Video porno anggota DPR

Dari statistik harian, saya paham bahwa pembaca blog saya umumnya berkunjung ke sini karena alasan mulia yaitu mencari informasi seputar beasiswa luar negeri, terutama beasiswa ADS, atau tentang pengalaman sekolah di luar negeri. Sebagian lain berkunjung ke sini karena ingin membaca perihal disiplin geospasial. Singkatnya, bagaimana memanfaatkan peta untuk berbagai tujuan. Sebagian kecil lainnya tertarik pada cerita kontemplatif terkait pengalaman hidup saya dan keluarga. Mengetahui hal ini, posting saya biasanya bertema sekitar itu, hal-hal yang memang diminati pembaca blog ini.

Pagi ini saya dikejutkan sebuah berita tentang video porno yang pemerannya mirip anggota DPR bernama Karolin. Rupanya ini sudah agak lama beredar dan saya baru tahu. Mungkin karena memang tidak tertarik pada hal yang demikian (betul, ini murni pencitraan). Lebih mengejutkan lagi, saya mendapat kiriman seorang yang tidak dikenal yang ternyata adalah link video dimaksud. Meskipun saya tahu para pembaca tidak akan menyukai video semacam ini, tidak ada salahnya saya bagi link tersebut di sini.

Kalaupun Anda memutuskan untuk menontonnya itu pastilah karena alasan ilmiah dan ideal, misalnya untuk mengetahui keaslian video, atau untuk dijadikan pelajaran bahwa ketika nanti menjadi pejabat tidak akan melakukan hal yang sama, atau dalam rangka menyiapkan sebuah opini di koran terkait moral Anggtoa DPR yang sedemikian mengenaskan. Apapun itu, semoga ada manfaatnya. Yang pasti, penyebaran link ini tidak pernah dimaksudkan untuk menghina seseorang apalagi mengecewakan. Jika kemudian ada yang tersinggung, terhina atau kecewa, besar kemungkinan itu terjadi karena kesalahan sendiri dan telah salah mengambil langkah.

Silakan nikmati video ini untuk alasan ideal seperti yang saya sebutkan sebelumnya. Klik: Karolin-DPR-RI

Advertisements

Cinta Segitiga

Orang Bali punya pepatah, “bukit johin katon rawit” yang mirip dengan ungkapan Jawa “sawang sinawang”. Ungkapan ini kira-kira bermakna bahwa yang terlihat dari jauh kadang selalu mulus, indah dan halus. Kenyataannya belum tentu demikian. Hal ini sedang saya alami bersama keluarga.

Beberapa saat lalu kami bergembira karena Asti berhasil memenangkan beasiswa ADS yang bergengsi itu, saat ini kami dihadapkan pada situasi yang tidak satu keluargapun mengidam-idamkannya. Malam ini Asti terbang ke Bali untuk mengikuti pelatihan, saya masih berjuang di Wollongong dan Lita ditemani mbahnya sekolah di Jogja. Saat menulis ini saya melihat Asti dan Lita berkemas di Jogja lewat Skype Video Chat. Dalam kelakar saya menyebutnya sebagai “cinta segitiga: Bali, Jogja, Wollongong”. Bagi yang sudah berkeluarga dan punya anak, rasanya tidak perlu saya kisahkan dengan kata-kata betapa tidak mudahnya ini semua. Yang muda dan belum menikahpun saya kira bisa mereka-reka. Semua orang pernah jadi seorang anak, setidaknya.

Continue reading “Cinta Segitiga”

Di atas langit ada langit

 

Apapun yang saya lakukan, akan ada dua kemungkinan reaksi dari orang-orang di sekitar saya: suka atau tidak suka. Yang tidak peduli, tentu saja tidak jadi soal. Dalam menulis juga demikian, pasti ada yang tidak suka dan tentu ada juga yang suka. Bagaimana prosentase keduanya? Perlu penelitian yang serius soal ini dan sampai kini saya tidak memiliki data. Yang pasti, akan selalu ada yang suka pada apa yang saya buat dan sebaliknya ada yang tidak. Dalam hal karya, akan ada yang memerlukannya, ada juga yang sama sekali tidak memerlukannya.

Continue reading “Di atas langit ada langit”

25 tahun berpisah, bertemu lagi dengan bantuan Google Earth

Kemarin saya membaca sebuah cerita mengharukan. Seorang pemuda yang sudah berpisah dengan orangtuanya selama 25 tahun akhirnya berhasil menemukan ibunya setelah berusaha menjelajahi tempat kelahirannya dengan Google Earth. Terjadilan pertemuan yang mengharukan setelah perpisahan seperempat abad itu. Saya membuat sebuah video rekonstruksi, bagaimana orang ini berhasil menggunakan Google Earth untuk menemukan Ibunya. Silakan baca kisah selengkapnya di bawah.

