Tak Berujung

[catatan kecil setelah tiga purnama]

Mungkin benar, aku sesungguhnya adalah serakan tak berarti dalam jagat raya yang terlalu besar untuk diukur. Walau pelajaran kebathinan pernah mengisyaratkan dia tetap masih cukup kecil untuk dibayangkan dengan imajinasiku yang liar, dia,kenyataannya masih sangat besat. Menjadi bagian yang entah apa maknanya, kadang aku merasa begitu berarti. Di lain hari ketiadamengertian menghiasi pikiran dan kesendirianku menyusuri jalan tak berujung. Lahir, hidup tumbuh menjadi besar dan kemudian mati, konon adalah hukum Tuhan yang tiada ingkarannya berlaku untuk makhluk manusia. Kelahiran dan kematian, dua hal yang memulai dan mengahkiri cerita, adalah misteri yang kabarnya manusia tidak diberi kuasa untuk memilih waktu dan cara terjadinya. Semoga tetap rahasia ini akan jadi misteri agar hidupku menjadi bergairah dan selalu menakjubkan.

Karena rahasianya, tentu bukan kelahiran dan kematianku yang menjadi perhatian melainkan adalah hidup dan pertumbuhan itu, masa di mana aku diberi cukup wewenang untuk mengatur dan menentukan. Mengisi hidup itu dengan akal, intuisi dan naluri adalah seni. Hak untuk menjalankan kebenaran bathin adalah di atas semuanya sampai suatu ketika kehidupan bersama orang lain melahirkan batasan-batasan sosial yang konon memudahkan tapi seringkali terasa membelenggu. Aku hidup dalam lingkaran itu dan menjadi bagian yang tak terpisahkan. Larutlah irama hidup dalam alunan mantra-mantra yang melingkar membatasi. Aku menjadi bagian dari sekumpulan ‘aku’. Mengikuti naluri dan menyesuaikan dengan lingkaran, itulah yang menjadi seni perjalanan pada akhirnya!

Memutuskan untuk memilih pasangan hidup adalah naluriku. Namun menjalani ritual yang kadang terasa tak berarti adalah bentuk kompromi terhadap aturan lingkaran yang mengelilingi. Pernikahan adalah hasilnya. Inilah perpaduan yang kuharap melahirkan apa yang disebut kebahagiaan. Pernikahan menjadi tradisi, dicirikan dengan senyum, tawa dan bahkan gairah yang dibalut busana, kemegahan pesona dan keangkuhan duniawi. Aku berubah pikiran!. Bahwa pernikahanku adalah senyum, tawa, pesta dan bahkan nafsu yang memabukkan. Ini adalah ujung perjuangan yang layak aku dapatkan setelah seribu hari menahan hasrat. Ini kemenanganku!

Waktu berlalu tanpa sekejap pun berhenti untuk sejenak memberi jeda. Sementara keberlangsungan tidak boleh terhenti, aku harus memberi makna setiap peristiwa dan menandai setiap pelajaran yang hanyut bersamanya. Akhirnya harus kulakukan sambil berjalan, berlari kecil bahkan terbang untuk mengimbangi. Tentu saja catatan yang dibuat di atas lontar yang digamit di tepi sungai dengan tusukan ilalang yang diraih tanpa rencana adalah catatan yang sama sekali tidak lengkap. Pelajaranku tentulah setengah-setengah dengan hasil yang barangkali mengenaskan. Tapi semoga cukup untuk memberi makna pada perjalanan itu. Dengan catatan yang terbatas, aku temukan ceceran makna.

Ada kesadaran kecil menyeruak, pernikahan ini ternyata adalah permainan yang selengkapnya. Ada air mata yang mengimbangi tawa, ada perih yang mengimbangi kenikmatan dan ada kegelapan hati yang seringkali bahkan mengalahkan kecerahan. Pernikahanku ternyata adalah juga pengabdian dan pekerjaan yang harus diupayakan sendiri untuk mencapai hasil bahkan bonus yang diinginkan. Pernikahan adalah perjuangan. Perjuangan yang jauh lebih berat dari menuliskan kode-kode untuk menerjemahkan analogy ke digital, perjuangan yang jauh lebih sulit dari bercerita dan berkelakar tentang kebusukan tikus-tikus di sekitarku, perjuangan yang jauh lebih sulit dari hinaanku terhadap seorang Bapak yang telah menelantarkan anak istrinya karena ketertarikannya pada kenikmatan duniawi. Dan perjuangan ini juga jauh lebih sulit dari sekedar gumaman turut prihatin karena seorang anak kecil tidak bisa sekolah karena hari ini Bapaknya tidak bisa mencuri! [Iwan fals’]

