Selamat Jalan Sri Paus!

Salah satu umat manusia yang paling berpengaruh abad ini telah perpulang. Hidupnya yang dihabiskan untuk mengabdi pada kehidupan, telah dihentikan dari kewajiban. Kini Sri Paus menikmati ketenangan abadi, layaknya cinta yang ditebarkannya ke seluruh alam.
Selamat Jalan Sri Paus. Kepergian ini, kami yakini sebagai titik refleksi bagi segenap umat dan alam sejagat. Semoga sebagian besar darimu akan tetap hidup dan bersemi di sela kekalutan dan kegundahan negeri. Selamat jalan!


http://www.cbc.ca/news/background/pope/gfx/titlephoto.jpg

Advertisements

Surat untuk Kopral Jono

[saatnya bersahabat kembali]

Pak Kopral, hari ini seperti biasa saya menulis lagi. Kali ini saya menulis untukmu, Pak Kopral yang telah lama bahkan tidak pernah saya mimpikan, apalagi pedulikan.
Pak Kopral, sore kemaren saya melihatmu dari kejauhan mengangkat puing akibat bencana Nias. Lusuh berbaju loreng di bawah terik matahari mengais dan mencari-cari kepala, tangan, kaki dan jiwa yang barangkali bisa diselamatkan. Saya merasa harus berterima kasih.

Pak Kopral, saya sadar terlalu banyak meremehkan dan merendahkanmu selama ini. Terlebih bangsa ini yang secara sadar telah melucutimu di depan khalayak. Mungkin benar kiranya, ini buah dosamu di masa silam. Tapi saya seperti terpanggil untuk memaafkanmu. Di saat negeri ini panik tercerai-berai karena ancaman negara tetangga, tiba-tiba saya ingat kepadamu. Engkaulah barangkali yang kami andalkan menjaga pintu-pintu negeri ini agar tidak bobol oleh keserakahan negeri seberang, sekaligus tidak rapuh oleh air kencing kami yang sering kali tidak santun. Ketika perang di depan mata, kami ingin memintamu untuk menjadi tameng. Ketika ancaman sudah melingkupi seluruh negeri, tiada tempat mengadu yang tepat kecualimu.
Maafkan kami yang telah melucuti senjatamu, dan membuatmu terkebiri oleh jargon sipil yang mungkin terlalu. Sekali lagi, maaf. Aku sadar dan meyakini, ”maaf” ini tidak akan membuatmu tinggi hati dan merasa penting. ”Maaf” ini akan membuatmu menjadi sahabat seperti apa yang pernah kita cita-citakan dulu. Ketika musuh bersama sudah datang, adakah alasan untuk saling membenci?

Indonesia Masih Punya Kamu

[aku ingin sepertimu]

Ya, kamu yang masih menyempatkan membaca tulisan yang judulnya sedikit menyisakan nasionalisme, yang menurut seorang kawan, entah layak entah tidak untuk dibahas. Indonesia tidak harus terlalu bersedih karena masih ada kamu yang peduli dengan isu-isu membela Negara yang memang tidak lagi dilakukan dengan menghunus bambu runcing tapi menghunus pena dan berperang wacana. Indonesia tidak perlu bersedih.

Indonesia masih punya kamu.
Ya, kamu yang di sela-sela kesibukan sehari-hari masih sempat melirik seorang anak tak beruntung yang tidak bisa menikmati enaknya sesendok nasi hingga terik siang siang. Indonesia akan bangkit lagi karena masih ada kamu yang menyisihkan sebagian beasiswa yang pas-pasan untuk biaya sekolah anak-anak tak mujur di negeri ini.

Indonesia masih punya kamu.
Ya, kamu yang masih menyempatkan diri berbicara berapi-api tentang keterbelakangan negeri ini seraya mengajak satu-dua sahabat untuk berbuat sesuatu. Indonesia masih punya kamu yang masih sempat menangis terisak menyaksikan penderitaan TKW kita di Malaysia yang terhempas tak berharga seraya menulis sebuah surat pembaca di harian nasional.

Indonesia masih punya kamu.
Ya, kamu yang masih rajin mengirimkan email berantai mengajak reman-teman untuk menjadi orang tua asuh bagi satu-dua anak negeri yang tergeletak tak berdaya karena tertindas jaman. Indonesia masih punya kamu yang masih peduli walaupun tidak dengan bertumpuk uang dan segepok kekuasaan.

