first few days in sydney Posted by Hello

Advertisements

Robohnya Tugu Kami

[pelajaran kecil hari ini]

Saya adalah satu dari sekelompok pemuda dari desa tetangga. Datang jauh-jauh ke sini menunggang kuda setelah perjalanan satu hari satu malam. Kami datang diutus Kelihan Adat untuk belajar di padepokan yang paling tersohor di desa ini. Kami bangga karena konon kami adalah pemuda terbaik di desa kami yang terpilih untuk datang dan berguru ke sini. Ya, tentu saja terbaik karena untuk terpilih datang ke sini, kami harus melewati sayembara yang sangat ketat. Bukan saja karena pesertanya datang dari seluruh kampung seantero desa, juga karena ujian yang harus dilalui sangat berat. Memanah sebuah jeruk purut yang diletakkan tepat di atas kepala seorang anak kecil tanpa sedikitpun anak panah boleh menyentuh rambut si anak tentu bukan perkerjaan yang mudah. Bukan saja penghargaan untuk datang dan berguru ke sini yang tidak akan kami peroleh, bahkan kepala kami yang akan dipenggal jika panah kami salah sasaran mengenai kepala anak tersebut. Singkatnya, itu adalah sayembara yang sulit dan bergengsi. Tentu kami boleh bangga karena telah melewatinya dengan sangat baik.

Kabar tentang keberangkatan kami berguru ke sini tentu saja menjadi kabar yang menggemparkan seluruh desa. Banyak diantara kami adalah pemuda yang benar-benar berasal dari pelosok desa sehingga keberhasilan semacam ini mengundang pergunjingan hampir semua orang. Saya pribadi telah menyembelih tidak kurang dari 7 kambing untuk syukuran karena saking banyaknya yang harus diundang. Mulai dari kelompok Dharma Shanti, regu suka-duka, kelopok arisan kelapa hingga paguyuban penangkap jangkrik, semuanya minta acara sendiri untuk syukuran ini. Saya menyadari, tentu mereka tidak datang untuk mendoakan atau memberi pesan. Makan-makan gratis adalah sasaran yang sesungguhnya mereka inginkan. Tapi tidak apa-apa, toh saya sudah menjadi orang hebat yang sebentar lagi akan berguru ke padepokan yang tersohor di desa tetangga. Begitulah pikiran saya ketika itu. Ada hal besar yang selalu menjadi harapan saya. Sepulang nanti saya akan menjadi salah satu pemuda terpandang karena sempat berguru di padepokan desa yang terkenal itu. Ilmu kanuragan saya tentu saja akan semakin mumpuni, dan Pak Dukuh akan semakin yakin dengan kesaktian saya. Akibatnya, posisi kepala ronda malam yang sangat bergengsi akan mudah jatuh ke tangan saya. Betapa menyenangkannya. Bukan saja karena tanah bengkok yang akan saya peroleh sebagai imbalannya tapi perhatian gadis-gadis yang akan dengan mudah saya peroleh. Nyoman Sumi, si kembang desa hampir dipastikan akan jatuh dalam pelukan saya. Saya tidak tahan menunggu saat itu tiba.

Ketika kami berangkat, tidak sedikit yang mengangis terharu. Ayah dan ibu pun tersedu melepas putra mahkotanya pergi. Mereka melepas dengan harapan dan keyakinan. Suatu saat saya akan kembali dengan kebanggan. Itulah harapan mereka. Saya dan beberapa sahabat yang berangkat bersama dipenuhi perasaan girang, bangga bukan kepalang. Akhirnya mimpi besar ini tercapai dan saya rasa waktu berhenti sejenak, hidup nampaknya telah selesai dan saya menunaikannya dengan amat baik. Berguncang-guncang di punggung kuda selama satu hari satu malam akhirnya membawa kami ke tanah ini. Tanah yang menjadi mimpi banyak orang. Kebanggaan kami pun menjadi-jadi. Semua kini bukan sekedar cerita, saya benar-benar menghirup udara segar desa yang terkenal ini dan sebentar lagi akan berguru di sebuah padepokan yang tersohor. Itulah yang saya pikirkan ketika pertama kali menginjakkan kaki di sini. Singkatnya, saya datang dan menancapkan tugu kebanggaan dan mungkin bahkan kesombongan. Saya berjanji pada diri sendiri, saya akan menjadi yang terbaik di padepokan ini. Saya telah menghabiskan sebagian besar hidup saya untuk belajar kanuragan dan pastilah saya tidak akan mengalami kesulitan menyerap ilmu di padepokan yang baru. Pokoknya saya akan pulang dengan kebanggan dan tugu yang tetap tegar bahkan megah semakin kokoh.

