You’re Under Arrest!

[pelecehan maya]

Satu lagi bukti kehandalan security UNSW.
Beberapa hari yang lalu ada seseorang berkunjung ke website saya (http://madeandi.staff.ugm.ac.id) dan menulis pesan di “shout box” yang menurut saya kurang sopan. Ketidaksopanan pesan itu saya identifikasi dengan beberapa hal:

1. Tidak menyebutkan identitas asli
2. Mengganti identitas dengan sesuatu yang tidak sopan/layak
3. Menggunakan kata sapaan yang tidak semestinya

Sesungguhnya isi pesan itu benar adanya dan saya sangat hargai kritik dan koreksi yang disampaikan. Hanya saja, menurut saya pesan sebaik itu semestinya bisa disampaikan dengan cara yang lebih santun, etis dan intelek. Mengingat website itu adalah situs resmi (UGM), ketidaksopanan itu saya anggap sangat serius. Saya merasa berhak untuk mengusut siapa yang telah menulis pesan tidak sopan tersebut.
Dengan bantuan Pak Google saya berhasil melacak IP# si penulis dan ternyata pesan itu ditulis dari sebuah komputer dalam jaringan UNSW. Saya pun tidak tanggung-tanggung melaporkan itu kepada abuse@unsw.edu.au karena saya meyakini UNSW pasti memiliki log yang sangat detail untuk setiap aktivitas di jaringannya. Setelah melakukan komunikasi untuk verifikasi beberapa hal, dipastikanlah bahwa pesan itu berasal dari sebuah komputer di Fakultas X di UNSW. Saya pun tidak berhenti sampai di sana, dengan referensi orang IT UNSW, saya menghubungi orang IT fakultas X dan meminta agar investigasi dilanjutkan. Beberapa saat kemudian saya mendapat hasil resmi bahwa komputer yang sedang diselidiki adalah inventaris dari sebuah school Y dalam fakultas X.

Investasi melibatkan orang IT dihentikan sejenak dan saya melakukan investigasi sendiri. Data dan asumsi yang saya gunakan adalah:

  1. Meskipun bisa saja orang menemukan website saya melalui search engine, saya berasumsi belum ada orang yang ‘iseng’ mencari saya di dunia maya. Saya berasumsi orang yang menulis pesan tersebut mengetahui alamat website saya dari signature email yang saya kirim. Artinya orang ini pernah menerima/membaca email saya.
  2. Dengan mempercayai hasil investigasi orang IT UNSW, saya berkesimpulan bahwa si penulis adalah orang Indonesia yang merupakan mahasiswa postgraduate di school Y, fakultas X.
  3. Ada dua kemungkinan, AusAID atau bukan AusAID.
  4. Kembali ke poin 1, saya menduga bahwa orang ini adalah salah satu AusAIDers mengingat pernah menerima/membaca email saya. Saya meyakini email yang dimaksud adalah email di milis ausaid-indo-unsw@yahoogroups.com mengingat saya tidak pernah (setidaknya selama dua bulan terakhir) mengirim email ke mahasiswa UNSW Indonesia non-AusAID.
  5. Poin 4 diperkuat dengan melihat waktu posting pesan yang terjadi beberapa saat setelah saya mengirimkan sebuah email ke milis tersebut di atas. Asumsinya, orang tersebut membaca email saya dan selanjutnya mengujungi website dengan mengklik alamat situs yang ada di signature.
  6. Dengan data dan asumsi di atas, saya akhirnya mencurigai (sekali lagi, mencurigi, bukan menuduh) seseorang. Di tangan saya kini sudah ada identitas orang yang saya maksud. Kesimpulan ini didukung oleh kenyataan (setahu saya) bahwa hanya ada 1 (satu ) mahasiswa AusAID Indonesia di school Y, Fakultas X, UNSW.
  7. Data dan asumsi di atas bisa saja salah karena itu saya tidak pernah gegabah dengan menuduh seseorang.

Dengan berbekal dugaan tersebut di atas saya kembali menghubungi orang IT school Y, dikonfirmasi bahwa sangat mungkin bagi mereka untuk mendapatkan identitas orang yang saya cari. Sebelum melakukan investigasi lanjut dia menyarankan, jika saya menganggap kejadian ini benar-benar suatu pelecehan dan menimbulkan ketidaknyamanan, saya bisa melaporkan kepada Federal Police karena dengan itu akan mudah dilakukan ekstraksi data dan orang yang saya cari ‘tertangkap’ dengan meyakinkan.
Pertanyaannya sekarang, haruskah saya melaporkan kejadian “kecil” ini kepada Federal Police dan selanjutnya akan terjadi kehebohan yang melibatkan anak bangsa saya sendiri? Bagaimana menurut Anda?

