When Your Name Is a “Simple Past Tense”

[a mumble]

William Shakespeare, a great poet, said, “What’s in a name?” to illustrate that there is nothing to worry about a name. Name is just a name. In contrary, Bung Karno, The Indonesian first president, loved to play with the meaning inside a name. To him, a name is (almost) everything. Since he paid so much attention to the meaning of a name, Bung Karno even has changed some people’s name (especially woman) because he thought that the previous name might not be philosophically worthy or even might cause something terrible to the owner. Rima Melati is one of the Indonesian artists whose name was changed by Bung Karno. Although it was not so clear, whether he really wanted to bring something lucky to the name’s owner or perhaps it was only a strategy of a professional playboy to attract woman’s attention, with no doubt Bung Karno had his own opinion about a name.

Seemingly, I, personally, have a similar opinion with Bung Karno. A name, apparently, has a quite significant meaning I should pay attention. At least, it was what I think, especially when I was away from home, living in a strange country with a completely different language.

One day, an Australian Taxation Office (ATO) officer called me in accordance with my Tax File Number (TFN) application. She just wanted to confirm that my name is really “I Made Andi Arsana”. She was confused, firstly because she could not define my first name and last name (as there are too many words in it). Secondly she got confused because there is only one letter in the first name, “I”. Further more, she nearly could not believe when realizing that my name is a “simple past tense”, which means, “I created Andi Arsana” (if so, apparently, it is only my father or mother who MAY call my full name). A quite long conversation was then taken place because I had to explain that the first word, “I” indicates that I am a man, “Made” means I am the second child in a family and “Andi Arsana” is actually my name. Even though she said she understood, I could feel that she thought it was so funny to her.

Another funny experience was what I call a ‘name tragedy’. It was when I registered to Energy Australia for electricity connection via the internet. An officer also called me ‘just’ to confirm that I was a consumer candidate who really exists. She said, (after a long conversation and we got more casual) “It doesn’t sound like a real name when I realized that your name is I Made Andi Arsana. I am afraid that you are somebody who’s just filled the electronic form on the internet without any serious purpose” 🙂 Yes, it was another trouble for having a non-standard name, I think.

If we look to several name of music groupz, for instance, it is actually not new for westerner using a complete sentence as a name. “Michael Learns to Rock”, which is actually a simple present tense, is one of them. It might be a bit strange or at least funny if Indonesian music groups name their group as “Paijo Belajar Ngerock” (Paijo learns to rock –if you are Indonesian, you might find it is funny–).

In addition, the language used in a name also contributes significant impression. When a Balinese boys band named its group as “Superman Is Dead”, which is actually also a simple present tense, nobody thinks it is funny. In contrary, it is considered funky and even great. Perhaps because English is used in the name 🙂

Therefore, if the name could cause a trouble and even danger, I should re-consider my plan to name our future son “I Made Yuin Sydney” 🙂

Sydney, March 6, 2004

Kejujuran

[pelajaran dari seorang bapak]

Kalau ditanya apa arti kejujuran, masing-masing orang mungkin akan memberi jawaban yang berbeda-beda. Kira-kira ada yang mengartikan ‘selalu datang tepat waktu saat kerja dan tidak pernah nitip kartu presensi untuk digesekkan oleh teman lain’. Ada juga barangkali yang mengartikan kejujuran sebagai perbuatan yang tidak pernah menggelapkan penggunaan uang organisasi, walaupun jelas-jelas tidak ada yang tau. Dan pasti ada juga yang menganggap kejujuran sebagai keterusterangan seseorang kepada pasangan hidupnya. Jika saya sendiri ditanya tentang kejujuran, saya punya pendapat sendiri.