Kini tiga purnama, setelah tugu itu saya tancapkan di desa ini. Rintik hujan dan angin yang menusuk tulang menemani saya memandang sayu tugu di luar jendela. Tiba-tiba saya seperti diingatkan, tugu itu kini tak setegar dulu. Selintas nampak sama tapi sesungguhnya perlahan namun pasti ketegarannya terkikis angin dingin dan terik matahari di siang hari. Matahari di sini, di luar dugaan saya, ternyata memang berbeda, lebih panas dibandingkan di desa saya. Dinginnya angin yang menusuk sumsum juga diluar perkiraan. Semua itu telah membuat tugu saya perlahan melemah. Dia yang semula ingin saya jaga sebisa mungkin, kini lebih sering saya lupakan. Kesibukan berlatih kanuragan yang kadang sangat melelahkan dan menyita waktu membuat saya telah lupa banyak hal. Berguru di sebuah padepokan yang tersohor ternyata memberi pengalaman yang sangat berat dan melelahkan. Dulu ketika saya menjadi pendekar kecil di desa sendiri, saya bahkan tidak sempat meragukan kesaktian saya karena tidak begitu banyak ajang tanding yang memaksa saya mengukur kemampuan. Kini, semuanya berubah. Setiap saat, kanuragan saya diuji dan dipaksa untuk menampilkan yang terbaik. Saya sadari ternyata saya belum apa-apa. Kanuragan ini masih begitu dangkalnya, sementara tugu kesombongan ini semakin melemah.

Rintik hujan berhenti, menyadarkan saya dari lamunan. Nampak samar bangunan tigu dibalik kabut kelabu telah roboh mengenaskan. Ya, saya sadari kini, tugu keangkuhan saya telah roboh binasa menyisakan puing. Ingin menjerit dalam hati dan menangis sejadinya tapi saya tahan. Sisa kesombongan di dalam diri masih ada, rupanya. Saya mengenang kembali keperkasaan saya ketika memenangkan sayembara ini dan terlintas dalam benak tangisan bangga Ayah dan Ibu yang perpesan penuh harap. Saya harus bertahan. Mungkin tidak untuk sebuah tugu yang lebih megah dan tinggi. Setidaknya saya akan melewati ini dengan menghasilkan sebuah tugu kecil yang tidak cepat lapuk oleh dinginnya angin dan ganasnya matahari di siang hari. Tuhan, ijinkan dan beri kekuatan kepada kami untuk membangun kembali tugu kami yang telah rusak binasa. (Sydney, 2 Mei 04)

Sydney: Sebuah Laporan Pandangan Mata

[bagian 2 dari banyak tulisan]

Pada tulisan terdahulu, Anda sudah saya perkenalkan beberapa fenomena menarik di Sydney antara lain budaya pelayanan, makanan asia, transportasi, aksesibilitas, komunikasi lokal dan international serta kebiasaan pelajar menjadi pemulung. Sekarang Anda akan mengenal lebih jauh beberapa hal lain tentang Sydney.

Sewa Flat di Sydney

Para pendatang, khusunya pelajar/mahasiswa biasanya tinggal di sebuah flat unit di sekitar kampus. Harga sebuah unit di Sydney sangat mahal, dan ini menduduki prosentase pengeluaran yang terbesar diantara pengeluaran lain. Sebuah gedung flat biasanya terdiri dari beberapa unit di mana setiap unit terdiri dari ruang tidur (bisa lebih dari satu), living room, kamar mandi/wc, dapur serta balkon (opsional). Harga sewa unit standar mahasiswa Indonesia berkisar antara AUD 180-220 untuk yang single bedroom dan 230-330 untuk yang double bedroom per minggu. Informasi yang lebih rinci bisa diperoleh di agen pelayanan property yang bertebaran di Sydney. Beberapa agen yang terkenal adalah L.J. Hooker, Laing & Simon, N.G Farah, dll.

