Selamat Tahun Baru

[2004-2005]

Jika dikatakan “biasa“, tahun baru 2005 ini, hampir di seluruh belahan dunia, memang biasa, tidak ubahnya dengan tahun baru sebelumnya. Pertambahan waktu dan akhirnya pertambahan usia. Pesta, kembang api, begadang, jalan-jalan, refleksi, merenung, kontemplasi dan sebangsanya. Semuanya masih tetap sama.

Jika [mau] diistimewakan, jangankan tahun baru, setiap hari pun istimewa. Setiap saat adalah berkah dan saat untuk bersyukur. Hari Senin bersyukur karena masih diberi waktu untuk menghadapi hari kerja yang artinya masih memiliki harapan untuk masuknya sejumlah uang ke rekening di akhir bulan. Hari Selasa menjadi istimewa karena beberapa acara di televisi menyuguhkan keceriaan dan pelajaran yang berarti. Hari Rabu juga tidak kalah istimewanya karena kebetulan Bulan Purnama sehingga bisa menikmati indahnya malam sambil bersujud menghadap Hyang Widhi. Hari Kamis patut bersuka cita karena proyek yang ditugaskan oleh atasan dapat terselesaikan dengan baik. Hari Jumat sangat berkesan karena hari kerja yang pendek dan waktunya sholat bersama, mendengarkan lantunan puja dan puji terhadap Allah. Hari Sabtu adalah hari yang panjang dan menyenangkan karena saatnya melewatkan malam dengan orang-orang yang dicintai. Hari Minggu saat yang tepat untuk merecharge kembali sanubari dengan berkunjung ke Gereja mendengarkan senandung yang mengagungkan Tuhan. Begitu seterusnya, setiap saat adalah istimewa, setiap detik adalah berkah yang harus disyukuri. Sungguh malam tahun baru tiada lebih istimewa dari hari lain yang kita lalui.

Di Indonesia khususnya, akhir tahun 2004 ditandai dengan sebuah tragedi alam yang sedemikian dahsyatnya. Tidak kurang dari 90 ribu orang menjadi korban bencana gempa berpusat di Aceh yang disusul tsunami. Di seluruh dunia, dilaporkan tidak kurang dari 150 ribu orang meninggal. Sungguh sebuah tragedi alam yang luar biasa. Kejadian ini membuat tahun baru menjadi berbeda di Indonesia. Tidak ada lagi kembang api yang megah menandai pergantian tahun. Tidak ada teriakan suka cita mengiringi terompet menyambut fajar 2005. Yang ada hanyalah tangis duka dari wajah-wajah yang menunduk dalam. Tidak ada yang patut disalahkan dari kejadian ini. Tidak ada kaitannya dengan kegagalan pemerintahan atau derasnya korupsi yang konon masih saja bercokol dengan angkuh di bumi pertiwi. Ini adalah kejadian yang nampaknya memang harus terjadi sebagai pelajaran yang berat untuk kita semua.

Berbeda dengan tahun lalu ketika “Selamat Tahun Baru” diucapkan dengan senyum ceria penuh suka cita. Tahun ini, “Selamat Tahun Baru” nampaknya harus diucapkan dengan perasaan sedikit luka. Tentu saja bukan luka pesimis, tapi luka sedih dan prihatin atas ketidaknyamanan yang dirasakan oleh ribuan saudara kita di Aceh dan sekitarnya. Semoga tahun 2005 menjadi tahun yang membawa harapan. Selamat Tahun Baru.

Advertisements

Duka Aceh

Sepertinya sudah tidak setara lagi air mata duka dengan ribuan nyawa yang menjadi korban kemurkaan alam yang perpusat di negeri kita. Tak sebanding lagi ratap dan keluh kesah dengan luluh lantaknya dua pertiga Nangroe Aceh Darusalam. Alam murka tanpa seorangpun diberi kuasa untuk mengendalikannya. Semua terasa serba luar biasa dan bahkan jauh di luar jangkauan doa manusia. Diam atau teriak menjadi tidak berbeda, seperti halnya tangis dan tawapun tak memberi makna yang berarti. Semua terasa terlalu besar, terlalu hebat dan semua yang serba terlalu.

Menyesal dan memohon ampun pun serasa tidak lagi mampu mengetuk pintu-pintu maaf dan tidak akan mampu mengubah apapun. Telah terjadi ketidakselarasan yang terlalu jauh, telalu besar, terlalu dahsyat dan semua yang serba terlalu sehingga seakan tidak ada jalan untuk bertobat.



