An Actor with A Million Roles

I Made Andi Arsana

Inspirations always come whenever, for once again, I remember old encouraging stories. One of the inspiring stories is the story about a mother who talk about her own children and children in law. Without any purpose to do plagiarism, please let me retell the story without reference and footnotes, just because I, myself, do not really know the original author(s). It was just blown by the wind, drop by for a while and then go away with the wind of change.

A mother was asked by her friend in a social gathering, “how’s your son? I heard he is a successful entrepreneur!” The mother replied, “Economically, he is a successful man. His sense of entrepreneurship is really vivid. Thank God, he is a rich man now! Alas, he is not a fortunate husband. How pity he is since his wife is a lazy woman with a glamorous lifestyle. Until now, she is jobless. She might be able to work but she just never wants to. My son has been exploited excessively for he has to work tirelessly day and night. Meanwhile his wife can easily ask anything se desires. She always has something to buy and places to go for vacations. Less than a week ago, my son had to spend a lot of money for her travel to Europe. Simply, my son in so unlucky!.”

“How about you daughter?” a second question came following the first one. “Oh, my daughter? Unlike her brother, she is really lucky! I am so happy to know she can live her life that way. It is not just because their economic life is marvellous, but also because her husband is a kind and lovely man. My daughter doesn’t work as her husband never expects her to do so. Her husband even lets her do anything she wants for her happiness. Whatever she asks, always realized. Whatever she wants to buy, he will buy for her. He is the greatest son in law, ever. You know what! A week ago, my daughter went to the Netherlands for vacation. Simply, she is very lucky since she has a very understanding husband.”

The short story above inspires me deeply. The mother is a single person with two roles at the same time. She is a mother and, at the same time, she is also a mother in law. For those two different roles, she has two completely different point of views for one single thing that indeed the same.

Suddenly, I reflectively look inside and think. At the same time, we often have to play more than one roles in life. An actor wit a million roles, I would say. As an adult, some of us, for sure, are children and also parents at the same time. Concurrently, we might be parents in law and also children in law. In addition, we may be a lecturer and a student at the same time, a writer and also a reader, etc. These double-roles requires us to DEMAND something and also SUPPLY the same thing at the same time. Only expecting our children respect us is definitely unfair if we don’t respect our parents. Only demanding love from our children in law is reasonably unwise if we cannot give the same love to our parents in law.

Specifically, it might be the part of karma phala. Good results cannot be expected nor even prayed for without any serious good efforts.

God, please always remind me to keep asking. “Have I been a good actor today?”

Advertisements

Kesempatan Kedua

I Made Andi Arsana

Perhelatan besar the Australian Idol telah berakhir. Tentu banyak yang senang karena jagoannya akhirnya menjadi Idol, namun pasti saja ada yang tidak happy karena jagoannya harus puas menduduki posisi kedua, ketiga bahkan keduabelas. Anyway, seorang idola musik baru telah lahir di Australia dan idola itu adalah Casey Donovan. Setelah melewati perjalanan panjang yang tidak saja melelahkan, tapi juga menegangkan, Casey mengukuhkan diri sebagai penyayi pendatang baru paling diminati publik Australia. Sebuah prestasi yang sangat mengagumkan.

Tulisan ini tidak akan membahas detail mengenai Casey melainkan Anthony sebagai sisi lain dari fenomena Australian Idol. Bagi yang mengikuti perkembangan idol dari awal, tentu masih segar dalam ingatan Anda bahwa Anthony, sang runner up, bukanlah idola yang dari semula dipilih oleh publik Australia. Kalau diperhatikan, Anthony adalah satu dari tiga kandidat yang dipilih dengan “hak veto” judges untuk tetap meneruskan kompetisi.

Beri Sedikit Waktu, Aku Bisa Membuatmu Jatuh Cinta

Nampaknya Anthony memang tidak berhasil membuat publik Australia terkesan, melaui penampilan-penampilan perdananya di babak penyisihan. Pamor dan suaranya tenggelam oleh kawan-kawan lain seperti Courtney yang sejak awal memang mengagumkan dan Channel yang charming (walaupun akhirnya banyak yang berpendapat dia seorang yang over acting) sehingga mudah menarik simpati publik. Singkatnya, Anthony di awal penampilannya tidak dianggap bisa memenuhi selera publik Australia untuk menjadi seorang penyanyi Idola. “Kebaikan hati” para judges lah yang akhirnya membuat Anthony bertahan dalam kompetisi dan meneruskan mimpi-mimpinya yang kelak menjadi kenyataan dengan terpilihnya dia sebagai one of the Australian Idol grand finalists. Judges memutuskan untuk memberi sedikit waktu kepada Anthony untuk membuktikan sesuatu yang lebih dan akhirnya, meluluhkan hati publik Australia.

