10 Things about Microsoft Word you should know

[simple tips for beginner user]

[1] You can ask Ms Word to do almost anything (open file, write, change font, close document, etc) by your VOICE COMMAND. Using microphone, simply say “open” to open a file, you will face the open dialog window.

[2] Applying keyboard shortcut is much faster than using mouse. Try CTLR + R, CTLR + J, CTLR + L, CTLR + E for alignment.

[3] You can change the case of your font (small to caps, title case, sentence case, etc). Simply highlight the word(s) whose case you want to change and press ALT + O + E.

[4] You can ask Ms Word to repeat similar-patterned operation by recording and running macro. Macro is a visual basic-based customization you can use for automating operations in Ms Word.

[5] You can create a mail merge.

If you have a list of names and addresses to where you are going to send a letter (invitation, information, etc), you can use mail merge tool to combine a master letter with a file containing the list of names and addresses.

[6] You can change the line spacing simply by pressing CTRL + 1 or CTRL + 5 or CTRL + 2

[7] You can show shortcut of every button in screen tips by activating it through menu TOOLS >> CUSTOMIZE.

[8] You can perform writing review digitally (correcting, giving comments, deleting and providing suggestion) using reviewing toolbar.

[9] You can customize your page numbering to be page x of y pages or even in foreign language (halaman x dari y halaman–> Indonesian)

[10] You can create an auto shape (circle, rectangular, etc) and fill it with your desired picture/image.

Berburu Beasiswa ke Luar Negeri

[dari pengalaman dan pengamatan]

Pengantar
Bagi sebagian banyak orang, informasi tentang beasiswa untuk bersekolah di luar negeri bukanlah sesuatu yang baru. Kemudahan mendapatkan informasi dari berbagai media terutama internet telah membuat informasi ini begitu mudah diperoleh. Namun demikian, kenyataannnya masih ada saja orang yang mempunyai niat yang besar untuk bersekolah tetapi tidak (belum) tahu apa yang harus dilakukan untuk mendapatkan beasiswa. Tentu saja sekolah dengan biaya sendiri tidak akan dibahas di sini.
Tulisan ini ditujukan bagi siapa saja yang tertarik mendapatkan beasiswa dan masih memerlukan informasi dasar tentang beasiswa. Di sini akan dibahas beberapa hal meliputi gambaran umum beberapa jenis beasiswa (reguler dan non reguler), negara tujuan pendidikan dan persiapan yang diperlukan untuk melamar beasiswa. Lebih jauh, informasi tentang TOEFL dan IELTS juga diberikan termasuk strategi melakukan kontak dengan Profesor dan melamar di suatu institusi pendidikan di luar negeri.

Sebelum Memutuskan Melamar Beasiswa
Saat ini terdapat sangat banyak jenis beasiswa yang secara rutin disediakan untuk masyarakat Indonesia terutama oleh Negara donor. Sebelum memutuskan untuk melamar beasiswa, ada beberapa pendekatan yang bisa dilakukan. Pendekatan pertama adalah mulai dari menentukan jurusan/bidang ilmu yang ingin dipelajari. Selanjutnya mencari informasi tentang perkembangan ilmu tersebut di dunia dan memetakan ‘kekuatan’ negara-negara yang mengembangkan ilmu tersebut. Memilih institusi yang sesuai di suatu negara yang diinginkan adalah langkah berikutnya. Pendekatan lain bisa juga dilakukan dengan terlebih dahulu melihat kekuatan institusi yang dicirikan dengan kualitas SDM yang dimiliki institusi yang bersangkutan. Dalam kenyataannya, pendekatan pragmatis juga biasa dilakukan yaitu dengan melihat benefit yang diberikan oleh masing-masing beasiswa. Hal penting yang biasanya dipertimbangkan adalah besarnya allowance yang diberikan dan apa saja yang dicover. Apakah beasiswa yang bersangkutan menanggung keluarga atau tidak adalah hal penting yang kadang harus dipertimbangkan. Di luar semua itu, melamar beasiswa yang ‘terjangkau’ oleh kemampuan kita adalah hal yang lebih utama.

Beasiswa Reguler
Beberapa beasiswa yang secara rutin diberikan kepada masyarakat Indonesia adalah AusAID (Australia), STUNED dan NFP (Belanda) Fulbright (US), Chevening (UK), DAAD (Jerman), Mongbukogakusho/Monbusho (Jepang) dan lain-lain. Berikut adalah rangkuman tentang masing-masing beasiswa tersebut:

No Beasiswa Negara Bahasa Deadline Jenjang Website
1 AusAID Australia Inggris September S2, S3 www.adsjakarta.or.id
2 STUNED Belanda Inggris Maret S2 www.nec.or.id
3 NFP Belanda Inggris Mei S2 www.nec.or.id
4 DAAD Jerman Jerman Desember S2, S3 www.daad.de
5 Monbusho Jepang Jepang April S2, S3 www.dikti.org
6 Chevening UK Inggris Maret S2 www.chevening.or.id
7 dll