Untuk menyewa sebuah unit, seorang penyewa harus memberikan bond/deposit yang besarnya berkisar antara 2-4 minggu harga sewa dan memberikan uang sewa 2 minggu di depan. Jadi, seorang penyewa bisa mengeluarkan uang sebesar 6 kali harga sewa seminggu di awal. Jika sewanya adalah AUD 250 per minggu, uang yang harus dibayarkan di depan adalah AUD 1500. Bond/deposit ini berfungsi sebagai jaminan yang bisa diambil pada saat kontrak sewa sudah berakhir, sepanjang kondisi unit masih seperti sedia kala. Jika terjadi kerusakan selama penyewaan, bond/deposit akan dipotong. Untuk ini, seorang penyewa harus benar-benar teliti memeriksa kondisi rumah pada saat masuk pertama kali dan mengisi formulir laporan kondisi rumah dengan secermat mungkin.

Sebuah gedung flat biasanya dilengkapi pintu security sehingga untuk masuk ke unitnya, seorang penyewa harus memiliki 2 kunci yaitu kunci security door dan kunci pintu unitnya sendiri. Sedangkan kamar tidur tidak dikunci. Ini adalah peraturan standar yang berlaku di New South Wales (Sydney). Menurut agen property, alasannya adalah jika terjadi sesuatu yang membahayakan penyewa ketika sedang tidur atau berada di kamar untuk keperluan lain, petugas keamanan bisa masuk dengan mudah dan penyewa tidak terjebak di dalam kamarnya. –Bagaimana dengan privacy, terlebih bagi mereka yang sudah berkeluarga? Ini adalah hal lain yang tidak dibahas di sini :)–

Kunci security door adalah kunci yang terpantau dan terdaftar keberadaannya dan tidak boleh digandakan sembarangan, sementara kunci unit bisa. Jika seorang penyewa menghilangkan kunci security door, harus mengganti dengan membayar sekitar AUD 100.

Sambungan Listrik/Gas

Sebenarnya pada saat Anda masuk ke sebuah unit, listrik dan gas biasanya sudah siap dipakai. Yang harus dilakukan adalah melakukan ‘balik nama’ agar tagihan listrik/gas tersebut atas nama Anda. Ini biasa disebut sebagai energy connection. Anda cukup buka situs Energy Australia di http://www.energy.com.au dan mengisi formulir lalu mengirimkannya/submit. Satu atau dua hari kemudian surat konfirmasi akan dikirimkan kepada Anda termasuk tagian deposit sebesar AUD 120. Deposit ini bisa diambil kembali ketika Anda sudah tidak menyewa unit tersebut. Deposit ini bisa tidak dibayar asalkan Anda bersedia menggunakan fasilitas auto debit untuk pembayaran tagihan listrik/gas. Anda cukup mengisi formulir yang menyatakan bahwa Anda bersedia tagihan listrik/gas (biasanya per 3 bulan) Anda dipotong langsung dari rekening bank Anda. Jika semua tahap di atas sudah dilakukan, Anda bisa menggunakan fasilitas energi dengan nyaman.

Bayar Semua Tagihan Anda dari Rumah

Hampir semua bank di Sydney dilengkapi dengan phone banking dan net banking. Semua transaksi, kecuali penarikan cash, bisa dilakukan dengan kedua fasilitas ini. Anda cukup menelpon atau login ke netbanking bank Anda, semua transaksi pembayaran bisa dilakukan. Semua tagihan meliputi sewa flat, tagian energi dan telepon bisa dibayar dengan phone atau net banking dari rumah. Begitu mudah.

[bersambung]

Mengapa Bahasa Inggris Mereka Tidak OKE?

[sebuah pengamatan empirik]

Pernahkah Anda memperhatikan dosen Anda atau siapa saja yang sudah menamatkan pendidikan (S2 atau S3) di luar negeri tetapi Bahasa Inggrisnya masih mengenaskan? Pernahkan Anda merasa kecewa denga cara mereka berkomuniakasi dalam Bahasa Inggris (terutama komunikasi oral) karena logat dan pronounciation mereka masih sangat Indonesia (bahkan Jawa, Bali, Batak atau Madura)?