Masih terlalu banyak waktu dan tempatku untuk belajar semoga aku selalu menyempatkan diri memberi makna. Semoga pernikahan ini menjadi apa adanya, tidak menjadi TUHAN dan tidak juga menjadi hantu bagiku. Semoga! [Harry Rusly’s]

Advertisements

Statistics

    counter_id=76891; display_type=”countries_online”; skin=null; mapside=null; autoresize=null;

    counter_id=76891; display_type=”countries_ranking”; skin=null; mapside=null; autoresize=null;

    counter_id=76891; display_type=”daily_country_visitors”; skin=null; mapside=null; autoresize=null;

    counter_id=76891; display_type=”total_country_visitors”; skin=null; mapside=null; autoresize=null;

    counter_id=76891; display_type=”cities_online”; skin=null; mapside=null; autoresize=null;

    counter_id=76891; display_type=”recent_cities”; skin=null; mapside=null; autoresize=null;

    counter_id=76891; display_type=”daily_city_visitors”; skin=null; mapside=null; autoresize=null;

    counter_id=76891; display_type=”total_city_visitors”; skin=null; mapside=null; autoresize=null;

Windy v.s Bogi

[menerjemahkan sandi alam]

Seorang kawan, ketika sama-sama memasuki sebuah perusaan consumer goods di Jakarta, memiliki nama yang cukup aneh: PIPING. Cukup lama saya menunggu saat yang tepat untuk menanyakan sejarah di balik nama itu, sampai akhirnya saya benar-benar bertanya. Bapaknya adalah seorang sarjana sipil dan dia lahir ketika bapaknya sedang menjalankan sebuah proyek pemasangan pipa. Piping berasal dari bahasa Inggris piping (baca : paiping) yang kalau diterjemahkan bebas kira-kira artinya pemipaan :)) atau pemasangan pipa. Seorang civil engineer akan menangkap ilham yang sangat teknis sifatnya dan menerapkannya dalam lingkungan kehidupannya. Bisa dibayangkan kalau bapaknya bukan engineer melainkan staff accounting atau bendahara proyek, jangan-jangan anaknya diberi nama Cost-anto atau Budget Riawan atau salah-salah malah Korupsiana.

Dalam fenomena serupa, saya juga tertarik dengan nama seorang kawan lain yang bernama TATIT. Dalam bahasa Bali, tatit berarti petir (bisasanya disertai halilintar yang menggelegar). Sama halnya dengan Piping, nama ini pun saya tanyakan maknanya. “Ini adalah identifikasi diri”. Bergitu jawaban kawan saya ketika itu. Dengan mengidentifikasi diri sebagai petir/halilintar, konon dia diharapkan akan menjadi seorang yang gesit, cepat dan trengginas menjalani hidup. Konon bapaknya adalah seorang petani Bali sederhana yang tekun mengamati fenomena alam.

Di Jogja, ketika masih bersekolah, saya juga bertemu dengan teman yang bernama cukup keren, BOGI. Saya menduga kawan ini pastilah orang tuanya cukup gaul sehingga memberi nama yang keren pada anaknya. Namun ternyata tidak demikian adanya. Ketika saya tanya, jawabannya sangat sederhana. Bogi berasal dari kata reBO leGI yaitu kombinasi perhitungan hari berdasarkan basis 7 (hari-hari yang biasa kita pake saat ini) yaitu Rebo/Rabu dan basis 5 (-hitungan Jawa-Legi, Pahing, Pon, Wage, Kliwon) yaitu Legi. Konon kawan saya ini lahir pada hari Rabu yang jatuh pada hitungan Legi.

