NYEPI, COVID-19 DAN AMATI LELUNGAN


“Kalau Nyepi ngapain?” Pertanyaan ini sering diajukan. Jawaban standar saya adalah melaksanakan catur bratha alias menjalani empat pantangan: tidak bekerja (amati karya), tidak bepergian (amati lelungan), tidak bersenang-senang (amati lelanguan) dan tidak menyalakan api atau mengumbar hawa nafsu (amati geni). Tidak pernah ada debat dengan siapapun soal Nyepi ini tapi saya yakin juga tidak banyak orang yang benar-benar memahami apa yang kami lakukan, atau lebih tepatnya apa yang kami TIDAK lakukan. Ya, namanya juga pantangan, yang kita bahas bukan yang dilakukan tapi yang TIDAK dilakukan.

Di tengah pelaksanaan Nyepi 2020, Covid-19 merebak, semua orang kaget. Banyak yang sudah terbukti mengidap dan tidak sedikit yang menemui ajalnya karena penyakit ini. Virus Corona yang masih misterius itu adalah penyebabnya. Apakah ini virus yang luar biasa ganas seperti film animasi pendek yang divisualisasi oleh makhluk menyeramkan di Bulan dan kemudian menghajar Tiongkok, Italia dan Korea Selatan (Indonesia tidak usah kita bahas di sini ya)? Apakah virus itu menyebabkan korbannya bersimbah darah dan mati dengan cara yang mengenaskan seperti di film-film Hollywood?

Virus Corona tidak semenyeramkan itu. Konon, daya rusak virus ini bahkan selevel dengan virus flu biasa. Saya bukan ahli kesehatan tetapi saya berusaha membaca dari sumber terpercaya. Yang patut diingat, Virus Corona ini jenis baru dan tubuh kita belum kenal dengan virus ini. Jika saja tubuh kita kenal, dengan mudah dia akan membentuk tameng/benteng sendiri dan virus ini akan dibasmi dengan mudah. Karena tidak dikenal, virus ini bisa masuk tubuh kita dan tubuh kita akan santai saja, tidak melakukan mekanisme pertahanan. Karena tubuh ‘lengah’ maka virus yang tidak berbahaya ini akhirnya bisa mematikan. ‘Pinternya’ virus ini, dia bahkan bisa dengan mudah pidah dari tubuh orang sakit ke tubuh dokter/perawat yang akan bertugas membasminya. Telah banyak tenaga kesehatan yang jadi korban.

Lalu apa yang harus kita lakukan? Sudah banyak yang memberitahu kita untuk “social distancing”atau “physical distancing” atau “geospatial distancing”. Ibu dan bapak saya di Desa Tegaljadi tidak akan paham maksud istilah ini jika tidak dijelaskan dengan cara sederhana. Saya sampaikan ke beliau, intinya diam di rumah, jangan ke mana-mana. “Wah, Nyepinya mendahului jadwal nih?” banyak orang Hindu di Bali yang mengatakan ini secara spontan. Salah satu tapa bratha Nyepi memang amati lelungan, tidak ke mana-mana. Ini cara yang mudah untuk menjelaskan ke Bapak Ibu saya. Ada unsur religius di situ dan mereka cukup mudah diajak melakukan atau tidak melakukan sesuatu dengan alasan model ini.

Mengapa amati lelungan atau distancing ini penting? Penularan Virus ini melalui droplet alias tetesan cairan yang keluar dari saluran mulut dan pernafasan. Masalah utamanya, kita tidak pernah tahu apakah kita sudah kena atau belum, jika belum dites. Masalah kedua, tidak semua yang kena itu ada gejalanya. Jadi bisa saja saya atau Anda sudah kena tapi tidak tahu. Jika kita bertemu orang lain dan bersentuhan secara fisik maka sangat mungkin orang itu juga kena. Tentu bisa juga terjadi sebaliknya, kita yang tertular oleh orang lain.

Yang juga penting untuk dipahami, dampak virus ini tidak sama bagi semua orang. Mereka yang masih muda, di bawah 40 tahun, akan relatif ‘kuat’ menahan dampaknya. Yang paling rawan adalah orang tua di atas 60 tahun. Jadi, bisa saja Anda yang masih muda ini sebenarnya sudah kena virus tapi tidak merasakan dan kemudian menularkan itu ke orang tua atau kakek-nenek gara-gara tidak disiplin untuk berdiam diri dan tidak bertemu orang di luar rumah. Kita mungkin kuat dan tidak terpengaruh tapi apa tega orang tua kita sakit gara-gara kita? Pasti tidak kan? Makanya, di rumah saja. Amati lelungan!