Umumnya, kita berpikir bahwa sekolah di luar negeri akan membuat kita berubah drastis dalam hal Bahasa Inggris. Mengapa tidak, karena setiap saat mereka, orang yang sekolah di luar negeri, harus berkomunikasi dalam bahasa Inggris. Lebih parah lagi, kita menduga, mereka tidak akan bisa hidup dan bertahan di Luar Negeri (tentunya yang berbahasa Inggris) jika tidak mampu berkomunikasi dalam Bahasa Inggris. Mereka harus mengikuti kuliah, membuat tugas paper, mengikuti ujian, memberi seminar dan bahkan belanja di pasar dengan Bahasa Inggris. Jadi, Bahasa Inggris adalah keharusan. Tanpa itu, bye bye!

Anggapan dan asumsi inilah yang membuat kita terkejut dengan kemampuan Bahasa Ingris mereka, terutama cara mereka berbicara yang kadang menurut kita tidak mencerminkan mereka pernah menjalani pendidikan di luar negeri.

Tentu saja sangat banyak diantara mereka yang Bahasa Inggrisnya sangat bagus, namun bukan itu yang hendak kita diskusikan saat ini. Mari kita lihat apa yang sesungguhnya terjadi di Luar Negeri, di mana dosen dan pejabat kita menamatkan pendidikannya. Bagaimana seringkali, menurut kita, mereka tidak improve Bahasa Inggris setelah bertahun-tahun di luar negeri?

Tinggal Bergerombol dengan orang Indonesia

Umumnya jika kita jauh dari kampung halaman, kita cenderung memilih tinggal berdekatan dengan orang yang berasal dari daerah yang sama. Tuntutan untuk beradaptasi yang tinggi serta permasalahan akademik yang sangat pelik membuat kita tidak mau mempertaruhkan sebagian hidup kita untuk berkompromi. Alhasil kita memilih tinggal dengan orang Indonesia yang diharapkan tidak akan menimbulkan persoalan kultur yang serius. Energi bisa digunakan sepenuhnya untuk urusan akademik, bukan ‘terbuang-buang’ untuk beradaptasi dengan kebudayaan dan cara hidup baru, seandainya kita tinggal dengan orang asing. Hal ini sangat masuk akal dan sanggat natural. Wajar.

Dibalik kenyamanan yang kita dapatkan, tinggal dengan sesama orang Indonesia membuat kita kehilangan kesempatan berbahasa Inggris secara aktif. Awalnya mungkin ada rencana untuk menggunakan Bahasa Inggris dengan sesama orang Indonesia namun seiring waktu, kesibukan membuat kita lupa dan malas berbahasa Inggris. Sering kali terasa terlalu ‘ribet’ berbahasa Inggris dengan orang Indonesia yang kita yakini bisa berbahasa Indonesia, bahkan Jawa, Bali, Manado, Batak, Sunda atau bahasa lain yang kadang justru lebih nyaman dipakai.

Berbeda dengan jika kita tinggal dengan orang asing, kita ‘terpaksa’ harus berbahasa Inggris , meskipun masih ‘belepotan’ setidaknya kita practice setiap hari. Tanpa Bahasa Inggris berarti tiada komunikasi dan ini hampir tidak mungkin kalau kita tinggal serumah karena terlalu banyak yang harus dilakukan dan dikelola bersama.

Rindu Indonesia

Berada jauh dari tanah air dan keluarga yang kita cintai membuat perasaan rindu sangat mudah muncul. Kerinduan ini biasanya terwujud dengan keingingan mendengar lagu Indonesia, makan masakan Indonesia, bercakap-cakap dengan orang Indonesia tentang Indonesia dengan bahasa Indonesia (bahkan bahasa Jawa atau Bali atau Sunda dll.). Lagi-lagi ini sangat wajar. Akibatnya, kita cenderung berteman dengan orang Indonesia, pergi ke restoran Indonesia yang pelayannya orang Indonesia sehingga untuk pesan makanan pun tidak harus memakai bahasa Inggris. Hasilnya, kita justru cenderung improve kemampuan bahasa Jawa dibandingkan bahasa Inggris.