Hal serupa juga terjadi pada kawan lain yang salah satu kata dalam namanya adalah TUHING yang ternyata berarti seTU paHING (Sabtu Pahing)

Ketika sempat bersekolah di negeri orang, saya bertemu dengan seorang kawan lain dari Indonesia yang bernama WINDY. Kebetulan saja tempat di mana kami belajar cukup dingin dengan angin yang cukup kencang menerpa. “Cold and windy” begitu kami menyebutnya saat itu. Tanpa pikir panjang saya pun menebak makna nama kawan ini. “Kamu pasti lahir saat musin angin kencang ya?” begitu saya berkelakar dalam sebuah bembicaraan santai. “Bukan, namaku Windy karena aku lahir hari Rebo” begitu dia membantah. Apa kaitannya Windy dengan Rebo? Saya bertanya-tanya dalam hati. Ternya Windy adalah ‘pelesetan’ dari WEDNESDAY yang kira-kira artinya Rebo. :))

Ada pelajaran menarik dari pengalaman ini. Orang-orang yang berbeda menerapkan satu fenomena keseharian ke dalam objek yang sama: NAMA. Tenyata hasilnya pun berbeda. Di satu kesempatan Rabu bisa menjadi BOGI, Rabu yang lain bisa menjadi WINDY. Memang benar, bahwa sudut pandang sangat mempengaruhi orang dalam mengambil keputusan. Tanda-tanda alam boleh saja sama, tapi kepekaan dan pengetahuan manusia untuk menerjemahkannya tetap saja memberi pengaruh yang berarti dalam pengambilan keputusan.

10 Things about Microsoft Word you should know

[simple tips for beginner user]

[1] You can ask Ms Word to do almost anything (open file, write, change font, close document, etc) by your VOICE COMMAND. Using microphone, simply say “open” to open a file, you will face the open dialog window.

[2] Applying keyboard shortcut is much faster than using mouse. Try CTLR + R, CTLR + J, CTLR + L, CTLR + E for alignment.

[3] You can change the case of your font (small to caps, title case, sentence case, etc). Simply highlight the word(s) whose case you want to change and press ALT + O + E.

[4] You can ask Ms Word to repeat similar-patterned operation by recording and running macro. Macro is a visual basic-based customization you can use for automating operations in Ms Word.

[5] You can create a mail merge.

If you have a list of names and addresses to where you are going to send a letter (invitation, information, etc), you can use mail merge tool to combine a master letter with a file containing the list of names and addresses.

[6] You can change the line spacing simply by pressing CTRL + 1 or CTRL + 5 or CTRL + 2

[7] You can show shortcut of every button in screen tips by activating it through menu TOOLS >> CUSTOMIZE.

[8] You can perform writing review digitally (correcting, giving comments, deleting and providing suggestion) using reviewing toolbar.

[9] You can customize your page numbering to be page x of y pages or even in foreign language (halaman x dari y halaman–> Indonesian)

[10] You can create an auto shape (circle, rectangular, etc) and fill it with your desired picture/image.

Berburu Beasiswa ke Luar Negeri

[dari pengalaman dan pengamatan]

Pengantar
Bagi sebagian banyak orang, informasi tentang beasiswa untuk bersekolah di luar negeri bukanlah sesuatu yang baru. Kemudahan mendapatkan informasi dari berbagai media terutama internet telah membuat informasi ini begitu mudah diperoleh. Namun demikian, kenyataannnya masih ada saja orang yang mempunyai niat yang besar untuk bersekolah tetapi tidak (belum) tahu apa yang harus dilakukan untuk mendapatkan beasiswa. Tentu saja sekolah dengan biaya sendiri tidak akan dibahas di sini.
Tulisan ini ditujukan bagi siapa saja yang tertarik mendapatkan beasiswa dan masih memerlukan informasi dasar tentang beasiswa. Di sini akan dibahas beberapa hal meliputi gambaran umum beberapa jenis beasiswa (reguler dan non reguler), negara tujuan pendidikan dan persiapan yang diperlukan untuk melamar beasiswa. Lebih jauh, informasi tentang TOEFL dan IELTS juga diberikan termasuk strategi melakukan kontak dengan Profesor dan melamar di suatu institusi pendidikan di luar negeri.

