Dari KML ke Ceper – Pergulatan Akademisi Bali


Juni 2011 lalu saya berlibur di Bali di sela menghadiri sebuah konferensi dan kuliah umum. Desa Tegaljadi, tempat kelahiran saya, terletak di bagian yang cukup terpencil di Kabupaten Tabanan. Meski terpencil, tempat itu selalu berkesan dan membuat saya selalu ingin pulang lagi dan lagi. Saya menikmati mandi di pancuran yang kata kakek saya memang tidak pernah surut airnya sejak beliau ingat. Saat selesai membasuh badan, kadang tangan saya reflek mencari-cari keran untuk menghentikan aliran air. Kerabat saya yang tahu ini pasti tergelak.

Suatu malam saya sedang berkelahi dengan waktu, mencoba menyelesaikan sebuah hitungan luas perkiraan klaim maritim yang tumpang tindih antara Indonesia dan China. Meskipun sedang di desa, saya tetap diikuti oleh pekerjaan. Profesor yang sedang berada di Korea waktu itu memberikan tugas untuk diselesaikan. Hasilnya pun ditunggu di Korea. Dia bukanlah orang yang kejam dan suka marah tetapi ada rasa tidak nyaman jika tidak berhasil menyelesaikan tugas itu. Saya pun teggelam berjam-jam berkutat dengan Google Earth dan memvisualisasikan klaim itu dengan Keyhole Markup Language (KML). Pekerjaan itu memerlukan konsentrasi tinggi dan waktu yang tidak sebentar. Koneksi internet yang menggunakan wireless modem begitu lambatnya, membuat saya geregetan.

YES! saya berteriak girang karena berhasil menyelesaikan tugas itu setelah mendapat sebuah alat bantu dari University of New Hampshire di Amerika. Ibu saya terkejut melihat kelakuan anaknya yang tiba-tiba teriak setelah berkutat di depan laptop, melakukan sesuatu yang tidak pernah dimengertinya. Beliau sedang asik merangkai janur, Galungan sudah menjelang. Untuk melepas kepenatan, saya bergabung dengan Ibu saya yang ketika itu ditemani oleh kakak saya. Bertiga kami merangkai janur. Saya membantu membuat ceper, sebuah rangkaian janur berbentuk piring kotak sebagai tempat sesajen. Kata ceper ini terdiri dari dua suku kata: “ce” dan “per”. Suku kata “ce” dibaca seperti “ce” pada kata “cepat” dan “per” dibaca seperti “per” pada kata “perak”. Jadi ini diucapkan berbeda dengan kata “cépér” yang berarti pendek dan biasa dipakai untuk mobil atau motor.
Sambil merangkai janur, kakak saya komat kamit menghafalkan sebuah presentasi. Beberapa hari kemudian dia harus mempertahankan tesisnya di depan dewan penguji. Kakak saya guru SMP yang sedang berjuang menyelesaikan S2nya. Sementara itu, saya sebenarnya masih mabuk dengan kode-kode KML yang baru saja selesai dan kini masih melayang-layang di pikiran. Tangan yang berkutat dengan janur dan biting (clipper tradisional dari belahan bambu kecil) serta pikiran yang berenang di lautan kode KML adalah paduan yang unik dan menarik saya rasakan. Gumaman tentang nilai-nilai statstik yang menggambarkan signifikansi hasil penelitan atas kemampuan berbicara Bahasa Inggris anak SMP dan kelebat tangan yang merangkai tangkih dan ceper juga menjadi paduan yang istimewa. Tidak sering saya merasakan pergulatan aneh seperti itu.

Bali adalah sebuah tempat yang penuh sesak dengan ritual, hal-hal luar biasa yang jika dipandang dari luar bisa menjadi aneh dan sulit dimengerti. Setiap individu, terutama jika dia beragama Hindu, dalam tingkat yang berbeda-beda, akan terlibat dalam aktivitas istimewa ini. Di banyak kejadian, keterlibatan ini bahkan adalah sebuah keharusan. Ini juga berlaku bagi seorang akademisi seperti kakak saya. Untaian presentasi yang sarat nilai ilmiah seringkali harus berpadu dengan aktivitas yang kadang tidak dimengerti, terutama jika tidak ditekuni maknanya.

Di hari lain, kami semua di kampung sedang sibuk bekerja untuk upacara nyambutin, sebuah upacara 105 hari setelah kelahiran seorang bayi. Ponakan saya berumur 105 hari beberapa hari lagi. Saya mendapat tugas memasang sanggah, sebuah rangkaian sedemikian rupa dari bambu dan juga sanggah surya, benda yang mirip tetapi lebih besar dan beratap. Keterlibatan orang-orang dalam aktivitas itu bisa memakan waktu 12 jam atau lebih setiap harinya tanpa terlihat mengeluh. Tidak sedikit yang meninggalkan aktivitas utamanya untuk terlibat dalam upacara itu. Menariknya, semua dilakukan dengan kelakar yang lepas. Orang desa itu tidak terlihat berwajah ruwet, meski jelas-jelas aktivitas itu mengganggu pola kegiatan perekonomian mereka. Mungkin karena mengganggap itu sebagai keniscayaan, mereka tidak mengeluh apalagi melawan.