Perubahan Selera

Fenomena Anthony adalah [mungkin] juga tentang perubahan selera. Anthony yang semula tidak diminati, akhirnya digandrungi dan secara fanatik dicintai oleh pecinta musik terutama kalangan remaja. Sangat mungkin, dalam hitungan minggu selera kita bisa saja berubah dan membuat kita menjatuhkan pilihan pada hal yang berbeda. Inilah dinamika, ciri kehidupan sosial manuasia.

Anthony dan Reinkarnasi

Bagi saya, Anthony adalah fenomena lain dari reinkarnasi. Banyak orang yang tidak percaya reinkarnasi, tidak masalah. Keberhasilan Anthony membuktikan bahwa orang bisa berubah. Bahwa kesalahan bisa diperbaiki dengan memberi kesempatan kedua. Bahwa pencapaian yang lebih mulia bisa dicapai hanya dengan usaha sendiri tanpa menyerah. Reinkarnasi seorang Anthony adalah kesempatan kedua yang diberikan Judges untuk “menebus” kesalahannya dalam penampilan perdana sekaligus membuktikan dia bisa menjadi seseorang yang dicintai.

Hopeless

[english vs indonesian]

In Indonesian, “hopeless” can be translated as “tanpa harapan”. In daily conversations, we might often use the term for those who suffer serious illness or those with physical handicaps.

In a slightly differently way, “hopeless”, in English, is usually used to describe something or someone with bad character or attitude which is frequently disappointing. In a working environment, for example, someone with such a bad working attitude (lazy, careless, and not well-organized) is usually called “hopeless”. The same term is also applied to someone who is very slow in giving response to an emergency or someone with such a low sensitivity toward environmental changes.

Apparently, the term “hopeless” used by westerners has more appropriate meaning. The term “hopeless”, I think, is indeed appropriate to be addressed to those with bad attitudes, not to those who cannot do much in life because of natural limitations (illness, physical handicaps). Furthermore, only people who cannot recognize and appreciate their potentials will be “hopeless”. In contrast, people with physical handicaps or illness, often, still have hopes as long as they can compromise their limitations. Steven Hawking is one of the instances. With regards to his physical condition, people may say he is “hopeless” but in fact, he brings thousands of hopes for the glory of science and technology.

So, don’t ever think you are hopeless unless you are sure that you have bad attitudes 🙂

Selamat Idul Fitri

Saudaraku umat Muslim di manapun berada, hari ini adalah hari kemenangan. Kemenangan tidak saja untuk sebagian kecil orang, namun [semestinya] kemenangan untuk semua. Semua wujud kebaikan di muka bumi. Semoga kembali fitrah, semoga kebersamaan kita yang sudah sangat baik selama ini menumbuhkan cinta. Cinta yang tidak mengenal tembok-tembok keangkuhan perbedaan. Minal adizin wal faidzin, mohon maaf lahir dan bathin. Selamat para memimpin rakyatnya makmur terjamin.

Kupersembahkan gambar ini kepada para pemuja segala kebaikan di atas bumi.

Satu Lagi dari Pak Google

[kalkulator canggih]

Pada tulisan terdahulu, Anda sudah saya ajak berkenalan dengan Pak Google dan mungkin Anda bahkan sudah menggunakan fitur-fitur dasar Google sejak dulu. Apakah Anda tahu kalau Google bisa menyelesaikan persoalan matematika? Jika belum, ada baiknya Anda membaca tulisan ini.

