Satu Pesawat dengan Pak Dosen


Hari yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba, har ini aku kembali ke tanah air dari Taiwan. Keluarga di rumah tentu menunggu dengan gelisah dan tidak sabar. Sekian lama menunaikan tugas mencari rejeki, akhirnya aku pulang. Belahan jiwa sudah menunggu tak sabar, video call tak mau berhenti sampai-sampai aku ditegur pramugari.

Tak lama berselang, datang seorang lelaki berjas. Wajah dan warna kulitnya tak beda jauh dengan para lelaki di kampungku. Bedanya, dia mengenakan jas, meski warnanya sudah memudar. Meski jasnya tak baru lagi, dia nampak cukup fasih mengenakannya, mungkin dia tidak seperti teman-temanku yang baru pertama kali mengenakan jas. Sayangnya, meskipun mengenakan jas, penampilan lelaki ini nampak kurang meriah. Hidupnya nampak tidak menarik tanpa gairah. Senyum kecil sebentar lalu duduk di sebelahku, tenang tak banyak cerita. Mungkin dia sedang sedih.

Beda dengan teman-temanku yang semarak dan semerbak. Aku ingat Tukiman, tergopoh-gopoh membeli jas minggu lalu di pasar malam demi dipakainya hari ini, di hari kepulangan perdananya. Majikan tempatnya bekerja juga baik, dia mendapat bonus casing HP bergambar Spiderman. Aku tak mau kalah, sepatu berhak tujuh senti akhirnya menemaniku hari ini. Kalung manik-manik yang menggantung di leher nampak padu padan dengan baju merah menyala dengan tali mengikat dan berjuntai di bagian lengan. Celana jeans masa kini juga aku kenakan, robek-robek di bagian depan dari paha hingga betis menambah kemeriahan penampilanku hari ini. Orang-orang kampung pasti akan terkesima.

“Bekerja di Taiwan mbak?” tiba-tiba lelaki sederhana di sebelahku bertanya. Rupanya dia tidak bisa memahami dari handphone baruku dan speaker bertali yang menjuntai dari telinga, melilit leherku dan akhirnya turun membelah dada. Tentu saja aku bekerja di Taiwan. Jika tidak, dari mana aku bisa membeli semua ini. Aku mengiyakan. Lalu dia bertanya bak wartawan soal berapa lama aku kerja, apa saja yang kukerjakan dan seberapa sering aku pulang ke tanah air. Yang membuat tak nyaman, dia bertanya sangat rinci soal awal mula aku bekerja di Taiwan. Dia tanya bagaimana mengurus paspornya, bagaimana perizinannya, bagaimana pelatihannya, siapa agennya dan sebagainya. Lama-lama aku merasa dia mungkin curiga apakah aku pekerja gelap. Atau mungkin dia tertarik bekerja di Taiwan. Mungkin saja. Namun dari tampangnya, jelas dia tidak akan diterima. Lelaki lemah semacam itu mana bisa merawat kebun, menggosok kamar mandi atau mendirikan rumah. Dalam hati aku hanya bisa mengasihani lelaki itu, ‘kamu nggak akan bisa’.

Penasaran, aku tanya balik. “Bapak kerja di Taiwan juga?” kataku meskipun aku yakin dia tidak ada tampang. Tepat dugaanku, dia hanya berkunjung sebentar. “Ada konferensi mbak” katanya singkat, seakan aku tahu apa yang diucapkannya. Ketika aku tanya, dia cerita soal status politik dan kedaulatan Taiwan, soal hubungan diplomatik dengan negara-negara di dunia yang secara drastis berkurang, soal China daratan yang makin agresif, soal TETO, soal KDEI. Di bagian akhir dia juga menyebut, kalau tidak salah, Laut China Selatan, delimitasi batas maritim dan banyak lagi yang tentu saja tidak aku pahami. Dan memang tidak penting juga. Yang menarik, ketika aku tanya “dibayar berapa?” dengan santai dijawabnya “tidak dibayar, mbak. Mereka hanya menyediakan tiket dan hotel.” Wajar, pekerjaan yang tidak jelas hasilnya memang tak layak dibayar.

Setelah lama bercerita, dia juga menjelaskan, berkesempatan bertemu Presiden Taiwan dan Menteri Luar Negeri. “Apakah Bapak minta pemerintah Taiwan menaikkan gaji pekerja rumah tangga?” tanyaku penasaran. Ternyata tidak juga. Dia malah bercerita tidak jelas soal South Bound Policy dan soal kemungkinan peningkatan hubungan Indonesia dari ekonomi menjadi diplomatik. Seakan-akan aku paham dan tertarik dengan semua ocehannya. “Bapak dibayar berapa untuk ngobrol sama Presiden Taiwan?” aku tanya penuh semangat. “Tidak dibayar” katanya datar tanpa emosi.

Kini aku paham, mengapa lelaki ini tidak mengenakan jas baru. Mengapa celana kainnya nampak lusuh dan kenapa wajahnya nampak tak sumringah. Pekerjaannya serabutan, tak jelas hasilnya dan itupun tidak dibayar. Singkatnya, dia miskin. Sesungguhnya tidak tega aku tanya, tapi karena penasaran akhirnya aku beranikan diri bertanya “Bapak kerja di mana?” “Saya dosen UGM” katanya lirih, tak percaya diri.

PS. Dedikasi untuk para pekerja migran Indonesia di seluruh dunia, para pahlawan devisa sejati.

Advertisements

Author: Andi Arsana

I am a lecturer and a full-time student of the universe

4 thoughts on “Satu Pesawat dengan Pak Dosen”

  1. Wah keren pak balutan ceritanya. Tanpa majas apapun, tapi tetap mengena. Ada cara tersendiri dalam mengungkapkan sesuatu yang kontras akan yang lain. Antara pekerja rumah tangga dengan seorang dosen. Antara yang dibayar dengan yang diundang. Antara yang menjunjung tinggi penampilan dengan yang berjiwa membumi.

    Dan secara gak langsung menggambarkan pola pikir dua orang manusia yang berbeda latar tapi dari negeri yang sama. Dan diakhir cerita ditutup dengan term pahlawan devisa. Hahaha… Mantap pak. Point of View nya bukan dari bapak. Malah dari orang kedua. Ditunggu cerita berikutnya pak.

Bagaimana menurut Anda? What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s