Advertisements

Indonesiaku

[I Made Andi Arsana]

Indonesia adalah negeri dongeng yang tiada habis ceritanya. Setiap hari, setiap saat negeri ini menjadi bulan-bulanan para pengumbar cerita yang dengan bernafsu menggali hingga titik terdalam kenyataan-kenyataan yang mengundang cibir. Indonesiaku runtuh dalam kesia-siaan teriak, tangis dan bahkan tawa yang menghina dina.

Pulang kembali ke Indonesia adalah kembali ke pangkuan kenistaan yang aromanya tidak saja membunuh tapi juga menghentikan kelahiran. Kecurangan, kedengkian dan tidak pembodohan menjadi budaya yang tak lagi bisa dipisahkan dari pribadi. Akal dan etika tak lagi mampu membedakan mana yang terang dan gelap. Yang ada hanyalah yang nikmat di sisi lain dan dan getir di muka lainnya. Kecerdasan tak lagi diasah untuk membedakan mana yang baik dan buruk tetapi mana yang mudah dan yang sulit. Pulang kembali ke Indonesia adalah perjalanan memasuki neraka dunia yang tak kan habis kekacauan dan kegundahannya.

Jangan, jangan berharap kepada presiden karena dia adalah presiden Indonesia yang dijadikan pemimpin oleh orang-orang Indonesia juga. Jangan pula percaya kepada menteri karena mereka adalah menteri Indonesia yang diangkat oleh presiden Indonesia melalui wawancara dengan sistem yang dibuat dan direstui di Indonesia. Tidak perlu melaporkan kejahatan dan segala kebusukan ini kepada hakim dan penegak hukum karena mereka ternyata adalah orang Indonesia yang menjadi hakim atau penegak hukum dengan cara Indonesia juga. Mereka telah menjual sawah dan pekarangan Indonesia untuk menyuap panitia seleksi yang juga orang Indonesia.

Jangan mendengarkan gertak sambal polisi karena polisi justru akan menjerumuskan Anda menjadi semakin jauh dari keadilan. Ini karena polisi telah mengkorupsi nurani sejak ia menjadi calon polisi. Ia dengan kesadarannya telah menyuap seorang polisi tua yang malas dan terbiasa menghisap rokok di sudut kantor, agar bisa diterima menjadi polisi. Oh, jangan! Jangan sok menasihati si polisi tua karena rokok yang dihisapnya pun adalah hasil memeras rakyat. Tapi jangan salah, rakyat yang mereka peras adalah rakyat Indonesia. Rakyat yang lebih senang diperas dibandingkan mengikuti kaidah karena dengan begitu mereka bisa berteriak lantang bahwa hari ini telah diperlakukan tidak adil. Berita semacam ini menjadi suguhan empuk koran-koran yang juga adalah koran Indonesia. Koran yang diciptakan dengan semangat uang dan tidak mendidik.

Jangan terlalu kasihan kepada mereka yang kelaparan karena mereka adalah sekumpulan orang malas yang meninggalkan peluang di desa dan mengejar ketidakpastian di ibukota. Mereka juga adalah komoditi para calo keadilan untuk mendapatkan uang. Mereka, sekali lagi adalah orang Indonesia. Ketika Tuhan mengirim bencana, banyak yang kehilangan dan banyak pula yang berjasa. Saya sarankan jangan terlalu kagum, karena sebentar lagi yang berjasa akan muncul di TV Indonesia seperti keinginannya berbicara tentang kebaikan. Jangan pula membanggakan orang-orang kondang yang membantu si korban karena ternyata mereka diam-diam telah melubangi karung dan menikmati kucuran beras jatah bantuan. Apa yang mereka nikmati bahkan lebih besar dari apa yang seharusnya dinikmati oleh korban.

Lalu siapa yang salah? Tidak tahu! Kita tidak sedang mencarinya. Yang jelas jangan berharap banyak kepada kaum pendidik karena saat ini mereka sedang sibuk menulis proposal proyek penelitian yang hasilnya nanti akan digunakan untuk membeli susu untuk anaknya. Jangan pernah tanyakan kepada mereka tentang kualitas. Kualitas, menurut mereka, adalah keajaiban alam yang dicapai dengan semedi. Intinya, jangan berharap banyak karena mereka adalah para pendidik Indonesia. Mahasiswa? Jangan tambahi beban mereka yang terlanjur sibuk bermain-main. Ingatlah mereka juga orang Indonesia yang dilahirkan tahun 1980-an dan sulit mengerti makna sebuah perjuangan seperti halnya Bung Karno dan Hatta dahulu. Mereka tidak lagi bisa peka dan ideal karena SPP mereka terlalu mahal. Tidak cukup lagi waktu mendewasakan diri dengan berdemo, waktu terlalu mahal untuk digunakan sia-sia membahas karakter. Mereka lebih tertarik membuat VCD aktivitas pacaran mereka yang serba terlalu. Mereka telah tertindas dan akhirnya kerdil, terbiasa menempuh cara singkat.

