Bagaimana Menjadi Pembicara Publik


taiwan

Presentasi di Taiwan

Seorang sahabat karib bertanya pada saya tentang tips menjadi pembicara publik. Saya yakin ada berjuta tips di luar sana yang bisa dimanfaatkan. Presentation Zen adalah salah satu situs yang memuat tips presentasi yang sangat komprehensif dan banyak orang merasa mendapatkan manfaat dari situs itu. Meski demikian, toh tidak semua pembacanya tiba-tiba menjadi seorang presenter ulung. Saya percaya bahwa sang pembelajar tetap memegang peranan paling penting dalam proses belajar. Bahan ajar dan guru bisa sama tetapi hasilnya bisa berbeda-beda pada murid yang berbeda. Oleh karena itu, saya yakin Anda tidak akan berharap tiba-tiba menjadi presenter ulung setelah membaca tulisan ini.

Saya sudah pernah tulis tips presentasi, pernah juga membuat video tips dan contoh presentasi yang bisa dinikmati di blog ini. Kali ini saya menulis hasil diskusi dengan sahabat saya ini, sesuai pengalaman yang mungkin ada manfaatnya untuk pembaca sekalian.

  1. Yakin: kuasai materi dengan sangat baik
    Yang utama dari sebuah presentasi adalah keyakinan dalam penampilan. Keyakinan bisa muncul karena penguasaan materi yang baik. Jika Anda bukanlah presenter yang hebat dalam gaya dan pemilihan kata-kata maka setidaknya Anda harus menguasai benar bahan yang akan dipaparkan. Meski tidak disampaikan dengan gaya yang spektakuler, Anda masih bisa memukau pendengar dengan kekayaan pengetahuan. Maka jangan pernah abaikan persiapan materi. Jika akan membawakan makalah, baca makalahnya hingga benar-benar dikuasai termasuk fakta dan teori pendukungnya. Saran saya, pastikan seberapa banyak hal yang akan disampaikan dan siapkan dengan baik. Jika presentasinya menggunakan tayangan (misal power point) maka slide ini bisa digunakan sebagai pengingat. Jika Anda berbicara di sebuah diskusi atau talk show maka jangan ragu membuat catatan untuk mengingat. Ini biasa dan sangat wajar dilakukan. Yang pasti, usahakan tidak membaca bahan itu apa adanya karena yang terbaik tentu saja adalah bisa menyampaikan dengan gaya natural tanpa membaca.
  2. Untuk Pemula: Dilema antara ‘agar dianggap’ dan ‘tidak sok pintar’
    Bagi seorang pemula, berbicara di depan umum adalah perjuangan serius. Jika Anda seorang pemula dan berbicara di depan umum untuk pertama kali (seminar, konferensi, dll), Anda mungkin perlu menyiapkan strategi khusus. Di antara orang-orang Asia, menjadi muda dan pintar itu kadang dianggap mengancam. Banyak orang tidak mudah untuk menerima dengan lapang dada ketika ada seseorang yang jauh lebih muda dari mereka berdiri di depan dan berceramah, apalagi menggurui. Tidak saja di Asia, hal ini juga terjadi di belahan dunia lainnya. Sementara itu, yang muda ini pasti memiliki target untuk bisa ‘dianggap’ dan diperhitungkan sehingga tergoda untuk tampil prima dan menumpahkan segala kemampuannya. Di sisi lain, usaha ini bisa jadi membuat dia terlihat ‘sok pintar’ dan menjadi semakin mengancam. Pemirsa bisa saja semakin tidak suka, semakin terintimidasi. Gaya yang bertujuan baik ini mungkin justru menjadi senjata makan tuan jika tidak diterapkan dengan baik.
    Ketika berbicara di OSLO pada tahun 2008, saya memaparkan gagasan saya di depan para dewa di bidang landas kontinen. Saya sadar bahwa saya tidak ada apa-apanya dibandingkan mereka tetapi saya juga ingin memanfaatkan momen itu untuk menunjukkan diri. Maka saya memulai pemaparan saya dengan mengatakan “saya merasa sangat terhormat ada di forum ini, bertemu dengan orang-orang yang namanya saya biasa baca di jurnal dan buku. Anda semua adalah para dewa di bidang ini dan saya telah belajar banyak kepada Anda semua. Maka dari itu saya tidak akan berpura-pura menjadi ahli, apalagi menggurui. Saya mohon izin untuk menyampaikan hasil belajar saya dari jurnal dan buku yang sudah Anda tulis. Saya akan menyampaikan pemahaman saya terhadap bidang yang sangat menarik ini.” Saat berbicara demikian, saya juga menyebut beberapa nama tenar sambil menganggukkan kepala atau menunjuknya sambil tersenyum.