Indonesia masih punya kamu.
Ya, kamu yang dengan tulus menjaga anak dan membesarkannya dengan kasih sayang yang tidak memanjakan. Indonesia masih punya kamu yang mengajarkan pada generasi bangsa ini bahwa di negeri ini ada banyak agama dan kepercayaan yang sama baiknya sehingga mereka belajar menghargai sejak dini. Syukurlah Indonesia masih punya kamu.

Aku ingin sekali sepeti kamu.
Ya, kamu yang tidak sepertiku, hanya bisa menghujat pemerintah karena korupsi sekaligus tanpa kusadari akupun telah korupsi kecil-kecilan ketika me-mark-up biaya operasional saat menjadi koordinator acara manggang ikan. Aku sadar, mengeluh saja tidak cukup. Aku ingin seperti kamu.

Aku ingin seperti kamu.
Ya, kamu yang tidak seperti diriku, telah luntur binasa kecintaannya pada pertiwi hanya gara-gara kenikmatan duniawi di negeri orang yang sempat kurasakan sejenak. Aku ingin seperti kamu yang dengan bijak menikmati kelebihan negeri orang tanpa menjadi benci pada Indonesia.

Aku ingin meniru kamu.
Ya, kamu yang tidak sepertiku, berlari dari kenyataan dan malu mengakui Indonesia sebagai bangsa sendiri dan kabur ke Negara tetangga untuk menjual ilmu yang tanpa aku sadari, kuperoleh dengan kebaikan hati Indonesia. Jangankan untuk kembali ke pangkuan pertiwi, menolehpun aku tak sudi. Aku kini sadar, aku ingin sepertimu.

Selamat Galungan dan Kuningan

[memperjuangkan kemenangan dharma]

Merayakan Galungan dan Kuningan di negeri orang tentu saja jauh berbeda dengan Galungan di Bali. Galungan di sini tidak terasa, bisa dikatakan. Jangankan untuk pergi ke pura dan menikmati suasana hari raya dengan sepuasnya, libur saja tidak ada. Yang lebih parah lagi, tidak banyak orang yang tahu, apalagi peduli. Lucu memang. Tapi inilah kenyataannya. Galungan kali ini harus diperjuangkan dengan lebih keras agar terlewatkan dengan suasana hati yang tetap meriah. Kemenangan dharma atas adharma sebagai esensi dari Galungan benar-benar harus diusahakan dalam kesepian jauh dari keluarga besar.

Berbagai ujian datang, banyak godaan untuk memenangkan adharma berkunjung silih berganti. Kadang luput, sering juga kecolongan. Inilah kenyataan hidup yang tak pernah seindah cerita. Bisa memaknai dan menarik pelajaran barangkali adalah satu hal positif yang bisa dilakukan.

Oh ya, Galungan kali ini terasa istimewa karena tidak lagi dirayakan berdua melainkan [hampir] bertiga :-).


Satu pelajaran penting, kebenaran memang seharusnya menang, namun bukan kemenangan yang jatuh dari langit. Dalam dunia dimana kebenaran dan kejahatan bukan lagi dua kutub yang berjauhan, jangankan untuk memenangkannya, untuk membedakannya saja bukanlah pekerjaan mudah. Kemenangan sebuah kebenaran harus diperjuangkan dengan sungguh-sungguh!

Selamat Galungan dan Kuningan!

Ada Apa dengan Ambalat?

[sebuah pandangan]

I Made Andi Arsana 1

Pengantar
Keputusan Malaysia untuk memberikan konsesi penambangan dan pengelolaan miyak di kawasan Ambalat kepada Royal Dutch Shell dan perusahaan lain pada bulan Februari 2005 telah mengundang reaksi yang cukup keras dari pemerintah maupun masyarakat Indonesia. Keputusan ini mengindikasikan bahwa Malaysia yakin Ambalat berada di dalam teritori mereka. Sementara itu, Indonesia sendiri yakin bahwa Ambalat adalah bagian dari Indonesia. Hal ini didukung oleh fakta historis bahwa Ambalat dulunya adalah bagian dari Kesultanan Bulungan yang akhirnya menjadi bagian Indonesia sejak kemerdekaan. Argumentasi semacam ini dikenal sebagai argument rantai kepemilikan atau chain of title.

