​Murah mencela mahal memuji: Inspirasi dari sebuah proyektor yang mati


Tadi saat memberi kuliah Penetapan dan Penegasan Batas Wilayah (PPBW) di Teknik Geodesi UGM, ada kendala pada projektor. Setelah berusaha mengatasi dan tidak bisa, saya berkata “ada yang bisa membantu?”. Semenit ditunggu, tidak ada yang maju. Dua menit ditunggu, tidak juga ada yang maju.

“Gimana, ada yang mau bantu?” tanya saya sambil tersenyum, kini dengan menatap mereka semua. Terdengar suara lirih ragu-ragu menyebut nama seseorang diikuti derai tawa khas mahasiswa. Ini biasa terjadi, selalu ada seseorang di kelas yang menjadi ‘bulan-bulanan’ dan orang itu biasanya baik hati, sabar dan tidak sombong.

Masih dalam suasana santai, saya jadi tertarik mengeksplorasi suasana itu lebih serius. “Kenapa tidak ada yang maju ya?” tanya saya setengah tertawa. “Takut kalau tidak bisa ya? Kan tidak apa-apa, kalian bukan teknisi.” saya lanjutkan. “Takut malu ya?” tanya saya lagi. Mereka mulai saling lihat dan mengiyakan. “Takut tidak bisa memenuhi harapan” kata seseorang. “Takut mengecewakan Pak” kata yang lain lagi. Saya kian tertarik.

“Okay, sekarang gini. Seandainya saya minta kalian keluar semua dan hanya satu saja yang ada di kelas. Misalnya kamu” kata saya sambil menunjuk seorang mahasiswi. “Jika saya ada masalah seperti ini dan minta tolong, apakah kamu akan maju membantu.” Dia menjawab dengan mantap “saya maju dan akan melihat apakah saya bisa bantu.” “Bukankah kamu orang yang sama. Kemampuanmu sama saja. Kenapa sekarang mau maju tapi ketika rame, kamu tidak mau maju?” Mahasiswa ini tersenyum dan tawa kecil terdengar di ruangan.

“Saya tahu. Kalian takut terlihat memalukan.” Seluruh kelas nampaknya setuju dengan teori saya. “Tahu apa sebabnya?” mendadak saya pura-pura ahli psikologi. Semua orang diam. Mungkin ada sesuatu berkecamuk di kepala mereka. “Karena kalian dibesarkan di tengah-tengah situasi dengan orang-orang yang terbiasa menghina mereka yang melakukan kesalahan atau gagal.” Mereka serentak membenarkan. “Kalian terbiasa sejak TK menertawakan orang yang salah atau gagal dan itu menjadi hal yang diterima umum. Lebih parah lagi, kalian tidak dibiasakan memuji orang yang melakukan kebaikan atau keberhasilan. Sebagian besar dari kita terbiasa mengolok-olok orang yang salah atau keliru tetapi tidak mengapresiasi mereka yang berhasil.”

Suasana kelas jadi sedikit serius. Kebanyakan dari mereka manggut-manggut. Saya tahu, masing-masing orang berpikir dan merenung. Entah mereka setuju, entah tidak. Saya lanjutkan sambil tersenyum, “kalian tidak mau maju karena takut dengan sifat dan kebiasan kalian sendiri.” Mereka tersenyum-senyum penuh makna.

“Menurut saya, yang perlu dikuatkan di lingkungan kita adalah kebiasaan mengapresiasi dan menghilangkan kebiasaan menghina dan mengolok-olok. Coba praktikkan formula 3 + 1. Tiga kali memuji dan sekali mengkritik sambil memberi masukan. Di kelas saya, tidak perlu ada orang yang mengolok-olok teman yang membuat kekeliruan.” Kelas kemudian berakhir, kali ini tidak dengan materi PPBW 🙂

Advertisements

Author: Andi Arsana

I am a lecturer and a full-time student of the universe

8 thoughts on “​Murah mencela mahal memuji: Inspirasi dari sebuah proyektor yang mati”

  1. Kok beda sekali dengan kelas saya saat kuliah dulu ya? Dosen tidak perlu capek-capek menyiapkan yang semacam itu karena mahasiswa langsung inisiatif membantu. Semoga dengan nasehat dari bapak, para mahasiswa bisa jadi lebih peka :’)

    1. Perubahan generasi menghadirkan tantangan yg besar. Guru yg baik sebaiknya tidak mengeluhkan keniscayaan itu tapi bekerja keras untuk memberi solusi 🙂 Saya sedang berusaha demikian…

  2. Sungguh benar Pak Made. Saya guru SMA dan sangat sulit meminta siswa dari beberapa kelas untuk ‘hanya’ berani berpendapat. Sering saya perhatikan, rekan2 guru juga sangat sering menyalahkan dan mengolok2 tindakan atau pendapat siswa. Saya jadi sering bilang “come on guys! Ini cuma saya. Kapan sih saya pernah nyalahkan kalian atau memarahi kalau marah?” Walaupun mereka menjawab tidak pernah, tapi tetap saja mereka belum mau mencoba. Betapa besarnya bahaya lisan

  3. Sangat inspiratif pak, dan memang seringkali demikian situasi kenyataannya. Tulisan ini mengingatkan saya untuk lebih banyak memuji ketimbang mencela, dan juga lebih banyak bersyukur ketimbang mengeluh.

  4. sebagai dosen, saya sering mengalami hal seperti itu, pak. Namun setiap ada mahasiswa yang maju ke depan untuk membantu, saya selalu puji dengan :

    “Kamu yang maju ke depan, sepuluh tahun lagi mungkin gajimu akan berada di atas teman-temanmu yang duduk-duduk saja.” Biasanya akan disambut dengan sorakan dan biasanya diamini oleh mahasiswa tersebut.

    Lalu saya akan menjelaskan kalau tantangan kerja abad 21 itu adalah tentang kecepatan dan ketanggapan, bukan semata-mata keahlian atau kemampuan. Mereka yang mau mencoba dan tanggap pada situasi, merekalah yang akan selangkah lebih maju…

    *hanya berbagi, sir…

Bagaimana menurut Anda? What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s