Apakah tidak ada yang baik di Indonesia? Oh, banyak! Belajarlah cara berorganisasi kepada sekumpulan pencopet yang telah bisa berkoordinasi tanpa kata tanpa cacat dan mempecundangi seorang korban yang kebetulan juga adalah orang Indonesia yang sok kaya di satu sore. Belajarlah merencanakan sesuatu dari mereka. Mereka ahli dalam berstrategi, dinamis dalam mengubah cara operasi dan radikal dalam melakukan perubahan terhadap sebuah pendekatan. Sore ini, untuk keseratus ribu kalinya mereka telah menelanjangi sang malang tanpa sedikitpun disentuh hukum karena lihainya.

Di negeri ini, belajarlah kepada para pembajak hak cipta yang dengan lihai telah menguasai bisnis dan dengan tanpa syarat menundukkan mereka yang bergerak di garis bisnis yang legal. Para pebisnis pembajak ini dengan sukses telah menumbangkan pengusaha besar yang memiliki segepok persyaratan administrasi. Pebisnis gelap ini juga yang membuat saya, yang tidak punya uang ini, bisa menikmati film, musik dan segala hiburan dengan harga yang terjangkau. Jangan heran kalau pembajak ini sering kali Anda jumpai di sebuah ruang kuliah, mengenakan dasi dan berceramah tentang kebaikan dan idealisme.

Oh, jangan! Jangan kasihan kepada para seniman yang terbajak karena mereka sendiri tidak sempat berpikir tentang itu semua. Mereka sedang sibuk mengurus perceraian dan hak pengasuhan anak di depan kamera infotainment. Beberapa dari mereka juga sedang sibuk ikut kampanye untuk memperebutkan kursi wakil rakyat yang akhirnya akan mereka duduki dengan semena-mena, lupa dengan perjuangan hak cipta. Saya tidak heran, mereka adalah seniman Indonesia!

Tidak perlu mengadu kepada para pemuka agama karena mereka adalah calo-calo Tuhan. Mereka juga sedang sibuk membuat proposal-proposal religius, menjual ajaran kebaikan kepada BUMN dan mengobral kavling-kavling sorga dengan murahnya. Mereka kini mendirikan agen komunikasi dengan diskon besar-besaran menjanjikan kepada umat bahwa mereka bisa menelpon Tuhan dari tempat tidurnya. Jangan sangka hal seperti ini tidak laku. Produk mereka laris manis di mana-mana. Tidak mengherankan karena umat juga adalah umat Indonesia.
Beberapa dari calo Tuhan ini bahkan telah mempertontonkan kesakralan di TV. Mereka mempertontonkan bidadari dan memburu hantu dengan ligitimasi ayat-ayat kitab suci yang dipuja segenap umat.

Kaum papa, hina, miskin, kaya, terhormat bahkan bermartabat di negeri ini tidak begitu berbeda karena mereka adalah orang Indonesia. Lalu kepada siapa kita mengadu? Tulisan yang penuh hujatan dan tidak bertanggungjawab ini tidaklah hendak mencari solusi. Ini adalah gumaman kecil seseorang yang tidak tahu malu dan tidak tahu diuntung oleh sistem yang penuh kenikmatan semu ini.
Jangan! Jangan meminta pertanggungjawaban terhadap isinya karena saya adalah seorang penulis amatir yang sayang sekali juga adalah orang Indonesia. Dan dengan arogan, saya pun tidak ijinkan Anda untuk protes atau teriak karena Anda hanyalah seorang pembaca Indonesia yang emosional dan lebih mencintai sensasi dibandingkan informasi. Sekali lagi, jangan! Selanjutnya, saya akan diam saja menikmati caci, maki dan hinaan yang kian hari kian akrab karena saya sadari saya adalah orang Indonesia.

Awas Copet

[sebuah modus operandi baru]

Cibinong, 31 Januari 2005 (11.25 pagi)

“Kalau mau ke Cempaka Putih naik apa ya Pak?” saya bertanya kepada seseorang (lelaki 1) di pinggir jalan di Pasar Cibinong. “Oh harus ke Tol dulu Mas, nanti dari sana banyak kok. Saya juga mau ke sana”, begitu jawabnya. Sesaat kemudian kami naik angkot yang sama. Lelaki 1 duduk di sebelah kanan saya.

