Kebaikan sederhana

Saya adalah pencinta film, terutama yang patriotik. Saya mungkin sudah menonton film “a few good men” belasan kali dan menghafalkan dengan sempurna pidato Presiden Amerika di “Independence day” atau pembelaan memikat Endrew Shepherd di “The American President” Dari film saya belajar banyak hal, tidak saja hal besar, juga hal kecil. Khusus untuk “a few good men”, film ini, entah mengapa, selalu mengingatkan saya akan kebaikan-kebaikan yang sederhana yang dilakukan oleh sedikit orang di muka bumi.

Continue reading “Kebaikan sederhana”

Advertisements

Desak Made Sukri: Rest In Peace

Desak Made Sukri, meninggal di usianya yang sekitar 80 tahun. Memang tidak seorangpun mengetahui usianya yang sesungguhnya. Nenek tua ini memang lahir di suatu masa saat orang-orang di sekitarnya tidak mengerti dan merasa perlu tentang makna penanggalan masehi. Begitulan jaman itu, saat ‘tegak oton’ menjadi cukup untuk mengenal kelahiran seorang manusia.

Setelah mengalami penurunan kondisi fisik dan psikis agak lama, Desak Made Sukri menghembuskan nafas terakhirnya pada hari Kamis tanggal 19 Juni 2008 pukul 5.42 WITA di rumah kediamannya yang tenang di Desa Tegaljadi, Tabanan, Bali. Tidak banyak yang dipesankannya saat kepergiannya karena beliau memang sudah tidak mampu berbicara sejak beberapa lama. Kepergiannya yang tenang di pagi yang sepi rupanya sudah diantisipasi oleh semua kerabat, terutama anak, menantu, cucu dan cicitnya. Tidak ada yang terlalu terkejut, pun tidak merasa perlu menangis. Bukan karena kepergian sang tua diharapkan kerabatnya, semata-mata karena semuanya bersepakat bahwa dharma bhaktinya telah paripurna.

Continue reading “Desak Made Sukri: Rest In Peace”

Berandalan itu buang sampah pada tempatnya

Pagi yang dingin, kami bertiga baru saja turun dari kereta yang membawa kami dari Wollongong ke Sydney. Suasana Sydney tentu saja lebih semarak dibandingkan Wollongong yang dingin. Sydney memang lebih happening kata temenku. Orang lalu lalang, kendaraan berisik, gedung tinggi, burung dara beterbangan, semuanya menambah suasana menjadi lebih hidup. Railway Square masih seperti dulu ketika kami tinggalkan dua tahun lalu.

Ini perjalanan keluarga pertama berlibur ke Sydney, Ode berjanji akan menjemput di Quay Street. Aku Asti dan Lita bergegas menuju Basement Book di lorong bawah tanah sambil menunggu saatnya ketemu Ode. Basement Book berada di bawah bus stop di Railway Square dan menjual berbagai buku. Ada yang bekas dan sangat murah, yang baru juga banyak. Sambil lalu aku menggamit sebuah novel merah, hanya $1. Meskipun belum yakin akan isisnya, nampaknya $1 terlalu sayang untuk dilewatkan.

Continue reading “Berandalan itu buang sampah pada tempatnya”

Sebatang sere = 18 ribu rupiah

Kekhawatiran akan kesulitan mendapatkan makanan Indonesia selama di Australia memang tidak ada. Kalau tinggal di Mebourne, Brisbane, Adelaide, Sydney atau Wollongong, semuanya beres. Di setiap kota tersebut, toko makanan Asia mudah sekali dijumpai. Satu-satunya isu yang sering menjadi masalah adalah harga.

Aku yang gemar sekali makan sambel matah berbahan sere, kerap menjumpai masalah ini. Sere, yang dalam bahasa inggris disebut lemon grass, memang mahal sekali di sini. Oh ya, in case ada yang tidak tahu, sere terdiri dari dua suku kata. Suku kata pertama adalah se diucapkan seperti pada kata serentak, sedangkan suku kata kedua yaitu re diucapkan seperti pada kata mereka sehingga pengucapannya menjadi seré. Ini merupakan sejenis rumput yang dalam bahasa latin disebut Cymbopogon citratus. Bagian ini jujur saja diinspirasi oleh Laskar Pelanginya Andrea Hirata yang selalu menuliskan nama latin tumbuhan yang dibicarakannya.

Continue reading “Sebatang sere = 18 ribu rupiah”

Di Australia makan nasi juga?

Masih terngiang percakapan terakhir di desa sebelum keberangkatan ke Australia. Malam setelah meninggalnya Mangku Kompyang, kerabat banjar berkumpul melek seperti layaknya tradisi yang bejalan entah sudah berapa lamanya. Orang selalu berkerumun di manapun aku berada, mereka ingin mendengar cerita luar negeri. Wayan Koncong, salah seorang sahabat lama, bertanya ”di Australi ada beras nggak?” Belum lagi sempat aku menjawab, Mangku Ngurah yang memang terkenal vocal memotongnya ”Nasi? yang bener aja. Australi kan gak makan nasi. Orang makan roti di sana. Namanya juga luar negeri. Itupun bahannya gandum.” Aku sendiri tersenyum saja mendengar perdebatan keduanya. Keduanya antusias, keduanya tidak pernah ke luar negeri dan keduanya hanya sempat mengenyam pendidikan hingga SMP. Menurut buku geografi kita jaman dulu yang diterbitkan oleh PT Intan Pariwara atu Ganesha Ecaxt Bandung, orang Australia memang makan gandum. Memang buku SD atau SMP kita gemar sekali menjeneralisasi 🙂

Continue reading “Di Australia makan nasi juga?”

Seks bebas

Made Suama, sebut saja begitu yang tentunya bukan nama sebenarnya, adalah satu dari sedikit kawan kecilku yang gaul pada jamannya. Suama adalah satu-satunya siswa SMP di kelas yang mengendari motor ke sekolah. Selain itu, dia selalu memiliki cerita yang seru untuk teman-temannya. “Di luar negeri, remaja itu menganut seks bebas lo”, katanya suatu hari memulai ceritanya. Kontan saja semua teman mengerubunginya, termasuk aku yang masih malu-malu kucing. “Kondom dibagikan gratis untuk remaja sehingga mereka bisa menggunakannya kapan saja”, Suama menambahkan. Ceritanya berlangsung lama dan sangat seru dengan beberapa hal detail yang hanya bisa kami banyangkan. Singkat cerita, Suama berhasil membuat kami membayangkan betapa beringasnya perilaku remaja luar negeri. Mereka tentu akan melakukan hubungan seks kapan saja, di mana saja dan dengan siapa saja yang mereka inginkan. Kami hanya bisa menduga-duga bagaimana rasanya menjalani kehidupan seperti itu.

Continue reading “Seks bebas”

Murah senyum

Ketika bersekolah SD di desa pertengahan ’80an dulu, sangat mudah mendapatkan informasi dari guru bahwa Indonesia adalah bangsa yang sopan santun, ramah dan penuh toleransi. Terlebih sebagai orang desa, Ibu Guru waktu itu dengan sukses meyakinkan bahwa orang desa lebih baik karena mengenal tetangga dengan baik, sesuatu yang tidak bisa didapatkan di kota besar. Anggapan seperti ini cukup lama saya pegang dan percayai. Indonesia mungkin memang adalah bangsa yang santun dan baik hati, penuh toleransi.

Continue reading “Murah senyum”