Sumber: http://staff.aist.go.jp/kenji.satake/animation.gif

Aku pasti adalah seekor katak kecil yang diselimuti rendah diri dan rasa pesimis yang terlalu. Jangankan untuk berenang menyelamatkan meraka yang menjadi korban, untuk melihat tangan sendiri yang meneteskan darahpun aku tak mampu. Aku mungkin terlalu lama diporak-porandakan oleh kekejaman yang datang silih berganti tiada henti. Jiwa ini mungkin telah dikerdilkan dengan berbagai kegagalan yang datang bertubi dan tidak pernah pergi. Aku sekarat, meratap, dan menangis dengan air mata yang tak lagi bisa mengalir karena sumur kesedihan telah lama kering oleh duka yang terlalu panjang.

Kedamaian, Keyakinan dan Cinta mungkin telah mati di negeri ini sehingga getarannya tidak lagi mampu menahan murka alam. Kepergian ketiganya mungkin telah menyisakan tumpukan jasad hidup yang tak lagi waras dan tak lagi menyimpan senyum. Namun setidaknya semoga Harapan masih tersisa di bagian kecil kehampaan ini. Semoga lilin Harapan masih cukup terang dan kuat untuk menyulut kembali lentera Kedamaian, Keyakinan dan Cinta yang telah lantak binasa.

Selamat Hari Natal

I Made Andi Arsana

Among the huge number of celebrations on earth, Christmas may be one of the largest and the most spectacular events. All Christians (should have) happily welcome the big day and have been treating it as a moment for holiday. It is a perfect time to temporarily escape from a year-long demanding routines.

Christmas in this year is slightly different than those I’ve seen years before. On this Christmas, I am far away form home, stuck here in Sydney for an ideal reason: study. Yet I cannot see snow during Christmas as what is seen in America, Canada and Europe, but at least this Christmas is celebrated in Australia where more Christians live their life. In Australia, Christmas has been becoming a part of tradition and even culture. Christmas has been a phenomenon that can be felt everywhere in daily life. The taste of Christmas has been obviously smelled since two or three months before the day.

The only different thing I observed is the news on TV. In Indonesia, I guess it has been so long that Christmas is celebrated by the enhancement of security level. Christmas has been very identical to the instruction of the Indonesian Police Chief to add forces to secure the Churches. I cannot find such news on TV in Australia. That is the different thing. In Indonesia, for once again, we will often see interviews with the Indonesian Police Chief about their readiness to guarantee the security and stability during Christmas. Meanwhile, here in Australia, Christmas is just nothing about security issues. Christmas is something glamorous and commercial. Everybody competes to sale their products during Christmas. Children are tempted with all the Christmas-tasted toys, teenagers are seduced by fashion sale and adults are also bombarded by all the Christmas marketing offers. In short, Christmas is filled with commercial opportunities.

Is that wrong? Oh, of course not! To use a religious or other social event as a marketing moment is not something new in our economic life. Some even believe that Christmas [and other religious occasion] has been commercialized since its first celebration. You can also see, what happened during Idul Fitri, Galungan and Kuningan in Indonesia. Every company has just found their perfect moment for sales and promotions. Do you think the value of Christmas has been decreased because of the commercialization? Undoubtedly, this simple writing has no rights [neither capability] to answer such a deep question. Ask your hearth, how far Jesus’ birth and struggles have led you to be a warrior. If you are just like me, who can only mumble, you better reopen the old book and use the past as a mirror so we can do something better to fix the story for today without repeating the same mistakes.


I wish you a Merry Christmas, may our [re]birth gives chances for us to be a better man today.

GPS System to be Disabled During Threat

[translated from http://smh.com.au/articles/2004/12/16/1102787185411.html%5D

Gedung Putih mengatakan bahwa Presiden George W Bush telah memerintahkan rencana untuk menonaktifkan jaringan GPS Amerika untuk sementara selama krisis nasional. Ini dilakukan untuk menghindari penggunaan teknologi navigasi tersebut oleh pihak teroris.

Penonaktifan jaringan di dalam Amerika sendiri akan dilakukan jika terjadi situasi yang benar-benar memaksa, kata seorang administrasi Bush yang berbicara kepada beberapa orang wartawan pada hari Rabu di Gedung Putih tanpa mau disebutkan namanya.

