Australian Idol dan Fenomena Capres Indonesia

[sebuah analogi]

Tulisan ini tidak ditulis oleh seorang pengamat musik, tidak juga oleh seorang politisi, pun bukan pengamat politik. Tulisan ini ditulis oleh seorang warga negara biasa yang walaupun demikian, kenyataannya menduduki proporsi terbanyak dari keseluruhan negeri. Tulisan ini, seperti yang akan Anda lihat, bukan sebuah analisis tajam tentang musik, bukan pula pembahasan kritis tentang politik. Kalau kebetulan judulnya mengandung kata “idol” dan “capres”, itu hanya untuk memancing Anda untuk membaca. Maaf!

Minggu lalu, publik Australia pecinta reality show “Australian Idol” dikejutkan oleh sebuah kenyataan tak terduga. Ricky Lee, salah satu dari 7 kontestan yang tersisa akhirnya terpaksa harus melepaskan mimpinya menjadi Australian Idol. The nation has voted, she was out! Suasana studio mendadak mencekam, lebih haru dari suasana eviction biasanya. Bukan saja karena Ricky Lee memang salah satu kontestan terbaik dari segi music skill dan penguasaan panggung (menurut judges) tapi juga karena publik, berdasarkan live survey yang dilakukan channel 10, telah mengakui Ricky Lee adalah calon bintang dan diprediksikan akan memenangkan Australian Idol tahun ini.

Judges yang terdiri dari Mark, Marcia dan Dicko tidak dapat berkata apa-apa. Marcia hanya bisa menyayangkan kenyataan ini. Australia, menurutnya, telah melakukan kesalahan dengan tidak mendukung Ricky Lee, seorang gadis dengan talenta musik yang mengagumkan. Hal yang sama terjadi pada salah seorang kontestan tahun lalu, Paulini, seperti yang ditegaskan oleh Marcia.

Melihat hal ini saya teringat dengan fenomena Capres Indonesia. Saya, jujur saja, tidak begitu fanatik dengan salah satu calon. SBY, yang sekarang kebetulan menang, juga memiliki sejarah yang tidak selalu baik. Dia adalah bagian tak terpisahkan dari orde baru. Tapi, sebagai orang biasa, saya hanya bisa sedikit bergarap, semoga lebih baik.

Banyak kalangan mengatakan Amin Rais adalah kandidat yang seharusnya menang dalam pemilihan capres. Pendapat semacam ini datang, terutama, dari kalangan pemilih rasional, pemilih yang lebih banyak menilai capres dari program, gagasan, kejelasannya visi, dll. Hal senada disampaikan David Reeve, seorang Indonesianist dari UNSW ketika berbicara di UTS menjelang pemilu presiden. Namun malang bagi Amin Rais dan pendukungnya. Jangankan menang jadi presiden, untuk masuk putaran kedua saja sang jagoan tidak berhasil. Dengan tragis kalah oleh SBY, Megawati, dan bahkan Wiranto yang telah termasyur sebagai salah satu gembong orde baru dan penjahat militer. Pendukung Amin Rais ramai di milis dan internet, mengungkapkan ketidakpuasan mereka. Tapi semua sudah terjadi.

Amin Rais, jika memang benar bisa dianggap baik secara obyektif, adalah fenomena Ricky Lee di Australian Idol. Orang-orang seperti ini didukung oleh orang-orang rasionalis yang pilihan dan dukungannya sangat bergantung pada performa. Pendukung seperti ini tentu saja sulit diajak “sehidup semati”. Mereka akan mendukung secara penuh ketika kandidat benar-benak baik namun sesaat kemudian bisa mengalihkan pilihannya ketika kandidat melakukan kesalahan. Ketidakberhasilan Amin Rais dan Ricky Lee dalam memelihara pendukung yang militan dan “membabi buta” telah mengakibatkan impian mereka kandas. Berbeda dengan Megawati yang memiliki pendukung militan dan terdoktrin, Amin Rais mungkin sebagian besar tidak pendukung oleh pendukung semacam ini. Sementara pendukung Megawati bisa memilih Mega tanpa sedikitpun perlu tahu apa program kerja Megawati, pendukung Amin Rais mungkin lebih rasional dan benar-benar memilih berdasarkan program kerja dan performa Amin Rais dalam jabatan sebelumnya. Amin Rais memang tidak terlihat signigfikan memberi warna pada lembaga MPR kita selama dia menjadi ketua. Hal ini mungkin juga bisa dijadikan alasan oleh pemilih untuk tidak memilih Amin Rais dalam periode ini.