Di tengah perjalanan beberapa orang naik, salah satunya adalah serang lelaki berbadan besar (lelaki 2) berpakaian rapi (kemeja biru, celana kain). Selang sekitar satu menit lelaki ini membagikan selebaran pijat refleksi. Belum sempat saya mengamati selebaran itu, lelaki ini sudah memijat kaki lelaki 1. Saya lihat agak aneh, memijat orang di angkot. Ketika saya melepaskan perhatian, tiba-tiba kaki saya yang dipijatnya. Saya mulai curiga dan merasa aneh. Jangan-jangan ada apa-apanya nih, sekarang kan marak kejahatan berbau hipnotis. Takut menjadi korban, saya tolak pijatan itu dan berkata. “Nggak usah Pak!”, “Nggak apa-apa kok Mas” dia menjawab sambil tetap memijat. Semakin yakin dengan kecurigaan semula, sayapun lebih tegas sambil mendorong tangannya dan terjadi otot-ototan selama 5-7 detik sebelum akhirnya dia melepaskan. Saya agak lega walaupun masih deg-degan. “Stop Bang!” lelaki 2 tiba-tiba menghentikan angkot sekitar setengah menit setelah memijat saya dan turun dengan tergesa.

“Hati-hati Mas,” seorang lelaki lain (lelaki 3) yang dari tadi duduk di samping pemijat angkat bicara. “bisa-bisa pijatan itu hipnotis lo, awas barangnya diambil”. Mata saya langsung tertuju ke hp Motorola A925 yang memang dari tadi nangkring di pinggang. “Hp saya hilang!” saya berteriak sehingga sopir menghentikan kendaraan. “Tu kan, pasti diambil orang tadi. Cepat aja kejar Mas, mumpung belum jauh”, lelaki 3 berkata semangat. Hal itu didukung oleh lelaki 1 dan seorang lelaki lain (lelaki 4) yang duduk di samping lelaki 1. Saya berpikir tidak ada gunanya mengejar, malah berbahaya, saya pikir. Namun begitu, ketiga lelaki di angkot dengan sungguh-sungguh meyakinkan saya untuk mengejar lelaki 2. Saya yang masih panik, menuruti nasihat mereka dan turun dari angkot. Saya melangkah ragu bersamaan dengan berlalunya angkot yang membawa ketiga lelaki tersebut dan beberapa penumpang lain.

Sesaat kemudian, saya seperti tahu apa yang terjadi! Tapi sudah terlambat.

Pertanyaan:

Siapa yang mengambil hp saya?

Apakah benar terjadi hipnotis dalam kejadian itu?

Pesan:

Jangan ‘nggaya’ naruh hp di pinggang. Itu tindakan bodoh di Jakarta.

Jangan mudah bertanya pada orang yang tidak dikenal.

Jangan tampak blo’on dan lugu di Jakarta J

Disclaimer

Cerita ini nyata, hubungi saya di madeandi@gmail.com jika menginginkan informasi lebih jauh.

Hamil

[positif]

Apa pentingnya membicarakan hamil? Hamil kok dibahas? Ya, hamil pun ternyata menarik untuk dibahas, setidaknya begitu menurut Si Koplar yang kebetulan pacarnya hamil diluar keinginannya. Koplar tertarik membahas bukan lantaran hamilnya yang istimewa atau anak yang dikandung pacarnya itu tidak normal melainkan, ya itu tadi: hamil diluar keinginannya. Tentu saja di luar keinginannya karena sampai saat ini status mereka masih pacaran, belum menikah.

Anak muda sekarang, seperti halnya Koplar, menikmati masa berpacaran dengan cara yang berbeda dengan kakek neneknya tahun 1930 an dulu. Pacaran sekarang lebih oke, lebih asyik dan menawarkan lebih banyak kenikmatan. Bagaimana tidak, pacaran sekarang beda dengan dulu yang hanya dilakukan dengan apel malam minggu, duduk di serambi sambil saling berpandangan dengan jarak yang tidak boleh kurang dari satu setengah meter. Atau lebih “parah” lagi, pacaran hanya ditandai pandang-pandangan di kebun sambil memetik buah kopi kemudian tersenyum kecil. Gak mungkin hamil. Pacaran sekarang bisa berpegangan tangan dan tubuh yang terpisah nol koma nol nol nol meter satu sama lain. Keterpisahan jarak yang sangat amat kecil inilah yang kemudian menimbulkan masalah. Singkatnya, pacar Koplar hamil karena ketidakmampuan mereka menjaga jarak yang satu setengah meter itu tadi. Koplar yang sebenarnya merasa tidak siap secara ekonomi, dengan sedikit berat akhirnya menikahi pacarnya.

