Mungkinkah aku mendapatkan Beasiswa AAS 2020?


Tanggal 1 Februari 2019, pendaftaran Beasiswa Australia Awards Scholarship untuk keberangkatan tahun 2020 sudah resmi dibuka. Bagi banyak orang, ini tentu berita yang sudah lama ditunggu-tunggu. Bagi sebagian lainnya, berita ini mungkin asing dan baru. Bagi teman-teman yang sudah membaca madeandi.com sejak lama mungkin sudah tahu apa itu Beasiswa AAS. Mungkin juga sudah ada yang tahu, saya telah menulis Buku “Berguru ke Negeri Kangguru” yang kini bermanifesrasi menjadi buku “Rahasia Beasiswa Australia”.

Saya sendiri selalu excited dengan pembukaan pendaftaran Beasiswa AAS meskipun tentu saja saya tidak akan mendaftar lagi. Setelah lima belas tahun menyentuh tanah Australia untuk pertama kalinya, saya bisa mengatakan dengan pasti bahwa hidup di Australia adalah salah satu periode hidup yang sangat saya syukuri. Kehidupan yang menyenangkan, keseimbangan lahir dan batin yang terjaga dengan baik, kerseriusan bekerja dan kesungguhan bermain yang berpadu sejalan, adalah beberapa alasan mengapa masa-masa itu saya syukuri. Maka jika ada yang bertanya, saya tak pernah ragu bahwa bersekolah di Australia adalah perjalanan menuju bangunan kiprah intelektual yang sarat makna.

Adakah saya lebih mencintai Australia dibandingkan Indonesia? Di minggu terakhir penyelesaian S3 dulu, professor saya berkata “pintu kampus ini terbuka untukmu. Silakan tinggal dan berkarya di sini”. Dengan penuh syukur, rasa terima kasih dan takzim saya menjawab “saya akan pulang”. Jangan salah sangka, saya mengagumi orang Indonesia yang bisa berkiprah di pentas dunia karena mereka lah yang mengibarkan Bendara Merah Putih di puncak-puncak tertinggi peradaban intelektulitas dunia. Di sisi lain, tak sedikitpun saya merasa bahwa kehadiran saya akan memperbaiki Indonesia dengan cepat. Saya hanya merasakan kerinduan. Itu saja. Dengan segala drama, dan segala naik dan turun hidup yang penuh dengan problematika toh saya tak pernah merasa rindu berlebihan pada Sydney yang sanggup membuat saya harus meninggalkan Indonesia. Bagi jiwa yang bebas, lokasi tak lagi mampu mendikte karena liarnya pikir dan imajinasi bisa membuat kita merasa berada di mana saja.

Jika kamu bertanya, bagaimana caranya mendapatkan beasiswa AAS ini, maka kamu bisa mendapatkan jawabannya di website resminya, australiaawardsindonesia.org. Jika kamu penasaran tips dan trick untuk memperoleh beasiswa itu, kamu sedang membaca sebuah blog yang telah membahas hal ini sejak 15 tahun silam. Maka semua, atau hampir semua, yang saya tahu sudah saya tuliskan di sini. Jika kamu masih memilih untuk bertanya sebelum membaca tulisan-tulisan yang ada di sini, maka sejujurnya saya ragu kalau kamu adalah orang yang tepat untuk mendapatkan beasiswa AAS ini. Maafkan saya.

Jika kamu punya pertanyaan “mungkinkah aku bisa mendapatkan beasiswa AAS 2020?” maka saya punya cerita. Bisa jadi kamu memang tidak akan mendapatkan beasiswa AAS 2020 tapi saya punya teman bernama Cila. Dia adalah alumni sebuah Universitas swasta kecil di Kupang. Cila lulus di University of New South Wales dengan besiswa AAS. Kini dia ada di Inggris untuk menyelesaikan doctor-nya. Saya juga punya seorang kawan baik alumni ITN Malang. Sekarang dia menjadi salah satu ahli yang disegani di bidangnya setelah menyelesaikan sekolahnya di Australia dengan beasiswa AAS. Ada kawan saya lainnya dari Aceh yang ketika mendaftar AAS belum memiliki ijazah S1. Kawan lainnya berasal dari Papua yang dengan kegigihannya berhasil merebut hati para professor di Australia karena kecemerlangannya. Kawan lainnya lulusan D3 di sebuah akademi swasta di Jogja lalu melanjutkan S1 di Bandung dan kini menyandang gelar S2 dan S3 dari Australia. Keduanya dengan beasiswa Australia.