Bapak saya adalah seorang laki-laki desa yang bahkan tidak tamat Sekolah Dasar. Tapi saya bangga dengan beliau, jelas bukan karena kepintarannya, tapi akan kemampuannya untuk berpikir ke depan dan mengadaptasi tantangan jaman. Dengan paham ke-desa-annya dan ke-tidaksekolah-annya, toh beliau akhirnya memiliki dua orang anak yang sudah sarjana. Ini tentu karena pemahamamannya yang baik terhadap arti pendidikan. Ya, tentu saja disamping karena beliau dikaruniai rejeki yang cukup untuk menyekolahkan kami, anak-anaknya. Yang jelas, semua keberhasilan ini tidak lepas dari dukungan Bapak dan Ibu yang walaupun sederhana, tapi tulus.

Suatu ketika, saat saya baru saja dua sebulah bekerja di sebuah perusahaan swasta nasional di Jakarta, beliau, bapak, saya minta untuk datang ke Jakarta dari Bali. Tentu saja beliau merasa senang sekali. Walaupun jaman dulu, konon beliau sudah pernah ke Jakarta, tapi itu tahun 1972, dan itupun sebagi kuli bangunan, ketka TMII sedang dibangun. Saya ingat sekali, waktu saya kecil, bapak sering membanggakan pengalamannya ini kepada kami, keluarganya. Setiap kali bapak menceriakan ini, saya hanya terbengong. Tidak pernah waktu itu terbayang akan bekerja di kota metropolitan ini, apalagi bisa mendatangkan bapak ke Jakarta dengan ticket yang saya beli sendiri.

Selama di Jakarta, bapak saya ajak jalan-jalan dengan mobil seorang teman, yang saya pinjam plus sopirnya. Maklum saja, saya baru saja di Jakarta, sehingga untuk nyetir sendiri masih belum berani. Saya mengajaknya melintasi Tol di sepanjang Bekasi Jakarta, melewati kawasn Sudirman yang megah dengan perkantorannya, kawasan Thamrin dan bahkan tempat kediaman presiden. Bapak saya adalah seorang yang ekspresif, beliau dengan gampang mengungkapkan kekagumannya. Dan seperti layakya orang desa, kekaguman itu ditujukan kepada lebarnya jalan tol, tingginya gedung-gedung pencakar langit, lampu penerangan jalan, monumen nasinal dan semua wujud fisik yang memang tidak bisa disaksikan di Bali, daerah tempat tinggal kami.

Tidak henti-hentinya bapak berdecak kagum sambil sesekali terlotar kata-kata dari mulutnya “ini baru sorga!” dalam Bahasa Bali yang kental. Sorga?! saya kadang geli mendengarnya dan konyol saya rasa. Terlintas juga ada perasaan tidak enak pada teman saya, karena bapak saya begitu udik gayanya. Tiba-tiba saya menikmati keheranan bapak yang vulgar itu. Inilah arti kejujuran, saya kira. Bagi saya bapak begitu jujur mengungkapkan penilaiannya. Kalau senang, dia katakan, kalau mengagumkan dia akui. Saya akhirnya berpikir, seandainya semua orang bisa jujur seperti itu. Mungkin tidak perlu ada ‘kesalahan prosedur’ seperti yang saat ini sedang pupuler. Tidak akan terjadi salah sasaran dalam pemberian bantuan, misalnya, jika saja masyarakat jujur mengatakan apakah dia mampu atau tidak secara ekonomi. Dan bukankan pendidikan juga sering salah sasaran karena ketidakjujuran masyarakat dalam mengakui apa yang mereka tau dan apa yang mereka tidak tau. Saya tiba-tiba saja merasa iri dan malu, batapa seringnya saya berpura-pura dan tidak jujur hanya karena takut dibilang bodoh. Sebenarnya saya dan mungkin juga Anda (ini hanya mungkin, bisa jadi saya salah) sering berpura-pura tahu dan ‘sok biasa’ (misalnya naik lift, makan di restoran mewah dengan piring dan sendok, garpu serta pisau yang sebenarnya kita tidak mengerti pemakaiannya, teknologi komputer baru, alat pencetakan dan lain-lain) walaupun kita sama sekali belum pernah melakuannya. Mengapa? Ya karena saya tidak jujur. Karena saya terlanjur takut dengan anggapan orang.

