Kadaster Tiga Dimensi dari Berbagai Dimensi


Tanggal 26 November saya menjadi moderator acara INA-Cadastre Digital Expo 2020. Sesi pertama berupa webinar dengan sekumpulan pembicara keren. Di sesi yang saya mederatori, ada Pak Menteri ATR/BPN, Dr. Sofyan Djalil, Prof. Hasanuddin Z. Abidin, Prof. Alias A. Rahman dari UTM Malaysia dan Pak Loedi Ratrianto, seorang praktisi kadaster di Indonesia. Sebuah panel dengan paket komplit. Ada akademisi, ada pembuat kebijakan, ada juga swastanya. Saya merasa beruntung mendapat kesempatan itu.

Adalah PT. Amerta Geospasial Indonesia (AMGEOID) yang menggagas acara itu. Mereka punya tujuan mulia untuk membuat isu kadaster di Indonesia menjadi membumi dan akrab dalam imajinasi masyarakat. Bekerja sama dengan Supermap, Geotronix dan beberapa perusahaan lainnya, acara ini berlangsung dengan kumpulan pembicara yang sangat keren. Di sesi siang, ada nama-nama handal seperti Dr. Trias Aditya KM dari Geodesi UGM, Dr. Asep Yusup Saptari dari Geodesi ITB, Bli Tomy Suhari dari Geodesi ITN Malang, dan Tri Indah Utami dari Supermap.

Yang menarik, Pak Menteri hadir di webinar tepat waktu tetapi beliau masih di jalan. Pak Sofyan membuka acara dari mobil beliau saat dalam perjalanan ke kantor. Beliau megatakan, inilah hebatnya teknologi yang memungkinkan kita melakukan banyak hal dari mana saja. Pak Menteri masih mengenakan masker ketika membuka acara karena beliau ada di dalam mobil bersama sopir. Begitu tiba di kantor, beliau langsung duduk di meja yang sudah disiapkan layaknya studio dan melanjutkan sambutannya.

Selepas sambutan, saya mendapat tugas untuk memandu diskusi dan Pak Menteri adalah pembicara pertama. Karena ini acara internasional, saya memandu dalam Bahasa Inggris dan beliaupun menyajikan materi dalam Bahasa Inggris. Pak Menteri lulusan Amerika untuk S2 dan S3nya, Bahasa Inggris beliau tidak diragukan. Meskipun beliau dengan tegas mengatakan bukan ahli teknis kadaster, pemaparan beliau mampu memberi payung pemahaan sehingga peserta akan melihat sisi Kadaster 3D dari segi kebijakan.

Selepas Pak Menteri, ada Pak Loedi yang berbicara sebagai praktisi. Beliau adalah Ketua Masyarakat Ahli Survey Kadaster Indonesia (MASKI) yang telah malang melintang di dunia survey beberapa puluh tahun. Pak Loedi menyajikan berbagai hal teknis terkait kadaster. Beliau juga menyinggung soal Pendidikan yang harus senantiasa berbenah untuk menghasilkan surveyor kadaster yang handal.

Satu yang menarik, beliau menekankan pentingnya untuk menyeimbangkan dan melengkapi skil surveyor, tidak saja dengan aspek teknis, tapi juga dengan aspek legal, administratif dan bahkan politis. Kadaster adalah kombinasi banyak dimensi dan seorang surveyor harus memahami semua itu.

Prof Hasanuddin Z. Abidin berbicara pada kesempatan ketiga. Orang Geodesi di Indonesia umumnya mengenal beliau sebagai pakar GPS dan tentu saja sebagai mantan Kepala Badan Informasi Geospasial. Pak Hasan adalah pribadi yang lengkap. Mumpuni sebagai akademisi, mapan di birokrasi, dan disegani di dunia profesi. Orang yang mengenal beliau dengan baik juga akan merasakan beliau adalah soerang yang rendah hati.