Orang Indonesia Lebih Mengerti Saya

Banyak persoalan di rantau yang tidak bisa kita selesaikan sendiri. Mulai dari hal kecil bagaimana menemukan tempat tinggal yang cocok, mencari peralatan rumah tangga yang murah (bahkan gratis) hingga hal-hal serius yang berkaitan dengan persoalan akademik dan adaptasi di lingkungan baru. Dalam situasi seperti ini, yang paling bisa diandalkan adalah orang Indonesia yang notabene senasib sepenanggungan di negeri orang. Hal ini juga yang membuat kita lebih memilih bergaul lebih banyak dengan orang Indonesia. Tentu saja, sekali lagi, ini sangat tidak membantu kita meningkatkan kemampuan berbahasa Inggris.

Anggapan semacam ini tentu tidak bisa dibantah. Namun ada satu hal yang baik untuk dipertimbangkan bahwa untuk mendapat perhatian yang baik, kita HARUS bisa memberi perhatian yang baik pula. Jika kita bisa memberikan perhatian dan pertolongan yang tulus kepada orang (non-Indonesia), diapun tentu bisa menyadari dan sebagai manusia, merasa akan kewajiban moralnya untuk membantu. Kalau kita bisa (berusaha) mengerti tentang mereka, masa mereka tidak sedikitpun berusaha megerti?

Satu kasus menarik, seorang kawan yang sedang menjalani pendidikan di luar negeri curhat tentang flat mate-nya (sama-sama orang Indonesia) yang tidak mau diajak berkompromi, mau menang sendiri dan tidak mau menjalankan kewajiban rumah tangga (buang sampah, nyapu, dll.). Ketika saya tanya mengapa tidak dibicarakan saja baik-baik, dia menjawab “saya sungkan, dia jauh lebih senior dari saya”. Oops!

Orang Lokal Sulit Diajak Bergaul

Ini anggapan umum sekali di kalangan pelajar Indonesia yang sekolah ke luar negeri. Memang kenyataannya tidak mudah mengajak mereka bergaul akrab dengan kita. Agak sulit bagi mereka, terutama mahasiswa tingkat postgraduate, untuk berkumpul dengan sesama mahasiswa Indonesia. Hal ini perlu disadari bahwa mahasiswa postgraduate lokal ini umumnya belajar sambil bekerja, sehingga agak sulit bagi mereka untuk menghabiskan waktu bergaul dengan kita.

Satu hal yang lebih penting adalah, mereka umumnya berapriori bahwa kita, mahasiswa Indonesia (dan asia pada umumnya) tidak bisa berbahasa Inggris dengan baik. Pernah seorang kawan dari Australia mengatakan hal ini. Ditambah lagi sikap kita yang secara umum pasif, membuat mereka semakin yakin ketidakmampuan kita berbahasa Inggris.

Terbatasnya kesempatan bergaul dengan orang lokal di mana kita belajar membuat kita sulit menyerap kemampuan bahasa terutama yang berkaitan dengan hal-hal non formal seperti slang, lelucon, aksen dll.

Ini adalah sedikit dari banyak alasan mengapa tidak semua orang yang telah menamatkan pendidikannya di luar negeri (yang berbahasa Inggris ) bisa meningkatkan kemampuan Bahasa Inggris mereka secara signifikan. Sesungguhnya, walaupun terdengar klise, adalah tergantung pada diri kita masing-masing. Sejauh mana ‘keuntungan’ yang ingin kita peroleh dengan bersekolah di luar negeri. Jika selembar ijasah adalah pencapaian tertinggi yang diinginkan, barangkali tidak ada yang salah dengan bahasa Inggris yang masih ‘clangak-clunguk’.

When Your Name Is a “Simple Past Tense”

[a mumble]

William Shakespeare, a great poet, said, “What’s in a name?” to illustrate that there is nothing to worry about a name. Name is just a name. In contrary, Bung Karno, The Indonesian first president, loved to play with the meaning inside a name. To him, a name is (almost) everything. Since he paid so much attention to the meaning of a name, Bung Karno even has changed some people’s name (especially woman) because he thought that the previous name might not be philosophically worthy or even might cause something terrible to the owner. Rima Melati is one of the Indonesian artists whose name was changed by Bung Karno. Although it was not so clear, whether he really wanted to bring something lucky to the name’s owner or perhaps it was only a strategy of a professional playboy to attract woman’s attention, with no doubt Bung Karno had his own opinion about a name.

