Pohon Beringin yang Menghalangi Pandangan


Saya tahu sejak hari pertama, pohon beringin di tepi jalan itu menghalangi pandangan saya setiap kali keluar dari garasi. Pohon itu memang tidak terlalu tinggi, tidak juga besar tetapi posisinya sedemikian rupa sehingga menghalangi pandangan saya saat mengendarai mobil. Akibatnya, setiap kali keluar dari garasi kami, saya selalu risau karena tidak bisa mengetahui situasi kendaraan yang melintas di jalan. Proses keluar dari garasi, setiap kali berangkat kerja, selalu tersendat.

“Sampaikan saja ke Pak Muri agar pohonnya ditebang” kata Ibu mertua saya menyarankan suatu hari. Pohon beringin itu adalah milik Pak Muri, tetangga kami. Posisinya di tepi jalan, tepat di antara rumah Pak Muri dan rumah keluarga kami. Pak Muri adalah tetangga yang baik. Saya sudah sowan dan berkunjung ke rumahnya sejak kami mau membangun rumah. Beliau pensiuanan tentara yang baik dan ramah. Mungkin itu juga sebabnya Ibu Mertua saya tidak ragu untuk menyarankan saya agar meminta beliau menebang pohon itu.

Saya punya pikiran lain. Pohon itu sudah ada di sana bahkan sebelum rumah kami dibangun. Jika diubah cara pandangnya, jangan-jangan bukan pohon itu yang mengganggu tetapi rumah kamilah yang ‘salah posisi’. Sebenarnya saya yakin juga Pak Muri orang baik dan kemungkinan besar beliau akan menebang pohon beringin itu jika saya minta. Namun ada rasa tidak nyaman pada hati saya jika harus meminta beliau melakukannya.

Sebagai orang baru di kampung itu saya merasa kurang sopan jika memprotes sesuatu yang sudah ada dan berjalan jauh sebelum keberadaan saya. Meskipun Pak Muri akan melaksanakannya, saya duga, akan ada rasa tidak nyaman pada hatinya jika penebangan pohon itu dilakukan karena permintaan saya. Tentu akan lebih rumit lagi jika saya salah bertutur kata sehingga nuansa yang muncul dari kalimat saya bisa jadi terdengar seperti protes. Saya bayangkan risikonya terlalu tinggi bagi kehidupan pertetanggaan kami.

Saya hanya bisa berdoa, semoga Pak Muri, dengan kesadaran sendiri, bisa merasakan kesulitan yang saya rasakan. Saya diam, tetap bertetangga dengan baik dan tetap menyapa ramah ketika bertemu. Hingga suatu pagi, saya merasakan hal berbeda. Tiba-tiba pandangan saya, ketika mengeluarkan mobil dari garasi, tidak terhalang lagi. Pohon beringin kecil yang menjadi penghalang selama ini ternyata sudah tidak ada. Tepatnya, pohonnya sudah jauh lebih kerdil dari sebelumnya sehingga tidak lagi mengalangi pandangan. Pak Muri telah memangkasnya.

Beberapa saat kemudian, saya menemui beliau perihal pohon itu. Saya berterima kasih dengan sangat. Pak Muri sedikit terkejut dan berkata “lho kenapa tidak bilang dari awal Pak? Kalau tahu begitu, saya pasti sudah tebang dari dulu.” Tentu saja saya jawab dengan tersenyum sambil menyatakan ketidakenakan hati saya jika harus mengatakan itu. “Lagi pula, tidak terlalu mengganggu kok Pak” lanjut saya meyakinkan.

Saya memang terganggu dengan pohon beringin kecil itu tetapi saya membayangkan risiko ‘gangguan’ yang ditumbulkan bisa lebih besar jika saya memprotes keberadaanya. Akhirnya, hidup pertetanggan kami yang baik dan tetap baik diselamatkan oleh satu hal: kepedulian dan kepekaan Pak Muri, lalu dengan kesadarannya sendiri mengurangi apa yang sesungguhnya menjadi haknya. Terima kasih Pak Muri.

Wedomartani, subuh berlatar suara azan yang merdu.

Advertisements

Author: Andi Arsana

I am a lecturer and a full-time student of the universe

Bagaimana menurut Anda? What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s