GPS sangat vital artinya bagi kepentingan penerbangan komesial dan pelayaran laut.

Presiden juga menginstruksikan Departmen Pertahanan agar mengembangkan sebuah mekanisme untuk menonaktifkan akses musuh terhadap satelit navigasi Amerika (dan sistem navigas lain yang dikembangkan pihak lain) di kawasan tertentu.

Uni Eropa sedang mengembangkan program senilai $US 4.8 Milyar yang disebut Galileo.

Penggunaan GPS oleh militer saat ini terlihat meningkat terutama untuk memindahkan pasukan dalam wilayah yang luas, menghindari bomb dan misil.

Gedung Putih menegaskan, penonaktivan atau jamming terhadap satelit GPS yang diminta oleh pemerintah ini akan dilakukan untuk membatasi gangguan terhadap navigasi dan sistem terkait di luat area yang dipengaruhi.

“Ini bukanlah sesuatu yang mudah dilakukan,” kata James A Lewis, direktur kebijakan teknologi Centre for Strategic and International Studies yang berlokasi di Washington. “Ini jelas adalah masalah besar. Anda harus menghargai mereka karena telah bersikap terbuka dengan rencana yang akan dilakukan.”

Presiden Bill Clinton menghentikan pemberlakuan “selective availability” (SA) pada bulan Mei 2000. SA adalah suatu mekanisme untuk menurunkan akurasi navigasi sipil secara sengaja. Gedung putih mengatakan bahwa kebijakan ini tidak akan mengembalikan SA, namun, kata presiden, bisa menonaktifkan sebagian dari keseluruhan jaringan untuk alasan keamanan nasional.

Perintah yang ditujukan kepada Defence Department dan Homeland Security Department adalah bagian dari kebijakan antariksa yang ditandatangai Bush bulan ini. Ini menegaskan jaringan GPS sebagai infrastruktur penting bagi pemerintah Amerika. Sebagian dari kebijakan baru tersebut masih belum diumumkan sementra sebagian lain diumumkan hari Rabu.

Gedung Putih mengatakan kebijakan tersebut ditujukan untuk meningkatkan stabilitas dan performa sistem navigasi Amerika, yang seperti dijanjikan Bush akan tetap diberikan dengan Cuma-Cuma kepda masyarakat umum.

Konstelasi jaringan GPS Amerika terdiri lebih dari dua dozen satelit dan berfungsi sebagai beacons (pemancar signal) yang mengirimkan signal radio dengan lokasi tertentu dan dikenali oleh alat (receiver) yang populer digunakan oleh sueveyor, pengendara motor, penjelajah alam, pilot dan pelaut.

Bush juga mengatakan pemerintah akan membuat signal jaringan lebih resistan terhadap jamming yang bersifat sengaja ataupun tidak.

Adding a Shout Box and Pictures to your Blog

[an amateur manual]

Have you created a blog? You might find that bloging is not that fun because it is just static and also boring because it is only text-based. Don’t worry mate! You can make it dynamic now. Add a tag-board or what some people refer to as a shout box. Yes, a shout box, because you can really shout if you want. Simply, with the tag-board, visitors can leave their massages to you or to other visitors. Hm… it’s cool huh?! Yeah, it is definitely! You can also make it colourful with pictures you love. You can post your fiancé’s photo (or maybe you kids [?]) easily. How to do those cool things? That is what this article is all about!

Adding a Tag-Board
There are plenty of free tag-board provider in the internet. Two of the most famous are http://www.tag-board.com/ and http://www.creationcenter.com/. I’d prefer suggesting you the second one :). Follow the steps:

  1. Go to http://www.creationcenter.com/
  2. Follow the link Click here to join for FREE! At the bottom of the page
  3. Fill the form and click register
  4. Decide what feature you want to take. Actually you’ve just registered for 4 features at once: Guestbook, shout box, message board, and tell a friend manager. For example, you can chose shout box (the one that I have here, in my blog).
  5. Follow the link Click here to and copy and paste the ‘ShoutBox / Tag Board’ HTML code to get the HTML code of the feature you want
  6. Chose the style you want. I’d prefer the vertical style. How about you?
  7. Copy the HTML code provided in the box. You can keep the code by saving in into a text file. Just simply open any text editor (notepad, wordpad, Ms Word, or whatever you like) and paste the code there. At this stage you lready have the HTML code of a shout box you need for your blog (or website).
  8. Go to your blog and login
  9. Look at the template
  10. Simply add the code you’ve obtained above into your template. Where to put it? Of course it depends on the template you’ve chosen. If your template is just like mine, simply paste tho code somewhere in the sidebar section. Still confused and don’t know what to do? You better contact me personally and you’re gonna be charged extremely expensive for an HTML private lesson. Do not laugh mate, IT IS SERIOUS!!!
  11. Once you’ve done, don’t forget to save you changes to get it taking effect.
  12. Hmm… seems your visitors and you can start shouting now! 🙂

