Penjual Lew Kwan Yew


Saya tiba di lokasi yang diinformasikan lewat Whatsapp. Tidak begitu meyakinkan, saya foto bangunan yang saya lihat lalu kirim lewat Whatsapp. Saya tanya “ini kah?” dan dalam waktu tiga menit dijawab “Enggih”. Berarti memang saya menuju tempat yang benar tapi tetap saja saya tidak yakin. Sejujurnya, saya berharap akan melihat lokasi penjual tanaman dengan berupa-rupa tanaman hias. Ini beda. Sama sekali tidak terlihat seperti penjual tanaman hias.

Seorang lelaki tiba-tiba muncul di samping rumah bercat biru yang sedang saya amati. Saya duga, ini Mas Tri, penjual tanaman Lee Kwan Yew yang saya ajak berkomunikasi dari tadi. Lelaki itu nampak ragu melihat ke arah mobil saya. Saya turunkan kaca dan teriak “Mas Tri nggih?” Dia pun tersenyum mengangguk sambil berkata “nggih Pak. Leres!” Dialah yang saya cari.

Dengan sigap Mas Tri mengangkat pot tanaman yang ada di depan rumahnya dan menyilakan saya masuk dan parkir di depan rumahnya. Saya masih tidak melihat tanda-tanda bahwa ini memang tempat menjual tanaman hias. Saya hanya melihat sebatang Lew Kwan Yew yang ditata di dekat teras. Itupun tidak nampak seperti barang jualan.

“Monggo Pak” kata Mas Tri mengajak saya ke belakang lewat samping rumahnya. Dalam beberapa saat, saya telah melihat ratusan polybag hitam berisi tanaman Lee Kwan Yew. Rupanya Mas Tri punya halaman belakang. Itupun tidak luas. Cukup sempit malah dan rasanya saya tidak membayangkan kalau lokasi sempit ini bisa menghasilkan bibit tanaman Lee Kwan Yew yang dicari banyak orang. Saya sendiri mendapat kontak Mas Tri dari seorang sahabat yang telah lebih dahulu menjadi pelanggannya.

Mas Tri segera menunjukkan koleksinya. Untuk ukuran pedagang, koleksinya tidak banyak. Saya melihat sekitar seratus polybag yang sepertinya baru saja ditanami bibit. Di sebelahnya mungkin ada sekitar 100 lagi dengan tamanan yang mulai tumbuh kira-kira 10 cm. tak jauh dari sana, ada sekitar 50an polybag dengan tanaman Lew Kwan Yew yang sudah mencapai lebih dai 30cm panjangnya. “Ini pesanan Bapak” kata Mas Tri menunjuk 40 polybag berisi bibit yang sudah cukup panjang, hingga 50 cm.

“Tinggal sendirian Mas?” saya tanya karena melihat rumahnya sepi sekali. “Ya di sini sendiri Pak. Istri saya di rumah orang tua. Baru punya anak kembar Pak” katanya sumringah. “Saya nggak berani ngajak di sini Pak. Takut ada apa-apa. Mending dekat orang tua” katanya lagi. Mas Tri sudah punya tiga anak. Dia kerja di instansi pemerintah, entah sebagai apa, dan di rumah dia nyambi menjual bibit tanaman Lew Kwan Yew.

“Awalnya saya kerja di Erha salon Pak. Tiap jumat tukang taman memotong tanaman ini dan dibuang. Saya pikir, sayang juga kalau hanya dibuang. Akhinya saya minta batangnya lalu saya tanam di rumah. Ternyata tumbuh subur dan bagus. Lama-lama saya capek juga motonginnya. Suatu hari saya iseng aja melakukan pembibitan. Ternyata tumbuh. Iseng juga saya tawarkan di Facebook, lha kok malah banyak yang mau. Di situ awalnya Pak, sampai sekarang saya teruskan. Saya cuma nyambi di sela-sela istirahat setelah ngantor.

“Wah hebat Mas. Iseng malah bisa jadi sumber penghasilan tambahaan” kata saya menyemangati. “Alhamdulillah Pak. Saya pernah punya sampai 1000 polybag dan habis terjual Pak. Baru minggu lalu ada yang beli 200 polybag.” Mas Tri bercerita dengan semangat. “Jualannya lewat FB aja Mas?” “Lewat OLX juga Pak” katanya mantap. Diam-diam saya kagum juga. Penampilan orang memang kadang menipu. Kawan kita yang nampak sederhana ini ternyata canggih ber-olshop.

“Isteri saya bilang, katanya hanya punya 10 polybag, kita tiba-tiba ada 40 sekarang?” “Ya Pak, tadi ada yang pesan 50 tapi batal. Dia ambil Cuma 10.” “Kok bisa, kenapa Mas?” saya penasaran. “Pas orangnya datang, dia lihat ini Pak.” Kata Mas Tri menunjukkan tanaman Lew Kwan Yew yang sudah besar, ditanam di tanah lalu dibuatkan rangkaian bambu sehingga dia menjalar dan menjuntai. “Ini cara nanam Lew Kwan Yew yang beda, Pak. Kita tanam di tanah, jadi tidak di atas. Ini lebih bagus dan lebih irit bibit. Cuma memang harus sabar nunggunya. Begitu lihat ini, orangnya berubah pikiran.” Mas Tri tertawa tapi mungkin dia sebenarnya kecewa. Mungkin.

“Wah, harusnya nggak boleh gitu dong ya. Kalau sudah janji beli 50 ya jangan dibatalkan begitu saja dong” kata saya merespon. “Tapi artinya ini jodoh saya Mas” lanjut saja sambil ketawa menghibur. “Nggih Pak. Belum jodoh sama orang itu, sekarang jodohnya dengan Bapak” kata dia meringis tertawa.

Saat dia menyiapkan, saya sibuk mengagumi Lew Kwan Yew yang ditanam di tanah itu. Dia bilang, Bapak juga bisa lakukan ini Pak. Coba aja tanam di tanah nanti. Lebih irit” katanya. Dia menjelaskan dengan tulus secara detil dan seakan tidak takut kalau saya pun bisa berubah pikiran dan membatalkan pesanan saya yang cukup banyak. Dia santai saja nampaknya. Tentu saja saya tidak akan membatalkan. Saya hargai ketulusannya menjelaskan banyak hal secara lengkap.

“Ini sudah ada yang pesan Mas?” tanya saya sambil menunjuk beberapa polybag dengan Lee Kwan Yew yang sudah agak panjang. “Belum Pak. Kalau Bapak mau saya kasih sekalian” katanya. “Boleh lah, berapa ini semuanya?” “Ini bonus Pak. Nggak usah dibayar” katanya mengejutkan. “Lho rugi dong jenengan Mas?” “Nggak Pak. Saya sering kasih bonus ke konsumen saya” katanya sambil tertawa dan tetap bekerja. Saya terharu juga dibuatnya.

Saat pulang, dia kembali membantu saya keluar dari parkir halaman rumahnya dan memastikan saya melaju tanpa halangan meningalkan rumahnya. Saya hanya membayar 150 ribu untuk 50 lebih polybag Lee Kwan Yew yang panjangnya sudah di atas 30 cm. saya pikir ini harga yang sangat bersahabat untuk kerja selama sekitar 2-bulan bulan.

Saya tidak memberinya banyak uang. Saya memberinya banyak doa. Banyak sekali. Tentunya rasa terima kasih yang tidak bisa dihitung harganya. Matur nuwun Mas Tri.

Kontak Mas Tri: 089674357010

Author: Andi Arsana

I am a lecturer and a full-time student of the universe

Bagaimana menurut Anda? What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s