Bapak saya tetap banyak berdecak kagum, tetap banyak bertanya dan tetap banyak berkomentar. Kejujuranya inipun disampaikannya di desa melalui rembug informal di warung, di piinggir jalan dan bahkan di Pura. Kejujuran ini mungkin tidak sepenuhnya baik, tapi kadang-kadang kita perlu menunjukkan keheranan, kekaguman, antusiasme, bahkan ketidakbisaan kita.

Pekerjaan Baik

Entah disebut keberuntungan atau kebetulan, sebelum menamatkan kuliah, saya telah diterima di sebuah perusahan consumer good yang boleh dibilang top di Indonesia, Unilever. Kalau saya bilang, Unilever ini termasuk salah satu perusahaan ‘gila’ dalam meberlakuan proses training terhadap karyawannya. Untuk calon TSS (Territory Sales Supervisor), Unilever mengharuskan untuk training dengan cara langsung terjun ke lapangan, jualan sabun, pasta gigi bahkan margarin dan mie. Sebuah pekerjaan yang memang tidak pernah saya impikan sebelumnya.

Continue reading “Pekerjaan Baik”

Sydney: Sebuah Laporan Pandangan Mata

[bagian 1 dari banyak tulisan]

Pengantar

Sydney merupakan salah satu capital city di Australia, ibukota dari New South Wales. Sydney adalah kota terbesar di Australia, berada di belahan tenggara Benua Australia. Sebagai kota besar, Sydney menjadi tujuan banyak orang untuk berbagai kepentingan; bisnis, wisata dan pendidikan. Tidak mengherankan jika Sydney kemudian menjadi sebuah kota dengan budaya yang sangat beragam. Hampir semua orang dari lima benua ada di Sydney. Yang menarik adalah, Sydney menjadi tempat yang diminati orang Asia. Kebanyakan dari mereka adalah pelajar dan pekerja sektor riil.

Tulisan singkat ini mencoba menggambarkan suasana kota Sydney secara umum dengan kehidupan orang-orang Asia yang akan menjadi titik berat diskusi. Tulisan ini murni mengambarkan pengalaman pribadi dengan analisa dan sudut pandang pribadi pula tentu saja dengan dasar pemahaman penulis sebagai orang Indonesia. Tulisan ini diharapkan dapat memberi sedikit informasi dan akhirnya inspirasi bagi siapa saja yang berminat mengetahui Sydney lebih jauh.

Kota dengan Pelayanan

Sejak pertama kali menginjakkan kaki di Sydney Airport, kesan pelayanan yang serius dan total mulai terasa. Sebagai orang Indonesia, pegalaman saya meunjukkan bahwa pelayanan yang baik adalah sesuatu yang mahal dan sulit diperoleh. Para petugas bandara nampak serius dengan tugasnya tanpa menjadi sok penting. Nampak jelas dari wajah mereka, ini adalah pekerjaan mereka dan berarti ini adalah hidupnya. Mungkin karena dengan bekerja seperti ini mereka memang bisa hidup :). Sangat berbeda dengan suasana pelayaan public di Indonesia secara umum. Seorang Ketua RT atau pegawa tata usaha di kampus seringkali mudah menjadi sok penting dan berlagak seakan-akan dunia akan berhenti berputar tanpa peran mereka. Setidaknya inilah yang sering saya rasakan ketika berhadapan dengan pelayanan publik di negeri kita. Kalau bisa dipersulit mengapa harus dimudakan? Seakan itulah yang masih menjadi prinsip sebagian besar orang yang terlibat dalam pelayanan di Indonesia. Hal inilah yang kemudian memancing timbulkan kolusi dan pungutan liar.