Beda lagi halnya dengan Genjo. Genjo yang sehari hari menjadi artis penyayi acara mantenan juga mengalami masalah yang serupa. Pacarnya pun hamil gara-gara pernah suatu malam mereka terjebak di kamar gelap rumah Genjo sehabis manggung di sebuah pernikahan. Perasaan gembira Genjo yang baru saja mendapat honor nyanyi membuatnya lupa akan nasihat neneknya bahwa dua orang manusia bukan mukhrim tidak dibenarkan berada di suatu ruangan tertutup. Dan nampaknya benar bahwa pihak ketigapun datang yaitu setan, menawarkan kenikmatan yang menjerumuskan. Singkat cerita pacarnya hamil. Yang menarik selanjutnya adalah Genjo yang menghidar untuk mengakui “buah karyanya”. Genjo yang merasa popularitasnya akan tenggelam sebagai artis kampung tidak berani mengambil sikap tegas untuk menikahi pacarnya. Setiap kali ditanya oleh pemerhati gosip kampung, Genjo dengan diplomatis (kampung juga) selalu mengelak. Demikianlah Genjo, pacarnya hamil dan sampai kini belum memutuskan sesuatu yang nyata seperti yang dilakukan Koplar.

Di Desa Nun Jauh, fenomena kehamilan lain lagi. Seorang ibu bertanya kepada anaknya, Sungkrug, “Pacarmu sudah hamil belum?” “Belum!”, begitu Sungkrug menjawab. “Wah kalau ‘gak hamil-hamil, kapan nikahnya kamu. Nanti kalau ‘gak bisa hamil rugi dong menikah. Pokonya kalau belum hamil ibu ‘gak mau melamar. Ngerepotin aja nanti kalau ‘gak bisa memberi keturunan!” Si anak hanya terdiam sambil melanjutkan makan kacang bawang tanpa sedikitpun merasa terganggu dengan ancaman ibunya. “Ya, gampang. Nanti juga hamil!” begitu jawabnya tanpa berhenti mengunyah. Memang statistik asal-asalan di desa itu menunjukkan bahwa 98% dari total pernikahan di desa itu terjadi karena mempelai perempuan telah hamil. Ada yang baru 2 bulan dan bahkan ada yang melahirkan 3 hari setelah resepsi pernikahan. Memang akhirnya banyak bayi yang lahir “prematur”. Oh ya, Anda tertarik dengan angka 2% sisanya? Yang satu persen adalah karena kebetulan (maaf, amit-amit cabang bayi) sang pacar tidak bisa hamil karena alasan kesehatan reproduksi. Nah yang satu persen terakhir ini yang menarik. Sebut saja Made Kondang, satu-satunya orang yang menikahi pacarnya dalam keadaan tidak hamil. Bukan karena pacarnya tidak bisa hamil tapi karena si Kondang jengah pada dirinya sendiri. Dia hanya ingin tampil beda, itu saja. Dan celakanya, pacarnya tidak hamil bukan lantaran Kondang dan pacarnya tidak berhubungan sex melainkan karena Kondang yang teramat pintar menerapkan “metode” sehingga kehamilan bisa dicegah. Memang hebat Kodang.

Apa bedanya Koplar, Genjo, Sungrug dan Kondang? Dalam perspektif tertentu, semuanya penjahat kelas kakap. Semuanya berjalan jauh dari “Jalan Tuhan” (ih serem amat pakai nama-nama Tuhan segala dalam pembahasan ‘gak bermutu kaya’ gini). Ya, setidaknya semuanya bertentangan dengan nasihat para calo Tuhan yang mengatakan hubungan sex sebelum nikah melanggar perintah Tuhan.



Namun menurut Pan Kompyang yang pintar sekaligus gaul, Kondang mendapat acungan jempol! “Gua sih paham aja sama anak muda sekarang. Mengindari hubungan sex memang berat banget tuh. Pokoknya kalau sudah di atas 20 tahun, “persenjataan” laki-laki [dan perempuan] sudah saatnya digunakan”, tegasnya. “Kalau lu bisa menghindari dan hanya mengandalkan mimpi basah untuk menemukan kepuasan, gua salut! Tapi kalau lu gak bisa menahan diri dan akhirnya melakukan “pertandingan” sesungguhnya, gua juga maklum” Pan Kompyang memang tokoh moderat yang kontroversial di desanya. Pandangan-pandangannya yang sekuler seringkali berbenturan dengan ajaran-ajaran yang dipropagandakan para calo Tuhan di sekitarnya. “Lu harus membuat pilihan!” Pan Kompyang menambahkan. “Kalau lu bisa menjaga diri karena lu belajar agama dan tahu dosa, itu bagus banget. Tapi kalau semua itu tidak juga mempan, atau mugkin karena lu gak tahu agama, setidaknya lu harus berpikir pragmatis. Jangan sia-siakan hidup dengan terpaksa menikah karena hamil yang “tidak sengaja”. Lakukan dengan aman, safety first” begitu Pan Kompyang menirukan gaya bicara orang bule di TV. “Tapi Pak”, seorang pemuda menyela, “Si Gobleg setahun lalu menikah dan sekarang anaknya sudah 1,5 tahun. Mereka baik-baik saja! Gobleg bahkan bilang itu memang disengaja. Saya lihat sih gak ada keterpaksaan menikah karena hamil yang tidak sengaja. Sekarang, mereka bahkan hidup baik-baik saja dan anaknya juga pintar. Itu gimana Pak?” Pan Kompyang tercenung sesaat. “Intinya adalah perencanaan yang matang. Itu saja!” Jawaban singkat itu membuat semua terdiam, entah mengerti entah tidak.