Secara umum, persyaratan hampir semua beasiswa sama, meliputi: kemampuan bahasa, Indeks Prestasi dan kemampuan untuk menunjukkan kontribusi pelamar terhadap pembangunan di Indonesia setelah menyelesaikan pendidikan. Informasi lebih rinci tentang masing-masing beasiswa bisa didapatkan dari website masing-masing. Semua persyaratan dan proses formal tentang beasiswa tersebut disediakan secara rinci di websitenya. Sebagai contoh, AusAID mensyaratkan pelamar harus memenuhi nilai TOEFL = 500 atau IELTS = 5.0 (lihat penjelasan tentang TOEFL dan IELTS di bawah) dengan indeks prestasi sebesar 2.90. Jika dilihat dari persyaratannya dan kuota sebesar 300 orang, AusAID adalah jenis beasiswa yang ‘terjangkau’ dan realistis bagi kebanyakan mahasiswa. Mungkin itu sebabnya pelamar bisa mencapai 5000 orang setiap tahun.

Beasiswa non Reguler
Selain beberapa jenis beasiswa rutin di atas, ada beberapa peluang sekalah ke luar negeri dengan beasiswa khusus. Kunci utama mendapatkan beasiswa semacam ini adalah rajin melakukan kontak dengan akademisi di luar negeri termasuk mengamati perkembangan ilmu dan teknologi yang berkaitan dengan disiplin yang ingin ditekuni. Di University of New South Wales, Sydney, misalnya, ada sangat banyak mahasiswa internasional (biasanya India, China dan Taiwan) yang melanjutkan studi S3 dengan beasiswa yang berasal dari research project dan beasiswa pemerintah lokal. Kemampuan mereka menjalin jaringan komunikasi telah mengantarkan mereka bisa memperoleh beasiswa tersebut. Jika diperhatikan, mereka adalah mahasiswa dengan kemampuan bahasa Inggris yang tidak istimewa. Namun mereka mempunyai semangat dan keberanian yang nampaknya perlu ditiru. Banyak juga dari mereka yang membayar uang sekolahnya dengan gaji sebagai tutor atau lecturer/research assistant. Yang menarik dari mereka adalah cara pandangnya yang ‘merdeka’ dan anti kemapanan. Berbeda dengan kita di Indonesia yang sering kali tidak ‘tega’ berangkat sekolah karena keluarga, mereka terlihat sangat menikmati hidup dengan keluarga yang dihidupi dengan beasiswa yang pas-pasan.
Sama halnya dengan di Australia, ada mahasiswa yang bisa bersekolah di Jerman atau Jepang dengan beasiswa semacam ini, karena hubungan baik dengan professor. Tambahan uang untuk biaya hidup bisa didapatkan dengan bekerja part time. Di Sydney, misalnya, bekerja menata buku hingga 20 jam per minggu di perpustakaan bisa digaji AU$ 18 per jam yang artinya AU$ 360 seminggu. Ini cukup untuk biaya hidup keluarga dengan satu anak di Sydney. Istri/suami yang tidak sekolah juga bisa bekerja full time dengan jenis pekerjaan yang tidak sulit didapatkan di Sydney. Kebanyakan mahasiswa Indonesia di Sydney bekerja di swalayan atau restoran dengan gaji berkisar antara AU$ 10 – 18 per jam. Pendapatan ini tentu bisa digunakan membantu biaya pendidikan.
Agak berbeda dengan di Australia, mahasiswa maupun keluarga umumnya tidak bisa bekerja jika bersekolah di Belanda atau Inggris (tergantung jenis beasiswa). Hal ini juga menjadi salah satu pertimbangan sebelum melamar beasiswa.

Beasiswa dulu atau sekolah dulu?
Ada beberapa jenis beasiswa seperti STUNED dan NFP di Belanda yang mensyaratkan pelamar sudah harus diterima di salah satu institusi pendidikan di Belanda. Oleh karena itu, sebelum melamar beasiswa harus terlebih dahulu melamar sebagai mahasiswa di salah satu institusi yang diinginkan. Surat penerimaan dari institusi inilah yang kemudian digunakan untuk melamar beasiswa. Aplikasi ke perguruan tinggi luar negeri, secara umum, tidak sulit karena bisa dilakukan secara online melalui website isntitusinya. Cara lain adalah dengan mendownload formulir dari website, dan mengirimkannya bersama persyaratan lain melalui pos. Di TU Delft, Belanda, misalnya, kontak pendahuluan bisa dilakukan dengan admission officer melalui email dan selanjutnya berkas bisa dikirim lewat pos. Melalui kontak pendahuluan ini, seperti yang bisa dilakukan dengan The University of Nottigham, UK (http://www.nottingham.ac.uk/), kita juga bisa menyerahkan berkas digital sehingga admission officer bisa memberi gambaran seberapa besar peluang untuk diterima. Biasanya mereka sangat membantu dan informatif. Bisa dipahami karena calon mahasiswa adalah konsumen yang akan ‘menghidupi’ mereka.
Berbeda dengan beasiswa ke Belanda, beasiswa ke Australia dan UK tidak memerlukan persyaratan diterima di institusi pendidikan. Yang harus dilakukan adalah melengkapi syarat beasiswa dan mengirimkannya ke institusi pemberi beasiswa misalnya Australian Development Scholarship (AusAID) atau Chevening. Pendaftaran ke institusi pendidikan akan dilakukan setelah beasiswa diberikan.

