Pilihan sulit: Ketika harus menolak beasiswa

Saya tahu dari agak lama kalau hidup adalah pilihan. Begitu setidaknya dari buku-buku yang dibaca termasuk dari cerita orang-orang di sekitar. Ada juga satu kawan lain yang berfilsafat sambil berkelakar, “hidup adalah pilihan ganda”, katanya. Nampaknya saya setuju ini. Hidup memang rupanya adalah pilihan ganda. Walaupun boleh memilih, seringkali pilihannya terbatas. Yang membedakan orang yang satu dengan lainnya adalah jumlah pilihannya. Berbahagialah orang yang memiliki kesempatan memilih dari lebih banyak kemungkinan. Dengan begini semestinya seseorang bisa memilih yang lebih baik.
Saya baru saja dihadapkan pada dua pilihan yang selintas nampak menyenangkan. Saya mendapat dua beasiswa sekaligus untuk studi PhD dari negara yang sama. Satu adalah ALA dan satu lagi Endeavour. Saya sudah bercerita tentang ALA ini tapi mungkin belum banyak cerita tentang Endeavour. Silahkan Anda simak di websitenya jika ingin tahu lebih banyak.
Mengapa saya katakan ini adalah pilihan sulit? Pastinya karena keduanya sangat menggoda dan sepertinya saya tidak ingin melepaskan salah satu. Kalau saja saya boleh serakah, keduanya akan saya ambil. Namun, sekali lagi, hidup adalah tumpukan pilihan dan itupun pilihan ganda. Saya harus memilih.

Tidak mudah memilih satu dari dua yang baik. Yang satu sangat prestisius walaupun tidak terlalu mewah secara duniawi, yang satu mewah namun pamornya sedikit di bawah. Tidak sedikit kawan saya yang menyarankan, “pilih saja yang bikin kaya”, katanya. Apa benar beasiswa bisa membuat kaya? Saya sendiri tidak tahu mungkin bisa tanyakan kepada orang yang baru pulang dari sekolah di luar negeri lalu bisa beli mobil, beli tanah, beli rumah terus menikah. Saya tidak tahu rahasianya.

Kembali kepada pilihan, saya belum memutuskan. Namun begitu, sudah ada tanda-tanda bahwa saya tidak berjodoh dengan pilihan yang membuat kaya. Sudah terlalu sering saya membuktikan bahwa pilihan bersahaja membuat hidup saya lebih berwarna dan jadi lebih banyak tersenyum. Saya masih ingat dengan jelas ketika meninggalkan Unilever menuju Astra dengan gaji yang turun hingga hampir 800 ribu. Ini pilihan aneh, kata teman saya. Tapi tidak terlalu aneh menurut saya. Senada dengan itu, saya juga masih ingat ketika memutuskan jadi dosen dengan gaji sepersekian dari Astra, Bapak saya menangis terisak dan tak bisa berkata apa-apa menyaksikan pilihan ‘bodoh’ anak kesayangannya.

Begitulah hidup, penuh pilihan yang adalah pilihan ganda. Kadang kita harus juga mengandalkan naluri untuk mendapatkan yang terbaik, tanpa meremehkan peran logika. Selamat memilih, dan terutama selamat membangun pilihan.

PS. Akhirnya saya memutuskan untuk memilih ALA. Berikut surat ‘penolakan’ saya untuk Endeavour