Wimar


Wimar tidak khawatir terlihat tidak tahu. Bahkan bodoh. Dia seperti tidak begitu peduli bagaimana pemirsa melihat dirinya. Dia fokus pada satu hal: bertanya untuk menjadi tahu dan membebaskan dirinya dari rasa penasaran. Itulah kesan paling mendalam tentang seorang Wimar Witoelar jika saya berimajinasi tentang talk show dan wawancara.

Di Era 1990-an, ketika talkshow di media televisi bukan sesuatu yang jamak, Wimar hadir dengan sebuah acara yang berbeda dan segar: Perspektif. Cara bertanyanya yang berbeda. Dia mewakili orang awam untuk benar-benar bertanya, bukan menghakimi. Wimar memerdekakan intelektualitas pendengarnya untuk menemukan kebenaran karena pertanyaannya benar-benar mewakili rasa penasaran pemirsa.

Sering kita jumpai, seorang pewawancara atau host acara talkshow berjuang keras untuk memamerkan intelektualitasnya sendiri. Sebagian dari mereka tidak bisa menahan diri untuk tidak berebut panggung dengan narasumber. Pewawancara pemula memang kadang demikian perangainya. Insekuritas membuat mereka berambisi menunjukkan taring yang masih lembek. Ini tidak terjadi pada seorang Wimar Witoelar. Dia percaya diri. Dia telah tuntas dengan urusannya sendiri.

Wimar adalah penyambung lidah orang-orang yang penasaran akan kebenaran dan kisah yang yang alami apa adanya. Dia bertanya dengan polos karena rasa ingin tahunya yang alami. Dia tidak terlihat bodoh karena tidak pernah takut terlihat bodoh. Dia bertanya dan membiarkan kebenaran itu menyingkap dirinya sendiri. Dia menjalankan prinsip utama sebuah tontonan: show, don’t tell!

Saya membaca buku Wimar yang berjudul “Menuju Partai Orang Biasa”. Di situ dia mengakumulasi tulisan-tulisan pendeknya yang bernas dan jujur. Kenakalannya dalam mengungkapkan satu gagasan yang dipadu dengan kelihaiannya dalam memilih diksi adalah kunci bagi sajian yang mengundang kontemplasi yang dalam. Mengganggu tetapi tidak rusuh, memantik gejolak tapi tidak meledak. Wimar adalah seorang penjaja cerita.

Ketika sebagian masyarakat berkata “Gus Dur perlu seorang juru bicara sekelas Wimar Witoelar”, Gus Dur menjawab “saya tidak perlu orang sekelas Wimar Witoelar. Saya perlu Wimar Witoelar”. Di tangan Wimar, profesi dan posisi juru bicara presiden menemukan tempatnya di tengah masyarakat luas. Di buku “No Regrets”, Wimar mengisahkan lika-liku tak mudah saat menjadi juru bicara seorang presiden senyentrik Gus Dur. “Tidak ada penyesalan”, demikian dia menyimpulkan, setiap kali ditanya perkara menjadi juru bicara seorang Gus Dur.

Orangnya sederhana tapi intelektualitasnya mumpuni. Pernah menjadi dosen di institut teknik terbaik di negeri ini, ITB, Wimar mengakhiri karir akademiknya di jalan sunyi. Perjalanan kerjanya dicukupkan oleh pemerintah karena dianggap menjadi pengganggu. Wimar adalah aktivis yang memelopori banyak pergerakan. Di panggung lapangan dia berorasi, di kertas dia menorehkan tulisan dengan lihai, di media elektronik Wimar berceloteh dengan trengginas. Semua media adalah saluran kegelisahannya. Demikian seterusnya, menembus sekat-sekat waktu dan generasi.

Di tahun 1998, ketika seorang Wimar sudah berusia lebih dari 50 tahun, perbawa intelektualitasnya masih menggerakkan. Roh aktivisme tak memudar di usia yang tak lagi muda. Ketika rejim Soeharto menemui titik akhir perjalanannya di masa itu, Wimar tak bisa diabaikan perannya. Baik di depan dengan memanfaatkan corong media, maupun di belakang dengan membangun fondasi intelektual sebuah gerakan pembaharuan. Generasi saya tumbuh Bersama Selayang Pandang, sebuah talkshow gaya baru yang lahir di tengah himpitan kekuasaan yang mengendalikan pemikiran dan gagasan.

Wimar telah pergi. Jasadnya akan lapuk dan sirna bersama alam yang tak kenal kompromi. Namun tidak jiwa dan pemikirannya. Ketajaman pemikirannya abadi di lembaran-lembaran kertas dalam bukunya. Kelihaiannya mengolah kata akan hidup bersama jiwa-jiwa yang tersadar untuk terus belajar dan selalu berpikir karenanya. Selamat jalan Bang Wimar. Terima kasih telah menjadi satu alasan untuk tidak menyesali pilihan jalan sunyi lorong intelektual yang kadang mencekam. Seperti katamu, “No Regrets!”

Yogyakarta, Hari Kebangkitan Nasional 2021

Author: Andi Arsana

I am a lecturer and a full-time student of the universe

Bagaimana menurut Anda? What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s