Sebelum Memutuskan Melamar Beasiswa
Saat ini terdapat sangat banyak jenis beasiswa yang secara rutin disediakan untuk masyarakat Indonesia terutama oleh Negara donor. Sebelum memutuskan untuk melamar beasiswa, ada beberapa pendekatan yang bisa dilakukan. Pendekatan pertama adalah mulai dari menentukan jurusan/bidang ilmu yang ingin dipelajari. Selanjutnya mencari informasi tentang perkembangan ilmu tersebut di dunia dan memetakan ‘kekuatan’ negara-negara yang mengembangkan ilmu tersebut. Memilih institusi yang sesuai di suatu negara yang diinginkan adalah langkah berikutnya. Pendekatan lain bisa juga dilakukan dengan terlebih dahulu melihat kekuatan institusi yang dicirikan dengan kualitas SDM yang dimiliki institusi yang bersangkutan. Dalam kenyataannya, pendekatan pragmatis juga biasa dilakukan yaitu dengan melihat benefit yang diberikan oleh masing-masing beasiswa. Hal penting yang biasanya dipertimbangkan adalah besarnya allowance yang diberikan dan apa saja yang dicover. Apakah beasiswa yang bersangkutan menanggung keluarga atau tidak adalah hal penting yang kadang harus dipertimbangkan. Di luar semua itu, melamar beasiswa yang ‘terjangkau’ oleh kemampuan kita adalah hal yang lebih utama.

Beasiswa Reguler
Beberapa beasiswa yang secara rutin diberikan kepada masyarakat Indonesia adalah AusAID (Australia), STUNED dan NFP (Belanda) Fulbright (US), Chevening (UK), DAAD (Jerman), Mongbukogakusho/Monbusho (Jepang) dan lain-lain. Berikut adalah rangkuman tentang masing-masing beasiswa tersebut:

No Beasiswa Negara Bahasa Deadline Jenjang Website
1 AusAID Australia Inggris September S2, S3 www.adsjakarta.or.id
2 STUNED Belanda Inggris Maret S2 www.nec.or.id
3 NFP Belanda Inggris Mei S2 www.nec.or.id
4 DAAD Jerman Jerman Desember S2, S3 www.daad.de
5 Monbusho Jepang Jepang April S2, S3 www.dikti.org
6 Chevening UK Inggris Maret S2 www.chevening.or.id
7 dll

Secara umum, persyaratan hampir semua beasiswa sama, meliputi: kemampuan bahasa, Indeks Prestasi dan kemampuan untuk menunjukkan kontribusi pelamar terhadap pembangunan di Indonesia setelah menyelesaikan pendidikan. Informasi lebih rinci tentang masing-masing beasiswa bisa didapatkan dari website masing-masing. Semua persyaratan dan proses formal tentang beasiswa tersebut disediakan secara rinci di websitenya. Sebagai contoh, AusAID mensyaratkan pelamar harus memenuhi nilai TOEFL = 500 atau IELTS = 5.0 (lihat penjelasan tentang TOEFL dan IELTS di bawah) dengan indeks prestasi sebesar 2.90. Jika dilihat dari persyaratannya dan kuota sebesar 300 orang, AusAID adalah jenis beasiswa yang ‘terjangkau’ dan realistis bagi kebanyakan mahasiswa. Mungkin itu sebabnya pelamar bisa mencapai 5000 orang setiap tahun.

Beasiswa non Reguler
Selain beberapa jenis beasiswa rutin di atas, ada beberapa peluang sekalah ke luar negeri dengan beasiswa khusus. Kunci utama mendapatkan beasiswa semacam ini adalah rajin melakukan kontak dengan akademisi di luar negeri termasuk mengamati perkembangan ilmu dan teknologi yang berkaitan dengan disiplin yang ingin ditekuni. Di University of New South Wales, Sydney, misalnya, ada sangat banyak mahasiswa internasional (biasanya India, China dan Taiwan) yang melanjutkan studi S3 dengan beasiswa yang berasal dari research project dan beasiswa pemerintah lokal. Kemampuan mereka menjalin jaringan komunikasi telah mengantarkan mereka bisa memperoleh beasiswa tersebut. Jika diperhatikan, mereka adalah mahasiswa dengan kemampuan bahasa Inggris yang tidak istimewa. Namun mereka mempunyai semangat dan keberanian yang nampaknya perlu ditiru. Banyak juga dari mereka yang membayar uang sekolahnya dengan gaji sebagai tutor atau lecturer/research assistant. Yang menarik dari mereka adalah cara pandangnya yang ‘merdeka’ dan anti kemapanan. Berbeda dengan kita di Indonesia yang sering kali tidak ‘tega’ berangkat sekolah karena keluarga, mereka terlihat sangat menikmati hidup dengan keluarga yang dihidupi dengan beasiswa yang pas-pasan.
Sama halnya dengan di Australia, ada mahasiswa yang bisa bersekolah di Jerman atau Jepang dengan beasiswa semacam ini, karena hubungan baik dengan professor. Tambahan uang untuk biaya hidup bisa didapatkan dengan bekerja part time. Di Sydney, misalnya, bekerja menata buku hingga 20 jam per minggu di perpustakaan bisa digaji AU$ 18 per jam yang artinya AU$ 360 seminggu. Ini cukup untuk biaya hidup keluarga dengan satu anak di Sydney. Istri/suami yang tidak sekolah juga bisa bekerja full time dengan jenis pekerjaan yang tidak sulit didapatkan di Sydney. Kebanyakan mahasiswa Indonesia di Sydney bekerja di swalayan atau restoran dengan gaji berkisar antara AU$ 10 – 18 per jam. Pendapatan ini tentu bisa digunakan membantu biaya pendidikan.
Agak berbeda dengan di Australia, mahasiswa maupun keluarga umumnya tidak bisa bekerja jika bersekolah di Belanda atau Inggris (tergantung jenis beasiswa). Hal ini juga menjadi salah satu pertimbangan sebelum melamar beasiswa.

