[catatan kecil setelah tiga purnama]
Mungkin benar, aku sesungguhnya adalah serakan tak berarti dalam jagat raya yang terlalu besar untuk diukur. Walau pelajaran kebathinan pernah mengisyaratkan dia tetap masih cukup kecil untuk dibayangkan dengan imajinasiku yang liar, dia,kenyataannya masih sangat besat. Menjadi bagian yang entah apa maknanya, kadang aku merasa begitu berarti. Di lain hari ketiadamengertian menghiasi pikiran dan kesendirianku menyusuri jalan tak berujung. Lahir, hidup tumbuh menjadi besar dan kemudian mati, konon adalah hukum Tuhan yang tiada ingkarannya berlaku untuk makhluk manusia. Kelahiran dan kematian, dua hal yang memulai dan mengahkiri cerita, adalah misteri yang kabarnya manusia tidak diberi kuasa untuk memilih waktu dan cara terjadinya. Semoga tetap rahasia ini akan jadi misteri agar hidupku menjadi bergairah dan selalu menakjubkan.
Karena rahasianya, tentu bukan kelahiran dan kematianku yang menjadi perhatian melainkan adalah hidup dan pertumbuhan itu, masa di mana aku diberi cukup wewenang untuk mengatur dan menentukan. Mengisi hidup itu dengan akal, intuisi dan naluri adalah seni. Hak untuk menjalankan kebenaran bathin adalah di atas semuanya sampai suatu ketika kehidupan bersama orang lain melahirkan batasan-batasan sosial yang konon memudahkan tapi seringkali terasa membelenggu. Aku hidup dalam lingkaran itu dan menjadi bagian yang tak terpisahkan. Larutlah irama hidup dalam alunan mantra-mantra yang melingkar membatasi. Aku menjadi bagian dari sekumpulan ‘aku’. Mengikuti naluri dan menyesuaikan dengan lingkaran, itulah yang menjadi seni perjalanan pada akhirnya!
Memutuskan untuk memilih pasangan hidup adalah naluriku. Namun menjalani ritual yang kadang terasa tak berarti adalah bentuk kompromi terhadap aturan lingkaran yang mengelilingi. Pernikahan adalah hasilnya. Inilah perpaduan yang kuharap melahirkan apa yang disebut kebahagiaan. Pernikahan menjadi tradisi, dicirikan dengan senyum, tawa dan bahkan gairah yang dibalut busana, kemegahan pesona dan keangkuhan duniawi. Aku berubah pikiran!. Bahwa pernikahanku adalah senyum, tawa, pesta dan bahkan nafsu yang memabukkan. Ini adalah ujung perjuangan yang layak aku dapatkan setelah seribu hari menahan hasrat. Ini kemenanganku!
Waktu berlalu tanpa sekejap pun berhenti untuk sejenak memberi jeda. Sementara keberlangsungan tidak boleh terhenti, aku harus memberi makna setiap peristiwa dan menandai setiap pelajaran yang hanyut bersamanya. Akhirnya harus kulakukan sambil berjalan, berlari kecil bahkan terbang untuk mengimbangi. Tentu saja catatan yang dibuat di atas lontar yang digamit di tepi sungai dengan tusukan ilalang yang diraih tanpa rencana adalah catatan yang sama sekali tidak lengkap. Pelajaranku tentulah setengah-setengah dengan hasil yang barangkali mengenaskan. Tapi semoga cukup untuk memberi makna pada perjalanan itu. Dengan catatan yang terbatas, aku temukan ceceran makna.
Ada kesadaran kecil menyeruak, pernikahan ini ternyata adalah permainan yang selengkapnya. Ada air mata yang mengimbangi tawa, ada perih yang mengimbangi kenikmatan dan ada kegelapan hati yang seringkali bahkan mengalahkan kecerahan. Pernikahanku ternyata adalah juga pengabdian dan pekerjaan yang harus diupayakan sendiri untuk mencapai hasil bahkan bonus yang diinginkan. Pernikahan adalah perjuangan. Perjuangan yang jauh lebih berat dari menuliskan kode-kode untuk menerjemahkan analogy ke digital, perjuangan yang jauh lebih sulit dari bercerita dan berkelakar tentang kebusukan tikus-tikus di sekitarku, perjuangan yang jauh lebih sulit dari hinaanku terhadap seorang Bapak yang telah menelantarkan anak istrinya karena ketertarikannya pada kenikmatan duniawi. Dan perjuangan ini juga jauh lebih sulit dari sekedar gumaman turut prihatin karena seorang anak kecil tidak bisa sekolah karena hari ini Bapaknya tidak bisa mencuri! [Iwan fals’]
Masih terlalu banyak waktu dan tempatku untuk belajar semoga aku selalu menyempatkan diri memberi makna. Semoga pernikahan ini menjadi apa adanya, tidak menjadi TUHAN dan tidak juga menjadi hantu bagiku. Semoga! [Harry Rusly’s]