Kebaikan yang Tidak Baik


[tidak menyenangkan, tapi kenyataan]

Jika ada kebaikan yang membuahkan kesenangan, persahabatan dan kebahagiaan, siapapun pasti tidak heran. Untuk semua hal positif itulah dilakukan kebaikan! Tapi jika ada kebaikan yang justru mengakibatkan ketidaknyamanan, renggangnya persahabatan dan kegelisahan, mungkin orang jadi bertanya-tanya.

Hidup memang tidak semudah membalikkan telapak tangan. Menjaga hubungan baik juga bagian yang sangat sulit dalam keseharian kita. Namun ini benar-benar terjadi! Pernahkah Anda merasa perlu memberi bantuan kepada teman yang sedang dalam kesulitan? Saya yakin pasti pernah atau mungkin sering. Bantuan moral berupa nasihat, motivasi dan dukungan adalah sesuatu yang abstrak namun tinggi nilainya. Disamping tinggi nilainya, bantuan semacam ini juga sangat jarang menimbulkan masalah susulan. Perasaan bangga bagi penolong dan perasaan berutang bagi si penerima sama-sama abstrak dan kualitatif. Karena kualitatif inilah kedua belah pihak tidak pernah berkeinginan untuk saling menghitung jasa dan utang masing-masing. Kalau boleh disebut utang, utang semacam ini biasanya tidak harus dibayar karena semua bisa diatasi hanya dengan menjaga hubungan baik. Tetap sopan, menjaga perasaan dan sesekali menyebut kembali ‘kebaikan’ itu di satu saat tertentu biasanya bisa menjadikan semuanya baik-baik saja.

Berbeda halnya dengan utang budi, utang harta punya karakter yang sedikit berbeda. Sifatnya yang nyata dan kuantitatif membuat kedua belah pihak jadi sangat mudah menghitung jasa dan utang masing-masing. Akan sangat jelas kuantitasnya dan kewajiban untuk membayar seakan-akan menjadi lebih kuat. Betapa tidak, angka akan tetap diingat sebelum diselesaikan dengan angka yang sama. Setidaknya hal ini yang biasanya muncul dalam pikiran yang menerima kebaikan. Bagi si pemberi ‘pinjaman’ mungkin tidak seperti itu adanya. Bisa saja si pemberi memang ikhlas dan tidak berpikir lebih jauh.

Perasaan berutang ini adalah sesuatu yang sangat berbahaya. Penggunaan istilah ‘meminjam’ di awal peristiwa (bukan ‘meminta’), walaupun karena sebatas gengsi, adalah titik mula persoalan. Jika sampai pada saat dijanjikan belum bisa mengembalikan, biasanya kegelisahan akan muncul pada pihak yang berutang. Rasa bersalah datang, rasa tidak enak mulai menggangu. Bagi yang mempunyai kemampuan komunikasi yang baik dan jiwa besar, dengan ksatria akan bisa mengatakan ‘maaf saat ini uang belum bisa dikembalikan, karena…’. Si pemberi pinjaman mungkin akan memaklumi apalagi jumlahnya tidaklah besar. Setidaknya tidak sampai membuat si ‘penolong’ tidak bisa makan :). Namun bagi mereka yang tidak terbuka hati dan pikirannya, rasa bersalah ini bisa dimanifestasikan dengan hal-hal yang kurang baik. Dimulai dengan menghidari pertemuan sampai memutuskan komunikasi. Rasa bersalah yang belebihan akan menghadirkan kegelisaahan dan kecurigaan. Setiap gerak-gerik si pemberi pinjaman hampir selalu dikaitkan dengan ‘penagihan’. Telepon yang mungkin hanya basa-basi bisa diartikan menagih utang sehingga perlu untuk dihindari. SMS yang hanya menanyakan kabar dianggap usaha untuk minta pengembalian utang sehingga tidak dijawab. Parahnya lagi, mulai sering (pura-pura) tidak di rumah demi tidak menerima telepon atau mulai menon-aktifkan HP untuk menghindari telepon dan sms. Persahabatan telah retak dengan utang piutang. Persahabatan yang lama dibina akan bernilai mungkin tidak lebih dari 50 ribu rupiah saja. Benar-benar konyol!

Pernahkan Anda mengalami hal semacam ini?

Inilah contoh kebaikan yang tidak berbuah baik. Saya kira kita harus mulai berhati-hati berbuat baik. Daripada menjadikan persahabatan terputus, mungkin lebih baik tidak menolong. Mungkin banyak yang tidak setuju, tapi renungkanlah kemungkinannya!

Unknown's avatar

Author: Andi Arsana

I am a lecturer and a full-time student of the universe

Bagaimana menurut Anda? What do you think?