Matematika Dasar

Tanpa basa-basi, silahkan Anda ketikkan 3+5 dalam kolom search google. Apa yang terjadi? Ya, instead of mencari dokumen yang mengandung “3+5”, google akan menghitungnya untuk Anda. Google menampilkan 3 + 5 = 8! Canggih bukan? (biasa aja :P) Contoh di atas adalah persoalan matematika sederhana yang bisa diselesailkan oleh Pak Google. Sekarang, silahkan coba persoalan matematika lain seperti:

3^2

sqrt(16)

sine(30 degrees)

cosine(90 degrees) atau sine(0.5*pi)

dan banyak lagi

Koversi Satuan

Saya, jujur saja ketika pertama kali datang ke Sydney, sedikit kutang familiar dengan satuan lebar layar TV. Kebanyaan orang tidak menyebut Inchi tapi centi. Pernah ada iklan menawarkan TV dengan layar 51 cm, saya perlu berpikir sejenak untuk membayangkan seberapa besar TV tersebut. Ya, ini terjadi karena saya terbiasa dengan satuan inchi.

Dengan bantuan Pak Google, kita tidak perlu menghafal konversi satuan (tapi kalau kebetulan sudah hafal, jangan panik! Malah bagus kok!) Coba Anda ketikkan 51 cm in inch di Google. Sedetik kemudian ada akan menemukan bahsa 51 cm itu sama dengan 20.0787402 inch. Canggih bukan? (untuk yang satu ini, please jangan katakan “biasa aja”!)

Ngomong-ngomong, pernahkah Anda tahu tentang Zone Laut? Mungkin Anda pernah mendengar bahwa Zone Ekonomi Eksclusif sebuah negara pantai adalah sejauh 200 mil laut dari garis pantai (baseline). Anda tahu seberapa jauh itu? Gampang! Tanyakan kepada Pak Google. Ketik saja 200 nautical miles in meter dan sedetik berikutnya (sepanjang koneksi internet Anda tidak terputus, soalnya ketika saya mencoba ini, internet saya disconnected he..he) Anda aka mengetahui kalau 200 mil laut itu sama dengan 370.400 meter. Luar biasa. Yang luar biasa, bukan masalah konversinya karena seorang anak smp yang belajar BASIC saja pasti bisa membuat program semacam ini, melainkan kemampuan Google menerjemahkan bahasa alami (natural language) ke dalam logika matematika. Saya menedengar ini salah satu assignment berat teman-teman yang kuliah di CSE :).

Anyway, silahkan mencoba konversi satuan-satuan lain seperti mengkonversi calorie menjadi joule (coba 300 calorie in joule) bahkan satuan yang tidak “begitu” standar seperti “setara dengan berapa sendok tehkah satu cangkir itu?” dengan mengetikkan 1 cup in teaspoon. Sekali lagi, canggih!.

Penyelesaian Persoalan Fisika

Jika Anda masih ingat pelajaran SMA, mungkin masih jelas dalam ingatan bahwa dua benda dengan masa M1 dan M2 yang berjarak r satu sama lain akan mengalami gaya sebesar F di mana F adalah berbanding lurus dengan kedua massa dan berbanding terbalik dengan kuadrat jaraknya. Dalam perhitungan gaya ini, dilibatkan juga sebuah konstanta grafitasi, G. Rumus menghitung gaya ini adalah :

Dengan bantuan Pak Google, persoalan ini bisa diselesaikan dengan mudah. Katakan, masa benda pertama adalah 9 kg, massa benda kedua adalah 12 kg dan jaraknya sejauh 12 meter. Di Google kita bisa mengetikkan G*(9*12)/(12^2) kemudian tekan enter. Anda segera melihat hasilnya. Jelas terlihat bahwa Google mengetahui nilai konstanta G sehingga Anda tidak perlu mengetikkan nilainya, cukup ketik G. Google juga mengenal nilai konstanta lain seperti e, phi, c dan lain lain.

Pada hasil formula G*(9*12)/(12^2) di atas Anda mungkin melihat keanehan karena satuan gaya seharusnya Newton. Google tidak menampilkan Newton. Anda tahu mengapa itu terjadi?

Ya, [mungkin] Anda benar. Itu terjadi karena kita tidak melibatkan satuan untuk massa dan jarak ketika menuliskan formula sehingga Google hanya akan memperhitungkan satuan G. Sekarang coba diulangi dengan mengetikkan formula lengkap dengan satuannya: G*(9 kg * 12 kg)/(12 m ^2). Apa yang terjadi? Canggih to?

So, apa yang akan Anda hitung hari ini bersama Pak Google?