Tulisan ini bukan sama sekali tulisan politis yang sarat dengan protes, tapi demikianlah adanya. Barangkali terlalu banyak orang yang tidak bisa hidup layak dengan ‘hanya’ memeri pelayanan prima penuh senyum. Mungkin masih perlu tampang sok penting setidaknya untuk mendapatkan bayaran lebih berupa penghormatan. But anway, kembali ke Sydney, inilah yang barangkali membedakan pekerja di Sydney dengan di Indonesia secara umum.

Surga Bagi Pencinta Makanan Asia

Mendapatkan berbagai makanan Indonesia dan makanan Asia lainnya adalah hal yang sangat mudah di Sydney. Di sepanjang jalan Anzac Parade (jalan di mana UNSW berada), misalnya, sangat mudah menemukan resoran dengan plang ‘nasi goreng’, ‘empek-empek pelembang’, ‘ayam goreng’, ‘indonesian food’ dan sejenisnya (saya belum menemukan ‘gudeg jogja’ sampai hari ini). Tidak hanya itu, banyak toko juga menyediakan bahan makanan khas Asia, mulai dari sambal Thailand hingga terasi :). Menemukan bahan makanan bahkan dengan merek Indonesia adalah hal yang sangat mudah karena bahan tersebut memang didatangkan langsung dari Indonesia atau Negara Asia lain yang memproduksinya.

Ketika suatu saat Anda berkunjung ke mini market IGA atau White Lotus di Kingsford, Anda mungkin terkejut karena pertanyaan bahasa Inggris Anda akan dijawab dengan Bahasa Indonesia yang fasih. Bukan, mereka bukan bule yang belajar Bahasa Indonesia tapi memang orang Indonesia (Chinese Indonesia, tepatnya) yang telah menjadi penduduk tetap (permanent resident) bahkan warga negara Australia. Singkat kata, semuanya terasa di rumah. Tapi hati-hati, ‘kenyamanan’ semacam ini akan membuat Anda terperangkap pada lingkungan ‘Berbahasa Indonesia’ yang tentunya tidak baik terutama bagi yang memang mau serius memperdalam Bahasa Inggris.

Bus Kota Yang Nyaman dengan Travel Ten

Jika Anda ingin bepergian, naik bus adalah pilihan paling baik. Bukan hanya karena lancar dan anti macet tapi juga karena relatively tepat waktu. Di setiap halte terdapat jadual kedatangan bus yang cukup akurat dengan ketelitian 10 menit. Misalnya dalam jadual (terdapat di setiap halte), bus akan tiba pukul 4:27 pm, Anda harus siap untuk naik bus pukul 10:37 atau kadang-kadang 3:17, tergantung keadaan lalu lintas pada hari tersebut. Selain itu, menemukan parkir yang sesuai keinginan Anda di Sydney sangatlah sulit sehingga tidak nyaman untuk mengendarai mobil sendiri. Denda untuk salah parkir atau melebihi waktu parkir sangat besar, bisa mencapai di atas AUD 100 (jangan mencoba mengkoversi ke rupiah karena akan ‘terasa’ lebih mahal lagi).

Untuk sewa bus, kebanyakan orang menggunakan travel ten yaitu kartu magnetic (seperti kartu telepon magnetic di Indoesia) yang berkapasitas 10 kali perjalanan dengan harga kira-kira sama dengan 7 kali perjalanan. Harga untuk kartu travel ten ini berbeda-beda tergantung zone perjalanan yang bisa dilintasi dan jenis penggunanya. Seorang pekerja professional dewasa akan membeli kartu travel ten coklat (untuk perjalanan hingga 5 section -kira-kira sama dengan 5 kali bus stop-) dengan harga hampir AUD 20, sementara seorang mahasiswa hanya membayar AUD 9,8. Sangat nyaman menjadi mahasiswa di Australia :). Harga yang juga murah berlaku untuk pensiunan. Travel ten ini digunakan setiap kali naik bus, seperti kartu absent yang ‘digesek’ di mesin perekam di dalam bus. Berbeda dengan di Indonesia, tidak ada kondektur di setiap bus. Sopir melakukan semuanya mulai dari menerima pembayaran hingga membantu seorang penumpang cacat untuk naik dan turun dari bus.