Beasiswa dulu atau sekolah dulu?
Ada beberapa jenis beasiswa seperti STUNED dan NFP di Belanda yang mensyaratkan pelamar sudah harus diterima di salah satu institusi pendidikan di Belanda. Oleh karena itu, sebelum melamar beasiswa harus terlebih dahulu melamar sebagai mahasiswa di salah satu institusi yang diinginkan. Surat penerimaan dari institusi inilah yang kemudian digunakan untuk melamar beasiswa. Aplikasi ke perguruan tinggi luar negeri, secara umum, tidak sulit karena bisa dilakukan secara online melalui website isntitusinya. Cara lain adalah dengan mendownload formulir dari website, dan mengirimkannya bersama persyaratan lain melalui pos. Di TU Delft, Belanda, misalnya, kontak pendahuluan bisa dilakukan dengan admission officer melalui email dan selanjutnya berkas bisa dikirim lewat pos. Melalui kontak pendahuluan ini, seperti yang bisa dilakukan dengan The University of Nottigham, UK (http://www.nottingham.ac.uk/), kita juga bisa menyerahkan berkas digital sehingga admission officer bisa memberi gambaran seberapa besar peluang untuk diterima. Biasanya mereka sangat membantu dan informatif. Bisa dipahami karena calon mahasiswa adalah konsumen yang akan ‘menghidupi’ mereka.
Berbeda dengan beasiswa ke Belanda, beasiswa ke Australia dan UK tidak memerlukan persyaratan diterima di institusi pendidikan. Yang harus dilakukan adalah melengkapi syarat beasiswa dan mengirimkannya ke institusi pemberi beasiswa misalnya Australian Development Scholarship (AusAID) atau Chevening. Pendaftaran ke institusi pendidikan akan dilakukan setelah beasiswa diberikan.