Reaksi keras dari pemerintah dan masyarakat bisa dipahami karena belum lagi sembuh luka bangsa Indonesia dengan terlepasnya dua pulau Sipadan dan Ligitan ke tangan Malaysia, kini Malaysia mencoba ‘merebut’ wilayah lain yang diyakini sebagai wilayah Indonesia. Meskipun secara historis kedua pulau tersebut juga bagian dari Kesultanan Bulungan, toh akhirnya International Court of Justice (ICJ) memenangkan Malaysia. Keputusan ini, salah satunya, karena Pemerintah Indonesia terbukti gagal memberi perhatian kepada pengelolaan lingkungan kedua pulau tersebut (www.media-indonesia.com, 4 Maret 2005). Akankah si kaya minyak Ambalat bernasib sama dengan kedua kakaknya, Sipadan dan Ligitan? Nampaknya Pemerintah Indonesia perlu berjuang ekstra keras dan luar biasa hati-hati dalam menghadapi persoalan ini.

Perbatasan Indonesia-Malaysia dan Konvensi 1891
Untuk menyelesaikan persoalan klaim yang tumpang tindih ini, harus dilihat kembali rangkaian proses negosiasi antara kedua negara berkaitan dengan penyelesaian perbatasan di Pulau Kalimantan yang sesungguhnya telah dimulai sejak tahun 1974 (menurut Departeman Luar Negeri). Diketahui secara luas bahwa Perbatasan Indonesia-Malaysia di Laut Sulawesi, di mana Ambalat berada, memang belum terselesaikan secara tuntas. Ketidaktuntasan ini sesungguhnya sudah berbuah kekalahan ketika Sipadan dan Ligitan dipersoalkan dan akhirnya dimenangkan oleh Malaysia.
Jika memang belum pernah dicapai kesepakatan yang secara eksplisit berkaitan dengan Ambalat maka perlu dirujuk kembali Konvensi Batas Negara tahun 1891 yang ditandatangani oleh Belanda dan Inggris sebagai penguasa di daerah tersebut di masa kolinialisasi. Konvensi ini tentu saja menjadi salah satu acuan utama dalam penentuan perbatasan antara Indonesia dan Malaysia di Kalimantan. Perlu diteliti apakah Konvensi tersebut secara eksplisit memuat/mengatur kepemilikan Ambalat. Hal ini sama halnya dengan penggunaan Traktat 1904 dalam penegasan perbatasan RI dengan Timor Leste.

Pengakuan Peta Laut
Di berbagai media diberitakan bahwa Malaysia mengklaim Ambalat menggunakan peta (laut) yang diproduksi tahun 1979. Menutur Prescott (2004), peta tersebut memuat Batas Continental Shelf di mana klaim tersebut secara kesuluruhan melewati median line. Deviasi maksimum pada dua sekor sekitar 5 mil laut. Nampaknya dalam membuat klaim dasar laut ini Malaysia telah mengabaikan beberapa titik garis pangkal Indonesia yang sudah sah.

Di luar pandangan tersebut di atas, perlu ditinjau secara detail bagaimana sesungguhnya sebuat peta laut bisa diakui dan sah untuk dijadikan dasar dalam mengklaim suatu wilayah. Tentang hal ini, Clive Schofield, mantan direktur International Boundary Research Unit (IBRU) berpendapat bahwa “peta laut tertentu harus dilaporkan dan diserahkan ke PBB, misalnya peta laut yang memuat jenis garis pangkal dan batas laut. Namun begitu suatu Negara yang megeluarkan peta laut tentu saja tidak bisa memaksa Negara lain kecuali memang disetujui.”
Intinya, penggunaan peta laut tahun 1979 oleh Malaysia harus didasarkan pada kaidah ilmiah dan hukum yang bisa diterima. Jika peta laut ini hanya memenuhi kepentingan dan keyakijan sepihak saja tanpa memperhatikan kedaulatan Negara tetangga, jelas hal ini tidak bisa dibenarkan.