Pertemuan pertama saya di tahun 2003 dengan beliau adalah sebuah bukti betapa beliau adalah senior yang peduli dan positif. Saya, yang waktu itu baru lulus S1 dan berniat sekolah, diberi dorongan positif. Pak Hasan mungkin tidak ingat kejadian itu tapi bagi saya, itu tidak terlupakan. Cara beliau menceritakan Chris Rizos, misalnya, membuat saya yakin bahwa beliau adalah orang yang terbuka pemikirannya dan positif dalam melihat berbagai hal. Berkesempatan menjadi moderator beliau kemarin adalah sebuah kehormatan.

Pak Hasan memaparkan dengan rinci soal kadaster. Tidak saja darat tapi juga laut. Mengikuti pemaparan beliau seperti kulaih satu semester lebih karena sistematika dan kerincian bahannya begitu baik. Pak Hasan adalah seorang guru sejati. Yang juga menarik adalah beliau tidak lupa untuk menyapa atau setidaknya menyebut nama orang-orang tertentu ketika menceritakan satu materi. Ketika bicara soal batas laut sebagai bagian dari kadaster laut, misalnya, beliau menyebut nama saya.

Yang juga menarik, beliau mengaitkan paparannya dengan Sustainable Development Goals (SDGs), sesuatu yang tidak begitu sering disentuh oleh seorang surveyor dalam pembicaraannya. SDGs adalah satu dimensi lain yang juga penting untuk dipahami agar seorang surveyor mendapat konteks yang jelas, bagaimana peran survey pemetaan untuk perihal yang lebih besar. Kata seorang teman yang menyimak pemaparan beliau “ndengerin Prof Hasan, kok kayak nggak percaya, emang kita sekolah di bidang yang hebat ternyata”.

Pembicara keempat di sesi saya adalah Prof. Alias Abdul Rahman dari UTM, Malaysia. Beliau adalah pakar yang konsisten menekuni Geoinformasi 3D. Saya membuka perkenalan beliau dengan menceritakan pengalaman saya bertemu beliau untuk pertama kali di Kuala Lumpur tahun 2006 silam. Itu adalah konferensi 3D Geoinfo yang pertama dan saya menjadi bagian darinya. Paper saya bahkan menjadi salah satu bagian dari buku Lecture Notes on Cartography yang merupakan hasil dari konferensi itu. Kenangan demikian bisa mendekatkan pembicara dan moderatornya.

Prof. Alias memaparkan begitu detil dan teknis tentang soal 3D geoinfo. Sebagai seorang pakar yang memang menekuni bidang itu, beliau fasih menyajikan hal-hal yang sangat teknis sifatnya. Beliau bicara soal prinsipnya, soal algoritma, soal pemanfaatan perangkat, hingga aplikasi. Beberapa contoh yang telah dikerjakan di Malaysia juga beliau paparkan. Ini melengkapi pemahaman peserta karena teorinya diikatkan dengan praktik, gagasan disandingkan dengan kenyataan penerapan.

Menjadi bagian dari Ina-Cadastre 3D Digital Expo 2020 adalah sebuah kebanggan. Saya kagum dengan kerja anak-anak muda di AMGEOID yang berhasil mendatangkan pembicara level dunia dan memiliki otoritas di bidang masing-masing. Hadirnya Pak Menteri adalah penegas keterlibatan dan dukungan pemerintah. Kehadiran Prof Hasan dan Prof Alias menjadi legitimiasi ilmiah acara itu. Tentu saja kehadiran Pak Loedi menjadi pelengkap yang sangat baik bahwa acara ini tidak hanya soal gagasan-gagasan tinggi di awan tapi juga tentang kenyataan yang terjadi di lapangan.

Implementasi Kadaster 3D mungkin memang masih jauh dari tuntas tetapi acara semacam ini menjadi penanda bahwa kita bergerak maju. Meski mungkin lambat, tapi jalurnya jelas dan arahnya tidak mudur. Kerja keras dari anak-anak muda di AMGEOID patut diapresiasi karena itu yang membuat kita jadi sadar, peduli dan semangat untuk tetap bergerak maju, menuntaskan urusan kadaster tiga dimensi dari berbagai dimensi.

Author: Andi Arsana

I am a lecturer and a full-time student of the universe

Bagaimana menurut Anda? What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s