    Saat diminta berbicara di FISIPOL UGM mendampingi Prof. Hasjim Djalal dengan Moderator Prof. Ichlasul Amal, saya habiskan 5 menit pertama untuk menyanjung kehebatan dua tokoh tersebut. Bukan dibuat-buat tetapi memang demikian adanya. Saya bahkan mengajak hadirin untuk bertepuk tangan bagi dua tokoh yang saya hormati dan kagumi itu. Dengan demikian, para senior biasanya merasa lebih nyaman.

    Kita juga sering berbicara di depan guru dan dosen kita. Sebaiknya menyempatkan diri untuk menyapa mereka saat mulai presentasi dan mengatakan betapa banyaknya kita belajar dari mereka. Bahwa mereka adalah guru dan Anda sedang berusaha dengan baik meneruskan hal baik yang sudah mereka rintis. Guru tetaplah guru. Misalnya dengan mengatakan, “sekian tahun lalu, dalam acara seperti ini saya akan duduk di belakang sana, terpana menyaksikan kepiawaian Pak X yang sekarang di duduk di depan saya. Sungguh sebuah kehormatan pernah menimba ilmu dari beliau dan sekarang bisa mencoba meneruskan keteladanan beliau untuk berbagi ilmu ini. Sesungguhnya saya grogi Pak, tetapi mudah-mudahan saya tidak mengecewakan Bapak selaku guru saya.” Hal ini bisa dikatakan sambil setengah berkelakar sehingga keseriusan dan suasana nyaman tercipta dengan baik. Yang penting, jangan fokus pada mengagungkan orang lain dan menempatkan diri di posisi yang rendah dan bodoh. Yang penting setelah memuji orang lain adalah menunjukkan bahwa Anda telah berusaha keras dan akan tampil sebaik mungkin.

  3. Lengkap dengan naskah, bukan talking points, bukan sekedar improvisasi
    Dalam presentasi baik itu di talk show, seminar atau konferensi, pasti akan ada saat Anda berbicara secara monolog sebelum berinteraksi dengan pemirsa. Sesi monolog inilah yang paling penting disiapkan. Biasanya Anda akan diberi waktu sekian menit untuk pemaparan dan Anda harus menggunakannya dengan baik. Di sinilah diperlukan pemaparan yang lancar, enak disimak dan padat dengan materi. Pemaparan seperti ini harus dilatih sebelum tampil dan tidak boleh mengandalkan improvisasi. Anda harus sudah tahu persis apa yang akan dikatakan, termasuk pemilihan kata-kata, intermezzo, guyon dan sebagainya. Untuk bisa melakukan ini, saya selalu menyiapkan naskah untuk berlatih.Yang saya perlukan adalah sebuah naskah lengkap, bukan sekedar pokok-pokok pembicaraan atau talking points.
    Jika anda pemula, maka memulai adalah hal tersulit. Maka dari itu, jangan biarkan pembicaraan Anda diganggu oleh jeda di awal karena tidak yakin salam apa yang akan diucapkan, misalnya. Maka naskah latihan saya biasanya bahkan dilengkapi salam pembuka yang tepat. Jika salam keagamaan dirasa lebih baik maka saya lengkapi dengan itu. Intinya, naskah itu seperti skenario film yang akan saya hafalkan apa adanya dan tampilkan ketika saatnya tiba nanti. Naskah ini juga penting untuk memastikan waktu yang dihabiskan tidak lebih dari waktu yang disediakan.

    Jika Anda presentasi dengan tayangan (power point misalnya) maka naskah ini harus dibuat menyesuaikan urutan slide. Saat presentasi, Anda mengunakan slide power point tetapi kata-kata yang terucap sebenarnya sudah ada dalam naskah lengkap yang disiapkan dan dilatih sebelumnya. Lihat juga tulisan saya tentang presentasi atau tonton videonya.

    Selain berbicara sesuai dengan naskah lengkap, improvisasi juga perlu. Misalnya Anda membuat lelucon berdasarkan apa yang terjadi di ruang seminar itu atau berdasarkan apa yang Anda alami beberapa saat sebelum memasuki ruangan seminar. Nah, hal ini tentu tidak masuk dalam skenario yang sudah dilatih sebelumnya. Maka improvisasi itu menjadi penting. Tapi ingat, jangan terlalu banyak berimprovisasi karena itu bisa menghabiskan banyak waktu dan Anda tidak akan bisa presentasi tepat waktu seperti yang diharuskan. Intinya, improvisasi itu hanya sebagian kecil saja dari presentasi. Presentasi, terutama di bagian monolog, sebaiknya hasil dari skenario yang sudah disiapkan sedetil mungkin. Tugas Anda saat presentasi adalah berakting agar apa yang dihafalkan tadi terkesan seperti sesuatu yang natural atau bahkan seperti improvisasi. Betul, seorang presenter adalah seorang aktor/aktris juga :) Kalau mau belajar hal ini, coba saksikan standup comedy. Mereka melucu dengan skenario tetapi sangat lihai menampilkan seakan-akan itu tanpa skenario.