Berbeda dengan kerabat di desa, saya mungkin satu-satunya orang yang gelisah ketika berkegiatan. Pikiran saya melayang-layang dari Wollongong, ke Singapura, Monako dan New York. Pasalnya, ada sebuah chapter buku yang harus diselesaikan, beberapa peta yang harus digambar untuk konferensi di Singapura dan manual TALOS yang harus direvisi bersama kolega di Monako. Tidakkah kerabat saya di desa ini memiliki tugas lain sehingga mereka bisa sangat menikmati pekerjaan berupacara itu? Saya bertanya-tanya. Sementara saya sendiri harus bolak balik masuk rumah, mengecek email dengan koneksi internet yang lambat, harap-harap cemas menunggu berita dan terutama perintah. Kadang saya menerima ‘cacian’ karena kualitas pekerjaan saya masih di bawah standar yang diinginkan. Terjadilah percampuran antara memasang sanggah surya dengan memanipulasi kurva menggunakan corel draw atau antara ngesit tali (membuat tali dari bambu) dengan hitungan luas di atas ellipsoid atau bidang proyeksi Universal Transverse Mercator. Jika direnung-renungkan, kombinasi ini begitu istimewanya. Kadang saya kerepotan untuk mengakomodasi keduanya dalam satu sisi otak yang sama. Tidak mudah, itu pasti.

Alangkah hebatnya seorang akademisi Bali yang harus memadu kasih dengan integral tiga dimensi dalam kalkulus sambil tidak boleh menceraikan sanggah surya, nyambutin juga ngesit tali. Saya merasa, tidak mudah memadukan itu, terutama jika seseorang terbiasa memungsikan otak kirinya secara dominan. Sanggah surya tentu saja tidak bisa bersemayam di ruang yang sama di otak kiri dengan kalkulus dan fisika. Masing-masing memiliki ruang yang berbeda, dan banyak sekali akademisi Bali yang berhasil mengelola itu dalam harmoni. Di satu sisi, saya juga paham bahwa rutinitas ritual dan kesibukan beraktivitas dengan ‘otak kanan’ itu pastilah mengurangi waktu produktivitas. Meski demikia, situasi rumit itu membuat banyak akademisi Bali yang berhasil membangun kemampuannya yang luar biasa dalam mengelola waktu. Di sela ngayahang banjar yang seakan tidak pernah sepi aktivitas, tidak sedikit yang masih bisa memublikasikan karya-karya dalam bentuk buku dan jurnal. Menariknya, karya ini seringkali bahkan sangat baik dari dalam hal kuantitas dan kualtas. Bagi saya, ini sebuah misteri yang menarik untuk disimak. Desakan situasi membuat mereka memiliki sifat multitasking yang handal. Demikian barangkali.

Lepas dari semua keistimewaan itu, banyak yang bertanya dan menduga. Perkembangan ilmu pengetahuan di Bali semestinya bisa lebih baik dari sekarang kalau saja beban ritual tidak sedemikian tinggi. Benarkah dugaan dan prasangka ini? Saya tidak paham. Yang pasti, saya memiliki kerabat yang bisa bermesraan dengan tangkih celemik dan memadu kasih dengan statistik di saat yang sama. Kesimpulan saya sementara, untuk menjadi akademisi di Bali, orang harus memiliki energi yang memadai untuk bergerak dari KML ke ceper, lalu mampir di intergral sambil merangkai sampian sayut dalam waktu yang singkat tanpa ketinggalan.

PS. Tertarik dengan semua istilah rumit di atas? Silakan baca Blog Putra Sekar Bali

Advertisements

Author: Andi Arsana

I am a lecturer and a full-time student of the universe

2 thoughts on “Dari KML ke Ceper – Pergulatan Akademisi Bali”

  1. kemaren kebetulan ke bali pas galungan, ga kebayang kesibukan yang disiapkan warga bali….. da banyak panjor? yang terpasang begitu meriah, padahal kalo dijawa hanya untuk hajatan….
    salut

  2. pd dasarnya tak cuma bali kali ya. dalam banyak komunitas lokal, sepertinya ritual dan tradisi ini memang jadi salah satu “beban” berat. tak cuma soal ritual tapi juga kadang2 dilema-dilema antara modern vs tradisional, antara rasional vs supranatural, dst.

    hebatnya sih di bali masih banyak yg bisa mengakomodir kedua hal yang kadang, seperti, bertabrakan itu. 🙂

Bagaimana menurut Anda? What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s