I Am A TED Speaker!


Dari sekian banyak hal yang terjadi di tahun 2018, menjadi pembicara TEDxUGM adalah satu yang sangat penting bagi saya. Mereka yang menekuni bidang penyajian ilmu pengetahuan, umumnya memahami konferensi TED. TED singkatan dari Technology, Entertainment and Design yang pada awalnya merupakan sebuah media pertemuan bagi para pakar untuk menyajikan keahlian dan penelitian mereka. Yang menarik dari konferensi TED ini adalah sajiannya yang cenderung populer. Di konferensi TED, seorang pakar ‘dipaksa’ untuk menyajikan bidang ilmunya dengan cara yang mudah dipahami oleh orang yang tidak menekuni bidang tersebut.

TED menjadi sangat populer dan banyak pihak ingin mengadakan acara yang sama. Akhirnya pihak penyelenggara TED mengeluarkan izin bagi pihak tertentu untuk menyelenggarakan konferensi TED resmi dengan nama TEDx. Huruf x ini bermakna bahwa ini adalah konferensi dengan standar dan lisensi TED tetapi diselenggarakan secara independen. UGM, untuk pertama kalinya, menyelenggarakan TEDxUGM berlisensi pada tanggal 17 November 2018.

Saya mendapat kehormatan untuk menjadi salah satu dari lima pembicara TEDxUGM perdana. Bagaimana pemilihan dilakukan? Terus terang saya tidak tahu persis. Rupanya ada sekelompok orang di UGM yang memiliki otoritas kewenangan maupun keilmuan dan memutuskan untuk meberi kesempatan kepada saya. Mana lah mungkin saya tolak. Sebagai penggemar TED, tawaran ini adalah sebuah kehormatan.

Saya sudah sering presentasi. Saya juga seorang dosen yang melakukan presentasi hampir setiap hari. Apakah dengan begitu presentasi TED jadi mudah bagi saya? Terus terang saya sempat menganggap begitu. Ternyata saya salah. TED memiliki tata cara kurasi presentasi yang sangat ketat dan rinci. Tak peduli siapapun dia, harus mengikuti standar dan prosedur yang ditetapkan. Ada banyak pertemuan, ada banyak latihan, ada banyak kritik dan masukan, ada banyak revisi dan pengulangan, ada banyak koreksi dan perbaikan, ada juga banyak diskusi dan perdebatan.

Kerumitan dan keseriusan menjadi pembicara TED sudah saya rasakan sejak awal. Saya diminta menajamkan tema dan materi yang akan dibawakan dan diwajibkan untuk memaparkan di depan pembicara lain, panitia dan kurator TED. Selain panitia yang cukup banyak jumlahnya, ada dua kurator professional dan satunya berasal dari TEDx Jakarta. Mereka adalah orang-orang yang professional dan bertangan dingin. Kadang juga bertampang dingin jika diperlukan. Keduanya tak canggung untuk mengoreksi, memberi masukan atau bahkan mengoreksi kami, para pembicara.

Jika ada satu hal yang saya pelajari dari proses menjadi pembicara TED maka hal itu adalah kesadaran untuk selalu belajar dan belajar meskipun kita sudah merasa bisa melakukan sesuatu. Saya berkali-kali menyiapkan naskah presentasi dan tayangan karena berkali-kali juga harus direvisi. Salah satu yang sangat menegangkan adalah ketika saya diminta mencoba presentasi dan beberapa orang lain hadir untuk mencatat waktu, membuat catatan koreksi, dan membuat struktur presentasi sebagai masukan. Saya harus bisa bicara dengan durasi maksimal 18 menit dan dengan kecepatan normal, tidak seperti dikejar setan. Tidak mudah, terutama ketika saya ingin ngomong banyak hal.

Saya berkali-kali harus berlatih sendiri untuk memastikan bisa tampil dengan baik di hari H. Yang membuat rumit, panitia dan kurator perlu memastikan bahwa saya telah berproses dengan baik. Mereka perlu tahu kemajuan saya dalam berlatih sehingga mereka juga merasa tenang. Masalah lainnya, saya tidak selalu bisa datang saat harus latihan rutin atau bersama karena harus bertugas di luar kota ataupun di luar negeri.