Amin Rais dan Paulini

Paulini yang pada periode Australian Idol lalu terhempas di pertengahan, kini menjadi seorang bintang sesungguhnya di Australia. Albumnya laku keras dan menjadi salah satu idola baru. Judges berharap roh Paulini akan memberi inspirasi kepada Ricky Lee. “It is not the end, Ricky! But a big start” begitu Mark, salah seorang Judges, menasehati Ricky Lee ketika dinyatakan tereliminasi. Seperti halnya, Paulini, Amin Rais tidak perlu menjadi presiden untuk bisa berbuat baik untuk bangsa ini. Akan sangat bijaksana dan dicatat dalam sejarah jika Amin Rais akhirnya menjadi seorang Paulini yang tegar menghadapi kekalahan dan akhirnya bangkit berbuat yang terbaik untuk menggapai bintang.

The danger of the Democracy

Ternyata nilai sebuah demokrasi kadang-kadang sepadan dengan kegemaran ber-SMS. Untuk menentukan pilihan yang terbaik dan mendukung demokrasi berjalan dengan baik, menggosip dan bercerita atau menulis tentang demokrasi saja tidak cukup. Mengagumi seorang jagoan dari jauh atau dalam mimpi tidak akan mengubah apapun. Jangan berharap mengubah bangsa dengan merenung dan berkeluh kesah. “Kirim SMS Anda hari ini juga”.

Disiplin

[berbeda definisi, tapi…]

Menurut Anda apakah disiplin itu?

Ya, saya tahu Anda memiliki definisi yang mungkin berbeda dengan saya. Dan bisa jadi definisi yang Anda berikan hari ini berbeda dengan yang Anda pikirkan kemarin. Begitulah, hari-hari kita dipenuhi dengan perubahan. Dinamika dalam bahasa kerennya.

Jika seorang research student yang sedang menyelesaikan thesisnya ditanya tentang disiplin, bisa jadi dia mendefinisikannya sebagai kepatuhannya terhadap research schedule yang sudah ditetapkan bersama supervisornya. Disiplin adalah tertib menjalankan segala aktivitas yang telah disepakati dalam research schedule.

Jika seorang Internet Marketer seperti Anne Ahira ditanya tentang displin, mungkin dia akan menjawab bahwa disiplin adalah dengan sungguh-sungguh meluangkan setidaknya satu jam sehari berselancar di internet dan mencari prospek baru.

Cobalah bertanya tentang disiplin kepada seorang petani yang harus berangkat ke sawah jam 5 pagi dan pulang sore hari, atau kepada seorang dosen universitas negeri yang konon gajinya tidak cukup untuk hidup sebulan bersama seorang istri dan dua anak kuliah yang ingin seperti bapaknya. Jawabnya akan berbeda.

Dulu ketika masih berumur sebelas tahun, saya mendapat definisi disiplin yang berbeda dari seorang bapak yang sedernhana. Bagi beliau, disiplin adalah tidak memakai sendal ketika menginjak lantai rumah. Itulah disiplin.

Ketika suatu saat saya diajak ke Denpasar dan harus makan di sebuah rumah makan sederhana, sayapun dengan “disiplin” menanggalkan alas kaki dan melangkah dengan kaki telanjang. Bapak saya memandang dengan senyum dan berkata kepada temannya “Dia anak yang disiplin.”

Bagi saya, disiplin sangatlah sederhana. “Disiplin adalah menjaga air kencing tetap jernih, sehingga saya tetap sehat ketika menyaksikan kucuran air tumpah ke dalam kloset putih bersih di pagi hari.” Bagaimana menjaga air kencing tetap jernih? Sederhana sekali “minum air putih yang banyak”. Apakah menjalankannya semudah terorinya? Itulah inti tulisan ini.

Renungan Katak Kecil di Bulan Ramadhan

[sebuah surat balasan]

Aku adalah seekor katak kecil yang tak memiliki apa-apa kecuali cinta yang seringkali aku artikan semaunya. Aku merasakan cinta yang tiada terkira kepadamu. Ya kepadamu, sahabatku. Cinta yang, sekali lagi, sering aku salah artikan. Cinta yang mungkin karena keegoisanku, banyak melahirkan tuntutan yang sebenarnya tidak perlu. Cinta yang terlalu. Tapi, aku masih tetap percaya, setidaknya ini bentuk cinta… walaupun mungkin tak sepantasnya.

Hari ini aku menerima surat darimu setelah duapuluh purnama lamanya engkau meninggalkan kolam kecil kita. Kolam yang dari dulu kita pelihara indahnya, tempat bermain dan memandang kilau dunia. Sambil sesekali mengagumi bulan, menjaga lumut tetap subur dan memelihara air tetap jernih sampai akhirnya engkau memilih untuk pindah ke kolam lain. Aku sedih ketika itu. Sekali lagi, pastilah ini karena ego berlebih dan kesadaran yang masih sangat rendah. Aku hanya bisa menangis, dengan air mata yang kutarik sebisanya, tumpah ke dalam hati. Semuanya semata-mata karena aku sendiri menyadari air mata ini tidak layak kupamerkan demi kepindahan sahabat menuju kolam idamannya. Dan yang lebih penting, kepindahan ini adalah juga karena CINTA. Aku berharap pastilah di kolam sana juga ada cinta. Cinta yang mudah-mudahan lebih indah, lebih universal dan lebih menyejukkan tidak saja bagi penghuni kolam tapi juga jagat sekitar.

