Surat untuk Para Pemimpin


IMG_2587
Foto Lama

Pak Jokowi, ucapan bela sungkawa saja pastilah tidak cukup untuk meringankan duka lara yang Bapak tanggung hari-hari ini. Saya belum pernah kehilangan orang tua untuk selamanya tetapi saya mendengar, sakitnya tak bisa diceritakan. Saya duga Bapak juga mengalaminya. Meski sedih, saya yakin Bapak ikhlas dan rela. Doa dan ketulusan Bapak pasti telah mengantar Ibunda pada tempat terbaik. Jika duka itu masih Bapak rasakan, mohon izin kami ikut mereasakannya jika itu bisa meringankan beban Bapak, walau secuil.

Dalam hitungan jam atau menit, Bapak sudah harus duduk tenang dan berbicara penuh wibawa di hadapan pemimpin bangsa yang tergabung dalam barisan G-20. Meski sedih belum terhapus, Bapak harus menunjukkan ketangguhan Indonesia sebagai bangsa yang disegani. Bapak duduk di deretan pemimpin bangsa itu bukan karena mendaftar. Semata-mata karena Indonesia kita menduduki peringkat tinggi dalam hal ukuran ekonomi. Maka isak dan tangis yang pribadi sifatnya harus Bapak sembunyikan sekuat tenaga. Matur nuwun Pak Jokowi.

Dunia dan bangsa kita tengah dirundung malang. Para pemimpin daerah bekerja keras siang dan malam. Kadang di tengah puja dan puji, sering kali dihujani caci can maki. Di Jakarta ada Mas Anies yang bekerja dengan segala daya upaya. Terima kasih telah tetap bekerja di tengah wabah dan badai kritik yang tak berhenti. Saya setuju dan mendukung apa yang mas Anies selalu sampaikan, pemimpin semestinya tidak berkutat mengurusi apa kata media hari ini tetapi harusnya khawatir dengan apa yang akan ditulis sejarah tentang kepemimpinannya. Di tengah pasang gelombang dan huru hara bencana, terima kasih telah selalu bekerja dan berlapang dada. Di tengah Covid-19 yang kontroversial, terima kasih sudah berada di depan dan berteriak bahwa kita dalam bahaya. Hidup memang penuh pujian dan cacian tapi saya yakin Mas Anies tak akan terbang saat dipuji, tak juga tumbang lantaran dicaci.

Jika Jakarta dan kota lain tengah menyabung nyawa, Bogor tak lah jauh beda. Kang Bima Arya berikhtiar dan berlari untuk Kota Bogor sejak lama. Terima kasih telah menjaga energi untuk tetap berlari meski kini segalanya menjadi tidak mudah. Covid-19 telah bersarang di tubuhmu Kang. Virus mungkin mengganggu ragamu tapi aku berdoa untuk jiwamu yang tetap kuat. Wargi Bogor mungkin tak melihatmu berlari di taman-taman kota atau mengatur angkot yang menguji kesabaran tapi mereka merasakan kehadiran semangatmu. Beristirahatlah sejenak dan kelak, tak lama lagi, kami ingin melihatmu berlari lagi.

Indonesia kita sedang siaga dan waspada. Presiden bukan satu-satunya harapan. Di berbagai pelosok Indonesia, lahir pemimpin-pemimpin sejati, justeru di saat nasib dunia yang tak pasti. Mas Ganjar mengawal Jawa Tengah dengan sumringah. Terima kasih telah menebar semangat dan kelakar di tengah masyarakat yang kadang kehilangan akar. Darimu kami belajar bahwa pemimpin tak harus selalu terbelenggu jubah formalitas. Padamu kami belajar tentang pemimpin yang penuh kelakar namun tetap mengakar. Padamu kami belajar tentang komunikasi penjinak emosi yang berujung pada solusi.