Untuk lebih detail silahkan lihat di sini dan di sini

Many Good Men

[thanks to garry]

Judul tulisan ini bukan sebuah propaganda kelas bulu, bukan pula cerita nina bobo yang mungkin hanya terjadi di negeri dongeng. Ini benar-benar terjadi dan sayalah yang mengalaminya.

Anda ingin tahu? “Begini ceritanya” (Kismis, RCTI):

Senin, 1 November 2004 Pk. 5 pm plus

Saya menyadari hp saya tidak di tempatnya. Nokia kesayangan saya telah raib. Saya tidak terlalu panik karena hal semacam ini biasa terjadi. Cerita hp ketinggalan di rumah, nyelip di tas, ketinggalan di kampus, nangkring di jok mobil teman hingga ketinggal di tempat kerja bukan sesuatu yang baru. Saya masih berharap salah satu alternatif itu terjadi saat ini.

Selasa, 2 November 2004

Berbagai usaha dilakukan dan hasilnya: confirmed, Hp saya hilang!. Ada rasa sedih menghampiri. Bukan saja karena informasi yang tersimpan dalam di dalamnya, tapi karena hp itu bagi kami (saya dan Asti) sangat bersejarah. Bukan saja karena hp itu adalah barang pertama termahal yang saya hadiahkan untuk Asti [pada awalnya hp tersebut dipegang Asti], tapi yang lebih penting karena hp itu sangat mahal harganya. Anda bisa bayangkan, hp itu saya beli dengan gaji 2 bulan lebih!

Jangan terkejut dulu, ketika itu, sebagai dosen honorer, gaji saya lima ratus ribu lebih sedikit. Saya ulangi, Rp 500.000,- lebih sedikit setiap bulannya. Tapi walau demikian, jangan sangka saya menyesal apalagi cengeng dengan penghasilan segitu. Saya tetap meyakini, where there is a will there is a way! Artinya berakit-rakit dahulu berenang renang ke tepian 🙂 [ini namanya jaka sembung bawa gitar]

Maaf jadi ngelantur, kita kembali ke masalah hp yang hilang.

Rabu, 3 November 2004

Pk. 06.51 saya mencoba menghubungi hp dengan hp three. Surprisingly, connected. Berarti hp saya masih hidup, namun tidak ada yang menjawab. Saya menduga hp ini masih tergeletak di suatu tempat dan belum ada yang menemukan. Analisa saya, kalau ada yang menemukan dan bermaksud jelek (“jelek” dalam presepektif saya yang kehilangan), pasti hp tidak akan dibiarkan hidup. Kalau ada yang menemukan dan bermaksud baik, pasti panggilan saya dia jawab. Begitulah, saya sibuk menganalisa sendiri.

Pk. 07.37: Saya mengirim sms ke hp tersebut, sekerdar untuk berjaga-jaga kalau hp tersebut ditemukan orang. SMS saya berbunyi “hi there, the mobile in ur hand is mine. Please bi kind to return it to me 2/10 houston rd kensington. Ur kindness will be vr much appreciated.” Saya mengirimkan sms ini dengan pikiran nothing to lose. Kali-kali aja orang yang menemukan baik hati dan mau mengembalikan. Yang penting saya sudah berusaha.

Lama menunggu, tidak ada jawaban. Saya kembali putus harapan. Mungkin memang benar seperti dugaan saya, tidak ada yang menemukan hp tersebut.

Pk. 08.58: Terjadi keajaiban. Saya mendapat sms dari hp saya yang hilang dan bunyinya “Ok”. Sebuah pesan yang sangat singkat tapi menghadirkan harapan teramat besar. Saya bersemangat kembali. Mulai detik itu, saya meyakini ada orang yang menemukan hp saya dan dia adalah orang baik yang berniat mengembalikannya.