Jika kita amati lelungan, maka risiko penularan Covid-19 jadi jauh lebih rendah. Akibatnya jumlah orang yang sakit jadi bisa ditekan. Ingat, meskipun ini bukan tergolong penyakit yang amat parah, tapi kalau yang sakit sangat banyak dan jumlahnya jauh lebih tinggi dari daya tampung rumah sakit, tetap saja fatal akibatnya. Maka, kita harus menekan jumlah penderita Covid-19 ini agar tidak melebihi daya tampung dan kapasitas rumah sakit. Jika jumlah penderita Covid-19 ini berupa kurva, maka kita harus membuat kurva-nya jadi landai, tidak tinggi dan memuncak. Bagaimana caranya? Amati lelungan! Diam di rumah.

Kalau melihat lagi tradisi Hindu di Bali, wabah memang pernah terjadi. Bli Sugi Lanus, penekun adat dan sejarah Bali dari berbagai lontar pernah mengulas hal ini. Menurut beliau, wabah dikenal dengan istilah mrana. Istilah lain yang sering saya dengar adalah gering agung yang bermakna penyakit menular di musim tertentu. Selain itu ada juga istilah grubug yang berarti penyakit yang menyebabkan kematian mendadak dan serentak. Grubung sering dipakai pada hewan ternak yang mati tiba-tiba secara serentak. Hal ini juga rupanya bisa terjadi pada manusia. Istilah lain yang juga sering terdengar adalah sasab yang berarti wabah demam menular yang mematikan. Wabah ini menular secara cepat dan tidak terkendali. Viral.

Berbagai penyakit yang pernah ditemukan di Bali ini melahirkan berbagai ilmu pengobatan alias usadha. Salah satu metode pengobatan, menurut cerita rakyat adalah tapa bratha yang dilakukan orang dengan kedigdayaan tertentu. Dengan bertapa, khusuk berdoa, orang bisa sembuh dari sakit atau mendapatkan petunjuk tentang pengobatan yang menyembuhkannya. Inti dari tapa bratha adalah pengendalian diri dan pemusatan segala pikiran dan energi kepada Sang Pencipta. Apapun itu, yang pasti, keutamaan tapa brata adalah berdiam diri, duduk tenang dan berkonsentrasi.

Lepas dari nuansa magis dan spiritual yang begitu kuat dalam tradisi Hindu di Bali, secara sederhana saya memaknai tapa bratha sebagai kunci untuk menghindarkan diri dari mara bahaya. Hal ini pernah dibahas oleh Mpu Tal dalam tulisannya di tatkala.co. Disebutkan, salah satu lontar utama dalam ajaran spiritual Hindu di Bali, Widhi Sastra Roga Sangara Gumi, yang merupakan warisan Majapahit, mengajarkan tradisi waspada (yatna) dengan cara berdiam diri di rumah. Ini juga yang menjadi salah satu butir penting dalam catur brathapenyepian sebagai bagian dari usaha pengendalian diri: Amati lelungan. Di tengah Covid-19 yang menghebat, sebuah tradisi yang hampir dua milenium umurnya seakan mendapat justifikasi kembali. Tidak hanya orang Hindu di Bali yang melakukannya, seluruh dunia melaksanakannya saat Nyepi tahun 2020 ini. Tidak hanya sehari, kita harus melakukannya dalam waktu yang lama.

Dalam sepi, ketika kita hidup dalam keterbatasan dan memegang kendali atas kerja, gerak, kesenangan dan hawa nafsu, kita bisa berintrospeksi diri. Kita tidak saja berdoa tapi juga berusaha agar terhindar dari mrana, gering agung, grubug dan sasab yang kini melanda Bumi. Mungkin kita tidak bisa menawarkan obat mujarab, setidaknya kita dengan sadar tidak menjadi jembatan bagi menjalarnya wabah kepada sesama. Maka mari kita melanjutkan Nyepi dan lakukan setidaknya satu tapa bratha: amati lelungan!

I Made Andi Arsana
Pembina Keluarga Mahasiswa Hindu Dharma UGM

Author: Andi Arsana

I am a lecturer and a full-time student of the universe

Bagaimana menurut Anda? What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s