Apa yang Harus Disiapkan?
Yang pertama adalah kemampuan bahasa asing terutama bahasa Inggris. Ukuran kemampuan bahasa Inggris yang diakui dan paling banyak digunakan di seluruh dunia adalah TOEFL (Test of English as a Foreign Language -www.toefl.org-) dan IELTS (International English Language Testing System –www.ielts.org-). Untuk beasiswa berbahasa non Inggris, misalnya Jerman atau Jepang, pelamar tidak selalu harus bisa berbahasa Jerman atau Jepang karena sebelum berangkat akan ada kursus bahasa hingga satu tahun. Sebagai gantinya, pelamar disyaratkan mampu berbahasa Inggris dengan baik.
Meskipun kemampuan Bahasa Inggris sudah bagus, seringkali tidak menjamin bisa mendapatkan nilai TOEFL/IELTS yang memenuhi syarat. Hal ini terjadi karena TOEFL dan IELTS adalah juga memerlukan kebiasaan. Seperti halnya UMPTN/SPMB, semakin kenal Anda dengan pola soalnya, semakin mudah menjawab dengan benar. Tidak jarang, menguasai trik menjawab soal juga membantu untuk meningkatkan nilai. Untuk ini, tidak ada jalan lain kecuali berlatih berlatih dan berlatih! Materi latihan bisa didapat dengan mudah di toko buku di sekitar kita.
Untuk mendapatkan beasiswa dan diterima di sebuah institusi pendidikan, rekomendasi sangatlah penting. Rekomendasi bisa diperoleh dari pembimbing skripsi/thesis dan ketua jurusan/program studi mengingat merekalah yang (seharusnya) paling tahu keampuan akademik pelamar. Rekomendasi lain bisa diperloleh dari akademisi yang mumpuni di bidang ilmu yang ingin ditekuni dengan sebelumnya membuat kontak secara intesif. Tips untuk ini adalah, rajin membaca tulisannya (bisa didapat dengan mudah di jurnal baik hardcopy maupun softcopy) dan memberi komentar melalui email kepada penulis. Adalah penting menunjukkan ketertarikan kita tentang ilmu tersebut yang ditandai dengan komentar, pertanyaan bahkan sanggahan. Seorang kawan yang sekarang belajar di Jepang mengatakan bahwa menjalin hubungan yang sifatnya personal juga membantu, terutama untuk professor di Asia.
Untuk bidang ilmu teknik di Eropa, terutama Jerman dan Belanda, skor GRE (Graduate Record Examination) kadang diperlukan. GRE (www.gre.org) adalah sebuah standar ujian untuk bidang ilmu eksakta, seperti Tes Potensi Akademik yang diterapkan di Indonesia. Sedangkan untuk ilmu manajemen diperlukan skor GMAT (Graduate Management Admission Test –www.gmat.org-). Bagi yang berniat melamar beasiswa, ada baiknya menyiapkan diri mengikuti ujian tersebut. Informasi lebih rinci tentang model, waktu dan biaya tes bisa dilihat di websitenya.

Beasiswa untuk Semua Orang
Ada yang menganggap bahwa beasiswa reguler hanya untuk dosen dan pegawai pemerintah. Ini tidak sepenuhnya salah karena memang prosentase terbesar adalah sektor pemerintah dan pendidikan. Namun bukan berarti untuk swasta dan pribadi tidak bisa. Dari pengalaman, ada cukup banyak penerima beasiswa AusAID yang pada saat berangkat berstatus sebagai ‘pengangguran’. Pada saat mendaftar mereka adalah karyawan di sebuah perusaahaan kecil menegah di Indonesia dan ‘hanya’ karena kemampuan bahasa inggris dan komunikasi yang baik, mereka mendapat beasiswa. Tentu saja akhirnya mereka keluar dari perusahaannya dan berstatus pengangguran ketika berangkat sekolah. Dari kasus semacam ini, ada juga yang menandatangani perjanjian kembali ke perusahaannya namun banyak juga yang memang tidak berniat kembali. Dari sini bisa dilihat bahwa untuk mendapatkan beasiswa, tidak harus menjadi dosen atau pegawai pemerintah. Beasiswa adalah utuk semua orang.