Continue reading “25 tahun berpisah, bertemu lagi dengan bantuan Google Earth”

Berbekal mimpi, keliling dunia walau tuna netra

Masih segar dalam ingatan saya saat berkenalan dengan Mas Taufiq Effendi beberapa waktu lalu. Mas Taufiq adalah penyandang tuna netra yang akhirnya bisa menunjungi berbagai negara untuk menimba ilmu dengan beasiswa. Mas Taufiq adalah bukti hidup sebuah ucapan “jangan pernah menyerah” atau “impossible is nothing” atau “the harder I work the more luck I seem to have”. Silakan baca kisahnya yang inspiratif di Motivasi Beasiswa. Saya sudah lama tidak menangis membaca sebuah tulisan, kini saya mengalaminya lagi setelah membaca kisah Mas Taufiq.

Prediksi Pertanyaan Wawancara ADS/AAS

taken from http://australiaawardsindo.or.id/

Untuk contoh jawaban pertanyaan di bawah, silakan klik tulisan ini.

Daftar pertanyaan yang saya buat ini adalah hasil ingatan masa lalu dan prediksi berdasarkan pemahaman saya secara umum terhadap maksud dan tujuan adanya beasiswa ADS ini. Ini sama sekali bukan bocoran tetapi saya yakin seorang kandidat ADS harus bisa menjawab pertayaan-pertanyaan berikut dengan baik 🙂 Semoga pertanyaan-pertanyaan ini membuat Anda tambah semangat dan rajin menyiapkan diri.

Continue reading “Prediksi Pertanyaan Wawancara ADS/AAS”

Pilihan sulit: Ketika harus menolak beasiswa

Saya tahu dari agak lama kalau hidup adalah pilihan. Begitu setidaknya dari buku-buku yang dibaca termasuk dari cerita orang-orang di sekitar. Ada juga satu kawan lain yang berfilsafat sambil berkelakar, “hidup adalah pilihan ganda”, katanya. Nampaknya saya setuju ini. Hidup memang rupanya adalah pilihan ganda. Walaupun boleh memilih, seringkali pilihannya terbatas. Yang membedakan orang yang satu dengan lainnya adalah jumlah pilihannya. Berbahagialah orang yang memiliki kesempatan memilih dari lebih banyak kemungkinan. Dengan begini semestinya seseorang bisa memilih yang lebih baik.
Saya baru saja dihadapkan pada dua pilihan yang selintas nampak menyenangkan. Saya mendapat dua beasiswa sekaligus untuk studi PhD dari negara yang sama. Satu adalah ALA dan satu lagi Endeavour. Saya sudah bercerita tentang ALA ini tapi mungkin belum banyak cerita tentang Endeavour. Silahkan Anda simak di websitenya jika ingin tahu lebih banyak.
Mengapa saya katakan ini adalah pilihan sulit? Pastinya karena keduanya sangat menggoda dan sepertinya saya tidak ingin melepaskan salah satu. Kalau saja saya boleh serakah, keduanya akan saya ambil. Namun, sekali lagi, hidup adalah tumpukan pilihan dan itupun pilihan ganda. Saya harus memilih.

Tidak mudah memilih satu dari dua yang baik. Yang satu sangat prestisius walaupun tidak terlalu mewah secara duniawi, yang satu mewah namun pamornya sedikit di bawah. Tidak sedikit kawan saya yang menyarankan, “pilih saja yang bikin kaya”, katanya. Apa benar beasiswa bisa membuat kaya? Saya sendiri tidak tahu mungkin bisa tanyakan kepada orang yang baru pulang dari sekolah di luar negeri lalu bisa beli mobil, beli tanah, beli rumah terus menikah. Saya tidak tahu rahasianya.

Kembali kepada pilihan, saya belum memutuskan. Namun begitu, sudah ada tanda-tanda bahwa saya tidak berjodoh dengan pilihan yang membuat kaya. Sudah terlalu sering saya membuktikan bahwa pilihan bersahaja membuat hidup saya lebih berwarna dan jadi lebih banyak tersenyum. Saya masih ingat dengan jelas ketika meninggalkan Unilever menuju Astra dengan gaji yang turun hingga hampir 800 ribu. Ini pilihan aneh, kata teman saya. Tapi tidak terlalu aneh menurut saya. Senada dengan itu, saya juga masih ingat ketika memutuskan jadi dosen dengan gaji sepersekian dari Astra, Bapak saya menangis terisak dan tak bisa berkata apa-apa menyaksikan pilihan ‘bodoh’ anak kesayangannya.

Begitulah hidup, penuh pilihan yang adalah pilihan ganda. Kadang kita harus juga mengandalkan naluri untuk mendapatkan yang terbaik, tanpa meremehkan peran logika. Selamat memilih, dan terutama selamat membangun pilihan.

PS. Akhirnya saya memutuskan untuk memilih ALA. Berikut surat ‘penolakan’ saya untuk Endeavour