Penyelesaian Konflik
Sayang sekali, sebagai salah satu sumber hukum yang bisa diacu, Konvensi 1891, nampaknya tidak akan membantu banyak dalam penyelesaian kasus ini. Seperti halnya Sipadan dan Ligitan, Konvensi ini kemungkinan besar tidak akan mengatur secara tegas kepemilikan Ambalat. Hal ini terjadi karena Konvensi 1891 hanya menyebutkan bahwa Inggris dan Belanda sepakat mengakui garis batas yang berlokasi di garis lintang 4° 10’ ke arah timur memotong Pulau Sebatik tanpa lebih rinci menyebutkan kelanjutannya. Tentu saja ini meragukan karena Ambalat, seperti juga Sipadan dan Ligitan berada di sebelah timur titik akhir garis yang dimaksud. Jika garis tersebut, sederhananya, diperpanjang lurus ke timur, memang Ambalat, termasuk juga Sipadan dan Ligitan akan berada di pihak Indonesia. Namun demikian, menarik garis batas dengan cara ini, tanpa dasar hukum, tentu saja tidak bisa diterima begitu saja.

Melihat kondisi di atas, diplomasi bilateral memang nampaknya jalan yang paling mungkin. Meskipun mengajukan kasus ini ke badan internasional seperti ICJ, adalah juga alternatif yang baik, langkah ini tidak dikomendasikan. Mengacu pada gagasan Prescott, ada tiga hal yang melandasi pandangan ini. Pertama, kasus-kasus semacam ini biasanya berlangsung lama (bisa 4-5 tahun). Artinya, ini akan menyita biaya yang sangat besar, sementara negosiasi antarnegara mungkin akan lebih produktif. Hasan Wirajuda mengakui, total biaya yang dihabiskan untuk menyelesaikan Sipadan dan Ligitan mencapai Rp 16 Milyar (Tempo, 23 Desember 2002). Kedua, pengadilan kadang-kadang memberikan hasil yang mengejutkan. Keputusan the Gulf of Fonseca adalah contoh yang nyata. Pertama, pengadilan memutuskan bahwa historical bays bisa dibagi oleh dua atau lebih negara. Kedua, pengadilan mengijinkan, Honduras, yang jelas-jelas terisolasi dalam Gulf oleh El Salvador dan Nicaragua, untuk mengklaim laut dan dasar laut di samudera Pasifik. Ketiga, kadang-kadang argumen pengadialan dalam membuat keputusan terkesan kabur sehingga sulit dimengerti.

Langkah Selanjutnya
Ada beberapa pelajaran penting yang semestinya diambil oleh pemerintah Indonesia dalam menghadapi persoalan ini. Kejadian ini nampaknya semakin mempertegas pentingnya penetapan batas Negara, dalam hal ini batas laut, tidak saja dengan Malaysia tetapi dengan seluruh Negara tetangga. Saat ini tercatat bahwa Indonesia memiliki batas laut yang belum tuntas dengan Malaysia, Filipina, Palau, India, Thailand, Timor Timur, Sigapura, Papua New Guinea, Australia, dan Vietnam. Bisa dipahami bahwa Indonesia saat ini menghadapi banyak persoalan berat, termasuk bencana alam yang menyita perhatian besar. Saat inilah kemampuan pemerintah benar-benar diuji untuk dapat tetap memberi perhatian kepada persoalan penting seperti ini di tengah goncangan bencana.

Hal penting lain yang mendesak adalah melakukan inventarisasi pulau-pulau kecil di seluruh wilayah Indonesia termasuk melakukan pemberian nama (tiponim). Sesungguhnya hal ini sudah menjadi program pemerintah melalui Departemen Kelautan dan Perikanan sejak cukup lama, namun kiranya perlu diberikan energi yang lebih besar sehingga bisa dituntaskan secepatnya. Jika ini tidak dilakukan, Indonesia yang terdiri dari ribuan pulau akan kehilangan satu per satu pulaunya karena diklaim oleh bangsa lain tanpa bisa berbuat banyak.

Satu hal yang perlu dicatat adalah bahwa dasar sejarah saja tidak bisa dijadikan pegangan dalam menelusuri kepemilikan sebuah wilayah. Lepasnya Sipadan dan Ligitan adalah salah satu bukti nyata untuk hal ini. Diperlukan adanya bukti hukum yang menunjukkan bahwa Indonesia telah melakukan upaya sistematis untuk memelihara secara administrai daerah yang dipersoalkan. Hal ini, salah satunya, dilakukan dengan menarik pajak bagi penduduk setempat, dan mengeluarkan peraturan-peraturan lokal yang berkaitan dengan wilayah sengketa. Didirikannya resor-resor wisata oleh Malaysia di Sipadan dan Ligitan adalah salah satu kekuatan yang akhirnya mengantarkan Malaysia pada suatu kemenangan, disamping isu pengelolaan lingkungan.