Lebih Jauh Tentang TOEFL dan IELTS
Salah satu dinding tinggi yang harus dilewati untuk mendapatkan beasiswa adalah TOEFL atau IELTS. TOEFL adalah sistem ujian bahasa Inggris yang terdiri dari 4 seksi ujian yaitu Listening, Structure, Reading and Vocabulary dan Writing (writing baru 2 tahun terakhir ditambahkan untuk computer-based TOEFL). Pada seksi writing, peserta tes diberikan persoalan, misalnya tetang efek negatif televisi bagi perkembangan anak, dan diminta memberikan pendapat tentang persoalan tersebut. Penulisan bisa dilakukan dengan manual maupun diketik langsung di komputer, tergantung kecepatan kita menggunakan keyboard.
Perbedaan mendasar IELTS dengan TOEFL adalah IELTS dilengkapi dengan speaking (listening, reading, writing dan speaking). Pada seksi speaking seorang perseta tes akan diwawancarai (sambil direkam) dengan tiga kategori pertanyaan. Pertanyaan pertama adalah mengenai identitas diri secara umum (nama, asal, tempat tinggal, hobby, pendidikan, dll). Pertanyaan kedua adalah tentang deskripsi sesuatu yang berkaitan dengan kebudayaan atau ilmu, misalnya definisi dan fungsi suatu alat elektronik, penjelasan mengenai sebuah acara kebudayaan, makanan khas suatu daerah, dll. Pada pertanyaan ketiga peserta tes akan diminta berpendapat tentang sesuatu yang lebih abstrak misalnya tentang masa depan pendidikan, makna hari raya, makna jenis musik atau seni, analisa mengenai perbedaan system pendidikan di Indonesia dan luar negeri, dll. Skor IELTS tertinggi adalah 9 dengan nilai yang terpisah untuk masing-masing seksi dan nilai rata-rata keseluruhan. Untuk diterima di perguruan tinggi luar negeri, nilai rata-rata IELTS yang disyaratkan sekitar 6.0-7.5 tergantung bidang ilmunya.
Beberapa jenis beasiswa terutama di Negara Commonwealth lebih memilih IELTS daripada TOEFL karena dianggap lebih komprehensif. Keempat seksi yang diujikan dalam IELTS, secara formal, lebih menjamin seseorang bisa berbahasa Inggris dibandingkan TOEFL. Bentuk ujian yang sebagian besar berupa essay, bukan pilhian ganda seperti TOEFL, juga lebih menjamin hasil dan lebih independen, bebas dari kemungkinan tebak menebak.

Penutup
Informasi dalam tulisan ini masih bersifat gambaran umum. Informasi lebih rinci bisa didapat dengan mudah dari website masing-masing atau dari DIKTI (www.dikti.org) dan peguruan tinggi di seluruh Indonesia.
Terima kasih kepada semua pihak yang telah memberikan informasi penting sehingga tulisan ini bisa terwujud. Akhir kata, semoga tulisan ini dapat memberi inspirasi bagi pembaca untuk tidak berhenti mencari dan menggali informasi lebih dalam. Selamat berburu, sampai jumpa di suatu institusi di luar negeri yang Anda impikan.

Robohnya Tugu Kami

[pelajaran kecil hari ini]

Saya adalah satu dari sekelompok pemuda dari desa tetangga. Datang jauh-jauh ke sini menunggang kuda setelah perjalanan satu hari satu malam. Kami datang diutus Kelihan Adat untuk belajar di padepokan yang paling tersohor di desa ini. Kami bangga karena konon kami adalah pemuda terbaik di desa kami yang terpilih untuk datang dan berguru ke sini. Ya, tentu saja terbaik karena untuk terpilih datang ke sini, kami harus melewati sayembara yang sangat ketat. Bukan saja karena pesertanya datang dari seluruh kampung seantero desa, juga karena ujian yang harus dilalui sangat berat. Memanah sebuah jeruk purut yang diletakkan tepat di atas kepala seorang anak kecil tanpa sedikitpun anak panah boleh menyentuh rambut si anak tentu bukan perkerjaan yang mudah. Bukan saja penghargaan untuk datang dan berguru ke sini yang tidak akan kami peroleh, bahkan kepala kami yang akan dipenggal jika panah kami salah sasaran mengenai kepala anak tersebut. Singkatnya, itu adalah sayembara yang sulit dan bergengsi. Tentu kami boleh bangga karena telah melewatinya dengan sangat baik.

Kabar tentang keberangkatan kami berguru ke sini tentu saja menjadi kabar yang menggemparkan seluruh desa. Banyak diantara kami adalah pemuda yang benar-benar berasal dari pelosok desa sehingga keberhasilan semacam ini mengundang pergunjingan hampir semua orang. Saya pribadi telah menyembelih tidak kurang dari 7 kambing untuk syukuran karena saking banyaknya yang harus diundang. Mulai dari kelompok Dharma Shanti, regu suka-duka, kelopok arisan kelapa hingga paguyuban penangkap jangkrik, semuanya minta acara sendiri untuk syukuran ini. Saya menyadari, tentu mereka tidak datang untuk mendoakan atau memberi pesan. Makan-makan gratis adalah sasaran yang sesungguhnya mereka inginkan. Tapi tidak apa-apa, toh saya sudah menjadi orang hebat yang sebentar lagi akan berguru ke padepokan yang tersohor di desa tetangga. Begitulah pikiran saya ketika itu. Ada hal besar yang selalu menjadi harapan saya. Sepulang nanti saya akan menjadi salah satu pemuda terpandang karena sempat berguru di padepokan desa yang terkenal itu. Ilmu kanuragan saya tentu saja akan semakin mumpuni, dan Pak Dukuh akan semakin yakin dengan kesaktian saya. Akibatnya, posisi kepala ronda malam yang sangat bergengsi akan mudah jatuh ke tangan saya. Betapa menyenangkannya. Bukan saja karena tanah bengkok yang akan saya peroleh sebagai imbalannya tapi perhatian gadis-gadis yang akan dengan mudah saya peroleh. Nyoman Sumi, si kembang desa hampir dipastikan akan jatuh dalam pelukan saya. Saya tidak tahan menunggu saat itu tiba.