Sementara itu, aku sendiri sedang bahagia karena perihal hamil juga. Baru saja ketika aku pergi ke sawah untuk mulai mencangkul, merpati putih terbang rendah hinggap di pohon turi di pematang. Parunya membawa sepucuk surat dari istriku. “yah, pagi ini mama dah tes lagi hasilnya 2 grs merah yang artinya positif.. om dirgahayuastu, mama mo ke dokter hr sbt di marobra medcent.ILU” Sebuah kabar yang paling membahagiakan dalam hidup, lebih dari kegiranganku ketika menerima pengumuman mendapat dana dari pak dukuh karena terpilih untuk menjalani pendidikan di sebuah padepokan di desa tetangga. Semoga kami diberi kekuatan untuk menjaga titipan Tuhan ini dan tegar menjalani segala tanggung jawabnya.

Welcome to Sydney

[a brief survival guide for new ausaiders]


New to Sydney? Don’t worry, you are one of many people on earth feeling the same. Here are some tips that will ease you to survive at least in the first few days.

  1. Where to Stay? Temporary accommodation

    Senior students in UNSW have tried hard to provide temporary accommodation for you. The accommodation is usually a room that is temporarily vacant because the owner (usually a student) is in a holiday. You will be safely placed in one of the temporary accommodations which is arranged by senior students who pick you up at the airport. Don’t worry about the place and transport, a senior student will take you to the door of your temporary room.
  2. Feel Kangen? Call Indonesia! It is cheap!

    Calling Indonesia from Sydney is not a big deal. Sydney provides you with a huge number of calling card choices. Calling card is a VoIP (Voice over Internet Protocol)-based card that enable you to call overseas in a very affordable price. By using a calling card, you spend only AUD 10 (sekitar 70 ribu rupiah saja) to call Jakarta for about 4-5 hours. Yes, you are right! It is even much cheaper than calling Jakarta from Bali. However, The rate to call other place than Jakarta is more expensive. To Bali, for example, using Call Express will cost you AUD 10 for 3-hour effective call. Some recommended calling cards are: Sunshine, Global Connect, Call express, Star Card, etc. They are purchasable from almost any news agent around Kingsford, Kensington and Randwick (the three closest suburbs to UNSW). Each card has its own advantages and disadvantages. You can try one by one till you find the one that suit you best.
  3. What to Eat? Indonesian Shops Everywhere

    We understand that some people find it is not easy to abruptly change their diet behavior. Sambal terasi and indomie goreng are sometimes not displaceable and still occupy the top rank of your favorite meal list. If it happen to you, Sydney is the right place for you. You can easily find Indonesian (or oriental) shops and restaurants around Kingsford, Kensington and Randwick. Around Kingsford, which is 5-10 minute-walk form UNSW, you can find Andalas, Ayam Georeng Jakarta, Ayam Goreng 99, White Lotus, etc. In short, it is easy to find Indonesian food. No worries lah!
  4. ISS: Your First Home at UNSW

    ISS, standing for International Student Service, is the first place you’re gonna visit at UNSW. There, you will be given a ‘survival’ kit and briefing to living in Sydney. Senior student will take you to ISS to register, so you don’t have to worry where to go. It is located in the red center, one of the most famous building in UNSW. ISS will be your comfortable refreshing place where you can access the internet for free and consult any problems related to your settlement.
  5. Banking Matters

    To be able to receive your stipend (the scholarship: your major source of income in Sydney), you are expected to open a bank account. Commonwealth is the most favorite one. Don’t ask me why! You will be assisted by senior student to open your account and deposit your first salary (settlement allowance) in it. Please be advised that you can get the most out of banking service. You can use the telephone and internet banking for almost any transactions (pay your rent, electricity bill, telephone bill, credit card, etc). Make sure you understand how to utilize the two important services. You can also ask the bank customer service when you open your account. Still can’t get it? Ask one of the senior students. They will be more than happy to help you :). For sure, it is a lot easier than the ADS selection test!
  6. Renting a Permanent Accommodation