Seemingly, I, personally, have a similar opinion with Bung Karno. A name, apparently, has a quite significant meaning I should pay attention. At least, it was what I think, especially when I was away from home, living in a strange country with a completely different language.

One day, an Australian Taxation Office (ATO) officer called me in accordance with my Tax File Number (TFN) application. She just wanted to confirm that my name is really “I Made Andi Arsana”. She was confused, firstly because she could not define my first name and last name (as there are too many words in it). Secondly she got confused because there is only one letter in the first name, “I”. Further more, she nearly could not believe when realizing that my name is a “simple past tense”, which means, “I created Andi Arsana” (if so, apparently, it is only my father or mother who MAY call my full name). A quite long conversation was then taken place because I had to explain that the first word, “I” indicates that I am a man, “Made” means I am the second child in a family and “Andi Arsana” is actually my name. Even though she said she understood, I could feel that she thought it was so funny to her.

Another funny experience was what I call a ‘name tragedy’. It was when I registered to Energy Australia for electricity connection via the internet. An officer also called me ‘just’ to confirm that I was a consumer candidate who really exists. She said, (after a long conversation and we got more casual) “It doesn’t sound like a real name when I realized that your name is I Made Andi Arsana. I am afraid that you are somebody who’s just filled the electronic form on the internet without any serious purpose” 🙂 Yes, it was another trouble for having a non-standard name, I think.

If we look to several name of music groupz, for instance, it is actually not new for westerner using a complete sentence as a name. “Michael Learns to Rock”, which is actually a simple present tense, is one of them. It might be a bit strange or at least funny if Indonesian music groups name their group as “Paijo Belajar Ngerock” (Paijo learns to rock –if you are Indonesian, you might find it is funny–).

In addition, the language used in a name also contributes significant impression. When a Balinese boys band named its group as “Superman Is Dead”, which is actually also a simple present tense, nobody thinks it is funny. In contrary, it is considered funky and even great. Perhaps because English is used in the name 🙂

Therefore, if the name could cause a trouble and even danger, I should re-consider my plan to name our future son “I Made Yuin Sydney” 🙂

Sydney, March 6, 2004

Kejujuran

[pelajaran dari seorang bapak]

Kalau ditanya apa arti kejujuran, masing-masing orang mungkin akan memberi jawaban yang berbeda-beda. Kira-kira ada yang mengartikan ‘selalu datang tepat waktu saat kerja dan tidak pernah nitip kartu presensi untuk digesekkan oleh teman lain’. Ada juga barangkali yang mengartikan kejujuran sebagai perbuatan yang tidak pernah menggelapkan penggunaan uang organisasi, walaupun jelas-jelas tidak ada yang tau. Dan pasti ada juga yang menganggap kejujuran sebagai keterusterangan seseorang kepada pasangan hidupnya. Jika saya sendiri ditanya tentang kejujuran, saya punya pendapat sendiri.

Bapak saya adalah seorang laki-laki desa yang bahkan tidak tamat Sekolah Dasar. Tapi saya bangga dengan beliau, jelas bukan karena kepintarannya, tapi akan kemampuannya untuk berpikir ke depan dan mengadaptasi tantangan jaman. Dengan paham ke-desa-annya dan ke-tidaksekolah-annya, toh beliau akhirnya memiliki dua orang anak yang sudah sarjana. Ini tentu karena pemahamamannya yang baik terhadap arti pendidikan. Ya, tentu saja disamping karena beliau dikaruniai rejeki yang cukup untuk menyekolahkan kami, anak-anaknya. Yang jelas, semua keberhasilan ini tidak lepas dari dukungan Bapak dan Ibu yang walaupun sederhana, tapi tulus.

Suatu ketika, saat saya baru saja dua sebulah bekerja di sebuah perusahaan swasta nasional di Jakarta, beliau, bapak, saya minta untuk datang ke Jakarta dari Bali. Tentu saja beliau merasa senang sekali. Walaupun jaman dulu, konon beliau sudah pernah ke Jakarta, tapi itu tahun 1972, dan itupun sebagi kuli bangunan, ketka TMII sedang dibangun. Saya ingat sekali, waktu saya kecil, bapak sering membanggakan pengalamannya ini kepada kami, keluarganya. Setiap kali bapak menceriakan ini, saya hanya terbengong. Tidak pernah waktu itu terbayang akan bekerja di kota metropolitan ini, apalagi bisa mendatangkan bapak ke Jakarta dengan ticket yang saya beli sendiri.