Ketika kami berangkat, tidak sedikit yang mengangis terharu. Ayah dan ibu pun tersedu melepas putra mahkotanya pergi. Mereka melepas dengan harapan dan keyakinan. Suatu saat saya akan kembali dengan kebanggan. Itulah harapan mereka. Saya dan beberapa sahabat yang berangkat bersama dipenuhi perasaan girang, bangga bukan kepalang. Akhirnya mimpi besar ini tercapai dan saya rasa waktu berhenti sejenak, hidup nampaknya telah selesai dan saya menunaikannya dengan amat baik. Berguncang-guncang di punggung kuda selama satu hari satu malam akhirnya membawa kami ke tanah ini. Tanah yang menjadi mimpi banyak orang. Kebanggaan kami pun menjadi-jadi. Semua kini bukan sekedar cerita, saya benar-benar menghirup udara segar desa yang terkenal ini dan sebentar lagi akan berguru di sebuah padepokan yang tersohor. Itulah yang saya pikirkan ketika pertama kali menginjakkan kaki di sini. Singkatnya, saya datang dan menancapkan tugu kebanggaan dan mungkin bahkan kesombongan. Saya berjanji pada diri sendiri, saya akan menjadi yang terbaik di padepokan ini. Saya telah menghabiskan sebagian besar hidup saya untuk belajar kanuragan dan pastilah saya tidak akan mengalami kesulitan menyerap ilmu di padepokan yang baru. Pokoknya saya akan pulang dengan kebanggan dan tugu yang tetap tegar bahkan megah semakin kokoh.

Kini tiga purnama, setelah tugu itu saya tancapkan di desa ini. Rintik hujan dan angin yang menusuk tulang menemani saya memandang sayu tugu di luar jendela. Tiba-tiba saya seperti diingatkan, tugu itu kini tak setegar dulu. Selintas nampak sama tapi sesungguhnya perlahan namun pasti ketegarannya terkikis angin dingin dan terik matahari di siang hari. Matahari di sini, di luar dugaan saya, ternyata memang berbeda, lebih panas dibandingkan di desa saya. Dinginnya angin yang menusuk sumsum juga diluar perkiraan. Semua itu telah membuat tugu saya perlahan melemah. Dia yang semula ingin saya jaga sebisa mungkin, kini lebih sering saya lupakan. Kesibukan berlatih kanuragan yang kadang sangat melelahkan dan menyita waktu membuat saya telah lupa banyak hal. Berguru di sebuah padepokan yang tersohor ternyata memberi pengalaman yang sangat berat dan melelahkan. Dulu ketika saya menjadi pendekar kecil di desa sendiri, saya bahkan tidak sempat meragukan kesaktian saya karena tidak begitu banyak ajang tanding yang memaksa saya mengukur kemampuan. Kini, semuanya berubah. Setiap saat, kanuragan saya diuji dan dipaksa untuk menampilkan yang terbaik. Saya sadari ternyata saya belum apa-apa. Kanuragan ini masih begitu dangkalnya, sementara tugu kesombongan ini semakin melemah.

Rintik hujan berhenti, menyadarkan saya dari lamunan. Nampak samar bangunan tigu dibalik kabut kelabu telah roboh mengenaskan. Ya, saya sadari kini, tugu keangkuhan saya telah roboh binasa menyisakan puing. Ingin menjerit dalam hati dan menangis sejadinya tapi saya tahan. Sisa kesombongan di dalam diri masih ada, rupanya. Saya mengenang kembali keperkasaan saya ketika memenangkan sayembara ini dan terlintas dalam benak tangisan bangga Ayah dan Ibu yang perpesan penuh harap. Saya harus bertahan. Mungkin tidak untuk sebuah tugu yang lebih megah dan tinggi. Setidaknya saya akan melewati ini dengan menghasilkan sebuah tugu kecil yang tidak cepat lapuk oleh dinginnya angin dan ganasnya matahari di siang hari. Tuhan, ijinkan dan beri kekuatan kepada kami untuk membangun kembali tugu kami yang telah rusak binasa. (Sydney, 2 Mei 04)

Sydney: Sebuah Laporan Pandangan Mata

[bagian 2 dari banyak tulisan]

Pada tulisan terdahulu, Anda sudah saya perkenalkan beberapa fenomena menarik di Sydney antara lain budaya pelayanan, makanan asia, transportasi, aksesibilitas, komunikasi lokal dan international serta kebiasaan pelajar menjadi pemulung. Sekarang Anda akan mengenal lebih jauh beberapa hal lain tentang Sydney.