Apa yang Harus Disiapkan?
Yang pertama adalah kemampuan bahasa asing terutama bahasa Inggris. Ukuran kemampuan bahasa Inggris yang diakui dan paling banyak digunakan di seluruh dunia adalah TOEFL (Test of English as a Foreign Language -www.toefl.org-) dan IELTS (International English Language Testing System –www.ielts.org-). Untuk beasiswa berbahasa non Inggris, misalnya Jerman atau Jepang, pelamar tidak selalu harus bisa berbahasa Jerman atau Jepang karena sebelum berangkat akan ada kursus bahasa hingga satu tahun. Sebagai gantinya, pelamar disyaratkan mampu berbahasa Inggris dengan baik.
Meskipun kemampuan Bahasa Inggris sudah bagus, seringkali tidak menjamin bisa mendapatkan nilai TOEFL/IELTS yang memenuhi syarat. Hal ini terjadi karena TOEFL dan IELTS adalah juga memerlukan kebiasaan. Seperti halnya UMPTN/SPMB, semakin kenal Anda dengan pola soalnya, semakin mudah menjawab dengan benar. Tidak jarang, menguasai trik menjawab soal juga membantu untuk meningkatkan nilai. Untuk ini, tidak ada jalan lain kecuali berlatih berlatih dan berlatih! Materi latihan bisa didapat dengan mudah di toko buku di sekitar kita.
Untuk mendapatkan beasiswa dan diterima di sebuah institusi pendidikan, rekomendasi sangatlah penting. Rekomendasi bisa diperoleh dari pembimbing skripsi/thesis dan ketua jurusan/program studi mengingat merekalah yang (seharusnya) paling tahu keampuan akademik pelamar. Rekomendasi lain bisa diperloleh dari akademisi yang mumpuni di bidang ilmu yang ingin ditekuni dengan sebelumnya membuat kontak secara intesif. Tips untuk ini adalah, rajin membaca tulisannya (bisa didapat dengan mudah di jurnal baik hardcopy maupun softcopy) dan memberi komentar melalui email kepada penulis. Adalah penting menunjukkan ketertarikan kita tentang ilmu tersebut yang ditandai dengan komentar, pertanyaan bahkan sanggahan. Seorang kawan yang sekarang belajar di Jepang mengatakan bahwa menjalin hubungan yang sifatnya personal juga membantu, terutama untuk professor di Asia.
Untuk bidang ilmu teknik di Eropa, terutama Jerman dan Belanda, skor GRE (Graduate Record Examination) kadang diperlukan. GRE (www.gre.org) adalah sebuah standar ujian untuk bidang ilmu eksakta, seperti Tes Potensi Akademik yang diterapkan di Indonesia. Sedangkan untuk ilmu manajemen diperlukan skor GMAT (Graduate Management Admission Test –www.gmat.org-). Bagi yang berniat melamar beasiswa, ada baiknya menyiapkan diri mengikuti ujian tersebut. Informasi lebih rinci tentang model, waktu dan biaya tes bisa dilihat di websitenya.

Beasiswa untuk Semua Orang
Ada yang menganggap bahwa beasiswa reguler hanya untuk dosen dan pegawai pemerintah. Ini tidak sepenuhnya salah karena memang prosentase terbesar adalah sektor pemerintah dan pendidikan. Namun bukan berarti untuk swasta dan pribadi tidak bisa. Dari pengalaman, ada cukup banyak penerima beasiswa AusAID yang pada saat berangkat berstatus sebagai ‘pengangguran’. Pada saat mendaftar mereka adalah karyawan di sebuah perusaahaan kecil menegah di Indonesia dan ‘hanya’ karena kemampuan bahasa inggris dan komunikasi yang baik, mereka mendapat beasiswa. Tentu saja akhirnya mereka keluar dari perusahaannya dan berstatus pengangguran ketika berangkat sekolah. Dari kasus semacam ini, ada juga yang menandatangani perjanjian kembali ke perusahaannya namun banyak juga yang memang tidak berniat kembali. Dari sini bisa dilihat bahwa untuk mendapatkan beasiswa, tidak harus menjadi dosen atau pegawai pemerintah. Beasiswa adalah utuk semua orang.

Lebih Jauh Tentang TOEFL dan IELTS
Salah satu dinding tinggi yang harus dilewati untuk mendapatkan beasiswa adalah TOEFL atau IELTS. TOEFL adalah sistem ujian bahasa Inggris yang terdiri dari 4 seksi ujian yaitu Listening, Structure, Reading and Vocabulary dan Writing (writing baru 2 tahun terakhir ditambahkan untuk computer-based TOEFL). Pada seksi writing, peserta tes diberikan persoalan, misalnya tetang efek negatif televisi bagi perkembangan anak, dan diminta memberikan pendapat tentang persoalan tersebut. Penulisan bisa dilakukan dengan manual maupun diketik langsung di komputer, tergantung kecepatan kita menggunakan keyboard.
Perbedaan mendasar IELTS dengan TOEFL adalah IELTS dilengkapi dengan speaking (listening, reading, writing dan speaking). Pada seksi speaking seorang perseta tes akan diwawancarai (sambil direkam) dengan tiga kategori pertanyaan. Pertanyaan pertama adalah mengenai identitas diri secara umum (nama, asal, tempat tinggal, hobby, pendidikan, dll). Pertanyaan kedua adalah tentang deskripsi sesuatu yang berkaitan dengan kebudayaan atau ilmu, misalnya definisi dan fungsi suatu alat elektronik, penjelasan mengenai sebuah acara kebudayaan, makanan khas suatu daerah, dll. Pada pertanyaan ketiga peserta tes akan diminta berpendapat tentang sesuatu yang lebih abstrak misalnya tentang masa depan pendidikan, makna hari raya, makna jenis musik atau seni, analisa mengenai perbedaan system pendidikan di Indonesia dan luar negeri, dll. Skor IELTS tertinggi adalah 9 dengan nilai yang terpisah untuk masing-masing seksi dan nilai rata-rata keseluruhan. Untuk diterima di perguruan tinggi luar negeri, nilai rata-rata IELTS yang disyaratkan sekitar 6.0-7.5 tergantung bidang ilmunya.
Beberapa jenis beasiswa terutama di Negara Commonwealth lebih memilih IELTS daripada TOEFL karena dianggap lebih komprehensif. Keempat seksi yang diujikan dalam IELTS, secara formal, lebih menjamin seseorang bisa berbahasa Inggris dibandingkan TOEFL. Bentuk ujian yang sebagian besar berupa essay, bukan pilhian ganda seperti TOEFL, juga lebih menjamin hasil dan lebih independen, bebas dari kemungkinan tebak menebak.