Selama di Jakarta, bapak saya ajak jalan-jalan dengan mobil seorang teman, yang saya pinjam plus sopirnya. Maklum saja, saya baru saja di Jakarta, sehingga untuk nyetir sendiri masih belum berani. Saya mengajaknya melintasi Tol di sepanjang Bekasi Jakarta, melewati kawasn Sudirman yang megah dengan perkantorannya, kawasan Thamrin dan bahkan tempat kediaman presiden. Bapak saya adalah seorang yang ekspresif, beliau dengan gampang mengungkapkan kekagumannya. Dan seperti layakya orang desa, kekaguman itu ditujukan kepada lebarnya jalan tol, tingginya gedung-gedung pencakar langit, lampu penerangan jalan, monumen nasinal dan semua wujud fisik yang memang tidak bisa disaksikan di Bali, daerah tempat tinggal kami.

Tidak henti-hentinya bapak berdecak kagum sambil sesekali terlotar kata-kata dari mulutnya “ini baru sorga!” dalam Bahasa Bali yang kental. Sorga?! saya kadang geli mendengarnya dan konyol saya rasa. Terlintas juga ada perasaan tidak enak pada teman saya, karena bapak saya begitu udik gayanya. Tiba-tiba saya menikmati keheranan bapak yang vulgar itu. Inilah arti kejujuran, saya kira. Bagi saya bapak begitu jujur mengungkapkan penilaiannya. Kalau senang, dia katakan, kalau mengagumkan dia akui. Saya akhirnya berpikir, seandainya semua orang bisa jujur seperti itu. Mungkin tidak perlu ada ‘kesalahan prosedur’ seperti yang saat ini sedang pupuler. Tidak akan terjadi salah sasaran dalam pemberian bantuan, misalnya, jika saja masyarakat jujur mengatakan apakah dia mampu atau tidak secara ekonomi. Dan bukankan pendidikan juga sering salah sasaran karena ketidakjujuran masyarakat dalam mengakui apa yang mereka tau dan apa yang mereka tidak tau. Saya tiba-tiba saja merasa iri dan malu, batapa seringnya saya berpura-pura dan tidak jujur hanya karena takut dibilang bodoh. Sebenarnya saya dan mungkin juga Anda (ini hanya mungkin, bisa jadi saya salah) sering berpura-pura tahu dan ‘sok biasa’ (misalnya naik lift, makan di restoran mewah dengan piring dan sendok, garpu serta pisau yang sebenarnya kita tidak mengerti pemakaiannya, teknologi komputer baru, alat pencetakan dan lain-lain) walaupun kita sama sekali belum pernah melakuannya. Mengapa? Ya karena saya tidak jujur. Karena saya terlanjur takut dengan anggapan orang.

Bapak saya tetap banyak berdecak kagum, tetap banyak bertanya dan tetap banyak berkomentar. Kejujuranya inipun disampaikannya di desa melalui rembug informal di warung, di piinggir jalan dan bahkan di Pura. Kejujuran ini mungkin tidak sepenuhnya baik, tapi kadang-kadang kita perlu menunjukkan keheranan, kekaguman, antusiasme, bahkan ketidakbisaan kita.

Pekerjaan Baik

Entah disebut keberuntungan atau kebetulan, sebelum menamatkan kuliah, saya telah diterima di sebuah perusahan consumer good yang boleh dibilang top di Indonesia, Unilever. Kalau saya bilang, Unilever ini termasuk salah satu perusahaan ‘gila’ dalam meberlakuan proses training terhadap karyawannya. Untuk calon TSS (Territory Sales Supervisor), Unilever mengharuskan untuk training dengan cara langsung terjun ke lapangan, jualan sabun, pasta gigi bahkan margarin dan mie. Sebuah pekerjaan yang memang tidak pernah saya impikan sebelumnya.

Continue reading “Pekerjaan Baik”