Adding Pictures
Adding a picture to your blog is actually showing a picture that is already placed “somewhere” in the internet so people can see it in your blog. To be more specific, imagine that there is a picture of your favourite singer, Kylie Minoque, placed at http://www.wepsite.net/haegar/K/Kylie%20Minogue%2009.jpg.
Without doing anything to the picture, you can make it appears in your blog. Just create a new post and write:
<img src = “http://www.wepsite.net/haegar/K/Kylie%20Minogue%2009.jpg&#8221;>
Once you’ve published your post, you will be able to see Kylie’s sexy picture in you blog. (I am sorry for the sexy example. If you do mind, please select another url you like for your own exercise)

I know, your problem is the photos you’d like to show in you blog are not yet online. In other words, the photos you desire to be appeared in your blog are still in your hard disk. (or even still in a hardcopy format and hiding inside your album on you table? Come on mate, you gotta be kidding! Scan them first, make them digital). Btw, I assume that you’ve already had digital photos. Stop bugging me with all your technology-illiterate things!

This will tell you how to make your photos online and appear in your blog. Just follow the instructions bellow:

  1. Download a picture publisher. I recommend http://www.hello.com/. Just click download and you will be expected to make a username and everything. Simply, just follow the easy steps provided there.
  2. Install the software you’ve just downloaded into you PC
  3. Open Hello to start the picture publishing
  4. Click send pictures and use explorer
  5. Pick photo you want to publish, chose BloggerBot and click send
  6. Type caption (any text you like to briefly describe the photo you’re gonna publish for you photo
  7. Click Publish (see at the bottom right of the window). In a few second, your photo will be appeared in your blog as a post. Yes mate, that easy! Your photo is online now.

Once you have your photo online, you can show it anywhere in the internet and you can modify the size and the position. You have to learn a bit HTML programming. Don’t want to force yourself? Don’t worry, just be satisfied with the ‘default’ appearance and go sleeping he.he..he… Thank you for reading this amateur manual. Have a good day, mate!

Define: google

[definisikan apa saja]

Pernahkan Anda membaca suatu berita atau dokumen lain dan ada istilah yang tidak Anda mengerti? Saya hampir yakin, pasti pernah. Tidak peduli betapa banyaknya berita atau ilmu yang kita baca, kadang-kadang kita dihadapkan pada sesuatu yang baru.

Saya pernah bertanya kepada beberapa orang yang sedang menempuh pendidikan Master di sebuah universitas berskala internasional. “tahu nggak i.e itu kepanjangannya apa?” “nggak!” begitu jawabnya. “Kalau e.g apa artinya?”, saya melanjutkan. “sering lihat sih, untuk menunjukkan contoh tapi nggak tahu persisnya”. Mungkin Anda, seperti halnya saya beberapa hari yang lalu juga melewatkan hal-hal seperti ini. Kita sering melihat dalam tulisan berbahasa Inggris: i.e., e.g., aka, p.s. dan lain-lain. Kita mungkin tahu maksudnya, tapi tidak tahu apa kepanjangannya.

Jika Anda penasaran, seperti halnya saya, serahkan kepada Pak Google untuk menjawabnya. Dalam kolom pencarian google, ketikkan define: e.g. kemudian tekan enter. Google akan menjawabnya dan Anda akan segera tahu bahwa e.g. stands for exempli gratia, bahasa latin yang kira-kira artinya “sebagai contoh”.

Dalam email, seseorang sering menulis IMHO, ASAP, BTW, aka, p.s dan lain-lain. Belum tahu arti salah satu dari itu? Tanyakan kepada Pak Google. Singkatnya, ketikkan define: kata_yang_dicari. Coba contoh seperti:

Define: aka

Define: telematics

Define: sombre

Define: lexicology

Define: GIS


Dalam sekejap Anda akan mendapat perbendarahaan kata baru.