Penutup
Informasi dalam tulisan ini masih bersifat gambaran umum. Informasi lebih rinci bisa didapat dengan mudah dari website masing-masing atau dari DIKTI (www.dikti.org) dan peguruan tinggi di seluruh Indonesia.
Terima kasih kepada semua pihak yang telah memberikan informasi penting sehingga tulisan ini bisa terwujud. Akhir kata, semoga tulisan ini dapat memberi inspirasi bagi pembaca untuk tidak berhenti mencari dan menggali informasi lebih dalam. Selamat berburu, sampai jumpa di suatu institusi di luar negeri yang Anda impikan.

Robohnya Tugu Kami

[pelajaran kecil hari ini]

Saya adalah satu dari sekelompok pemuda dari desa tetangga. Datang jauh-jauh ke sini menunggang kuda setelah perjalanan satu hari satu malam. Kami datang diutus Kelihan Adat untuk belajar di padepokan yang paling tersohor di desa ini. Kami bangga karena konon kami adalah pemuda terbaik di desa kami yang terpilih untuk datang dan berguru ke sini. Ya, tentu saja terbaik karena untuk terpilih datang ke sini, kami harus melewati sayembara yang sangat ketat. Bukan saja karena pesertanya datang dari seluruh kampung seantero desa, juga karena ujian yang harus dilalui sangat berat. Memanah sebuah jeruk purut yang diletakkan tepat di atas kepala seorang anak kecil tanpa sedikitpun anak panah boleh menyentuh rambut si anak tentu bukan perkerjaan yang mudah. Bukan saja penghargaan untuk datang dan berguru ke sini yang tidak akan kami peroleh, bahkan kepala kami yang akan dipenggal jika panah kami salah sasaran mengenai kepala anak tersebut. Singkatnya, itu adalah sayembara yang sulit dan bergengsi. Tentu kami boleh bangga karena telah melewatinya dengan sangat baik.

Kabar tentang keberangkatan kami berguru ke sini tentu saja menjadi kabar yang menggemparkan seluruh desa. Banyak diantara kami adalah pemuda yang benar-benar berasal dari pelosok desa sehingga keberhasilan semacam ini mengundang pergunjingan hampir semua orang. Saya pribadi telah menyembelih tidak kurang dari 7 kambing untuk syukuran karena saking banyaknya yang harus diundang. Mulai dari kelompok Dharma Shanti, regu suka-duka, kelopok arisan kelapa hingga paguyuban penangkap jangkrik, semuanya minta acara sendiri untuk syukuran ini. Saya menyadari, tentu mereka tidak datang untuk mendoakan atau memberi pesan. Makan-makan gratis adalah sasaran yang sesungguhnya mereka inginkan. Tapi tidak apa-apa, toh saya sudah menjadi orang hebat yang sebentar lagi akan berguru ke padepokan yang tersohor di desa tetangga. Begitulah pikiran saya ketika itu. Ada hal besar yang selalu menjadi harapan saya. Sepulang nanti saya akan menjadi salah satu pemuda terpandang karena sempat berguru di padepokan desa yang terkenal itu. Ilmu kanuragan saya tentu saja akan semakin mumpuni, dan Pak Dukuh akan semakin yakin dengan kesaktian saya. Akibatnya, posisi kepala ronda malam yang sangat bergengsi akan mudah jatuh ke tangan saya. Betapa menyenangkannya. Bukan saja karena tanah bengkok yang akan saya peroleh sebagai imbalannya tapi perhatian gadis-gadis yang akan dengan mudah saya peroleh. Nyoman Sumi, si kembang desa hampir dipastikan akan jatuh dalam pelukan saya. Saya tidak tahan menunggu saat itu tiba.

