Ketika Pasangan Memilih Untuk Tidak Bekerja


“Isteri praktik dokter kan?”, “isteri kerja di mana?”, “isteri masih kerja di UGM?” demikian teman-teman saya bertanya di setiap kesempatan. Pertanyaan sederhana ini biasanya berbuntut percakapan panjang karena saya menjawab “Asti tidak bekerja lagi. Sekarang dia di rumah”. Sebagian besar teman menunjukkan keheranan, atau setidaknya mengajukan pertanyaan lanjutan.

Dari sekian pertanyaan, yang paling menarik adalah ‘tuduhan’, bahwa saya, sebagai suami, adalah penyebab keputusan itu. Tidak sedikit yang menduga dan cenderung menuduh bahwa saya lah yang melarang Asti bekerja. Yang tidak kalah menarik, banyak yang menduga bahwa keputusan itu pastilah menimbulkan perdebatan yang lama. Memang banyak yang meyakini bahwa keputusan besar itu pasti tidak mudah diambil.

Pertama, keputusan itu diambil atas inisiatif Asti sendiri. Saya tidak pernah memberi saran apalagi mengancam dia untuk berhenti bekerja. Kedua, diskusi untuk mengambil keputusan besar itu tidak berlangsung lama. Prosesnya sederhana saja. Asti mengusulkan, kami diskusi sebentar, lalu diputuskan. Begitu saja. Tidak ada yang berbelit-belit. Keputusan untuk bekerja atau tidak bekerja, menurut saya, memang seharusnya datang dari diri sendiri. Ini penting.

Dokter kok tidak bekerja, sia-sia dong ilmunya. S2 lulusan luar negeri kok tidak berkarir professional. Rugi dong, orang tua menyekolahkan. Pasti tidak sedikit yang berpikir demikian. Sejujurnya, orang tua kami juga berpandangan demikian. Tentu saja itu sangat beralasan. Kami memahami. Tidak ada orang tua yang menyekolahkan anaknya dengan cita-cita agar anaknya kelak tidak bekerja. Kami mengerti, tidak semua orang tua bahagia dengan keputusan semacam ini. Kami tidak ada dalam posisi setuju atau tidak, menentang atau menurut. Kami mengalir saja karena perbedaan itu memang keniscayaan.

Yang pasti, hidup itu kami yang menjalani. Dengan tetap menaruh hormat kepada orang tua dan orang-orang tercinta, kami juga percaya keputusan sulit tetap harus diambil. Pastilah kami tidak bisa menyenangkan semua pihak tetapi ini sudah menjadi ketetapan Asti dan kami sekeluarga. Bagi saya pribadi, Asti telah mendukung saya dengan berani dan luar biasa sejak kami pacaran dulu hingga menyelesaikan sekolah di Australia. Kini saatnya saya melakukan hal kecil untuk mendukung keputusan dan pilihannya.

Dalam perjuangannya untuk mengukuhkan diri sebagai orang yang tidak bekerja secara formal di luar rumah, Asti menghadapi banyak sekali tantangan. Bahkan tidak mudah untuk menceritakan dan mengakui pilihan itu di depan orang. Tidak semua orang bisa mengerti pilihan yang tidak populer ini. Saya paham, Asti berusaha keras di tengah hantaman mental dari berbagai penjuru. Di sisi lain, saya sendiri jauh dari sempurna dan masih kerap menghadirkan berbagai persoalan yang membuat hidupnya tidak selalu bahagia. Maka kerumitan perjuangan itu menjadi sempurna.

Di tengah kerumitan yang ada, Asti pelan-pelan membangkitkan kembali naluri alaminya. Dia membiarkan keinginan dan hasratnya tumbuh dengan leluasa tanpa dibatasi oleh sekat-sekat pendidikan formal dan gelar. Nampaknya dia jatuh cinta pada ecoprint. Setiap kali menyusun daun-daun berbagai bentuk di atas kain atau kulit dan membentuk pola-pola yang indah, saya melihat kebahagiaan. Dia bisa tenggelam hingga malam dalam keriuhan berkarya untuk menghasilkan kain dan kulit dengan corak warna yang menawan. Tawa, semangat bercerita dan binar bola mata memang tidak bisa menipu. Saya bisa melihatnya.

Maka ketika saya melihat kemeja, pashmina, sepatu, tas, kebaya, kaos dan berbagai karya yang lahir dari usahanya, saya tidak hanya menyaksikan hasil kerja. Saya menjadi saksi bagi sebuah keputusan besar yang tidak populer. Melalui karya yang lahir dari tangan Asti, saya merasakan kegigihan dan kesabaran untuk bertahan dari berbagai hantaman. Jika ada satu hal kecil yang bisa saya lakukan, maka itu adalah menghormati keputusannya.

Jika Asti mengatakan bahwa dia memutuskan untuk tidak bekerja, sesungguhnya, bagi saya, dia tidak pernah berhenti berkarya. Asti telah dengan berani mengambil keputusan untuk membebaskan dirinya dari belenggu sekolah dan ijazah. Saya percaya, pendidikan formal tidak pernah sia-sia tetapi kita tidak semestinya membiarkan dia mendikte kehidupan kita. Semoga Hyang Widhi menguatkan kami.

PS. Saya persembahkan tulisan ini bagi mereka yang mengambil keputusan berani dalam hidupnya dan semua yang turut mendukung dan merawat keputusan itu.

PSS. Jika tertarik memiliki karya-karya ecoprint Asti, silakan kontak langsung  di WA 0877 3893 4560. Maaf saya tidak tahu harganya 😦

Author: Andi Arsana

I am a lecturer and a full-time student of the universe

Bagaimana menurut Anda? What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s