Kota dengan Aksesibilitas yang Mengagumkan

Nampaknya pemerintah Australia memberi perhatian yang sangat baik bagi masyarakat penyandang cacat. Hal ini nampak dari rancangan semua fasilitas umum yang dilengkapi dengan aksesibilitas yang sangat baik. Kampus UNSW, misalnya, menyediakan fasilitas untuk pemakai kursi roda untuk bisa mengakses hampir semua sudut kampus dan memanfaatkan semua fasilitas yang memang seharusya mereka dapatkan sebagai mahasiswa.

Di setiap bus atau kereta, beberapa tempat duduk telah dirancang untuk pemakai kursi roda dan selalu ada pengumunan menyatakan prioritas untuk pelayanan mereka. Di kereta atau bus misalnya, sopir akan dengan senang hati (setidaknya kelihatan begitu dari senyumnya) membantu para penderita cacat (biasanya pemakai kursi roda) naik dan turun dari bus.

Telepon Lokal Sepuasnya, 20 Cent

Setiap rumah/flat dilengkapi dengan port koneksi telepon. Ketika Anda menyewa seuah flat unit atau rumah, cukup menelpon provider telepon yang Anda sukai (di Australia ada beberapa provider dengan kelebihan masing-masing) dan keesokan harinya telepon Anda suda berdering. Begitu mudah. Untuk koneksi semacam ini Anda membayar AUD 59 dan mendapat handset untuk disewa seharga AUD 3 per bulan. Sewa handset akan dimasukkan dalam tagihan bulanan Anda.

Biaya telepon lokal di Sydney, untuk provider Telestra, adalah 20 cent sepuasnya. Tidak ada bedanya Anda menelpon setengah menit dengan setengah bulan non stop :). Bisa dibayangkan, untuk koneksi internet Anda nyaris tidak perlu berpikir tentang pulsa telepon.

Telepon Ke Indonesia Rp 550 Per Menit

Menelpon ke tanah air bukan sesuatu yang luar biasa dari Sydney. Anda bisa mendapatkan kartu telepon untuk international call seperti voucher yang dilengkapi dengan sandi tertentu. Jika Anda membeli kartu telepon ini, Anda perlu mengosok bagian belekangnya untuk mendapatkan kode/sandinya. Selanjutnya Anda harus menelpon operator lokal dari teleopon rumah (20 cent) ataupun telepon umum (40 cent) dan memasukkan kode yang terdapat di kartu dan kemudian mendial nomer Indonesia yang ingin dihubungi. Kartu merek “sunshine” dengan harga AUD 10, misalnya, bisa Anda gunakan untuk menelpon Jakarta selama dua jam. Jika kurs AUD 1 adalah Rp 6500, berarti Anda mengabiskan hanya Rp 550 per menit untuk menelpon orang-orang yang Anda cintai di Jakarta. Ini bahkan mungkin lebih murah dari menelpon lokal di Jakarta dari wartel :).

Kalau Bisa Mulung, Kenapa Harus Beli?

Sangat umum bagi masyarakat Sydney membuang barang rumah tangga yang masih sangat layak pakai, jika mereka sudah tidak menyukainya. Alasan membuang barang ini bisa jadi karena mereka sudah tidak menyukai modelnya, akan pindah rumah dan dirasa lebih mahal memindakan dibandingkan membeli baru atau space rumah yang sudah tidak nyaman untuk jumlah barang mereka. Jika mereka membuang sebuah barang (kulkas, radio, sofa, microwave, dll), mereka cukup meletakkan di pinnggir jalan di depan rumah. Jika tiba jadualnya, petugas kebersian akan mengangkut dan membawanya ke tempat pembuangan. Sebelum petugas kebersian tiba, inilah saat yang tepat bagi pemulung intelek terutama mahasiswa untuk melakukan aksinya. Barang-barang tersebut bisa diambil kapan saja dan ini legal. (hanya kadang sedikit malu, mendorong troli berisi sofa atau bahkan kasur dan kursi yang jelas-jelas hasil pulungan). Tentang kualitas dan kondisi barang, sering kali kita tidak perlu khawatir karena si pembuang sudah baik hati menempeli label ‘This fridge is still working properly’ atau ‘Don’t take! It’s out of order’. Betapa baik hati mereka. Jadi, kalau bisa mulung, kenapa harus beli?