Sampurasun, Kang Emil. Syukurlah, Jawa Barat bunya Bapak milenial. Terima kasih telah ‘mengangkat derajat’ dan menjadikan tiktok dan media sosial punya wibawa di ruang-ruang birokrasi. Terima kasih telah membuat para millennial dan post-milinial merasa diajak, didengar dan tidak hanya jadi penonton yang gagal paham. Terima kasih telah membawa perihal serius pemerintahan ke ranah yang mudah dan asyik disimak. Selamat berjuang Kang Emil, melayani urang Jabar yang jumlahnya dua kali penduduk Australia. Tersenyumlah, jumlah pemilihmu saja jauh melebihi jumlah umat manusia di Singapura. Maka wajar jika kerjamu tak mudah, Kang.

Bu Risma, terima kasih telah menjadi ibu bagi arek Suroboyo dan kami semua. Terima kasih sudah marah-marah tanpa tedeng aling-aling karena dari teriakanmu kami rasakan ketulusan dan niat baik. Di tanganmu, Surabaya telah berdandan cantik luar dalam dan menjadikannya kota yang jauh lebih berwibawa. Kami perlu seorang ibu sepertimu yang belum akan tidur jika ruang tamu, ruang tengah dan dapur masih berantakan. Terima kasih telah bersedia bangun lebih pagi dan tidur lebih malam setiap hari untuk kami semua. Terima kasih telah memastikan kembang Tabebuya gugur di jalanan dan menjadikan Surabaya bersanding yakin dengan kota-kota hebat di dunia.

Kami, rakyat Indonesia punya pemimpin yang beragam, seperti kami yang juga beragam. Kami pernah menyaksikan pemimpin ‘pemarah’ seperti Ahok/BTP yang merawat Jakarta. Apa kabarmu kini Pak BTP setelah memuncaki komisaris Pertamina? Media tak lagi riuh rendah oleh ulah dan gebrakanmu tetapi kami yakin engkau bekerja di dalam sana. Pastilah tak mudah karena luka yang kaurawat mungkin menganga terlalu lebar. Atau penyakit yang sedang kaulacak memang liar ibarat Corona. Pelajaran hidup yang tak mudah di balik jeruji pastilah telah membuatmu kian bijak dan melangkah di jalan yang semakin baik. Yang pasti, doa kami mendampingimu, Pak.

Di saat bangsa sedang malang, di saat banyak hal terasa salah dan berantakan, hal paling mudah adalah menyalahkan. Bapak dan Ibu, para pemimpin kami, telah bekerja meski tak sempurna. Bersama Pak Jokowi, kami membayangkan ada 34 menteri yang kurang tidurnya memastikan semua kementerian menjadi pelayan bagi rakyat dan memastikan kemenangan melawan wabah ini. Di seluruh Indonesia ada 34 orang Gubernur yang Namanya kadang luput dari lensa kamera namun tetap bekerja dalam senyap. Dari Sabang sampai Merauke ada 514 Bupati dan Walikota yang namanya bahkan tak pernah kita simak di TV. Ada lebih dari 80 ribu lurah dan kepala desa yang menjaga negeri dari pinggiran. Mereka bekerja dengan cara masing-masing. Mungkin tak sempurna tetapi ini bukan saat yang tepat untuk menghina dan mencaci.

Di saat jarak fisik kita kian lebar karena wabah, kedekatan emosi kita semestinya kian erat. Pemimpin perlu diberi ruang yang lega untuk bekerja tanpa diganggu. Rakyat diberi pilihan yang rasional tanpa diintimidasi. Jika kita masih yakin akan PERSATUAN yang lebih sering mucul sebagai wacana yang klise, hari ini adalah saat terbaik mewujudkannya. Kita belum pernah ada di posisi seterancam ini. Maka ini saatnya kita menyatu, manunggal, dan berbuat melampaui ego pribadi. Bersama para pemimpin, kita akan keluar dari kemelut ini dan menyungging takzim seyum kemenangan.

Author: Andi Arsana

I am a lecturer and a full-time student of the universe

Bagaimana menurut Anda? What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s