Beberapa lama setelah sms “ajaib” itu, saya mencoba menelpon. Anehnya, tidak ada jawaban. Hp saya bahkan mati. Mungkin sengaja dimatikan. Kembali, harapan saya menurun. Sepanjang siang, saya melupakan hp itu karena harus bekerja

Pk 4 pm plus saya menyedari kalau ada seseorang berusaha menghubungi saya melalui hp three. Dari nomornya, bukan hp, tapi telepon rumah (atau mungkin kantor). Karena saya sedang focus pada hp yang hilang, saya mencurigai orang yang mencoba menghubungi saya adalah orang yang menemukan hp saya yang hilang. Tanpa berpikir panjang, saya menelpon nomor yang tertera pada “missed call list”. “Hello, this is Toner Express, can I help you?” begitu suara di seberang. Saya kembali ragu-ragu. “I’ve got some calls from this number” saya mencoba berkomunikasi sekedarnya karena sudah terlanjur menelpon. Dengan mantap suara perempuan di seberang menjawab “I think one of our marketing staffs called you to offer you our products. It happens all the time” katanya menjelaskan. Lagi-lagi saya patah arang. Kembalinya si hp hilang kian menipis kemungkinannya. Untuk sekedar mengusir keputus asaan saya kembali mengirim sms dengan bunyi “thx for ur rply. if you don’t mind pls return the moile ASAP or if you can’t, pls let me know where to pick it up. Big thanks!”. Sebuah sms yang ‘percuma’, tidak mendapat respon sama sekali.

Kamis, 4 November 2004 Pk 08.42 am

Nomor yang kemaren menghubungi saya, menelpon lagi. Saya tidak sabar menjawab. “Hi, mate ‘ow ya goin?” suara khas logat OZ terdengar di seberang sana. “good mate, yourself?” saya mencoba menjawab walaupun tidak begitu yakin siapa yang menelpon. “Good. Did you lose your mobile?” sebuah pertanyaan yang melegakan terlontar dari lelaki di seberang. Maka demikianlah, saya baru saja ditelpon oleh orang yang menemukan hp saya. Setalah berbasa basi sejenak, kami mengatur pertemuan, saya akan mengambil hp itu di kantor Garry, orang yang menemukan hp saya, hari Senin 8 November 2004.

Tak terkatakan senangnya perasaan saya ketika itu. Yang terpenting, saya benar-benar terharu, masih ada orang sebaik Garry yang “bersusah payah” mengembalikan sebuah hp yang ditemukannya tak bertuan di pinggir jalan. Belakangan saya tahu kalau hp itu ternyata jatuh pada saat turun dari bus menuju tempat kerja yang kebetulan tidak jauh dari tempat kerja Garry di daerah Alexandria, Gardeners Road, NSW.

Saya bertanya kepada beberapa orang, imbalan apa yang patut saya berikan untuk Garry. Ada yang mengatakan tidak perlu, ada yang bilang uang, ada yang mengatakan ajak makan malam di rumah dll. Akhirnya saya memutuskan tidak memberi uang karena saya kira itu justru mengurangi nilai ketulusannya. Semoga saya tidak salah.

Senin 8 November 2004 Pk 2.20 pm

Saya bertemu dengan Garry untuk mengambil hp. Garry seorang Oz yang bersahaja. Seperti halnya orang Oz umumnya, sangat straight forward dan tidak banyak basa-basi. Saya berjanji dalam hati, dalam waktu dekat saya akan berikan sesuatu untuk dia. Pasti! Anda mau tahu?

Garry adalah bukti nyata satu dari [semoga] banyak orang baik di dunia ini. Tiba-tiba saya jadi ingat dengan nasihat Mémé’ (Ibu, bahasa Bali). Kalau kita tulus berbuat baik, suatu saat akan ada yang membalas. Garry is only one of many good men around me.

Tidak Naik Kelas

[menghindar dan menghindar]

Ketika mengenyam pendidikan sekolah dasar di sebuah desa terpencil di Tabanan, saya sering berangan-angan alangkah enaknya jadi siswa SMP. Mereka tidak perlu membawa perkakas yang ruwet untuk kerja bakti dan tidak perlu membawa tanaman untuk dijadikan pagar sekolah. Maklumlah, saat itu sekolah kami cukup memprihatinkan, pagarnya alami dan adalah tugas para siswa untuk menyediakan tanaman untuk dan bambu penjepitnya. ‘Turus’ dan ‘apes’ (bahasa Bali), begitu kami menyebutnya ketika itu.