[bersambung]

Tentang Menjadi Istimewa

[sebuah renungan di satu malam]

Dalam hidup, kita kerap mengalami kejadian yang tidak terduga. Mulai dari tertinggal kendaraan umum sampai ditinggalkan selamanya oleh orang-orang yang dicintai, semua itu sering tidak diduga, apalagi diharapkan. Berbagai kejadian silih berganti, berbagai peristiwa susul menyusul. Banyak yang menyenangkan dan tidak sedikit yang menyakitkan. Namun semuanya memiliki seni tersendiri. Misteri yang melekat pada setiap kejadian senantiasa membuat hidup ini lebih berarti, lebih menggairahkan dan lebih menantang untuk dijalani. Bukankah rasa penasaran, salah satu hal yang membuat manusia serius berjuang, mencoba dan berusaha?

Dalam keseharian seseorang akan menjalani hidupnya dengan gaya dan seni masing-masing. Konon inilah yang membedakan satu orang dengan orang lain. Secara formal, profesi boleh sama dan jabatan boleh imbang tapi seni menjalani hidup adalah kekhasan tersendiri yang seringkali melampau ketentuan-ketentuan formal yang diyakini sebagian besar orang. Tidak jarang kita melihat seorang pelayan kantor (office boy) yang bergaya hebat bagaikan penguasa kantor dan membayangkan dirinya seorang jagoan berpangkat tinggi. Singkatnya, gayanya lebih bos dibandingkan bosnya sendiri. Di sisi lain pernah juga mungkin kita menyaksikan seorang presiden direktur yang sangat bersahaja, bergaya rendah dan menjadikan dirinya sebagai seorang manusia bijak yang dekat dengan kehidupan orang-orang yang secara sruktural berada jauh di bawahnya. Orang seperti ini menjadi favorit di banyak tempat. Kita menyebutnya ‘low profile’.

Melihat dua contoh ini, ada satu benang merah yang menjadikannya seakan sama. Yang patut dicatat adalah keduanya berlaku ‘tidak wajar’ setidaknya jika ditinjau dari pola pikir masyarakat di sekitarnya. Jika saja si office boy adalah seorang yang randah hati, sopan dan hormat kepada orang-orang di kantor (yang apalagi secara strukturral legih tinggi), tentu tidak akan banyak cerita. Dan jika saja sang presiden direktur tidak berlaku bersahaja namun bersikap wajar layaknya pejabat tinggi lainnya, mungkin juga tidak istimewa. Jadi, ‘ketidakwajaran’ itulah yang membuat mereka istimewa. Ketidakwajaran juga akhirnya yang menjadikan kisah mereka sebagai ilham banyak orang, termasuk tulisan ini.

Mereka berdua memiliki seni dalam menjalani hidup. Pintar dalam kerumunan ilmuwan, bebadan tegap dalam lingkungan binaragawan atau tampan di kalangan model/peragawan bisa jadi adalah hal yang sangat biasa dibandingkan menjadi orang yang murah senyum di lingkungan orang-orang yang sudah lupa tersenyum karena kesibukan sehari-hari. Atau menjadi orang yang dengan runut bisa menceritakan kehidupan empirik di desa di antara mereka yang melihat sawahpun belum pernah. Menjadi sesuatu yang berbeda adalah cikal bakal menjadi istimewa. Dan istimewa adalah modal yang baik untuk bebagai peluang.