Penutup
Apapun cara yang ditempuh, kedua belah pihak wajib saling menghormati dengan menempuh cara-cara damai dalam menyelesaikan konflik. Pemahaman yang baik dari segi ilmiah, teknis dan hukum yang baik oleh kedua pihak diharapkan akan mengurangi langkah-langkah provokatif yang tidak perlu. Pemahan seperti ini tentu saja tidak cukup bagi pemerintah saja, melainkan juga masyarakat luas untuk bisa memahami dan mendukung terwujudkannya penyelesaian yang adil dan terhormat.

Footnotes
1Peneliti di Pusat Penelitian Batas Wilayah UGM-Bakosurtanal, sedang menyelesaikan studi di UNSW, Sydney, Australia

Garis Hidup Menurut Gede Prama

[antara percaya dan tidak]

Entah tulisan lama atau baru, belakangan ini muncul di beberapa milis tulisan Gede Prama tentang sesuatu yang, seperti biasa, menarik: Garis hidup berdasarkan angka. Yang lebih menarik lagi sebenarnya adalah cara Gede Prama memaparkan gagasan yang sedikit mistis ini tanpa merujuk pada salah satu sumberpun. Berbeda dengan tulisan lain, Gede Prama kali ini tidak menyebut satupun tulisan atau gagasan yang menjadi sumber tulisannya. Naluri saya mengatakan, gagasan seperti ini tidaklah secara murni diciptakan Gede Prama mengingat beliau bukanlah seorang astrolog atau dukun atau ahli Feng Sui. Saya hampir yakin, tulisan ini adalah sebuah tulisan yang ‘diturunkan’ dari sebuah pandangan lain yang kebetulan juga disetujui oleh Gede Prama.

Di luar semua itu, saya secara pribadi merasa tulisan ini mengandung kebenaran yang sangat tinggi. Berikut saya kutipkan penggalan tulisan Gede Prama yang kebetulan sangan mirip dengan seorang kawan yang memiliki Garis Hidup 6.


Garis Hidup 6
Sangat berbeda dengan nomer 5, karakter garis hidup 6 yang paling
menonjol adalah rasa tanggung jawab yang besar. Anda idealis, dan bahagia jika
berguna bagi orang lain. Sumbangan terbesar yang Anda berikan dalam
kehidupan ini adalah memberikan advis, pelayanan dan dukungan.

Garis hidup ini temanya adalah kepemimpinan karena kemampuannya dalam
memberi teladan dan kesediaan untuk bertanggung jawab. Hal ini
menjadikan Anda selalu bersedia menanggung beban kelompok dan siap untuk menolong.

Anda seringkali terdorong untuk bertindak dengan kekuatan dan belas
kasihan. Anda simpatik, dan senang berbagi dengan orang lain, baik membantu
dalam hal mental maupun materi. Kebijaksanaan, keseimbangan, dan pengertian
adalah beberapa karakter Anda. Kemampuan Anda memahami masalah orang lain, dan
ini sudah menjadi karakter Anda sejak kecil, sehingga tidak ada masalah
dalam berhubungan dengan orang tua maupun muda. Anda bersedia untuk
mengeluarkan tenaga lebih dari yang diminta, dan selalu bisa diandalkan oleh
keluarga.

Realistis memandang hidup, bagi Anda yang terpenting dalam hidup adalah
rumah, keluarga dan teman-teman. Tentu ada sisi negatif pada tiap orang,
bagi garis hidup 6 ini, Anda harus menghindari kecenderungan terlalu
banyak menerima tanggung jawab dan diperbudak oleh orang lain. Selain itu,
hindari terlalu banyak mengkritik diri sendiri maupun kepada orang lain). Jika
karakter buruknya terpupuk, maka ada kecenderungan untuk berlebih-lebihan,
dan merasa paling benar sendiri, walaupun tidak selalu berkembang
seperti ini. Juga harus dihindari, memaksakan pendapat sendiri dan mengurusi
masalah orang lain.

Karena selalu merasa harus bertanggung jawab, maka beban yang dibawanya
akan terasa sangat berat, walaupun begitu, jika sekali-sekali Anda terpaksa
tidak merasa bertanggung jawab, Anda akan sangat merasa bersalah dan akan
memberi dampak yang merusak bagi hubungan dengan orang lain.