Menjadi penerima AAS juga membuat saya sadar satu hal bahwa tugas kita hanya mencoba berusaha, bukan menjadi juri atau hakim bagi layak atau tidaknya kita. Saya diliputi rasa heran ketika sampai di Sydney pertama kali dan menyimak Bahasa Inggris senior saya, mahasiswa AAS asal Indonesia. Semua itu memberi harapan, saya tak harus malu hanya karena Bahasa Inggris saya tidak lancar seperti air. Di kesempatan lain, saya bertemu senior yang malu-malu penuh sungkan ketika berbicara. Itu juga membuat saya optimis, penerima AAS tidak selalu merupakan orang yang kemampuan kepemimpinan luar biasa yang bisa meyakinkan orang dengan orasi yang membahana. Sebagai orang desa yang masih selalu diliputi rasa sungkan atau rendah diri yang telah akut, fakta ini mencerahkan.

Saya bertemu dengan sejumlah kawan lain yang tak fasih memadukan penggunaan sendok, garpu dan pisau untuk hidangan yang baginya sangat aneh. Saya yang kala itu juga bingung bahwa ada orang yang bisa makan hanya dengan pisau dan garpu, merasa tidak sendiri. Teman-teman lainnya berjilbab cukup panjang dan bisa melenggang di kampus-kampus mentereng di Australia dengan mudah. Ada juga yang terkaget-kaget ketika diajak rombongan dosennya ke sebuah club malam untuk menikmati minuman dan suasana selepas ujian. Beasiswa ini juga memberi ruang pada orang-orang ‘ndeso’ yang tak sempat terpapar oleh riuh rendah pergaulan zaman. Semua itu menghadirkan cerita baru. Cerita yang bahkan tak pernah mampir ke pikiran saya ketika itu.

Kamu mau tahu siapa saya? Saya adalah peraih beasiswa Australia (dulu Namanya ADS, dan ada juga beasiswa ALA) untuk S2 dan S3. Saya berada di negeri itu secara akumulatif hampir 10 tahun. Yang perlu kamu tahu, di transkrip saya ada nilai D. Saya pernah meraih IP 1,2 suatu ketika. Saya bukan lulusan tercepat, bukan juga lulusan terbaik. Ketika mendaftar ADS tahun 2002, saya tidak punya pengalaman meneliti kecuali skripsi, tidak juga memiliki satu karya publikasi pun. Pemberi surat rekomendasi saya ketika itu adalah dosen pembimbing skripsi yang bahkan belum S3. Bahasa Inggris? Modal saya hanya TOEFL-like test dengan nilai sedikit di atas 500. Saya memilih S2 by coursework karena tidak bisa membuat proposal penelitian. Begitu mengenaskan.

Kalau kamu masih bertaya “Mungkinkah dapat Beasiswa AAS 2020?”, tentu saja mungkin. Dari semua cerita tentang saya teman saya, sadarilah bahwa kesempatan bersekolah di luar negeri dengan beasiswa, sebenarnya hadir bagi siapa saja. Yang saya tahu, yang pasti tidak akan dapat Beasiswa 2020 adalah mereka yang tidak mendaftar. Maka bayangkanlah 15 tahun yang akan datang. Kamu kah orang yang akan bercerita tentang serunya perjuangan mendapatkan beasiswa AAS di tahun 2020? Atau kamu akan mengatakan pada anakmu bahwa “seharusnya mama lebih gigih berjuang di tahun 2019 silam”?

Author: Andi Arsana

I am a lecturer and a full-time student of the universe

52 thoughts on “Mungkinkah aku mendapatkan Beasiswa AAS 2020?”

  1. Beberapa kali saya jaga stand kampus pas Info Days, dan saya selalu merekomendasikan mereka2 yang berminat untuk daftar AAS untuk baca blog Bapak. Saya dulu juga banyak sekali belajar dari baca blog Bapak berkali2, dan terbantu sekali baik secara teknis mauoun motivasi. InsyaAllah sekarang mau berjuang lagi untuk daftar PhD. Terima kasih banyak atas jasa2nya ya Pak 🙏🏼

  2. Wah, senang sekali menemukan blog bapak. Terima kasih untuk informasi-informasinya pak. Saya ingin mendaftar AAS tahun ini, tapi saya agak bingung dengan requirement surat referensi dari atasan, karena direct managersaya kebetulan akan resign dan pindah ke kantor lain, dan kebetulan belum ada penggantinya untuk beberapa bulan ke depan. Apakah saya boleh tetap meminta referensi dari beliau atau harus dari atasan yang masih bekerja di kantor saya, meski bukan direct manager saya yang jauh lebih mengenal saya?

