah presentasi adalah kontak mata. “Maintain the Eye contact”, begitu Diane, salah seorang pemateri pada Engineering research workshop di UNSW, menegaskan kepada peserta.

Banyak pemakalah dalam GNSS 2004 yang masih tampil seperti layaknya seorang mahasiswa S1 tingkat 3, yang hanya membaca tulisan pada slide yang ditampilkan. Lebih parah lagi, pemakalah tidak menghadap audience sedikitpun melainkan menatap layar peraga atau layar komputer di depannya. Banyak juga diantara pemakalah yang tidak melakukan eye contact dengan audience.

Hal seperti ini tentu saja bisa dipahami karena tidak semua pemakalah tersebut mempunyai jam terbang tinggi dalam urusan presentasi. Banyak juga diantara mereka yang baru pertama kali tampil di panggung internasional. Selalu ada pengalaman pertama dan wajar jika nervous.

Topik yang Menyimpang

Salah seorang penyaji poster dari Malaysia, dengan percaya diri mengirimkan poster dengan topik land ownership. Poster ini sebenarnya cukup menarik karena membahas isu terkini di Sarawak tentang kepemilikan rumah panjang (long house) yang kini masih disputed. Penelitian ini adalah kolaborasi seorang dosen (associate professor) di Universiti Teknologi Mara, Malaysia dengan seorang ahli bahasa setempat.

Topik semacam ini tentu saja menyimpang jauh dari topik GNSS 2004 yang berkonsentrasi pada GPS dan aplikasinya. Poster ini pun tidak sedikitpun menyinggung persoalan posisi dalam pembahasannya. Singkatnya, tidak satupun unsur spatial dibahas dalam poster tersebut. Namun cukup mengejutkan, poster itu tetap dipampang dalam poster session.

Yang patut dihargai dari kenyataan ini adalah kerpercayaan diri penyaji akan karyanya. Hal ini juga patut dijadikan teladan dalam hal tertentu.

The last words

GNSS 2004 tanpa bisa dibantah telah menjadi ajang bergengsi ilmuan dunia di bidang sistem satelit navigasi global. Banyak hal dan inovasi baru yang ditampilkan. Kesusksesan panitia menyajikan sebuah konperensi berskala internasional patut diacungi jempol.

Hal-hal di atas hanyalah sebagian sisi gelap dari konperensi yang secara pribadi saya anggap sebagai suatu motivasi positif untuk berkiprah di dunia internasional.

Unknown's avatar

Author: Andi Arsana

I am a lecturer and a full-time student of the universe

4 thoughts on “GNSS 2004, Sydney”

  1. mas, saya baca tulisan anda tentang pak hasan..good point, he is a professional!
    saya pernah jadi mahsiswa beliau dan sampai sekarang saya masih mengidolakan beliau. Saya pernah brtanya ke beliau ternyata pertamakali di itb adalh teknik elektro(2thn)sehingga paham sekali konsep satelit yang aga salit dipahami oleh orang geodesi.Track record beliau juga mengagumkan. Smpasi sekerang saya masih sering email ke beliau.

  2. hehehehehe….
    mas kalo denger pak hasan ketika kuliah dulu ataupun sekarang ketemu di forum ilmiah serasa fantasi kita terhadap keilmuan kebumian khususnya bidang gps serasa melayang sangat ingin tahu lebih dalam lagi mengenai sciences…

    emang seperti kata pepatah
    semakin berisi semakin menunduk itulah sang prof hasan

Bagaimana menurut Anda? What do you think?