  4. Iringi dengan cerita
    Saya percaya dengan “the power of story telling.” Cerita adalah media yang begitu ampuh untuk menebarkan gagasan dengan cara yang mudah dipahami dan enak dinikmati. Perhatikan Obama ketika mengemukakan gagasannya soal health care. Dia selalu mulai dengan bercerita tentang seorang ibu muda yang hidupnya sulit di sebuah kota kecil di Amerika. Dia kadang bercerita tentang email yang diterimanya dari seorang mahasiswa yang tidak bisa melanjutkan pendidikan. Cerita itu membuat orang mudah tersentuh dan akhirnya bisa memahami betapa pentingnya health care itu bagi Amerika. Anies Baswedan juga demikian. Dalam menyampaikan gagasan besarnya tentang Indonesia mengajar, Anies dengan fasih menyajikannya lewat cerita-cerita sederhana yang menggugah. Cerita asli yang menyentuh kehidupan sehari-hari jauh lebih efektif dibandingkan teori mapan yang dibahasakan dengan ilmiah seperti ditulis di buku-buku.
    Jika Anda presentasi tetang sesuatu yang ilmiah, bisa bercerita tentang kasus yang Anda temui. Pengalaman di lab, pengalaman dalam implementasi suatu model, pengalaman penangani pasien dan sebagainya bisa menjadi cerita menarik yang membuat pemirsa memahami dengan lebih mudah. Selain mudah dipahami, cerita juga bisa membuat pemirsa menjadi yakin bahwa Anda tidak hanya paham teori tetapi juga praktisi yang membumi. Jika berbicara soal perbatasan, misalnya, saya bercerita tentang pengalaman saya berkunjug ke berbagai negara dan menemui fenomena menarik seputar perbatasan. Ingin jadi pembicara publik yang baik, kumpulkanlah cerita yang baik dari sekarang.
  5. Sapa pemirsa
    Pada dasarnya semua orang senang diperhatikan dan dilibatkan dalam pusaran ide yang baik. Setiap memulai bicara di depan umum, biasanya saya sempatkan menyapa beberapa orang di audiens yang saya kenal. Ketika mengisi sebuah kuliah umum di Udayana di Bali, tanpa direncanakan ada seorang senior yang saya kagumi menjadi peserta. Saya habiskan semenit untuk menyapa beliau di depan orang banyak sekaligus memberikan apresiasi. Kadang kita juga presentasi di depan teman dekat atau teman lama, sangat baik jika kita sampaikan apresiasi atau sekedar menyapa. Perhatikan ketika Obama berbicara. Meskipun dia menggunakan tele prompter, dia kadang mengambil selembar kertas di balik bajunya dan membacakan nama-nama tertentu yang perlu disapanya sebelum memulai pembicaraan. Ini terjadi karena ketika naskah pidatonya ditulis dia belum tahu siapa yang secara khusus harus disapanya nanti. Anda juga bisa meniru gaya ini.
    Selain di awal pembicaraan, Anda juga bisa menyapa pemirsa di sepanjang pembicaraan. Misalnya ketika membicarakan suatu teori atau kasus, bisa saja meminta persetujuan orang yang dikenal di kalangan pemirsa dengan mengatakan “Pak X tentu sangat paham yang saya sampaikan karena beliau terlibat” atau “betul demikian ya Bu Y.” Menyapa pemirsa ini juga bisa dilakukan dalam rangka berkelakar. Misalnya, jika Anda mempresentasikan sesuatu yang bisa membuat pemirsa tidak nyaman seperti penyakit, obat, atau praktik yang memalukan, Anda bisa melibatkan seorang peserta dalam cerita itu tetapi harus dipastikan itu tidak menimbulkan penghinaan. Misalnya, Anda bisa mengatakan “saya yakin Pak X yang duduk di belakang sana tidak memerlukan obat jenis ini” untuk memancing perhatian hadirin. Melibatkan pemirsa ini penting untuk membuat suasana interaktif sekaligus untuk memastikan Anda tetap diperhatikan.
  6. Nyatakan apresiasi kepada pembicara lain
    Anda akan sering berbicara bersama dengan pembicara lain. Jangan lupa sampaikan apresiasi kepada mereka. Bila Anda berbicara setelah pembicara lain, sangat bagus jika Anda bisa mengutip apa yang dibicarakan pembicara lain dan mengaitkannya dengan apa yang akan Anda sampaikan. Usahakan kutip yang Anda setujui dan mendukung apa yang Akan Anda sampaikan nanti. Banyak juga yang memulai pembicaraannya dengan menyatakan ketidaksetujuannya terhadap apa yang dikatakan pembicara sebelumnya. Saya tidak menyarankan hal ini meskipun orang lain mungkin menganggapnya menarik.