Ketika kami berangkat, tidak sedikit yang mengangis terharu. Ayah dan ibu pun tersedu melepas putra mahkotanya pergi. Mereka melepas dengan harapan dan keyakinan. Suatu saat saya akan kembali dengan kebanggan. Itulah harapan mereka. Saya dan beberapa sahabat yang berangkat bersama dipenuhi perasaan girang, bangga bukan kepalang. Akhirnya mimpi besar ini tercapai dan saya rasa waktu berhenti sejenak, hidup nampaknya telah selesai dan saya menunaikannya dengan amat baik. Berguncang-guncang di punggung kuda selama satu hari satu malam akhirnya membawa kami ke tanah ini. Tanah yang menjadi mimpi banyak orang. Kebanggaan kami pun menjadi-jadi. Semua kini bukan sekedar cerita, saya benar-benar menghirup udara segar desa yang terkenal ini dan sebentar lagi akan berguru di sebuah padepokan yang tersohor. Itulah yang saya pikirkan ketika pertama kali menginjakkan kaki di sini. Singkatnya, saya datang dan menancapkan tugu kebanggaan dan mungkin bahkan kesombongan. Saya berjanji pada diri sendiri, saya akan menjadi yang terbaik di padepokan ini. Saya telah menghabiskan sebagian besar hidup saya untuk belajar kanuragan dan pastilah saya tidak akan mengalami kesulitan menyerap ilmu di padepokan yang baru. Pokoknya saya akan pulang dengan kebanggan dan tugu yang tetap tegar bahkan megah semakin kokoh.

Kini tiga purnama, setelah tugu itu saya tancapkan di desa ini. Rintik hujan dan angin yang menusuk tulang menemani saya memandang sayu tugu di luar jendela. Tiba-tiba saya seperti diingatkan, tugu itu kini tak setegar dulu. Selintas nampak sama tapi sesungguhnya perlahan namun pasti ketegarannya terkikis angin dingin dan terik matahari di siang hari. Matahari di sini, di luar dugaan saya, ternyata memang berbeda, lebih panas dibandingkan di desa saya. Dinginnya angin yang menusuk sumsum juga diluar perkiraan. Semua itu telah membuat tugu saya perlahan melemah. Dia yang semula ingin saya jaga sebisa mungkin, kini lebih sering saya lupakan. Kesibukan berlatih kanuragan yang kadang sangat melelahkan dan menyita waktu membuat saya telah lupa banyak hal. Berguru di sebuah padepokan yang tersohor ternyata memberi pengalaman yang sangat berat dan melelahkan. Dulu ketika saya menjadi pendekar kecil di desa sendiri, saya bahkan tidak sempat meragukan kesaktian saya karena tidak begitu banyak ajang tanding yang memaksa saya mengukur kemampuan. Kini, semuanya berubah. Setiap saat, kanuragan saya diuji dan dipaksa untuk menampilkan yang terbaik. Saya sadari ternyata saya belum apa-apa. Kanuragan ini masih begitu dangkalnya, sementara tugu kesombongan ini semakin melemah.

Rintik hujan berhenti, menyadarkan saya dari lamunan. Nampak samar bangunan tigu dibalik kabut kelabu telah roboh mengenaskan. Ya, saya sadari kini, tugu keangkuhan saya telah roboh binasa menyisakan puing. Ingin menjerit dalam hati dan menangis sejadinya tapi saya tahan. Sisa kesombongan di dalam diri masih ada, rupanya. Saya mengenang kembali keperkasaan saya ketika memenangkan sayembara ini dan terlintas dalam benak tangisan bangga Ayah dan Ibu yang perpesan penuh harap. Saya harus bertahan. Mungkin tidak untuk sebuah tugu yang lebih megah dan tinggi. Setidaknya saya akan melewati ini dengan menghasilkan sebuah tugu kecil yang tidak cepat lapuk oleh dinginnya angin dan ganasnya matahari di siang hari. Tuhan, ijinkan dan beri kekuatan kepada kami untuk membangun kembali tugu kami yang telah rusak binasa. (Sydney, 2 Mei 04)