Cara semacam ini juga sangat efektif ketika Anda menulis dan ingin menggunakan kata-kata yang sedikit aneh. Sebelum menggunakannya, tanyakan dulu kepada Pak Google. So, apa yang akan Anda definisikan bersama Pak Google hari ini?

GNSS 2004, Sydney

[yang tersisa]

Konperensi tahunan Global Navigation Satellite System tahun ini (lihat www.GNSS2004.org) baru saja dilangsungkan di Sydney, Australia. Bertindak sebagai local organising committee adalah school of Surveying and Spatial Information Systems yang di nakhodai oleh Prof. Chris Rizos. Konperensi berlangsung tiga hari, 6 – 8 Desember 2004 di Mathew Theatre, The University of New South Wales.

Secara umum, program berlangsung lancar dan bisa dikatakan sukses dengan jumlah peserta yang tinggi dan tulisan yang bervariasi. Tulisan ini tidak akan membahas kesusesan dan aspek ilmiah dari konperensi ini melainkan sisi lain yang, menurut orang Asia seperti saya, mungkin menarik untuk disimak.

Pak Hasan yang Mengagumkan

Nama seorang Hasanudin Z. Abidin tentu saja tidak asing di dunia GNSS (khususnya GPS) Indonesia. Dosen Teknik Geodesi ITB ini telah secara luas dikenal kiprahnya di dunia akademik maupun praktis berkaitan dengan GPS. Pak Hasan adalah satu-satunya orang Indonesia yang hadir dalam konperensi ini dan karena kepiawaiannya, dipercaya menjadi chairman dalam sebuah sesi yang membahas pemantauan deformasi. Sebagai orang geodesi yang belum banyak berinteraksi dengan Sang Pakar GPS, saya melihat Pak Hasan adalah tokoh nasional dengan kaliber internasional. Beliau menyampaikan materi dengan baik dan komunikatif, dengan bahasa Ingrris yang lancar walaupun masih “terdengar” sedikit Indonesia. Penguasaan materi yang mumpuni dan penguasaan panggung yang handal membuat suasana konperensi menjadi hidup. Salah satu lelucon Pak Hasan yang mengatakan bahkan membuat peserta tertawa lepas. Dalam menanggapi pertanyaan seorang peserta, beliau menyelipkan “Volcano is like a woman. It is very difficult to predict her characters. To understand her, you have to marry her”.

Ilmuwan Indonesia, khususnya di bidang geodesi, nampaknya perlu belajar banyak dari Pak Hasan. Pembawaannya yang tenang, santun dan rendah hati semakin mengukuhkan kehebatannya. Beliau tidak canggung bercakap-cakap secara antusias dengan siapa saja, termasuk saya yang masih “kacangan” di konperensi itu. Sikapnya jauh sekali dari seorang ahli yang saya bayangkan selama ini. Singkatnya, Pak Hasan adalah seorang ahli yang terlihat selalu positif, antusias dan sederhana. Mungkin ada yang tidak setuju dengan tulisan ini, namun setidaknya inilah hasil dari interaksi singkat saya dengan beliau. Suatu saat, mungkin saja pendapat ini berubah seiring perkembangan waktu.

Bahasa Inggris yang Mengenaskan

Membayangkan sebuah konperensi ilmiah internasional, saya sering merasa keder terlebih dahulu. Satu hal yang jelas terbayang adalah penggunaan Bahasa Inggris yang fasih dan gaya komunikasi yang efektif. Setahu saya, faktor bahasa yang biasanya menjadi masalah para ilmuwan Indonesia.

Di luar dugaan, sangat banyak pemakalah yang menyampaikan gagasannya dengan Bahasa Inggis yang terbata mengenaskan. Sebut saja peserta dari Cina, Korea dan Jepang, misalnya. Ada yang bahkan menyampaikan gagasan tanpa seorang pun dalam konperensi bisa mengerti. Seorang peserta dari China bertanya dan membuat pemakalah kebingungan termasuk juga chairman yang tidak bisa mengerti maksud pertanyaannya. Bukan karena persoalan teknis atau ilmiah, namun karena pronounciation-nya yang amburadul tidak karuan. Chairman sampai sedikit memaksa agar si penanya berbicara dengan tempo yang lambat. Pemakalah pun akhirnya menyarah dengan mengatakan “Sorry, English is also my second language”.