Sewa Flat di Sydney

Para pendatang, khusunya pelajar/mahasiswa biasanya tinggal di sebuah flat unit di sekitar kampus. Harga sebuah unit di Sydney sangat mahal, dan ini menduduki prosentase pengeluaran yang terbesar diantara pengeluaran lain. Sebuah gedung flat biasanya terdiri dari beberapa unit di mana setiap unit terdiri dari ruang tidur (bisa lebih dari satu), living room, kamar mandi/wc, dapur serta balkon (opsional). Harga sewa unit standar mahasiswa Indonesia berkisar antara AUD 180-220 untuk yang single bedroom dan 230-330 untuk yang double bedroom per minggu. Informasi yang lebih rinci bisa diperoleh di agen pelayanan property yang bertebaran di Sydney. Beberapa agen yang terkenal adalah L.J. Hooker, Laing & Simon, N.G Farah, dll.

Untuk menyewa sebuah unit, seorang penyewa harus memberikan bond/deposit yang besarnya berkisar antara 2-4 minggu harga sewa dan memberikan uang sewa 2 minggu di depan. Jadi, seorang penyewa bisa mengeluarkan uang sebesar 6 kali harga sewa seminggu di awal. Jika sewanya adalah AUD 250 per minggu, uang yang harus dibayarkan di depan adalah AUD 1500. Bond/deposit ini berfungsi sebagai jaminan yang bisa diambil pada saat kontrak sewa sudah berakhir, sepanjang kondisi unit masih seperti sedia kala. Jika terjadi kerusakan selama penyewaan, bond/deposit akan dipotong. Untuk ini, seorang penyewa harus benar-benar teliti memeriksa kondisi rumah pada saat masuk pertama kali dan mengisi formulir laporan kondisi rumah dengan secermat mungkin.

Sebuah gedung flat biasanya dilengkapi pintu security sehingga untuk masuk ke unitnya, seorang penyewa harus memiliki 2 kunci yaitu kunci security door dan kunci pintu unitnya sendiri. Sedangkan kamar tidur tidak dikunci. Ini adalah peraturan standar yang berlaku di New South Wales (Sydney). Menurut agen property, alasannya adalah jika terjadi sesuatu yang membahayakan penyewa ketika sedang tidur atau berada di kamar untuk keperluan lain, petugas keamanan bisa masuk dengan mudah dan penyewa tidak terjebak di dalam kamarnya. –Bagaimana dengan privacy, terlebih bagi mereka yang sudah berkeluarga? Ini adalah hal lain yang tidak dibahas di sini :)–

Kunci security door adalah kunci yang terpantau dan terdaftar keberadaannya dan tidak boleh digandakan sembarangan, sementara kunci unit bisa. Jika seorang penyewa menghilangkan kunci security door, harus mengganti dengan membayar sekitar AUD 100.

Sambungan Listrik/Gas

Sebenarnya pada saat Anda masuk ke sebuah unit, listrik dan gas biasanya sudah siap dipakai. Yang harus dilakukan adalah melakukan ‘balik nama’ agar tagihan listrik/gas tersebut atas nama Anda. Ini biasa disebut sebagai energy connection. Anda cukup buka situs Energy Australia di http://www.energy.com.au dan mengisi formulir lalu mengirimkannya/submit. Satu atau dua hari kemudian surat konfirmasi akan dikirimkan kepada Anda termasuk tagian deposit sebesar AUD 120. Deposit ini bisa diambil kembali ketika Anda sudah tidak menyewa unit tersebut. Deposit ini bisa tidak dibayar asalkan Anda bersedia menggunakan fasilitas auto debit untuk pembayaran tagihan listrik/gas. Anda cukup mengisi formulir yang menyatakan bahwa Anda bersedia tagihan listrik/gas (biasanya per 3 bulan) Anda dipotong langsung dari rekening bank Anda. Jika semua tahap di atas sudah dilakukan, Anda bisa menggunakan fasilitas energi dengan nyaman.

Bayar Semua Tagihan Anda dari Rumah

Hampir semua bank di Sydney dilengkapi dengan phone banking dan net banking. Semua transaksi, kecuali penarikan cash, bisa dilakukan dengan kedua fasilitas ini. Anda cukup menelpon atau login ke netbanking bank Anda, semua transaksi pembayaran bisa dilakukan. Semua tagihan meliputi sewa flat, tagian energi dan telepon bisa dibayar dengan phone atau net banking dari rumah. Begitu mudah.

[bersambung]

Mengapa Bahasa Inggris Mereka Tidak OKE?

[sebuah pengamatan empirik]

Pernahkah Anda memperhatikan dosen Anda atau siapa saja yang sudah menamatkan pendidikan (S2 atau S3) di luar negeri tetapi Bahasa Inggrisnya masih mengenaskan? Pernahkan Anda merasa kecewa denga cara mereka berkomuniakasi dalam Bahasa Inggris (terutama komunikasi oral) karena logat dan pronounciation mereka masih sangat Indonesia (bahkan Jawa, Bali, Batak atau Madura)?

Umumnya, kita berpikir bahwa sekolah di luar negeri akan membuat kita berubah drastis dalam hal Bahasa Inggris. Mengapa tidak, karena setiap saat mereka, orang yang sekolah di luar negeri, harus berkomunikasi dalam bahasa Inggris. Lebih parah lagi, kita menduga, mereka tidak akan bisa hidup dan bertahan di Luar Negeri (tentunya yang berbahasa Inggris) jika tidak mampu berkomunikasi dalam Bahasa Inggris. Mereka harus mengikuti kuliah, membuat tugas paper, mengikuti ujian, memberi seminar dan bahkan belanja di pasar dengan Bahasa Inggris. Jadi, Bahasa Inggris adalah keharusan. Tanpa itu, bye bye!