    Katakan misalnya “saya tertarik dengan apa yang dikatakan Prof. X sebelumnya tadi bahwa blab la bla. Hal ini erat kaitannya dengan pandangan saya tentang bla bla.” Atau bisa juga, “saya senang sekali karena Bu Y tadi sudah menyampaikan tentang bla bla bla, sehingga saya tidak perlu mengulangnya dan bisa fokus pada bla bla bla”. Hal ini juga bisa disampaikan dalam bentuk kelakar dengan menjadikan apa yang dibicarakan oleh pembicara sebelumnya sebagai bahan kelakar positif, bukan mengolok-olok. Jika Anda berbicara sebelum pembicara lainnya, pastikan Anda tahu topik pembicara setelah Anda sehingga bisa mengatakan, misalnya “terkait ini, saya kira Pak X sebentar lagi bisa memberikan pencerahan sehingga saya tidak akan membahas terlalu dalam.” Pastikan ketika Anda memberikan apresiasi ini, Anda melihat orangnya (jika mereka ada di ruangan itu) dan memberikan senyum wajar.
  7. Akhiri dengan mengesankan
    Akhir yang mengesankan dalam sebuah presentasi bisa berupa pertanyaan atau kutipan yang merangsang orang untuk berpikir. Bisa juga diakhiri dengan pernyataan yang membuat orang tergugah. Akhir presentasi sebaiknya menjadi klimaks, bukan antiklimaks sehingga akan memancing reaksi atau membuat pemirsa bisa menyimpulkan apa yang kita bicarakan. Ketika saya diminta presentasi tentang cara presentasi di PPIA Wollongong, saya mengakhiri dengan kutipan “I use power point to make my point more powerful, not because I do not have power neither point.” Kutipan yang berima seperti ini menarik karena indah didengar dan cenderung mudah diingat. Selain itu, kutipan itu dengan cerdas bisa merangkum isi pemaparan saya sebelumnya tentang power point untuk presentasi.
    Akhir mengesankan bisa juga berupa pertanyaan, misalnya “Apakah Indonesia dan Malaysia akan berseteru lagi soal Ambalat? Mari kita diskusikan.” Atau bisa juga mengutip kata-kata dalam film yang terkenal. Misalnya, ketika berbicara tentang peradilan dan bagaimana pembuktian itu yang memegang peranan dalam pemutusan satu kasus, Anda bisa menutup presentasi dengan mengatakan “seperti yang diucapkan Nick Rice di Law abiding citizen ‘It’s not what you know. It’s what you can prove in court”. Jika Anda berbicara tentang meraih beasiswa di luar negeri dan ingin memberi kata-kata motivasi di akhir presentasi, bisa juga menyampaikan kalimat “negara berpenduduk terbesar ketiga adalah Facebook, tempat nongkrong paling asik bukan lagi cafe tetapi twitter dan taman bermain paling luas adalah Google Earth. Dengan dunia yang super-connected, seorang asal Desa Tegaljadi bisa mengikuti seminar di Vietnam, bergaul dengan pakar dari Eropa dan China lalu berbagi lewat twitter sambil menyapa Duta Besar Indonesia yang sedang ramah tamah dengan Diplomat Timur Tengah di Washington DC. Ingat bahwa seorang lelaki keturunan Kenya yang besar di Menteng bisa menjadi orang terkuat di Dunia dan berkantor di Gedung Putih. Maka satu-satunya yang membatasi kita, sesungguhnya adalah imajinasi.”

Saya yakin tips yang saya tulis ini tidak akan tiba-tiba membuat Anda menjadi seorang pembicara publik yang ulung. Meski demikian saya sungguh berharap ada hal menarik yang bisa Anda bawa pulang dan terapkan dengan penyempurnaan tentunya. Meski harus berusaha dengan baik, sebaiknya kita tidak terlalu risau soal presentasi karena seperti yang saya ceirtakan kepada ibu saya, presentasi sebenarnya adalah ngobrol saja. Ngobrol untuk membuat orang betah mendengar dan akhirnya memahami maksud kita. Mari kita ngobrol.

Keywords: tips presentasi, tips jadi pembicara publik, tips seminar, cara berbicara, tips presenter

About these ads

9 thoughts on “Bagaimana Menjadi Pembicara Publik

  1. Pingback: Hah, Sejarah dispasialkan? | My Ordinary Stories

Bagaimana menurut Anda? What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s