Sahabatku, aku membaca suratmu hari ini dengan senyum sedikit kecut. Ada yang aneh rasanya. Seperti masih tidak percaya kata-kata itu keluar dari bibir mungilmu. Kata-kata yang sangat berbeda dengan yang pernah kita ucapkan dulu ketika kita sama-sama berdoa memuja dan mensyukuri kenyataan bahwa seluruh jagat raya dikaruniai kebahagiaan berlimpah. Kata-katamu kini bebeda. Kata-kata yang dengan tegas mencirikan bahwa engkau telah menjadi bagian dari kolam yang baru. Kata-kata yang tidak saja menunjukkan pengakuan tapi juga keberpihakan.

Meski terasa sangat aneh di telingaku, aku tidak berani menghakimimu. Barangkali seperti itulah saharusnya seekor katak kecil berlaku di kolam baru. Dengan ksatria mengakui keberpihakannya dan dengan lantang menyuarakan kebenaran-kebenaran yang baru saja diperolehnya dari kolam idamannya. Ini adalah tindakan seorang yang percaya dengan kebenaran diri.

Seperti itulah aku berpikir tentangmu saat ini. Aku berusaha menjadikan semuanya tetap jernih, mencoba mengusir ego berlebih yang mungkin tak kan pernah diperlukan.

Namun, aku hanya sedikit berharap. Semoga suratmu hari ini adalah surat universal untuk kebaikan seluruh jagat raya. Bukan surat “picik” yang hanya akan menyukseskan penggolongan dan pengelompokan makhluk di muka bumi. Bukan juga surat yang sibuk membanggakan kolam sendiri yang barangkali menurutmu terlalu indah untuk dibandingkan. Ini adalah harapan sederhana seekor katak kecil yang pernah menjadi sahabatmu dulu.

Aku menerima dengan lapang hati semua kebanggaanmu. Aku menyaksikan dengan dengan seksama bagaimana engkau menjalani transformasi ini. Aku adalah satu dari sekumpulan katak kecil lain yang sesungguhnya merintih menyaksikan kebanggaan yang terasa berlebih ini, tapi syukurlah kami adalah pemuja segala kebaikan yang universal adanya. Dengan itu kami tidak pernah menganggapmu berbeda.

Robohnya Indonesia Kami

[duka cita mendalam]

It has been less than 24 lunar cycles since the collapse of Indonesia due to the terrible Bali Bombing. Now the nation is once again crying for a similar bomb blast at Kuningan, Jakarta. The figure of ‘nine’ is, of course, too many for the deaths with no reason. More than a hundred were told seriously injured, for a sacrifice they never know the aim. Indonesia! How sad our nation’s destiny is! It can never escape from the cycle of irritating noise. A noise caused not only the death of economy but also the degradation of self confidence. It sometimes declines to the lowest critical point that seems to be irreversible. The noise caused a bloody flood and the lost of lives without any certain meaning. Our nation is broken down terribly!

We are the ordinary people who can only turn our head down and sometimes cry sadly seeing what is happening. We are witnessing some relatives whose not only hand, legs and half faces are burnt out but also souls accompanied by touching cry. The hell fire, that is never clear who the owner and what the aim, has burnt them. Nobody knows the reasons, everything is blurred and will never be obvious. We can only shake our head repeatedly for the unbelievable happening. When is everything getting better?

We fully realise this is a wrong doing! We also acknowledge this will bring mourning not only to those who lose their legs, hands and even lives but also to whole over the nation, which is now turning its head down deeply and moaning sadly. We know the sadness will last so long, leave the ruins of economic death. We don’t know whether it is recoverable.

We keep questioning reflectively. Why is this happening to us? Is it a ‘karmapala’ for whatever crimes we have been doing for almost the entire life? Or is it a result of the carelessness of the authorities of our nation who never think seriously and comprehensively toward the signs the nature has provided? This is probably a serious warning for whatever ‘never ending’ fights we have been doing against brothers and relatives. This is apparently a punishment that must soon awake us from a long nightmare. Or can it be just a small dream in a lazy noon-sleep with no significant meaning? We can never fully understand!

We are the people who will never believe that the cruelness is based on a virtue of a particular spiritual belief. To us, it’s impossible!!! We are maybe ATHEISTS but we always respect and sing an enchanting song to the greatness of every single spiritual faith and religion the people believe on earth. We are the respecters of all kindness. Nothing will seduce us to point at any of the great spiritual faith and claim it to be behind all these stupid scenarios. Even though one is responsible for that and claim to be a representative of particular spiritual group, we believe that she/he is only a bulk of muscle and bone hiding cowardly behind the sanctity of that purity. What do you think?

We hope this is more than enough to awake us from a long sleep. Just let them be the only victims and no more! God will go along with us to reconstruct the terribly broken nation. Please let us do better in life. [Sydney, September 10, 2004]