Anggapan dan asumsi inilah yang membuat kita terkejut dengan kemampuan Bahasa Ingris mereka, terutama cara mereka berbicara yang kadang menurut kita tidak mencerminkan mereka pernah menjalani pendidikan di luar negeri.

Tentu saja sangat banyak diantara mereka yang Bahasa Inggrisnya sangat bagus, namun bukan itu yang hendak kita diskusikan saat ini. Mari kita lihat apa yang sesungguhnya terjadi di Luar Negeri, di mana dosen dan pejabat kita menamatkan pendidikannya. Bagaimana seringkali, menurut kita, mereka tidak improve Bahasa Inggris setelah bertahun-tahun di luar negeri?

Tinggal Bergerombol dengan orang Indonesia

Umumnya jika kita jauh dari kampung halaman, kita cenderung memilih tinggal berdekatan dengan orang yang berasal dari daerah yang sama. Tuntutan untuk beradaptasi yang tinggi serta permasalahan akademik yang sangat pelik membuat kita tidak mau mempertaruhkan sebagian hidup kita untuk berkompromi. Alhasil kita memilih tinggal dengan orang Indonesia yang diharapkan tidak akan menimbulkan persoalan kultur yang serius. Energi bisa digunakan sepenuhnya untuk urusan akademik, bukan ‘terbuang-buang’ untuk beradaptasi dengan kebudayaan dan cara hidup baru, seandainya kita tinggal dengan orang asing. Hal ini sangat masuk akal dan sanggat natural. Wajar.

Dibalik kenyamanan yang kita dapatkan, tinggal dengan sesama orang Indonesia membuat kita kehilangan kesempatan berbahasa Inggris secara aktif. Awalnya mungkin ada rencana untuk menggunakan Bahasa Inggris dengan sesama orang Indonesia namun seiring waktu, kesibukan membuat kita lupa dan malas berbahasa Inggris. Sering kali terasa terlalu ‘ribet’ berbahasa Inggris dengan orang Indonesia yang kita yakini bisa berbahasa Indonesia, bahkan Jawa, Bali, Manado, Batak, Sunda atau bahasa lain yang kadang justru lebih nyaman dipakai.

Berbeda dengan jika kita tinggal dengan orang asing, kita ‘terpaksa’ harus berbahasa Inggris , meskipun masih ‘belepotan’ setidaknya kita practice setiap hari. Tanpa Bahasa Inggris berarti tiada komunikasi dan ini hampir tidak mungkin kalau kita tinggal serumah karena terlalu banyak yang harus dilakukan dan dikelola bersama.

Rindu Indonesia

Berada jauh dari tanah air dan keluarga yang kita cintai membuat perasaan rindu sangat mudah muncul. Kerinduan ini biasanya terwujud dengan keingingan mendengar lagu Indonesia, makan masakan Indonesia, bercakap-cakap dengan orang Indonesia tentang Indonesia dengan bahasa Indonesia (bahkan bahasa Jawa atau Bali atau Sunda dll.). Lagi-lagi ini sangat wajar. Akibatnya, kita cenderung berteman dengan orang Indonesia, pergi ke restoran Indonesia yang pelayannya orang Indonesia sehingga untuk pesan makanan pun tidak harus memakai bahasa Inggris. Hasilnya, kita justru cenderung improve kemampuan bahasa Jawa dibandingkan bahasa Inggris.

Orang Indonesia Lebih Mengerti Saya

Banyak persoalan di rantau yang tidak bisa kita selesaikan sendiri. Mulai dari hal kecil bagaimana menemukan tempat tinggal yang cocok, mencari peralatan rumah tangga yang murah (bahkan gratis) hingga hal-hal serius yang berkaitan dengan persoalan akademik dan adaptasi di lingkungan baru. Dalam situasi seperti ini, yang paling bisa diandalkan adalah orang Indonesia yang notabene senasib sepenanggungan di negeri orang. Hal ini juga yang membuat kita lebih memilih bergaul lebih banyak dengan orang Indonesia. Tentu saja, sekali lagi, ini sangat tidak membantu kita meningkatkan kemampuan berbahasa Inggris.

Anggapan semacam ini tentu tidak bisa dibantah. Namun ada satu hal yang baik untuk dipertimbangkan bahwa untuk mendapat perhatian yang baik, kita HARUS bisa memberi perhatian yang baik pula. Jika kita bisa memberikan perhatian dan pertolongan yang tulus kepada orang (non-Indonesia), diapun tentu bisa menyadari dan sebagai manusia, merasa akan kewajiban moralnya untuk membantu. Kalau kita bisa (berusaha) mengerti tentang mereka, masa mereka tidak sedikitpun berusaha megerti?