Tinggal kita mau memilih menjadi apa atau memerankan bagian apa dalam hidup ini. Apakah menjadi seorang lakon yang diidolakan penonton tapi gampang sekali mengecewakan jika sedikit saja berbuat salah. Atau menjadi seorang punakawan bebas nilai yang ketika berbuat baik akan dipuji dan berbuat kurang baik pun mengundang tawa. Itulah seni hidup… seni dalam balutan misteri yang semoga akan tetap menghadirkan rasa penasaran.

Sydney, Maret 04

Tempat Tinggal Kita

[selayang pandang]

Kita akan tinggal di suburb (sub urban) Kensington tepatnya di 2/10 Houston Road, Kensington, 2033, NSW, Australia. Tempat tinggal ini berupa flat dengan 2 kamar tidur. Alamat 2/10 artinya bangunan/rumah nomor 10 dan kita tinggal di unit nomor 2 dari sekian banyak unit yang ada di bangunan tersebut. Sebuah bangunan flat biasanya terdiri dari lebih satu lantai dan pada masing-masing lantai terdapat beberapa unit. Satu unit adalah sebuah ruang yang biasanya terdiri dari 1 atau 2 kamar tidur, 1 ruang keluarga, 1 kamar mandi dan dan ruang untuk dapur. Bangunan yang kita tempati terdiri dari 2 lantai, tampak seperti gambar berikut ini:



Gambar 1 Flat tampak depan

Umumnya flat di daerah ini terbuat dari bata merah yang keras, tidak diplester. Bata-bata tersebut disusun sedemikian rupa dengan semen yang digarap dengan rapi. Jalur-jalur semen menjorok ke dalam sehingga bata keliatan timbul, membuat kesan seni tersendiri.

Untuk masuk ke unit, bisa melalui samping kiri ataupun kanan gedung. Kita berada di lantai bawah unit nomor 2. Berikut adalah sketsa flat lantai bawah:



Dari gambar di atas bisa dilihat bahwa pada lantai bawah terdapat empat unit (area yang diarsir adalah unit kita). Pada tiap unit terdapat satu ruang dapur (a) yang menyatu dengan ruang keluarga (b), satu kamar mandi (c) dan dua kamar tidur (d. kamar kita, e. kamar Hasan). berikut ini adalah gambar masing-masing ruang.



Kensington adalah sebuah suburb yang tidak terlalu ramai. Jarak flat sekitar 5 menit jalan kaki dari UNSW. Suasana di sekitar flat kita bisa dilihat pada gambar berikut:



Kebutuan sehari-hari bisa diperoleh di banyak toko Asia yang terdapat sekitar 5-10 menit jalan kaki dari flat kita. Toko-toko tersebut berada di pinggir jalan utama Anzac Parade. Berbelanja di sini sangat nyaman. Disamping karena barang-barangnya akrab dengan selera orang Indonesia, penjualnya pun semua lancar berbahasa Indonesia. Dari terasi hingga indomie, dari blueband hingga sarden, semuanya ada dengan harga yang tidak begitu mahal. Indomie goreng, misalnya, di Toko White Lotus dijual dengan harga A$ 35C (kira2 2000 perak). Suasana pertokoan di sekitar Anzac Parade dapat dilihat pada gambar berikut:



Demikian sekilas tentang tempat tinggal kita di Sydney. Sampai jumpa lagi dalam episode singkat lainnya; Kampus kita, Sydney Opera House kita, dan lain-lain.[@]

Writing

Writing, most of the time, is menacing. Sometime I thought that I would not write until the topic is amusing to anybody reading it. This is the biggest barrier I found blocking my precociousness.

Every beginning is difficult. Yes, it is true! Nevertheless, at the same time, I realize that I will never come to the end (neither to the middle) without starting anything. That is why, today I initiate! I have to ignore any worries about generating something unsatisfactory. I start to write down my worries themselves until I can understand what they really are. This is actually a new start but someday it’s gonna be everything! Maybe 🙂