    Now it’s time to think something serious: a permanent accommodation. Everything about renting an accommodation have actually been provided in a booklet called “Renting Guide”. However, sometime people find it is not fun to read everything in such a book. Here are some items you should now about renting an accommodation:

    1. List of available accommodation can be obtained for free in a housing agent (e.g. lj hooker, ng farah, laing & simon, etc). The one that I am using is LJ Hooker Kingsford, Phone: 02) 9662 6555
    2. Find a good one in the list? You can inspect the flat/house by depositing approximately AUD 50 (or more) to get the key. The inspection is usually no longer than 1 hour. Get your money back as the inspection done.
    3. If you wish to spend less money for rent, it is recommended to share a two (or more)-bedroom flat with other student[s].
    4. Once you’ve found a good place and flat mate, apply to the agent and deposit some money if needed.
    5. Before signing the contract, the agent will, for once again, inspect the flat, list its physical condition and give the report to you.
    6. You will need to re-inspect the flat and decide whether you agree or disagree to the condition report.
    7. The rent is usually calculated per week and paid biweekly. At the beginning of contract you have to pay bond (deposit money) that usually worth 4 week of rent. The bond is refundable as long as you keep the flat in good condition. (refer to the inspection report)

    If you decide to be an anak kost in a flat or house you don’t have to worry about all items above. Everything is much easier!

  7. How to Install your Own Telephone?

    Unlike Indonesia, Australia has more than one telephone providers that you can choose. The infrastructure is already established so it will not take a long time to have your telephone ready. All you have to do is to register to one of providers you like. If you want to install Telstra, let’s say, simply call 132200 and your phone will be ready in less than 2 days. Be advised that you will be charged for installation fee. To get a better idea about the advantage and disadvantage of a provider, ask a senior student. They will help you without charge 🙂
  8. Internet @ home

    Many internet options are available for you. You can select either prepaid or plan (postpaid), dial-up or broadband. Each service has its own special features. If you need only to check email sometimes at home, a prepaid option is enough. Many prepaid cards are available (e.g. UDUS (UNSW’s prepaid internet) planet, hello, MyNet, etc). They are available in some price schemes ($5, $10, $20, $50, etc). Prepaid internet is a dial-up service, and easy to set up.

    FYI, internet is available for free and in unlimited quota at your school, sometimes it is not necessary to set up internet at home. However, if you want to have unlimited internet access from home, you can try other service such as ADSL/broadband. Some students have installed those kind of services and, for sure, they can help you to make decision.
  9. Summer: The Beach is Calling

    Ever think that living overseas will make your skin look brighter/whiter? Not in summer mate! January is very hot in Sydney and it is a good time for swimming. The beach is calling you to come and sunbathe. You can go to Coogee beach, Bondi Beach (the most famous beach in Sydney), La Peruse (where the Mission Impossible 2 was filmed), Maroubra (our favorite BBQ spot). January-February will be quite fun time for you before the courses started. Yes, you will be obliged to attend the Academic Preparation Program (APP) but don’t worry too much about that. It will not be better than your EAP in Jakarta or Bali. Enjoy your time as you will never have that much fun during course. Believe me!
  10. Mailing List: ausaid-indo-unsw@yahoogroups.com

    The last but not least, join our mailing list as soon as you arrive. It is a MUST since you will never be recognised as a UNSW-Ausider without subscribing to the group [I am kiddin’, mate!]. Just send a blank email to ausaid-indo-unsw-subscribe@yahoogroups.com and let the moderator[s] do the rest.

Hope you can get a clearer picture in your mind. Welcome to Sydney!

Selamat Tahun Baru

[2004-2005]

Jika dikatakan “biasa“, tahun baru 2005 ini, hampir di seluruh belahan dunia, memang biasa, tidak ubahnya dengan tahun baru sebelumnya. Pertambahan waktu dan akhirnya pertambahan usia. Pesta, kembang api, begadang, jalan-jalan, refleksi, merenung, kontemplasi dan sebangsanya. Semuanya masih tetap sama.