Satu kasus menarik, seorang kawan yang sedang menjalani pendidikan di luar negeri curhat tentang flat mate-nya (sama-sama orang Indonesia) yang tidak mau diajak berkompromi, mau menang sendiri dan tidak mau menjalankan kewajiban rumah tangga (buang sampah, nyapu, dll.). Ketika saya tanya mengapa tidak dibicarakan saja baik-baik, dia menjawab “saya sungkan, dia jauh lebih senior dari saya”. Oops!

Orang Lokal Sulit Diajak Bergaul

Ini anggapan umum sekali di kalangan pelajar Indonesia yang sekolah ke luar negeri. Memang kenyataannya tidak mudah mengajak mereka bergaul akrab dengan kita. Agak sulit bagi mereka, terutama mahasiswa tingkat postgraduate, untuk berkumpul dengan sesama mahasiswa Indonesia. Hal ini perlu disadari bahwa mahasiswa postgraduate lokal ini umumnya belajar sambil bekerja, sehingga agak sulit bagi mereka untuk menghabiskan waktu bergaul dengan kita.

Satu hal yang lebih penting adalah, mereka umumnya berapriori bahwa kita, mahasiswa Indonesia (dan asia pada umumnya) tidak bisa berbahasa Inggris dengan baik. Pernah seorang kawan dari Australia mengatakan hal ini. Ditambah lagi sikap kita yang secara umum pasif, membuat mereka semakin yakin ketidakmampuan kita berbahasa Inggris.

Terbatasnya kesempatan bergaul dengan orang lokal di mana kita belajar membuat kita sulit menyerap kemampuan bahasa terutama yang berkaitan dengan hal-hal non formal seperti slang, lelucon, aksen dll.

Ini adalah sedikit dari banyak alasan mengapa tidak semua orang yang telah menamatkan pendidikannya di luar negeri (yang berbahasa Inggris ) bisa meningkatkan kemampuan Bahasa Inggris mereka secara signifikan. Sesungguhnya, walaupun terdengar klise, adalah tergantung pada diri kita masing-masing. Sejauh mana ‘keuntungan’ yang ingin kita peroleh dengan bersekolah di luar negeri. Jika selembar ijasah adalah pencapaian tertinggi yang diinginkan, barangkali tidak ada yang salah dengan bahasa Inggris yang masih ‘clangak-clunguk’.

When Your Name Is a “Simple Past Tense”

[a mumble]

William Shakespeare, a great poet, said, “What’s in a name?” to illustrate that there is nothing to worry about a name. Name is just a name. In contrary, Bung Karno, The Indonesian first president, loved to play with the meaning inside a name. To him, a name is (almost) everything. Since he paid so much attention to the meaning of a name, Bung Karno even has changed some people’s name (especially woman) because he thought that the previous name might not be philosophically worthy or even might cause something terrible to the owner. Rima Melati is one of the Indonesian artists whose name was changed by Bung Karno. Although it was not so clear, whether he really wanted to bring something lucky to the name’s owner or perhaps it was only a strategy of a professional playboy to attract woman’s attention, with no doubt Bung Karno had his own opinion about a name.

Seemingly, I, personally, have a similar opinion with Bung Karno. A name, apparently, has a quite significant meaning I should pay attention. At least, it was what I think, especially when I was away from home, living in a strange country with a completely different language.

One day, an Australian Taxation Office (ATO) officer called me in accordance with my Tax File Number (TFN) application. She just wanted to confirm that my name is really “I Made Andi Arsana”. She was confused, firstly because she could not define my first name and last name (as there are too many words in it). Secondly she got confused because there is only one letter in the first name, “I”. Further more, she nearly could not believe when realizing that my name is a “simple past tense”, which means, “I created Andi Arsana” (if so, apparently, it is only my father or mother who MAY call my full name). A quite long conversation was then taken place because I had to explain that the first word, “I” indicates that I am a man, “Made” means I am the second child in a family and “Andi Arsana” is actually my name. Even though she said she understood, I could feel that she thought it was so funny to her.

Another funny experience was what I call a ‘name tragedy’. It was when I registered to Energy Australia for electricity connection via the internet. An officer also called me ‘just’ to confirm that I was a consumer candidate who really exists. She said, (after a long conversation and we got more casual) “It doesn’t sound like a real name when I realized that your name is I Made Andi Arsana. I am afraid that you are somebody who’s just filled the electronic form on the internet without any serious purpose” 🙂 Yes, it was another trouble for having a non-standard name, I think.

If we look to several name of music groupz, for instance, it is actually not new for westerner using a complete sentence as a name. “Michael Learns to Rock”, which is actually a simple present tense, is one of them. It might be a bit strange or at least funny if Indonesian music groups name their group as “Paijo Belajar Ngerock” (Paijo learns to rock –if you are Indonesian, you might find it is funny–).

In addition, the language used in a name also contributes significant impression. When a Balinese boys band named its group as “Superman Is Dead”, which is actually also a simple present tense, nobody thinks it is funny. In contrary, it is considered funky and even great. Perhaps because English is used in the name 🙂

Therefore, if the name could cause a trouble and even danger, I should re-consider my plan to name our future son “I Made Yuin Sydney” 🙂

Sydney, March 6, 2004