Menyimak pemandangan seperti ini membuat saya berpikir lain. Nampaknya kita tidak perlu merasa ragu hanya karena tidak mampu berbahasa Inggris dengan fasih. Dengan modal keyakinan dan penguasaan materi, para pesertta konperensi nampaknya cukup mengerti kalau tidak semua pemakalah bisa berbahasa Inggris dengan baik.

Slide yang Dipenuhi Tulisan

Dalam beberapa workshop yang saya ikuti dan buku yang saya baca tentang presentation skill, diajarkan teknik membuat slide presentasi yang baik. Salah satu kaidah yang telah dipahami oleh banyak orang adalah slide tidak baik dijejali banyak tulisan. Daripada menampilkan tulisan dengan huruf berjejal, lebih baik menampilkan poin-poin pemikiran atau diagram alir. Slide hanya berfungsi untuk guide pemakalah, bukan menampilkan semua yang akan dipresentasikan.

Dalam GNSS 2004, hal-hal konyol semacam ini masih terjadi. Beberapa pemakalah bahkan menampilkan pengantar/abstrak papernya dengan lengkap dalam slide. Hal ini tentu saja tidak menarik karena perhatian audience akan terpecah. Bukan mendengarkan pembicara melainkan tergoda membaca tulisan yang berjejal dengan huruf kecil-kecil.

Sekali lagi, kenyataan ini sebaiknya semakin menambah semangat para penulis Indonesia untuk tampil di dunia internasional. Dibandingkan dengan pemakalah dari negara lain, penulis kita, saya yakin tidak kalah pandainya menyusun sebuah presentasi yang menarik. Ditambah lagi, bangsa kita terkenal dengan naluri seni yang cukup baik.

Presentasi yang Monoton

Idealnya, presentasi dilakukan dengan interaksi penuh dengan audience. Hal yang tidak bisa ditawar dalam sebuah presentasi adalah kontak mata. “Maintain the Eye contact”, begitu Diane, salah seorang pemateri pada Engineering research workshop di UNSW, menegaskan kepada peserta.

Banyak pemakalah dalam GNSS 2004 yang masih tampil seperti layaknya seorang mahasiswa S1 tingkat 3, yang hanya membaca tulisan pada slide yang ditampilkan. Lebih parah lagi, pemakalah tidak menghadap audience sedikitpun melainkan menatap layar peraga atau layar komputer di depannya. Banyak juga diantara pemakalah yang tidak melakukan eye contact dengan audience.

Hal seperti ini tentu saja bisa dipahami karena tidak semua pemakalah tersebut mempunyai jam terbang tinggi dalam urusan presentasi. Banyak juga diantara mereka yang baru pertama kali tampil di panggung internasional. Selalu ada pengalaman pertama dan wajar jika nervous.

Topik yang Menyimpang

Salah seorang penyaji poster dari Malaysia, dengan percaya diri mengirimkan poster dengan topik land ownership. Poster ini sebenarnya cukup menarik karena membahas isu terkini di Sarawak tentang kepemilikan rumah panjang (long house) yang kini masih disputed. Penelitian ini adalah kolaborasi seorang dosen (associate professor) di Universiti Teknologi Mara, Malaysia dengan seorang ahli bahasa setempat.

Topik semacam ini tentu saja menyimpang jauh dari topik GNSS 2004 yang berkonsentrasi pada GPS dan aplikasinya. Poster ini pun tidak sedikitpun menyinggung persoalan posisi dalam pembahasannya. Singkatnya, tidak satupun unsur spatial dibahas dalam poster tersebut. Namun cukup mengejutkan, poster itu tetap dipampang dalam poster session.

Yang patut dihargai dari kenyataan ini adalah kerpercayaan diri penyaji akan karyanya. Hal ini juga patut dijadikan teladan dalam hal tertentu.

The last words

GNSS 2004 tanpa bisa dibantah telah menjadi ajang bergengsi ilmuan dunia di bidang sistem satelit navigasi global. Banyak hal dan inovasi baru yang ditampilkan. Kesusksesan panitia menyajikan sebuah konperensi berskala internasional patut diacungi jempol.

Hal-hal di atas hanyalah sebagian sisi gelap dari konperensi yang secara pribadi saya anggap sebagai suatu motivasi positif untuk berkiprah di dunia internasional.