    Satu lagi, apakah saya boleh bertanya-tanya via email dengan bapak sekiranya saya ada kebingungan dalam mendaftar dan belum menemukan jawaban? Terima kasih, semoga sehat selalu 🙏🏼

      1. Surat referensi tidak harus dari atasan langsung ya, pak? Karena atasan saya yg sudah mengenal saya selama 7 tahun sudah pindah ke kabupaten lain. Apakah boleh minta referensi ke beliau saja, walaupun sudah tidak sekantor lagi? Mohon masukannya, pak Andi

  3. salut konsistensi 15 tahunnya bapak, semoga menjadi amal jariyah yang tak pernah terputus.

    bapak, mohon info. download dokumen template pendukung untuk tahun 2020 ini dimana ya ? seperti template referee report serta dokumen lain yg penting dan sudah disediakan templatenya oleh aas.

    terima kasih, semoga bapak sehat selalu

  4. Saya selalu senang ketika Bapak kembali menceritakan AAS, pasti ada wawasan baru atau semangat baru yang diperoleh setelah membacanya. Terima kasih sudah menginspirasi.

  5. Infonya sangat membantu pak.
    Pak, saya mau bertanya. Saya sudah pernah membuat akun di oasis untuk daftar beasiswa aas waktu thn 2017 tp gk jd daftar krn alasan toefl yg belum cukup.
    Tahun ini saya akan mendaftar krn toefl sy sudah cukup.
    Apakah saya harus membuat akun baru lagi, pak?
    Mohon pencerahannya. Terima kasih

    1. saya bantu jawab ya. Saya juga pernah buat akun tahun lalu dan dengan alasan yg sama, saya tidak jadi apply. Tahun ini saya berencana daftar lagi, dan dengan akun yang sama masih bisa diakses asalkan masih hafal emailnya dan passwordnya (tapi kalau lupa pass, bisa pakai fitur forgot password).

  6. Terima kasih pak atas motivasinya. Ketika saya sempat down dengan memikirkan apakah saya bisa/layak untuk mendapatkan beasiswa, saya membaca ini, dan sekarang pertanyaan saya ke diri saya sendiri, sejauh mana saya bisa berjuang menggapai cita-cita saya.

  7. Senang sekali bisa menemukan blog pak andi. Terimakasih untuk semua informasi dan motivasi nya pak, hal yg sangat berharga buat kami-kami para pejuang beasiswa. Sebagai informasi, saya pejuang AAS yg sudah tiga tahun tidak lulus-lulus karna memang tidak mendaftar. Saya tertampar rasanya dg kata-kata bapak “Yang pasti tidak akan dapat Beasiswa 2020 adalah mereka yang tidak mendaftar”. Tahun ini, in shaa Allah saya pasti mendaftar dan tidak akan ada penyesalan lagi. Semoga bisa secepatnya memberikan kabar gembira untuk keluarga dan teman2. Aamiin

    Sekali lagi, a million ‘thank you’ will never be enough, still thanks a lot, sir😊

  8. Saya baru mengetahui AAS tahun ini, tapi suatu harapan tersendiri bagi saya bisa menemukan bloknya bapak, sangat menginspirasi, menyemangati… saya bisa mewujudkan mimpi saya untuk kuliah di luar negri, Trima kasih banyak pak

  9. Terimakasih bapak atas tulisannya. entah kenapa saya bisa ‘kesasar’ sampai di blog ini. saya baru lulus akhir tahun 2018 dan saya ingin lanjut studi ke luar negeri. awalnya nyali saya ciut, karena saya bukan orang dengan IPK yang tinggi dan bahasa inggris saya masih pasif. dengan membaca tulisan ini, entah kenapa saya ingin memperbaiki inggris saya lalu bisa mendaftar AAS di periode berikutnya. Terimakasih