Saya ingat, pada tanggal 9 Noveber 2018, misalnya, saya seharusnya berlatih presentasi tetapi sedang ada di Berlin untuk sebuah acara lain. Maka kami memanfaatkan teknologi untuk mengatasi situasi itu. Dengan video call menggunakan Whatsapp, akhirnya saya bisa berlatih dari Berlin dan disaksikan serta dievaluasi oleh kurator dan panitia di Jogja. Di situ juga disepakati bahwa saya akan membuat sebuah video latihan berdurasi utuh untuk saya sampaikan kepada kurator sebelum gladi bersih terakhir tanggal 16 November 2018.

Tanggal 12 dan 13 November 2018, saya berada di Malmo, Swedia untuk suatu tugas. Saat itu saya tinggal di rumah mantan professor saya saat S2 dan S3 dulu. Dia baru saja pindah ke Swedia dan berbaik hati menampung saya semalam saat berkunjung ke institusinya, World Maritime University (WMU). Maka di sebuah kamar yang dingin di belahan bumi utara itu, saya berlatih presentasi berkali-kali hingga larut malam tanggal 12 November 20128.

Besoknya, ketika urusan kunjungan resmi ke WMU sudah kelar, saya meminjam sebuah ruangan di sana untuk merekam presentasi saya. Di sebuah ruangan putih bersih dan cukup luas, saya mulai presentasi dan merekamnya secara utuh menggunakan aplikasi di MacBook Air. Tidak professional tetapi cukup untuk tujuan tersebut. Sore itu, saya selesaikan suntingan video secara sederhana dan mengunggahnya untuk bisa diunduh oleh panitia dan kurator video di Indonesia. Ini yang saya sebut “Latihan Presentasi 4.0”.

Dalam beberapa hari kemudian saya menerima masukan. Kali ini cukup positif meskipun tetap ada masukan penting yang harus saya perhatikan. Setidaknya saya merasa cukup siap untuk gladi bersih nanti. Maka, dengan menanggung beban jetleg selepas perjalanan di Eropa tanggal 15 November malam, saya beraksi melakukan gladi bersih tanggal 16 November. Suasana panggung sudah hampir sama dengan rencana final tetapi masi ada cukup banyak orang yang bekerja. Itu agak mengganggu konsentrasi tetapi tidak ada pilihan lain. The show must go on!

Apakah itu sudah sempurna? Belum. Satu dua saran penting masih ada dan disampaikan oleh panitia dan kurator. Di situ saya merasa bahwa memang tidak ada istilah cukup dalam bersiap. Persiapan akan cukup dan paripurna kalau pentas sesungguhnya sudah selesai. Mungkin demikian. Maka saya menikmati dengan baik semua proses itu. Saya menikmati setiap pelajaran dan pacuan adrenalin di setiap penggalnya. Di titik itu, saya hanya bisa memastikan bahwa saya telah berusaha dengan maksimal maka saya tidak akan menyesal.

Sore hari tanggal 17 November 2018, lamat-lamat, saya mendengr nama saya dipanggil dan gemuruh tepuk tangan mengiringi langkah saya naik ke panggung. Saya Tarik nafas dan lontarkan kalimat pertama dengan usaha keras agar terlihat tenang. Saya pastikan senyum saya terlihat dan terasa oleh hadirin. Maka ketika saya dengar tawa kecil penonton saat kalimat pertama usai, saya bisa pastikan, latihan saya tidak sia-sia. Di situ, saya merasa sudah boleh berkata dalam hati “I am a TED Speaker!”.

Advertisements

Author: Andi Arsana

I am a lecturer and a full-time student of the universe

5 thoughts on “I Am A TED Speaker!”

  1. Wah baru beberapa hari lalu nonton di Youtube TEDxUbud dan TEDxITB. Saatnya meluncur ke TEDxUGM. Oya pak, tadinya saya kira pembicara di TEDx menbuat materi dan latihan sendiri. Ternyata persiapannya tidak sesederhana itu. Keren sekali.

Bagaimana menurut Anda? What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s