Seks bebas

Made Suama, sebut saja begitu yang tentunya bukan nama sebenarnya, adalah satu dari sedikit kawan kecilku yang gaul pada jamannya. Suama adalah satu-satunya siswa SMP di kelas yang mengendari motor ke sekolah. Selain itu, dia selalu memiliki cerita yang seru untuk teman-temannya. “Di luar negeri, remaja itu menganut seks bebas lo”, katanya suatu hari memulai ceritanya. Kontan saja semua teman mengerubunginya, termasuk aku yang masih malu-malu kucing. “Kondom dibagikan gratis untuk remaja sehingga mereka bisa menggunakannya kapan saja”, Suama menambahkan. Ceritanya berlangsung lama dan sangat seru dengan beberapa hal detail yang hanya bisa kami banyangkan. Singkat cerita, Suama berhasil membuat kami membayangkan betapa beringasnya perilaku remaja luar negeri. Mereka tentu akan melakukan hubungan seks kapan saja, di mana saja dan dengan siapa saja yang mereka inginkan. Kami hanya bisa menduga-duga bagaimana rasanya menjalani kehidupan seperti itu.

Continue reading “Seks bebas”

Advertisements

Murah senyum

Ketika bersekolah SD di desa pertengahan ’80an dulu, sangat mudah mendapatkan informasi dari guru bahwa Indonesia adalah bangsa yang sopan santun, ramah dan penuh toleransi. Terlebih sebagai orang desa, Ibu Guru waktu itu dengan sukses meyakinkan bahwa orang desa lebih baik karena mengenal tetangga dengan baik, sesuatu yang tidak bisa didapatkan di kota besar. Anggapan seperti ini cukup lama saya pegang dan percayai. Indonesia mungkin memang adalah bangsa yang santun dan baik hati, penuh toleransi.

Continue reading “Murah senyum”

Kembali ke Selatan

Jalan desa yang mulai tak halus membuat kijang tua melaju tak cepat. Layaknya mengendarai kuda, tubuh lelahku berguncang kecil mengikuti cekungan dan gundukan jalan yang gelap. Desa sudah sepi ketika perjalanan dimulai. Hari ini aku akan meninggalkan kampung halaman untuk waktu yang lama. Asti dan Lita termangu tanpa suara, entah kesedihan entah rasa penasaran yang menguasai, mereka tak banyak bersuara sepanjang perjalanan. Asti bahkan tertidur karena kelelahan yang menguasai beberapa hari ini. Lita sendiri dipangku niniknya dan perlahan namun pasti jatuh tertidur juga. Aku yang mengendalikan mobil menghiasi jalan panjang dengan cerita. Bapak yang setia mendengarkan, sekali waktu menimpali. Percakapan terakhir barangkali di tahun 2008, kami sangat menikmatinya.

Continue reading “Kembali ke Selatan”

Ngaben

Entah siapa yang mengabarkan pertama kali, rumah duka sesak oleh kerabat yang berdatangan entah dari mana. Begitulah selalu di kampungku yang sepi dan bahkan di peta Bakosurtanal tak nampak jelas posisinya, orang berkumpul dengan mudah karena alasan duka, maupun suka. Mangku Kompyang telah berpulang dan segenap kerabat berdesakan melepas kepergian terakhirnya. Mangku yang sedikit di atas paruh baya dan masih diperlukan kepiawaiannya di kampung, pergi menyisakan tanya. Apa gerangan yang menjadi penyebabnya?

Continue reading “Ngaben”

Pamit

Di dunia maya, sesungguhnya tidak ada istilah pamit hanya gara-gara seseorang harus berpindah lokasi geografis. Dunia maya tidak mengenal atau tepatnya tidak dibatasi oleh lokasi geografis, karenanya setiap orang bisa tetap ‘hadir’, tanpa memandang di manapun dia berada di muka bumi. Meski demikian, rasanya tidak lengkap kalau saya tidak mengucapkan kata-kata ini. Mungkin bukan untuk para sahabat di dunia maya, tetapi untuk para sahabat di dunia nyata yang masih dipengaruhi posisi geografis. Kepada mereka yang selain menjumpai saya di dunia maya tetapi juga melihat kelebat saya di Jogja, misalnya, saya harus mohon pamit karena dalam beberapa hari lagi akan bertolak ke belahan bumi lainnya.

Continue reading “Pamit”

Menjadi Bintang: Melihat dan Melakukan yang baik

“Mungkin Ayah tidak akan mendapatkan banyak hal dari buku ini. Walaupun sedikit, mungkin ada yang bisa menambah atau sekedar mengingatkan.” Begitu Asti berucap saan memberikan sebuah buku hadiah ulang tahun saya beberapa hari lalu.

Jujur saja, saya lebih sering kecewa saat membaca buku tentang pengembangan diri daripada tercerahkan. Asti mungkin tahu ini. Kali ini, karena hadiah ulang tahun dari orang yang dicintai, saya membacanya dengan sungguh-sungguh. Semangat menghargai membuat saya membaca dengan cepat, hanya dalam waktu sehari. Kebetulan hanya 212 halaman dan itupun hurufnya besar-besar. Singkat kata, buku saya lahap dengan cepat.

Continue reading “Menjadi Bintang: Melihat dan Melakukan yang baik”

Sebuah Obituari

I Made Andi Arsana, seorang dosen muda di Universitas Gadjah Mada, meninggal dunia tepat di usianya yang ke-30. Andi, begitu anak dari tiga bersaudara ini biasa dipanggil, meninggal dengan tenang dalam tidurnya. Tidak ada indikasi apapun sebelum kepergiannya. Andi sehat dan tidak pernah mengeluh soal apapun perihal kondisi fisik dan psikologisnya. Seakan tidak ingin meresahkan siapapun, Andi menghembuskan nafas terakhirnya ketika semua orang-orang yang dicintainya dibuai oleh tenangnya malam Jogja yang dingin.

Continue reading “Sebuah Obituari”