  10. Ketika membaca tulisan ini secara perlahan saya meneteskan air mata. Terima kasih untuk kata – kata ajaib bapak!

  11. Terima Kasih pak,
    Itu pernyataan yang selalu say atanyakan ke diri sendiri. Rasa minder, trauma, dan rendah sungguh saya rasakan. Bahkan melihat profil penerima AAS saja sudah membuat saya sakit merasa bahwa saya tidak layak, sangat tidak layak. Rasa- rasanya saya hanya punya niat saja. Benar pak, saya harus lanjut dan tidak boleh berhenti. Terima kasih atas masukannya pak. Betul- betul terima kasih. Saya yakin, jika seandainya bapak punya kemampuan untuk berbicara langsung dengan kami, menyemangati kami agar kuat, dan berbicara kami satu- satu tanpa terbatas ruang, waktu dan batasan fisik pasti akan bapak lakukan. Jika tidak, bagaimana mungkin blog bapak bisa bertahan hingga 15 tahun.
    Terima Kasih pak

  12. keren, mas.. semoga jadi “pecut” bagi saya dan teman2 calon penutur kisah menjadi awardee AAS.. aamiin

  13. Bli, terimakasih selalu memotivasi untuk orang orang minim ambisi. Do’akan saya lulus tahun ini program s2 (saya lulusan sept 2017)

  14. Terima kasih Pak Andi, tulisan anda sungguh bermanfaat. Saya selalu berfikir bahwa yang mendapatkan beasiswa selalu lulusan terbaik dari universitasnya. Saya selalu minder padahal diam – diam saya selalu bermimpi dan selalu mencari informasi tentang universias beserta jurusan di luar negeri. Saya berharap kelak saya ingin mendapatkan beasiswa dan melanjukan kuliah S2 di luar negeri. Terima kasih atas pengalaman yang dibagikan semoga bapak selalu mendapatkan keberkahan, Amiin

  15. Saat ini saya sedang menantikan keputusan final dari pertanyaan yang sama, “Mungkinkah aku mendapatkan beasiswa AAS 2020?”
    Tentu bukan sebuah kebetulan saya menemukan blog anda di saat yang lumayan menegangkan bagi saya sekarang ini. Terima kasih untuk tulisan yang menenangkan hati, Pak. 😊

  16. Saya pun ikut mendaftar beasiswa AAS 2020 untuk program PhD kemaren bulan april. Namun rupanya masih belum rejeki…lolos shortlist pun tidak. Semoga di tahun depan masih diberi kesempatan untuk mencoba lagi…dan semoga bisa lolos sampe tahap final…aamiin.

  17. Selamat siang Pak Andi, rasanya saya sangat bersyukur bisa nyasar mampir ke blog Bapak
    sejak awal pembukaan AAS tahun 2020 ini saya sudah memulai untuk mencoba apply via OASIS, tapi saya merasa kesulitan saat menjawab isian pada bagian supporting statement. saya bingung harus menjawab apa. apakah ada saran dari Bapak untuk hal ini? permasalahan berikutnya, kemampuan berbahasa Inggris saya sangat pasif, Pak. bahkan dokumen-dokumen yang perlu di upload pun belum ada yang siap sementara pendaftaran akan berakhir tgl 30 Juni 2020.
    saya pesimis bisa menyelesaikan pendaftaran ini Pak.

  18. Alhamdulillah, sangat inspiratif dan menambah semangat.. Terima Kasih Pak Dosen, semoga menjadi amal kebaikan.

  19. blog ini menjadi blog wajib saya tahun 2013 lalu, dulu sewaktu mencoba beasiswa AAS. Tiap hari dilihat2 semua postingannya, artikelnya, mana tahu ada tip dan trik yg terselip di dalamnya. Semua artikel yg ada di dalam blog mas ini plus beberapa referensi dari awardee lainpun saya compile untuk menyusun form aplikasi AAS. ditambah lagi belajar bahasa inggris mandiri selama 2 tahun utk test IELTS.. Alhamdulillah, waktu itu 2014 saya apply dan lulus. 2015 berangkat.

    Ada cerita menarik mas waktu saya interview dulu. semoga bisa jadi pelajaran dan inspirasi bagi calon awardee. ini adalah percakapan teman saya yg super jenius dg interviewernya (bule) namun gagal dapat beasiswa waktu itu :

    Interviewer : Nilai-nilai kamu bagus waktu S1. mata pelajaran apa yg terasa susah..?
    Teman : ga ada pak.. saya bisa semuanya.
    Interviewer : kerja kamu di kantor apa?
    Teman : saya mengerjakan ini itu bla .. bla .. bla ….
    Interviewer : ada kesulitan dalam mengerjakannya ?
    Teman : tidak pak.. selesai semua.. atasan saya juga senang..
    Interviewer : ada masalah lain yg rasanya perlu kamu selesaikan di instansimu?
    Teman : Ada beberapa, tapi itu bisa saya selesaikan..
    Interviewer : Ok. baiklah. interview kita selesai. Terima kasih.

    dan si temanpun merasa puas bisa menjawab semua pertanyaannya.