Satu hal lain yang sangat membuat saya iri dengan siswa SMP ketika itu adalah karena mereka sering mendapat ‘jam bebas’. Ini artinya ada pelajaran yang ditiadakan karena suatu alasan tertentu yang (di)masuk akal(kan) dan akibatnya mereka pulang jauh lebih awal dari seharusnya. Pendek kata, saya tidak puas dengan keadaan ini dan yakin akan jauh lebih puas jika sudah masuk SMP.

Ketika menjalani hari-hari di SMP, saya berubah. Tidak banyak lagi kegiatan kejar-kejaran seperti waktu SD yang melelahkan. Tidak ada lagi kegiatan kerja bakti membawa ‘turus’ dan ‘apes’, tepat seperti yang saya idam-idamkan dulu. Saya merasa lebih dewasa dan mulai mencibir masa SD yang tiba-tiba saja terasa sedikit memalukan dengan kegiatan-kegiatan yang ‘nggak mutu’. Namun masa ini tidak berlangsung lama. Mulai ada keirian yang sama dengan siswa SMA. Mereka justru lebih ‘keren’ lagi karena sama sekali tidak perlu kerja bakti membawa sapu atau cangkul ke sekolah. Cukup satu buku tulis yang dimasukkan saku celana, naik sepeda motor ke sekolah alangkah enaknya. Anak SMA bisa gaya, bahkan bisa pacaran, siapa yang tidak mau?!

Memasuki sebuah SMA yang terbilang favorit di Bali, saya merasa bangga luar biasa. Sekolah bagus, terkenal, disiplinnya tinggi dan berprestasi. Hari-hari dilewati dengan banyak kegiatan, namun seperti yang Anda duga saya pun kembali berangan-angan. Masa SMA ternyata tidak merdeka. Terlalu banyak aturan dan tidak demokratis. Siswa tidak boleh demo dan tidak boleh mendebat guru. Saya piker enak sekali jadi mahasiswa, bisa demo, bisa berorasi menentang pemerintah, bisa menurunkan dekan dan sebagainya. Saya ingin sekali jadi mahasiswa ketika itu.

Ketika diberi kesempatan kuliah di sebuah PTN yang cukup bagus di Indonesia, kebanggaanpun berlangsung hanya sebentar. Beban kuliah lebih banyak menghadirkan tekanan daripada kebebasan yang saya idamkan sebelumnya. Tiba-tiba saja saya merasa menjadi siswa SMA gampang dan menyenangkan. Saya pikir, seandainya sekarang menjadi siswa SMA saya pasti “the best”. Gampang banget SMA, tinggal ngafal rumus doang, apa susahnya.

Saat diterima di sebuah kantor untuk mulai bekerja saya merasakan kemerdekaan finansial. Bebas membelanjakan uang tanpa khawatir dimarahi dan ditanyai. Namun, sekali lagi ini hanya sementara. Ketika pekerjaan menuntut konsentrasi dan tanggung jawab penuh, saya kembali mengeluh. Saya baru menyadari kalau kuliah itu enak, tidak perlu mikir ruwet. Tugas tinggal nyontek teman, tidak ada yang mengejar-ngejar karena deadline yang ketat. Kalau sekarang kuliah pasti enjoy banget.

Kini, ketika belajar di negeri orang untuk menyelesaikan master, saya merasa beban kuliah luar biasa. Persoalan menjadi sedemikian kompleksnya: ilmu, bahasa, budaya. Saya mulai berpikir nakal lagi. Kalau sekolah di Indonesia past enak sekali. Sekolah di Indonesia jauh lebih mudah, semua menggunakan Bahasa Indonesia, tidak perlu banyak berpikir ketika membaca, presentasi dan juga menulis. Jauh lebih mudah dibandingkan sekolah di luar yang semuanya harus dengan bahasa Inggris.

Saya (saat menulis tulisan ini) sempat merenung. Hidup saya telah dipenuhi kegiatan menghindar dan menghindar. Menghindar dari kenyataan dan menghindar dari kekinian dan kedisinian. Saya seringkali berpikir dan berangan-angan tidak sesuai masa dan tempat yang semestinya.

Saya mencoba bertanya kepada diri sendiri. Semuanya berakhir dengan kebisuan yang mendalam. Ingin rasanya menarik kepala ke dalam hati agar dia mudah saya ajak berdialog dan berkompromi. Saya sadari, ternyata sebenarnya saya tidak perah naik kelas. Selalu berada di tingkat yang sama.