Jika [mau] diistimewakan, jangankan tahun baru, setiap hari pun istimewa. Setiap saat adalah berkah dan saat untuk bersyukur. Hari Senin bersyukur karena masih diberi waktu untuk menghadapi hari kerja yang artinya masih memiliki harapan untuk masuknya sejumlah uang ke rekening di akhir bulan. Hari Selasa menjadi istimewa karena beberapa acara di televisi menyuguhkan keceriaan dan pelajaran yang berarti. Hari Rabu juga tidak kalah istimewanya karena kebetulan Bulan Purnama sehingga bisa menikmati indahnya malam sambil bersujud menghadap Hyang Widhi. Hari Kamis patut bersuka cita karena proyek yang ditugaskan oleh atasan dapat terselesaikan dengan baik. Hari Jumat sangat berkesan karena hari kerja yang pendek dan waktunya sholat bersama, mendengarkan lantunan puja dan puji terhadap Allah. Hari Sabtu adalah hari yang panjang dan menyenangkan karena saatnya melewatkan malam dengan orang-orang yang dicintai. Hari Minggu saat yang tepat untuk merecharge kembali sanubari dengan berkunjung ke Gereja mendengarkan senandung yang mengagungkan Tuhan. Begitu seterusnya, setiap saat adalah istimewa, setiap detik adalah berkah yang harus disyukuri. Sungguh malam tahun baru tiada lebih istimewa dari hari lain yang kita lalui.

Di Indonesia khususnya, akhir tahun 2004 ditandai dengan sebuah tragedi alam yang sedemikian dahsyatnya. Tidak kurang dari 90 ribu orang menjadi korban bencana gempa berpusat di Aceh yang disusul tsunami. Di seluruh dunia, dilaporkan tidak kurang dari 150 ribu orang meninggal. Sungguh sebuah tragedi alam yang luar biasa. Kejadian ini membuat tahun baru menjadi berbeda di Indonesia. Tidak ada lagi kembang api yang megah menandai pergantian tahun. Tidak ada teriakan suka cita mengiringi terompet menyambut fajar 2005. Yang ada hanyalah tangis duka dari wajah-wajah yang menunduk dalam. Tidak ada yang patut disalahkan dari kejadian ini. Tidak ada kaitannya dengan kegagalan pemerintahan atau derasnya korupsi yang konon masih saja bercokol dengan angkuh di bumi pertiwi. Ini adalah kejadian yang nampaknya memang harus terjadi sebagai pelajaran yang berat untuk kita semua.

Berbeda dengan tahun lalu ketika “Selamat Tahun Baru” diucapkan dengan senyum ceria penuh suka cita. Tahun ini, “Selamat Tahun Baru” nampaknya harus diucapkan dengan perasaan sedikit luka. Tentu saja bukan luka pesimis, tapi luka sedih dan prihatin atas ketidaknyamanan yang dirasakan oleh ribuan saudara kita di Aceh dan sekitarnya. Semoga tahun 2005 menjadi tahun yang membawa harapan. Selamat Tahun Baru.

Duka Aceh

Sepertinya sudah tidak setara lagi air mata duka dengan ribuan nyawa yang menjadi korban kemurkaan alam yang perpusat di negeri kita. Tak sebanding lagi ratap dan keluh kesah dengan luluh lantaknya dua pertiga Nangroe Aceh Darusalam. Alam murka tanpa seorangpun diberi kuasa untuk mengendalikannya. Semua terasa serba luar biasa dan bahkan jauh di luar jangkauan doa manusia. Diam atau teriak menjadi tidak berbeda, seperti halnya tangis dan tawapun tak memberi makna yang berarti. Semua terasa terlalu besar, terlalu hebat dan semua yang serba terlalu.

Menyesal dan memohon ampun pun serasa tidak lagi mampu mengetuk pintu-pintu maaf dan tidak akan mampu mengubah apapun. Telah terjadi ketidakselarasan yang terlalu jauh, telalu besar, terlalu dahsyat dan semua yang serba terlalu sehingga seakan tidak ada jalan untuk bertobat.



Sumber: http://staff.aist.go.jp/kenji.satake/animation.gif

Aku pasti adalah seekor katak kecil yang diselimuti rendah diri dan rasa pesimis yang terlalu. Jangankan untuk berenang menyelamatkan meraka yang menjadi korban, untuk melihat tangan sendiri yang meneteskan darahpun aku tak mampu. Aku mungkin terlalu lama diporak-porandakan oleh kekejaman yang datang silih berganti tiada henti. Jiwa ini mungkin telah dikerdilkan dengan berbagai kegagalan yang datang bertubi dan tidak pernah pergi. Aku sekarat, meratap, dan menangis dengan air mata yang tak lagi bisa mengalir karena sumur kesedihan telah lama kering oleh duka yang terlalu panjang.

Kedamaian, Keyakinan dan Cinta mungkin telah mati di negeri ini sehingga getarannya tidak lagi mampu menahan murka alam. Kepergian ketiganya mungkin telah menyisakan tumpukan jasad hidup yang tak lagi waras dan tak lagi menyimpan senyum. Namun setidaknya semoga Harapan masih tersisa di bagian kecil kehampaan ini. Semoga lilin Harapan masih cukup terang dan kuat untuk menyulut kembali lentera Kedamaian, Keyakinan dan Cinta yang telah lantak binasa.