    Nah, berbeda dengan teman saya. Sewaktu interview, saya memakai strategi “memelas”, yang terbukti mengantarkan saya mendapat beasiswa. berikut ini percakapan interview saya:

    Setelah mengenalkan diri, dan menjawab 1, 2 pertanyaan simple/umum, saya langsung nyerocos. Saya ga biarkan dia bertanya2 ke masalah inti.. biar saya yg jelaskan. Konsepnya sudah saya hafal 1 hari sebelumnya dan latihan terus agar tidak grogi, dihafal tu draft nya sebelum tidur.

    Interviewer : Ada masalah di kantor kamu?
    Saya : banyak pak. provinsi kami itu berdekatan dg negara tetangga Malaysia dan Singapore yang nota bene bla bla bla…, sehingga bla bla bla bla… (saya nyerocos di sini memberi justifikasi…). Disini saya malah menceritakan kelemahan dan kekurangn saya..

    Interviewer (LIPI) : Kamu yakin itu maslaahnya?
    Saya : Iya, saya itu memiliki tupoksi bla bla bla di kantor. masalah itu selalu saja terjadi. kami bingung ga ada SDM yg bisa diandalkan. Satu satunya harapan cuma saya di kantor. ga ada yg lain. (saya nyerocos lagi ga kasih jeda, semua justifikasi saya ungkapkan. saya jelaskan kenapa saya orang yg tepat untuk menerima beasiswa).
    Interviewer (bule Monas Univ.) : kamu yakin strategi itu berhasil? (percakapan mulai tergiring arahnya. Pertanyaan mereka ga jauh2 dari issue/masalah saya).
    Saya : Yakin. Saya nyerocos lagi plus ditambahi embel2 saya adalah orang yg paling tepat diantara rekan2 sekerja saya… SAYA SIAP BELAJAR PAK!!!. .. saya masih perlu dididik!!!!!
    Interviewer (bule Monas Univ.) : bagaimana cara kamu menolong provinsi kamu dengan jurusan yang kamu pilih nanti?
    Saya : caranya bla bla bla… (saya ceritakan lagi peran saya di kantor dan bagaimana ilmu yg akan di dapat nanti mampu menolong Indonesia).. saya nyerocos lagi….:).

    Begitulah Mas.. akhirnya mereka berdua ga banyak omong karena saya jabarkan semua.. ga kasih kendorrr…

    Apa yg di dapat dari 2 penggalan cerita tadi?

    Setelah saya renungkan, ada bebeapa hal kenapa saya lulus:

    1. Takdir Allah. Atas rahmat dan karunia-Nya tentunya.
    2. Izin/ ridho orang tua/.
    3. Nah mungkin inilah hikmah dari 2 percakapan di atas. Ternyata orang pintar bukan berarti otomatis lulus. justru org kekurangan seperti saya malah diterima. Logikanya, jika kamu sudah pinter, ngapain kami habiskan uang untuk mendidik kamu lagi? semua pekerjaan dan masalah di kantor sudah selesai ditangan kamu!! Lanjutkan saja berkarya.

    Sedangkan saya, orang yg masih perlu belajar. di negeri saya masih banyak masalah yg harus diselesaikan. celakanya ga ada SDM yang mumpuni. Makanya saya menawarkan diri untuk dididik. tentunya saya jelaskan pada interview tsb. panjang lebar bagaimana saya menerapkan ilmu saya nanti. saya beri justifikasi yg saya konsep 2 hari sebelum interview. dan dihafal bulat-bulat seluruhnya. Bisa dianggap, saya yang mengontrol interview waktu itu. Saya yang menggiring mereka ke issue/masalah yang memang saya hadapi real, dan perlu pertolongan secepatnya!!! saya ga mau mereka menggiring saya ke pertanyaan2 yang kurang relevan yg akhirnya membuat saya grogi dan kurang tepat dalam memberi jawaban.

    Begitulah mas ceritanya… mudah2an bisa menjadi pelajaran bagi yg sedang berjuang. jangan minder dg kekurangan.

Leave a Reply to Nadiya Fatya Cancel reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s